Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 11. Kencan Pertama Lily


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 8 pagi, waktu kota Shindong.


Lily dan Troy berpisah di dekat kampus RL, tepatnya di sebuah halte.


"Pak, tolong antar calon suami saya, ke apartemen Rilova." Ucapnya Lily kepada sopir taxi putih.


"Baik Nona."


"Bee. Cepat hubungi aku setibanya di asrama."


"Oke."


Perlahan, mobil itu bergerak pergi meninggalkan Lily. Gadis belia itu, melambaikan tangan kanannya.


"Lily...." Panggilan dari Violla dan Lexi.


"Untunglah, mereka tidak melihat calon suamiku." Perasaan Lily yang berusaha tenang dan harus bersikap wajar di depan kedua sahabatnya itu.


"Emh, kalian pasti mau beli saparan."


"Kamu ini, bikin aku jantungan." Violla jengkel dan langsung menjewernya.


"Aaaa, sakit. Ampun Violla sayang."


Kedua sahabatnya, sempat melihat taxi tadi. Namun, tidak sampai melihat sosok tampan yang ada di dalam taxi tersebut.


Lexi menodong Lily, dengan pertanyaan "Hayo, kamu semalam tidur dimana?"


"Aku tidur di apertemen."


"Bukannya, apartemen kamu sudah disewa orang?!" Violla juga menelisik, akan gerak gerik Lily.


"Emh, iya. Tapi, aku di tempat yang lain. Apartemenku banyak."


"Wah, kamu sekarang makin belagu." Balasnya Lexi dan terus menatap Lily. Dia tetap mencecar Lily.


"Sorry. Aku sekarang punya kekasih. Jadi, kalian berdua harus bantuin aku, bohong sama Mom asrama."


"Huh, kamu kan bisa telephone. Biar aku cari ide bohongnya."


"Emh, ternyata kamu sudah melepaskan diri dari panggilan jomblo manis."


"Iya. Begitulah. Sekarang, aku punya calon suami. Dia pria tampan blasteran dan dia pria malamku."


"Apa?!!" Kedua sahabatnya jadi syok.


"Sumpah demi apa, dia cowok yang ninggalin sperrma di tanganmu."


"Emh, yang jelas begitu. Dia ternyata baik banget. Royal juga. Bahkan, aku sampai diberi blackcard sama dia."


Lexi jadi mengalungi tangannya "Aaa, aku juga mau."


"Hemm, nanti aku tanyain ke doi. Dia punya teman lajang apa tidak. Siapa tahu, Om Buleku, punya banyak teman lajang."


Violla berkata "Lexi, ingat nasehat Mama Papa. Katanya, semalam mau dijodohin. Hemms. Sudah berubah lagi."


"Iya sih?! Tapi, aku mau yang tampan dan juga mapan."


"Pasti, orang tua kamu nggak mau menjerumuskan kamu. Mereka ingin, agar kehidupan mereka tidak terulang sama kamu. Mereka sayang kamu. Makanya, kamu mau dijodohin begitu."


"Kalau ternyata, yang dijodohin aku itu. Kak Lucas gimana? Apa kamu rela? Hemms??" Lexi menatap Violla dan gadis itu terdiam.


Lily jadi merangkul kedua sahabatnya "Kalian, jangan sampai berantem hanya karena laki-laki. Nanti, aku kenalin kalian sama Om Buleku. Siapa tahu, dia punya banyak teman yang keren-keren. Kita masih muda, kita harus happy."


"Iya. Meskipun Lexi harus dijodohin sama Kak Lucas. Aku rela. Asalkan, Lexi bisa jadi istri yang berbakti kepada Kak Lucas."


Lexi berkata "Kalau itu Kak Lucas. Aku nggak bakal mau. Dari dulu nieh ya sampai sekarang ini. Aku selalu menganggap Kak Lucas itu Kakakku, aku juga nggak bakal bisa mencintainya."


Lily mencium pipi kedua sahabatnya, "Kita memang saudara. Jangan hanya karena cinta. Kita, jadi terpisah."


Lexi bertanya "Ayo, kasih tahu soal pacar kamu. Aku penasaran."


"Aku juga penasaran." Ucapnya Violla.


"Nanti aku ada kencan sama dia. Aku juga nggak ada kuliah. Kalian mau ikut nggak?"


"Yah, nggak bisa. Dosenku yang ini, sudah di ajak kompromi." Ucapnya Lexi dan menggeleng kepala.


Violla dengan suara mendessah, berkata "Sama. Hari ini, kuliahku full."


"Oke, kalau begitu. Nanti malam, setelah aku dating. Terus kalian selesai kuliah. Kita bisa makan malam bareng. Kalian, bisa kenalan sendiri, sama calon suami aku."

__ADS_1


"Okelah, kalau begitu."


