Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
NgeMol Bertiga


__ADS_3

Suasana siang menjelang sore hari. Di sebual mal termegah, yang ada di pusat kota Shindong.


"Lovie, aku tadi kaget banget waktu Tante Syilla bilang kamu hamil. Aku jadi ser-seran." Talita yang memang pinter bicara.


"Talita. Aku PMS. Aku gagal jadi seorang Ibu." Lovie sambil memakan kentang goreng, yang dicocol saos tomat.


Talita setelah makan burger, lanjut meraih minuman soda dengan topping krim vanila.


"Emhh, segarnya."


"Talita. Kamu ini doyan makan, apa memang lagi kelaperan?!" Lovie jadi menatap sang sahabat.


"Lovie, tadi pagi aku nggak sempat sarapan. Gara-gara tadi tes-tes ituan. Aku nggak doyan makan selama di sekolah. Kamu juga tadi nggak ke kantin." Cerocosnya Talita, dan tampak melihat ke gambar es krim. Dari meja, dia memilih menu yang ada di layar tablet.


"Masih mau es krim juga. Itu perut apa karung?" Lovie sebenarnya tidak heran, kalau Talita bersikap begitu. Apalagi, kalau ada yang traktir. Talita bisa bebas memilih makannya.


"Guys, sorry. Tadi Papa yang telephone" Ucapnya Ron.


Ron yang telah mentraktir Talita dan Lovie. Dia sedang bersikap baik sama duo belia ini dan mereka lagi nungguin jam nonton film.


"Enaknya, punya bokap yang punya emol. Syukur-syukur aku juga dibeliin baju."


Lovie mencubit lengan Talita. "Bisa nggak sih, manis sedikit saja. Ntar kalau Rey tahu gimana?"


"Aku sudah bodo amat sama dia. Dia juga mau dikawinin sama Bokapnya."


Ron berkata "Bokapnya Kak Rey, itu juga Papaku."


"Apa yang kamu barusan bilang?? Reynaldi Jo Vanco dan Ronaldo Gi Vanco. Aaa, bodohnya aku."


"Yaps, begitu. Kak Rey anaknya Bu Diana sama Papaku. Presdir Hanz."


Lovie tahu dari Richard. Talita, melongo dan salah tingkah. Minumannya, sampai tersenggol, jadi mengenai roknya Lovie.


"Sorry sayang."


Talita berusaha mengelap rok itu. Lovie yang langsung berdiri. "Sudah nggak apa-apa. Aku bisa bersihin di toilet."


Ron dengan cepat melepas jaketnya dan melingkari rok putihnya Lovie.


"Ron, ini jaket kamu nanti kotor."


"Emh, itu ada noda merah."


Talita, "OMG, Lovie."


Lovie menoleh ke belakang, perasaannya berubah malu.


Padahal hari pertama PMS dan sudah ganti pembalut, tapi saat berdiri barusan, sangat terlihat jelas noda merah kecoklatan, yang menembus ke rok luarnya.


"Iih, ini sangat memalukan." Batinnya Lovie.


Ron berkata "Talita. Kamu temani Lovie ke toilet. Aku cariin gantinya dulu."


"Owh, oke."


Talita tidak membuang waktu, tangannya sudah merangkul Lovie.


"Biasa aja kali. Lagian sudah laku ini."


"Hussh, aku tetap nggak enak sama Ron."


"Hemm, gini doang. Aku juga pernah, mana di kantin sekolah. Emangnya kamu lupa?!"


"Iya, aku ingat. Tapi, kita di mall. Pasti tadi, orang-orang melihat rokku."


"Apa perlu, aku telephone Kak Richinya kamu?!" Talita malah menggoda Lovie. Sampai Lovie gemas dibuatnya.


"Huh, nanti bikin masalah. Dia juga lagi sibuk kerja."


"Ya..siapa tahu, kalau sang pujaan hatinya tertimpa masalah. Pastinya, cuz meluncur kemari."


Lovie jadi senyam-senyum, ia berkata "Aku nggak nyangka. Kamu malah bisa menjerat putra pemilik emmol ini."


"Hish, Rey mau dijodohin sama Jihan. Itu gara-gara Richard nggak mau lagi sama Jihan."


"Kok kamu pasrah begitu. Kamu nggak mau merebutnya?? Mama kamu juga sudah direbut sama Jihan." Ucapnya Lovie membuat Talita kembali mengingat hal itu.


