Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Anak Papa Baperan


__ADS_3

    "Lily..." Suaranya yang begitu nyaring dan tingkahnya juga sebelas dua belas dengan Lily.


    Langkah kecil seraya berlari ke arah bestienya.


    "Violla, kapan kamu pulangnya? Kok, kamu sudah ada disini." Celotehnya Lily, yang memang akrab kepada teman cantiknya ini.


    Violla sudah tampak menyengir, lebih cubby dan endut. Sampai kesusahan, saat ia mau duduk di atas sofa. Tidak pantangan menyerah. Papa Richard jadi tersenyum, saat melihat tingkahnya.


    Cafe khusus anak-anak ini, memang asyik bila berkumpul bersama bestie, bukan dengan orang tuanya.


    Papa Rey mengangkat putri endutnya ini, untuk duduk di sofa.


    Violla menatap ke sang Papa, ia berkata "Papa. Aku juga mau es krim seperti punya Lily."


    Papa Rey berkata "Oke, Papa buatin yang lebih keren dari punya Lily."


    Papa Richard dari tadi tengah menatap bocah gemoy ini, "Violla. Apa Mama kamu ikut pulang?"


    Violla menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


    Bocah perempuan ini, memang jaim bila berhadapan dengan orang tua. Berbeda kalau hanya berduaan, dan mereka pasti akan asyik ngerumpi manja. Sudah, seperti emak-emak yang lagi arisan.


    Violla Tareya Mesra, putrinya Rey dan Talita. Mama Talita masih kuliah S2 dan belum kembali. Violla dan Papa Rey sering berkunjung ke luar negeri, hanya untuk menemui Mama Talita.


    "Lily."


    Violla lebih mendekat dan berbisik "Aku kangen sama Kak Lucas."


    Lily tersenyum meledeknya, ia membalas "Tapi, Kak Lucas punya pacar."


    "Punya pacar?" Rasanya sudah patah hati duluan dan jadi bingung.


    "Iya. Aku melihat, anak itu kasih hadiah, waktu Kak Lucas ulang tahun."


    "Benarkah? Apa dia cantik?"


    "Ehem. Dia cantik."


    Papa Rey sudah datang mendekat, membawakan dua mangkok es krim, dengan topping bervarian rasa.


Mereka berempat di cafe ceria.


    Para orang tua yang menemani anak-anaknya sendiri. Mereka sendiri pula, yang harus melayani anak-anaknya. Hanya ada tempat makanan dan tempat bermain.


    Ada ruangan khusus anak cowok dan ada ruangan ala princes dengan penuh warna pinky-pinky cantik.


    Cafe ceria ini, memang diperuntukan khusus anak-anak dibawah usia 10 tahun.


    Papa Rey bertanya "Kalian berdua bisik-bisik apaan? Hayo? Papa jadi penasaran."


    Violla hanya menyengir dan ia sudah memegang sendok es krimnya.


Hap!


    Asyiknya, makan es krim.


    Lily menatap Papa Rey, ia berkata "Om Rey kepo, mau tahu aja urusan gadis."


    Richard yang mingkem dalam hatinya sudah tertawa. Ia merangkul anak perempuannya, lalu berkata "Emh, cantiknya Papa pinter banget sih!"


    Papa Rey jadi duduk di sebelah putrinya dan menikmati es krim buatannya. Papa Rey menatap Papa Richard, ia bertanya "Bukannya, Lovie lagi wisuda. Kenapa kalian berdua tidak datang kesana?"


    "Ini, tuan putrinya mau ngedate berduaan."


    "Owh, jadi Lily lagi kencan sama Papa yah?! Duh, Om Rey datang gangguin kencan kalian."


    Lily menatap Rey dan mencibirkan bibir imutnya.


    "Uuu, yang ngedate? Apa Lily semalam melihat Papa kencan sama gadis yang lain?" Papa Rey ini, memang suka sekali menggoda Lily.


    Lily menoleh ke sang Papa dan sudah tampak sebal. Papa Richard berkata "Sayang, Om Rey cuma bercanda. Tadi malam itu, rekan bisnis Papa yang dari luar negeri. Dia memang perempuan. Tapi, Papa nggak kencan begitu. Tidak seperti kita begini. Papa beneran kerja."


Raut wajah Lily, berubah muram.