"Iya. Aku ngikut saja." Balasnya Violla dan ia malah kepikiran soal Lucas.


Lily jadi berkata "Aku mau ke asrama dulu."


Lexi merangkul Violla, "Sudah dong. Aku cuma bercanda. Kamu mau tahu, siapa yang dijodohin sama aku?"


"Siapa?"


"Itu. Putranya asisten Oppah Benny."


"Hah? Serius kamu?!"


"Iya. Pokoknya, anaknya yang kuliah di IT. Satu kampus sama Ethan. Bahkan kata Papa. Dia sudah kerja di kantor Oppah."


"Kamu terima dia?"


"Belum tahu. Aku masih kepikiran Ethan, aku masih punya misi ngerjain dia."


Violla jadi berbisik dan Lexi jadi mengangguk.


Waktunya berkencan.


Jam 10. 15 waktu kota Shindong. Lily sudah tiba di mal tempat janjian dengan Troy. Pertemuan mereka berdua, di mal terbesar di pusat kota Shindong.


"Om Bule, maaf. Aku terlambat." Ucapnya Lily begitu tengil dan langsung duduk di seberang meja.


"Aku juga baru sampai." Balasnya Troy.


Kali ini, Troy berpakaian casual dan terlihat lebih manis. Demi mengimbangi sosok belia ini, Troy rela berganti busana trendy.


"Om Bule, kemari naik apa?" Tanya Lily dan menatap wajah Troy.


Troy setiap ditatap oleh Lily, dia jadi salah tingkah.


"Aku diantar sama Buho, sekalian dia ada meeting." Jawabnya Troy dan benar adanya.


Lily tidak mempedulikan hal lainnya, ia sudah duduk di hadapan Troy. Tampak manis dengan pakaian casual ala Lily Nee Rilova.


"Om Bule, aku mau es krim." Pinta Lily dengan suara manja.


"Vanilla, toppingnya buah strawberry."


"Oke. Aku akan membelikan es krim kesukaan kamu."


Troy segera bangkit dari kursinya, untuk membelikan es krim di stand es krim tentunya.


Lily tadi meminta Troy untuk duduk di taman samping Mal. Suasana di tempat ini lebih nyaman dan ada kolam ikan koi. Biar lebih santai ngobrol-ngobrolnya.


Lily jadi tersenyum gemas, "Aaa, bikin berdebar. Aku jadi merasa paling cantik di dunia ini."


Lily meraih kaca dan ia merapikan rambutnya. Polesan make-up super duper tipis dan tidak tampak sama sekali, orang tidak akan mengira kalau dia sudah bermake-up. Bahkan, bibirnya terlihat basah dengan liptint pinky ombre warna buah persik.


Tadi kelupakaan menyemprotkan parfum. Untungnya, di dalam tasnya ada parfum berbentuk stik yang imut dan segera memakainya. Aroma wangi tapi terkesan ringan. Terasa begitu menyegarkan.


"Bee." Panggilan itu, terdengar manis.


Lily jadi salah tingkah, sampai kegemasan sendiri, "Aaa.. Om Bule pinter banget sih. Bikin aku semakin suka."


"Suka?" Troy masih kaku dan tidak paham istilah-istilah yang sering dilontarkan oleh Lily.


"Artinya. Aku, suka sama kamu."


Troy, meletakan semangkok es krim ukuran medium di hadapan Lily.


"Silakan dinikmati."


"Om Bule suka rasa tiramisue?"


"Emh, tidak juga."


"Owh, aku pikir Om Bule menyukai itu."


"Ini, aku juga baru nyobain. Aku bukan penggemar es krim."


Kedua insan yang saling ingin memahami satu sama lain. Tengah berkencan dan memadu kasih di mal mewah. Duduk berdua dan saling menceritakaan tentang kesukaan mereka.


Di Hanz Group, Buho baru tiba dan berjalan seorang diri tanpa pengawalan.


Beberapa petinggi penting dari Hanz Group tengah menyambut investor, sekaligus pemilik saham utama.

__ADS_1


Jelas saham utama, setelah keluarga pecah. Hanz Group tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari Tuan Galie Shonte dan Presdir Nicholas tentunya.


Itupun, pimpinan Hanz Group juga tidak banyak kekuasaan. CEO Ron, yang bisa menarik para investor asing, dan salah satunya Marghisha


CEO Ron, sampai menikahi Marghinsa. Hanya demi penambahan saham miliknya. Lalu, Helena juga tidak mau kalah, dia meminta Papanya, untuk menarik Rich, agar tetap mendukung dirinya.


Presdir Helena, adalah kakak tertua di keluarga Hanz dan sikapnya begitu dingin. Suaminya pemilik perusahaan techno di kota lain, yang ada di negara ini.