"Sudah, sana masuk. Aku tungguin disini."


"Oke sayang." Balasan Lovie.


Tak lama menunggu, Ron juga sampai di toilet itu. Tampak membawakan pakaian ganti, serta satu set daleman.


"Kamu belanja ini?" Talita yang memeriksa semuanya.


"Bukan aku, aku tinggal bilang sama manager store yang aku kenal."


"Owh, kirain. Terus, ini yang satunya buat aku?" Genitnya Talita dan memang begitu sikapnya.


"Iya."


"Terima kasih. Kamu, tunggu disitu saja."

__ADS_1


Ron menunggu di dekat toilet itu, dan ternyata dia melihat istri pertama yang bersama istri keempat Presdir Hanz.


"Tumben, mereka akur."


Ron tampak bersedekap dan sudah memandangi dua ibu tirinya.


Ron memang dalam asuhan istri pertama Presdir Hanz, namun dirinya juga tidak pernah menyukainya.


"Ron, kamu ternyata disini. Mama tadi nungguin kamu di rumah."


"Aku lagi main sama teman sekolah."


"Teman sekolah??" Tanya sang Mama yang sudah membesarkan Ron.


"Iya teman kelas." Jawab Ron.


Mamanya Jihan berkata "Kak Franda, anak remaja memang seharusnya begini. Menikmati masa mudanya."


"Tumben, kalian jalan bersama. Ada angin apa sampai kalian bisa akur begini?" Ron mulutnya memang lebih tajam, dari para Kakak-kakaknya.


"Ron, kamu tidak boleh begitu sama Mama Delia."


"Maaf Ma. Aku nggak bermaksud begitu."


"Kita berdua, mau bertemu Jihan dan Mamanya."


"Owh, soal perjodohan Kak Rey. Aku pikir, Kak Rey nggak bakalan setuju."


"Ron, kamu masih kecil. Kamu belum mengerti soal bisnis."


"Iya, perasaan Mama Franda kemarin bilang aku sudah dewasa. Waktunya aku bisa mandiri. Terus, barusan Mama Delia bilang, aku sudah remaja. Aku masih kecil??"


Franda istri pertama Presdir Hanz dan Delia Mama kandungnya Jihan.


"Ya sudah, Mama mau pergi dulu. Kamu boleh main, tapi ingat waktu pulang."


"Iya Ma."


Ron memasukan kedua tangan ke saku celana jeans, warna hitam.


Setelah beberapa saat kemudian. Lovie dan Talita sudah keluar dari toilet.


Talita yang berpose menarik, lalu bertanya "Ron, gimana penampilan kita?"


"Emh, lumayan." Jawabnya Ron.


Lovie tersenyum, ia berkata "Ron, jaket kamu kotor kena minuman Talita. Aku bawa dulu ya. Nanti aku cuci dulu."


"Nggak perlu. Aku bisa membuangnya."


Talita meraih jaket itu, Lovie bergumam "Masih sama saja angkuhnya."


Ron meraih jaketnya "Ya jangan, kalau buat kamu."


"Iih, udah tajir tapi pelit."


"Ya suka-suka aku, mau pelit apa tidak."


Saat berlajan bertiga dan asyik bercerita. Lovie yang berada di tengah-tengah antara Talita dan Ron. Serasa jadi wasit, kalau mereka sudah berdebat. Tidak di kelas, tidak di mal, sama saja. Selalu debat begitu.


"Iih, kalian berdua bikin pusing."


Ron berkata "Kalau pusing, sini pegangan sama aku."


"Lovie, jangan mau dikadalin sama dia." Talita malah nyolot.


"Ye, aku memangnya apaan. Siapa juga yang mau ngadalin Lovie."


"Kalian tuh ya. Selalu saja ribut. Ntar kalau kalian berdua tinggal serumah bagaimana?"


"Aah, itu nggak mungkin!"


"Ye, siapa juga yang mau sama cowok yang angkuh kaya' kamu."


"Talita, ini aku sudah baik loh, sama kalian berdua. Kalian bolos beberapa hari, aku selalu isi ijin kalian berdua. Aku nggak kasih absen merah buat kalian berdua."


"Terima kasih Pak ketua kelas."


Talita membungkuk, eh balik ngoceh lagi. "Kamu baik, soalnya nilai aku kamu rampas semua. Coba ada aku. Pasti kamu nggak bakal di posisi pertama."


