
Suasana sore tentang prahara rumah tangga Talita. Saat melihat tamu yang menekan bel pintu apartemen ini, adalah Jihan.
Talita pergi, Rey jadi berkata "Bukannya bukain pintu, malah pergi."
Rey kembali menatap layar digital pintu apartemennya, melihat raut wajah Jihan yang sudah bersedih.
"Aku harus gimana? Apa Talita mau menerima dia?"
Rey juga tidak tega. Tapi kalau diberi kesempatan. Jihan juga akan sering kembali dan manja padanya.
"Huff. Aku harus tega."
Talita kembali, sudah membawa pisau daging. Rey melihatnya, jadi merinding.
Rey bertanya "Talita, kamu mau apain Jihan?"
Tidak sampai menjawab, Talita yang masih memakai celemek masak. Dia sudah membuka pintu.
Seet!
Jihan yang sudah tampak berlinang air mata, melihat Talita yang membawa pisau besar.
Jihan jadi menyeka air matanya sendiri, dengan suara lemah lembut, ia bertanya "Apa, Rey ada di dalam?"
Talita meraih kaos Rey dan menariknya ke sisi kanannya. Rey yang sembunyi di dekat pintu ini. Jadi, terlihat oleh sahabat tersayang.
"Rey!"
Jihan hendak memeluknya. Talita malah menodongkan pisau besarnya itu.
Set!
Pisau itu, sangat dekat wajah Jihan. Sampai Jihan tak berani melangkah, untuk mendekati Rey.
Talita bertanya, "Ada perlu apa, kamu datang kemari?"
Tatapan Talita sudah seperti singa betina, yang sudah mengaum dan hendak menerkam mangsanya.
Jihan gelisah, ia bertanya dengan lembut. "Apa boleh, aku masuk ke dalam??"
"Ini, Rey disini. Untuk apa masuk ke dalam?"
Rey hanya terdiam, "Apa aku yang hendak dicincang sama Talita?"
Tangan kiri memegang pisau, tangan kanan memegang kaos suaminya dan sangat erat.
"Kalau di luar begini. Nggak enak kalau dilihatin sama orang."
"Owh, masih punya rasa malu. Kalau begitu, kenapa gangguin suamiku??"
"Aku tidak mengganggu suami kamu. Aku hanya ingin meminta tolong."
Talita, lalu berkata manis, "Silakan masuk, Nona Jihan yang terhormat."
Talita, masih memegang pisau besarnya.
Jihan masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa. Rey juga duduk di sofa single dan hanya menatap Jihan, tanpa berkata ini itu kepada Jihan.
Talita, meletakan pisaunya di atas meja dan melepaskan celemek masaknya. Kompor sudah dimatikan, jadi dapurnya aman. Ia harus mengawasi suaminya.
Talita yang duduk di sebelah kanan Jihan, dia bertanya "Apa yang kamu inginkan dari suamiku?"
Jihan menjawab "Aku mau meminta bantuin Rey. Agar bisa bicara dengan Richard. Ini soal Lucas."
Talita berkata "Rey tidak akan berpihak sama kamu, Nona Jihan."
"Tapi, aku ini Ibunya Lucas." Balasnya dan terdengar suara sendu.
"Nona Jihan. Kamu masih berani bilang, kalau kamu Ibu kandungnya. Kamu juga sekarang mengandung. Harusnya kamu itu sadar diri. Dulu-dulu ngapaian saja. Sampai kamu, ingin punya anak dengan Richard dan memakai rahim orang lain."
"Karena waktu itu, aku masih labil. Aku belum berfikir akan begini. Dulu aku dan Richard memang mau menikah. Pasti, Tante Nancy menginginkan cucu. Aku waktu itu, belum bisa melepaskan karirku. Aku takut, kehamilanku akan menjadi bebanku."
"Beban?? Terus, sekarang kamu mau merawat Lucas bersama Richard. Sayangnya, Richard sudah menikah dengan Lovie. Kamu mau, berada di antara mereka. Iya begitu, maksud busuk kamu itu, Nona Jihan?"
"Pasti Lucas, juga ingin bersama Ibunya."
"Memangnya. Kamu dulu, orang tua kamu berpisah. Apa kamu sudah paham. Kamu ingin ikut siapa? Terus, kenapa kamu tidak memilih Ibu kamu? Kamu ingin bersama kedua orang tua kamu, iya begitu? Tapi mereka tetap bercerai. Sama halnya, Lucas nggak ngerti. Kamu harusnya sadar diri."
__ADS_1
Jihan mendengar itu, jadi berkata "Jangan bawa-bawa orang tuaku."
"Ya sama. Kamu jangan masuk ke rumah tangga orang lain."