Rich, kali ini tidak bisa membantu banyak. Karena, dulu masih dalam pimpinan Presdir Nicholas dan sangat sungkan dengan sahabatnya. Kalau beliau harus menarik sahamnya.


CEO Ron, sudah berusaha keras. Dia juga tidak mau hanya dijadikan umpan. Dia juga ingin kedudukan tertinggi.


"Selamat pagi semuanya. Maaf, saya terlambat datang."


Hanya Presdir Richard dan Madam Marginsha yang masih duduk santai. Beberapa pemilik saham lainnya, sudah tampak berdiri menyambut Mr. Troy, tapi yang datang malah asistennya saja. Tidak tampak Tuan besar, pemilik saham tertinggi itu.


Nona Katte yang sudah memegang bunga cantik, dengan terpaksa memberikan kepada Buho.


"Terima kasih Nona Katte."


Ruangan khusus di Hanz Group, ada 7 orang pemilik saham dan 2 diantaranya keluarga.


"Mohon maaf, Presdir Helena, Presdir Richard, Presdir Marghinsa dan CEO Ron. Saya datang, untuk mewakili Bos Troy. Kebetulan, beliau sedang masa kasmaran. Jadinya, saya datang sendirian. Sekali lagi, saya mohon maaf."


Buho jadi kocak sendiri. CEO Ron, merasa lega. Kali ini, dia bisa mewakili Troy, dalam pemilihan Presdir Hanz Group.


"Kak Helena, kita mulai saja sekarang. Mr. Troy, sepertinya tidak akan datang kemari."


Nona Katte jadi membatin "Apa maksudnya lagi kasmaran?!"


Presdir Richard berkata "Kita bisa video call Mr. Troy, untuk pemilihan Presdir yang terbaru. Kalau saya jelas. Saya tidak mau memimpin Hanz Group." Ucapnya Presdir Richard yang sangat menolak, tapi beliau terlalu percaya diri.


Presdir Helena, terlihat tenang dan ia juga masih memimpin Hanz Corporation dan Nona Katte memimpin kantor Haha. Mal Haha masih berdiri dan semakin megah.


Lily dan Troy, sepertinya di mal Haha. Berarti, mereka berdua hanya berkencan di gedung sebelah Hanz Group.


Madam Marghinsa Presdir perusahaan Kalleo Company juga hanya duduk manis. Tanpa bicara apapun, apalagi tentang kedudukan. Meski CEO Ron suaminya yang sekarang, tapi tidak pernah ingin menjadi Presdir Hanz Group.


Buho berkata "Bos saya, sedang tidak mau diganggu. Apapun, keputusan dari pemilihan ini, beliau akan menerimanya."


"Kalau begitu, bagaimana kalau Mr. Troy saja yang memimpin Hanz Group." Ucap Nona Katte yang asal menceplos saja.


CEO Ron dan Presdir Helena jadi menatap ke arah Katte.


"Masih ada Mr. Hugi dan Nona Ling." Ucapnya Presdir Helena tenang.


Beberapa orang yang ada disini. Sudah tampak berdiskusi dan menentukan pilihannya.


"Tuan Buho, sebaiknya anda hubungi Mr. Troy. Kita juga ingin mendengar apa pendapatnya."


"Baik Presdir Richard."


Semua yang duduk di ruangan itu, tengah menanti jawaban dari Mr. Troy. Pemilik saham tertinggi di Hanz Group.


Buho sudah mengutarakan keinginan para pemegang saham. Agar, sang asisten ini, mengganggu privasi Bosnya.


"Mohon maaf. Ponsel Mr. Troy sedang dimatikan. Beliau, tidak bisa diganggu."


Presdir Richard berkata "Mr. Troy telah mementingkan pribadinya. Jadi, tidak layak untuk memimpin Hanz Group. Saya akan mendukung Ronaldo Gi Vanco."


Papa tampan yang satu ini, akhirnya memilih rival asmaranya. Padahal, biasanya suka saling menyerang. Namun kali ini, Presdir Richard hanya ingin Hanz Group bisa dipimpin anak turunnya dari keluarga Hanz.


Mengingat, selama dipimpin Presdir Helena, tidak ada peningkatan. Dalam benaknya, harus ada pimpinan baru yang lebih berkompeten.


"Saya setuju." Ucapnya Buho, karena memang begitu alurnya.


Troy juga karena ayahnya dan memang berniat membantu CEO Ron.


"Saya juga setuju, kalau CEO Ron, yang memimpin Hanz Group."


Kring Krong!


Troy memanggil asistennya.


"Bos telephone." Ucapnya Buho.


Para anggota, meminta Buho agar telephonenya di loudspeaker.


"Hallo Om Buho, kenapa tadi telephone?" Suara Lily, begitu manise.


"Kenapa suaranya mirip Lily?" Batinnya Presdir Richard.

__ADS_1


__ADS_2