__ADS_1


    Sedangkan, Violla tidak peduli dengan hal lain di sekitarnya. Apalagi, saat menikmati es krim. Rasanya, lebih asyik makan es krimnya, dari pada bermain dengan temannya.


    Papa Richard berkata "Emmh, makan es krimnya sudah selesai. Kita lanjut nonton ke bioskop. Film The Azzura, yang seri baru Papa belum nonton loh."


    "Nggak!" Jawabnya dan wajah itu sendu.


Bibirnya sudah manyun gemas manja. Tatapannya, sudah penuh tanda tanya.


    "Lily, cantiknya Papa. Gimana kalau kita shopping. Beli gaun ala princess yang terbaru dan special."


    "Nggak!!" Semakin sendu dan sudah berkaca-kaca.


    Papa Rey pura-pura tidak melihatnya. Papa Richard menoleh ke arah sang sahabat "Rey, memang siallan. Sahabat macam apa, beraninya menusuk dari belakang. Aku dari tadi sudah kebingungan. Lagi anteng-antengnya, malah digangguin. Hisssh!! Siallan." Papa Richard, hanya bisa menggerutu dalam hatinya saja.


    Papa Richard kembali membujuk putri cantiknya ini. "Anak manis, cantiknya Papa. Ayo, kita jalan lagi. Kita ke taman fantasi ceria, naik kereta kuda, atau mainan boom-boom car. Ayo sayang."


Hikks, Hoo Ho hoo.


Pecah sudah tangisnya dan hanya menatap wajah sang Papa tampannya ini.


    Papa Richard, sudah menghembuskan nafas panjangnya. "Iya. Sepertinya, kamu memang harus menangis dulu."


    "Mama. Mama."


Kalau sudah memanggil Mama. Berarti harus segera bertemu sang Mama.


    "Sana, antar ke Mamanya." Papa Rey dengan santainya bicara begitu.


    Mentang-mentang anaknya nggak pernah rewel. Soalnya, setiap dikasih makanan kesukaan. Violla langsung cepat luluhnya.


    Papa Richard melototin Papa Rey, saat menggendong anaknya yang menangis.


    Suara tangisnya Lily, begitu nyaring.


    Violla jadi melihat ke arah Lily, ia berkata "Papa, ayo ikut Lily. Papa, ayo ikut Lily."


    "Sayang, kita jalan-jalan berdua saja. Lily kangen Mamanya. Kalau kita ikutin Lily, nanti kita dimarahin sama Om Richard."


    Hikss, tanpa aba-aba, Violla juga menangis merdu. Papa Rey yang gerak cepat, meraih sesuatu dari saku jas yang dipakainya.


    "Ini, buat Violla."


Cep!


    Suara tangisan merdu, seketika berhenti dan menatap lollypop yang tampak pelangi.


    "Violla, mau permen ini?"


    "Mau. Aku mau permen. Aku mau."


    "Kalau mau permen ini. Violla harus jadi anak yang??"


    "Manis."


    "Violla, nggak boleh jadi anak yang??"


    "Rewel."


    "Terus, Violla nggak boleh kangenin Mama. Kasian Mama, kalau dikangenin terus. Nanti, kuliahnya Mama malah nggak kelar-kelar, terus disananya jadi lama banget."


    "Iya Papa. Aku tahu."


    Papa Rey tersenyum saat memberikan permennya. Kedua tangan mungil Violla, sudah tampak memegang tangkai lollypop pelangi.


    Emmh, asyiknya kalau bersama Papa.


    Lily, yang masih menangis, sudah di dalam mobil.


    "Kalau Lily masih mau nangis. Papa akan dengerin. Tapi kalau Lily ingin bertemu Mama. Lily, harus diem nangisnya."


    Perlahan-lahan, sudah tiada suara tangisnya. Meski ada air mata, yang masih membasahi pipinya.


Papa Richard, duduk di sebelah kanan putri cantiknya ini.

__ADS_1


    "Sudah, selesai nangisnya? Apa masih ingin nangis lagi? Mumpung mobilnya belum jalan."


    Lily menatapnya sendu, hanya berkata "Mama."


    "Oke. Kita bertemu sama Mama. Lily, harus senyum kalau bertemu Mama. Kalau Lily nangis lagi, nanti Mama malah ikutan nangis, hiiks hikss. Lily mau, Mama nangis kayak Lily?"


    Gadis kecil itu, hanya menggeleng dan kedua tangan kecilnya mengusap air mata yang masih membasahi pipinya.