Jihan menatap Rey dan pria yang dulu selalu membela dirinya. Sekarang tetap diam tanpa bicara apapun kepadanya.
"Rey, ini istri kamu bicara kasar sama aku. Kamu malah diem saja, tidak mau menegur istri kamu." Jihan yang sudah mengadu seperti dulu.
Rey berkata "Jihan, kamu sudah dewasa. Kamu harusnya bisa berfikir lebih realistis. Richard bisa saja merelakan Lucas agar kamu bisa mengasuhnya dan menyandang nama keluargamu. Tapi, keluargamu tidak ada yang mau menerimanya. Karena itu, Richard sudah setuju membawa Lucas bersamanya. Itu juga karena Lovie mendukungnya. Kalau Lovie tidak mendukungnya, Lucas bisa saja terlantar di jalanan atau tinggal di panti asuhan. Harusnya, kamu bisa lebih dewasa dari Lovie. Kamu itu, terlalu picik. Apalagi keluargamu, Ibu tirimu selalu menghasut kamu. Harusnya, kamu sadar akan hal itu."
"Rey!!" Jihan tidak percaya, kalau Rey bisa bicara seperti itu kepadanya.
Rey berkata lagi, "Untuk saat ini, aku diam bukan berarti aku tidak peduli sama kamu. Jujurlah sama aku, siapa orang yang menghamili kamu. Masalah Lucas sudah selesai, tapi perut kamu akan segera membesar. Siapa Bapak anak yang kamu kandung itu? Dia harus bertanggung jawab. Agar hidupmu lebih tenang dan calon bayi itu, pasti membutuhkan Bapaknya."
Jihan jadi memegang perutnya, ia kembali ragu. Apa yang dikatakan Rey memang benar adanya. Saat di rumah sakit, dirinya sudah merasa tersakiti. Sampai dia menangis tersedu-sedu. Tapi, saat Nyonya Bianca bersamanya, seolah dunianya kembali bahagia. Namun dibalik itu semua, Jihan tetap mencoba cari jalan pintas, dengan meminta bantuan Rey.
"Aku tidak tahu, siapa Bapaknya."
"Di hotel harusnya ada daftar tamu. Tidak mungkin kamu hamil sama hantu." Celetuknya Talita gerah.
Rey berkata "Berapa kali Richard sudah menolak kehadiranmu. Padahal, kamu putri dari keluarga terpandang."
Jihan menangis, Rey kembali berkata "Jihan, menikahlah dengan orang yang memang mau menerima kamu. Aku bisa saja mencari pria yang menghamili kamu, tapi sepertinya kamu yang tidak mau menerimanya."
"Rey! Cukup!! Aku tidak butuh nasehatmu."
Rey berkata lagi "Jihan. Aku menyayangi kamu seperti adikku sendiri. Aku sangat ingin membantu kamu. Tapi kalau tentang Lucas dan Richard. Aku tidak bisa membantu kamu. Kamu bisa saja mengakui kalau Lucas anakmu. Namun, jangan memaksa Richard untuk mengasuh Lucas bersamamu."
"Baik. Aku mengerti. Kamu sudah berubah. Aku juga tidak akan lagi menganggu kamu."
Jihan bangkit dari sofa, sambil menyeka air mata.
Talita membuka pintu untuk tamunya dengan perasaan yang tenang, "Jihan, berhati-hatilah dengan Ibumu."
Jihan berkata "Kamu tidak perlu mempedulikan aku."
"Ibu tirimu. Punya anak di masa lalunya." Ucapanya Talita.
"Apa maksud kamu?"
Talita menutup pintu itu, ia jadi berdiri dan bersandar pintu.
Rey berjalan mendekat "Sudah, jangan baperan lagi. Sana, kembali masak."
Talita berkata "Jihan sepertinya sedang terombang-ambing. Sangat disayangkan, sosok tuan putri memiliki nasib suram."
"Apa nasibmu lebih beruntung dari Jihan?"
"Tidak juga. Tapi, aku cukup beruntung, dengan apa yang sudah aku punya saat ini. Setidaknya, aku punya suami tegas."
Talita lanjut pergi ke dapur.
Mendengar perkataan istrinya, yang seolah sudah memuji dirinya, Rey mengulum bibir di dalam hatinya senang.
"Benar. Aku suami yang tegas." Gumam Rey dan kembali bersantai.
Kembali ke kamar Lovie.
Saat ini, Papa Richard sudah tampak ganteng dengan pakaian santai.
Memandangi istri dan anaknya yang bermain di atas kasur.
"Memangnya, ante Talita bilang begitu?"