"Yaaah, sombong sekali dikau. Kita bisa lihat, siapa nanti yang lulus dengan nilai sempurna."


Lovie jadi gemas, berjalan mundur dan menghadap ke mereka berdua.


Dugh!


Lovie tertabrak badannya Jihan.


Seketika membalikan badan. Kedua wajah itu, bertemu sangat dekat sekali.


"Jihan!!"


Secepatnya, Talita mendekat dan meraih tangan Lovie.

__ADS_1


"Kamu?!" Jihan yang menatapnya jelas sosok Lovie.


"Lovie, ayo kabur."


Talita mengajaknya berlari dan Ron tersenyum kepada Jihan.


"Sorry Kak, nggak sengaja."


"Kamu?!"


Ron berlari mengejar dua belia tadi, dan Jihan merasa sudah dipermainkan lagi oleh Lovie.


"Lovie??!"


"Richard??!"


Jihan jadi bergemuruh lagi.


Bilangnya move on dan mau membuka hati yang baru untuk pria lainnya. Tapi, saat melihat Lovie di depan matanya. Jihan ingin sekali menghancurkan Lovie.


"Huh, aku harus tenang. Hari ini, aku harus bisa tenang."


Jihan yang mengatur nafasnya, ia berkata "Bukannya tadi itu, adiknya Rey. Dia, Ronaldo Gi Vanco. Terus si ganjen yang tinggal di apartemen Rey dan bersama si bocil yang di hotel."


Jihan jadi punya ide, untuk membuat Lovie putus dari Richard dan Talita juga harus meninggalkan apartemen Rey.


"Aku harus mengundang mereka semua. Di hari pertunanganku dengan Rey." Batinnya Jihan, senang.


Dua belia di dalam lift, jadi berkeringat dan mereka berdua telah mengatur nafasnya.


"Huh, kenapa bisa kita bertemu Jihan disini?!"


"Talita, kamu harusnya bilang dong, kalau mau ngajak lari. Bukan main tarik gitu saja. Huh, perutku jadi nyeri banget ini."


"Tadi aku udah bilang. Ayo kita kabur."


"Perutku kram."


"Aku cemas, kalau kamu ditampar Jihan."


"Apa dia berani begitu?"


"Ya siapa tahu. Aku saja sampai digigit."


"Owh, jadi anjing gila yang kamu bilang itu, si model Jihan."


"Iya, rumitlah pokoknya."


Lift kaca ini, telah membawa mereka berdua ke lantai paling atas.


Tidak lama, Talita dan Lovie, sudah berada di depan bioskop VVIP Luxury.


"Talita, Ron mana?"


"Iya juga. Tadi kita tinggalin dia."


Dua belia ini celingukkan di depan pintu bioskop. Lalu, sosok tampan itu sudah tampak berjalan mendekati mereka berdua.


"Hai, kalian larinya keceng banget."


"Emh, sorry. Soalnya, kalau nggak begitu. Lovie bisa di keroyok sama Jihan."


"Kok bisa?" Ron yang tidak paham.


"Emh, soalnya. Ini Ron, apa."


Lovie berkata "Soalnya, aku sudah merebut pacarnya Jihan. Apa kamu percaya aku?"


Ron awalnya terdiam dan perlahan bibirnya terbuka. Ia jadi menertawakan Lovie.


"Jangan bilang, kamu teman kencannya Kak Richard." Semakin ngakak, dan itu membuat Lovie bingung.


"Kok kamu malah ketawain aku?"


"Ampun Lovie. Kamu lucunya kebangetan ya. Kemarin sudah bohongin aku. Kamu bilang hamil. Sekarang, kamu mau bilang, kalau kamu calon istrinya Kak Richard."


"Iiih, memang benar begitu."


Talita berbisik "Lovie sayang, dia nggak bakal percaya sama kamu lagi. Biarin saja, dia puas ngetawain kamu."


Ron sampai memegang perutnya, ia terpingkal "Lovie, kamu nggak lagi mimpi? Atau kamu menghalu jadi istrinya Kak Richard?"


"Ron, aku serius."


"Ya, ya. Aku percaya sama kamu."


"Tapi, memang begitu."


"Sudah, ayo masuk. Kita nonton film dulu. Kalau aku ketawa duluan, nanti filmnya nggak ada yang ngetawain."


Lovie menatapnya dekat, Ron bingung.


"Kamu mau ngapain?"

__ADS_1


"Menciummu."


__ADS_2