    "Mama."


    "Iya. Kita cari Mama sampai ketemu. Oke?!"


    "Oke Papa."


    Lily sudah mengusap air matanya dan kembali tersenyum manis, lalu berkata


"Let's go, Om Doddit. Kita cari Mama."


    Doddit sang asisten pribadi juga selalu sabar dan setia dengan Bosnya. Ia juga sangat paham dengan sifat putri kecil satu ini.


    "Baik Nona Lily. Ayo!! Berangkat..."


    Suara musik yang di putar lagu anak-anak. Layar dengan gambar kartun yang menari balet. Membuat Lily jadi terpaku saat menatap layar digital itu.


    Perlahan meredup dan semakin redup. Ternyata kelopak mata indahnya itu, perlahan terpejam.


    Richard merangkulnya dan kepala Lily sudah berada di ketiak sang Papa.


    Duduk sendiri dan memakai sabuk pengaman. Terlihat begitu manis, saat terlelap dalam dekapan.


    Doddit bertanya "Memangnya Nona kecil kenapa Bos? Kok sampai segitunya? Jeritannya sampai melengking. Merdu sekali."


    "Rey siallaan. Dia malah memancing perasaan Lily. Sudah tahu, Lily baperan kalau Papanya ngobrol sama perempuan lain. Eh, Rey malah bilang, kalau aku kencan sama perempuan lain."


    "Owh. Masih soal semalam itu."


    "Iya, Lily semalam vidcal juga ada kamu. Eh malah, dibilang kencan. Lily semalam itu nungguin. Kata suster, jam 10 baru bisa tidur. Makanya, aku sampai nggak bisa datang ke wisuda My Lovie."


    "Emh, rasanya punya anak cewek itu pasti beda banget ya Bos. Aku jadi kepingin juga punya anak perempuan."


    "Doddit, aku pastikan. Aku cukup punya Lily saja. Nggak ada lagi, anak-anak perempuan. Kalau ada lagi seperti Lily. Wah...kacau. Bisa-bisa aku terkurung sampai tua."


    "Ya siapa tahu, Nyonya Bos ingin punya anak perempuan lagi."


    "Nggak Dodd. Satu ini saja aku sudah ribet. Apalagi anak-anak perempuan yang begini juga. Beneran nggak kuat aku. My Lovie aja nggak pernah cemburuan. Kamu juga tahu sendiri, dia nggak pernah tanya macam-macam. Tapi anaknya, bukan maen!" Papa Richard sepertinya memang sudah menggila karena anaknya. Padahal, sangat menggemaskan.


    Doddit sang asisten ini, juga telah menikahi Metta. Lebih tepatnya, 2 tahun yang lalu.


    Sekarang, Metta jadi hot Mom dan menyibukan diri di rumah. Sekarang, sebutannya Nyonya apartemen.


    Karena, harapan Doddit juga sudah kesampaian. Doddit punya 5 apartemen dan telah disewakan secara tahunan.


    Terus, sekretaris Bos Richard adalah Juno. Si admistrasi yang suka mondar-mandir membuatkan kopi kesukaan Bos Richard.


    "Kalau bayi saya sudah lima tahun. Saya memang ingin anak perempuan Bos. Uh, pasti ngegemesin."


    "Iya, semoga saja begitu." Balasnya biasa saja.


Namun, lain kata lain hatinya. Hati Papa Richard sepertinya sudah dipenuhi oleh sang tuan putri kecil ini.


    "Lily. Papa nggak bakal bisa, jauh dari kamu sayang." Ciee, baper. Bayangan Papa Richard sudah ke arah jauh. Belum apa-apa, sudah ngebayangin kalau Lily punya pacar dan bakal tinggal jauh dari Papa tampannya ini.


    "Bos Richard, Nyonya Bos sudah otw pulang. Terus, kita pulang ke rumah apa kemana?"


    "Ya ke rumah saja kalau begitu. Kan yang dicariin Mamanya. Lagian jam segini, juga enakan santai di rumah."


    "Bos sudah siapin hadiah, buat Nyonya Bos?"


    "Belum. Aku sebulan ini banyak kerjaan. Aku belum kepikiran."


    "Bulan madu lagi saja Bos. Lagian, sudah lama ini, kalian sibuk urusan masing-masing."


    "Terus, anak-anak gimana?"

__ADS_1


__ADS_2