"Aku di tanya-tanya aja." Cicitnya imut dan duduk bersandar bantal, tangan Lovie seraya memeluknya gemas.
Talita mengajari Lucas memanggil Mama, Nenek, Kakek dan Om Rey. Menceritakan tentang nenek sihir yang suka menculik anak-anak kecil. Bahkan, gilanya Talita, malah menyebutkan Nenek sihir itu, Nenek Bianca.
"Lucas, memangnya ingin nama seperti apa?"
"Seperti Papa." Jawabnya Lucas.
"Emh, gimana kalau nama kamu. Lucas De Nuca." Ucapnya Lovie.
Richard datang mendekat, ia berkata "Aku tidak setuju."
Lovie menoleh ke arah sang suami, ia berkata "Aku tahu, kamu belum bisa menerimanya."
__ADS_1
Richard jadi ikut duduk di sebelah istrinya dan ia berkata "Aku sudah menerima kehadiran Lucas dalam hidupku. Tapi, kalau memakai namaku. Aku masih ragu. Mommy belum bisa menerimanya. Sampai sekarang, Mommy masih menyalahkan aku sebagai biang pembuat masalah."
"Iya, aku mengerti. Kalau begitu, gimana pakai namaku saja."
Richard meraih tangan Lovie, ia berkata "Aku tidak enak hati sama Papi dan keluarga yang lain. Apalagi, kalau sampai Jihan menuntut kamu, karena memakaikan nama dari keluarga Ferdiawan."
"Terus. Siapa nama panjang Lucas?"
"Aku sudah memikirkannya."
"Siapa nama lengkapnya? Aku penasaran."
Lucas hanya bermain mobil-mobilan dan tidak menghiraukan kedua orang tua ini.
"Cium dulu, nanti aku bisikin."
Lovie jadi mencubit gemas pipi suaminya "Iih, mulai deh."
Habis dicubit. Hemms, tapinya tetap dicium manis pipi suaminya.
"Namanya, Lucas See Rilova."
"Maksdunya, Richard dan Lovie?"
"Iya begitu."
"Bagus juga. Berarti, nanti semua anak kita kasih nama itu."
"Iya. Anak-anak kita berdua." Richard jadi menyentil hidung istrinya.
Saat Lucas tidak mengiharukan mereka, Richard mencuri kesempatan.
Emhh!
Kecupan nakalnya, Lovie jadi memukul gemas punggung Richard.
"Ada anak juga."
"Biarin. Habisnya, kamu selalu fokus sama Lucas. Aku malah nggak diurusin lagi."
"Ye, siapa bilang nggak diurusin. Tiap hari siapa yang meluk, yang nemenin tidur, yang nyiapin pakaian, yang nyiapin sarapan, dan semuanya. Istrimu ini."
Richard, jadi meraih tangan istrinya dan menciumi tangan itu. "Iya, terima kasih istriku sayang. Aku bangga, punya istri seperti Mommy. Yang selalu ada buat suami, dalam suka dan duka."
"Memang sudah jadi kewajiban aku."
"Sayang, aku tidak menyangka. Padahal kamu masih muda. Tapi, kamu malah telaten mengurus suami kamu ini. Aku sangat beruntung, bisa mengenal kamu."
"Mengurus suami itu, memang harus. Mami dulu ngajarin aku. Pokoknya, harus bisa mandiri. Kecuali kalau aku sakit, aku baru minta tolong sama Bibi buat nyiapin ini itu. Tapi, dulu ada Mami, ya kadang makan disuapin. Kadang juga, tetap dimanjain."
"Iya, dari foto kelihatan, kalau Mami Raisa sayang sama kamu."
"Pasti dong. Kan, aku anaknya."
"Ada juga. Mama yang cuma bisa mengomel."
"Hems, itu sih Mama tiriku. Giliran aku bilang jangan suka ngebatin aku, kalau nggak suka bilang saja. Eh, dia sekarang bawel banget sama aku. Tapi, aku mulai suka sama dia. Dia bilang, aku membuang masa mudaku, buat ngurusin anak orang lain."
"Dia peduli." Richard jadi tersenyum.
"Mungkin maksudnya, memperhatikan aku. Hanya saja, penyampaiannya yang salah."
Mama Jessika memanggil, "Lovie...."
πΌπΌπ»π»
InFo Penting!
Hallo kakak-kakak pembaca setia.
Othor cuma mau kasih info.
Kalau sewaktu-waktu di novel yang ini, babnya tidak muncul lagi, berarti lanjut ke akun baru Vie-GV ya. Pastinya dengan judul yang sama.
Soalnya, dua hari ini ponsel othor sering trouble dan othor lupa sandi akun ini.
, ππ§
__ADS_1