
Suasana malam di depan cafe histeria. Malam ini, cafe histeria tampaknya sedang tutup lagi.
Beberapa anak laki-laki yang berusia 18 sampai 21 tahun itu, telah menunggu Lily di depan cafe histeria.
Meski cafe sedang tutup, halaman depan dan teras cafe ada beberapa meja tamu yang memang ada di teras cafe histeria.
Lily berdebar karena ada sosok dewasa nan tampan yang tengah duduk di sebuah kursi kayu estetik.
Gaya kafe yang kekinian dan sangat cozy. Meskipun kafe tidak sedang beroperasai alias tutup sementara waktu.
Pria dewasa itu, tetap datang dan menunggu gadis malamnya.
"Bro, Lily datang." Ujar seorang cowok manis.
Ada lima cowok yang mengobrol dan obrolan itu tentang Lily. Sepintas, pria tampan yang duduk dengan menawan. Tengah mendengar obrolan yang sangat sensitif.
Apalagi, mereka membahasa bagian milik perempuan. Meskipun, pria itu sudah dewasa, bahkan pernah memegang benda seperti itu. Namun, ia merasa geli kalau mengobrolkan hal seperti itu kepada pria lain.
"Apa mereka semua lahir dari batu?!" Batin Troy, yang rada kesal. Karena, Troy sangat menyayangi ibunya. Meski yang diceritain para cowok itu bukan keluarga Troy, tapi dia sangat tidak suka.
"Lily. Akhirnya, kamu datang juga." Ucapnya Vano.
Lily memang sudah mendekati mereka. Sayangnya, pria tampan nan menawan itu, belum menoleh ke arah Lily.
"Iya. Aku tidak mau dibilang cemen sama kalian." Ucapnya Lily.
Mendengar suara itu, Troy membalikan badannya dan melihat ke arah Lily.
Keduanya, jadi saling menatap.
Lily kembali fokus sama Vano. Lily berkata "Calon suamiku sedang sibuk. Dia tidak bisa kemari."
Troy jadi duduk bersilang kaki, dan menghadap Lily, kedua tangannya juga bersedekap. Terlihat sorot mata yang tajam.
Vano mendekat, iya berkata "Lily, aku masih belum percaya sama ucapan kamu. Pasti, kamu berbohong sama aku."
"Tidak. Aku tidak berbohong sama kamu." Balasnya Lily, ia tampak kesal.
Troy yang masih menatap Lily, semakin senang. Ternyata, gadis malamnya sangat ketus dan terkesan galak.
"Dari semalam, kamu bilang calon suami kamu sibuk. Berarti, dia nggak sayang sama kamu. Aku yang sayang sama kamu."
Vano, berusaha mengelus rambut Lily.
Lily menghempaskan tangan Vano dan berkata "Jangan sentuh aku."
Lily semakin kesal dibuatnya. Para cowok yang lainnya, juga tampak menertawakan Lily. Para cowok itu pernah dikerajai Lily. Jadinya, ingin membalas dendam.
"Kamu ngaku saja. Ethan bilang. Dia kenal sama keluarga kamu. Kamu belum punya calon suami."
"Ethan, cerita begitu. Baguslah, kalau dia cerita begitu. Tapi! Ethan tidak sepenuhnya tahu soal aku."
Baru bicara begitu, pria tampan nan rupawan itu bertepuk tangan.
Lily dan para cowok itu, jadi menoleh ke arah Troy.
Tepukan tangannya saja, telihat elegan.
Troy, jadi berjalan mendekati Lily.
"Sayang, kamu memang pandai bicara." Ucapnya Troy.
Lily jadi semakin berdebar, saat Troy merangkul pinggangnya.
"Urusan bininya belakangan. Yang penting, aku bisa lepas dari mereka."
Lily, jadi memasang senyuman tipis.
Troy berkata "Saya, Troy Arrion Shonte. Calon suami Lily."
Setidaknya, Troy sudah mendengar panggilan, yang diucapankan oleh para pemuda itu.
Mereka memanggil gadis malamnya, Lily.
"Sangat kebetulan. Malam ini aku akan menempati Lily Penthouse dan gadis malamku ini bernama Lily."
"Troy??" Para pemuda itu, bingung.
"Kalian bisa mencari profile saya di website. Saya sangat terkenal di negara saya. Saya ke kota ini, karena saya sangat mencemaskan calon istri saya. Ternyata benar, calon istri saya sudah digoda oleh para pria mesum. Bahkan, semalam dia pulang dalam keadaan yang tidak baik." Ujarnya Troy dan ia menyunggingkan bibirnya ke kanan.
Ada pemuda yang sudah membuka halaman berita, ia sangat kaget sekali, "Iya. Wajahnya sama."
Ucapan itu, membuat temannya yang lain jadi penasaran "Coba lihat."
Berdebar!
Setelah mereka melihat, ia berbisik "Vano. Lebih baik, kita pergi saja."
"Vano. Kita bisa dihabisi sama dia."
Vano berkata "Lily. Kamu sudah membuktikannya. Aku sudah puas, dengan jawaban kamu."
Vano dan lainnya akhirnya pergi. Raut wajah mereka ketakutan. Tidak ingin berurusan dengan keluarga Shonte.
Di berita tersebut, Troy memang akan pindah ke Shindong demi seorang gadis.
Celutukan Ayahnya Troy, membuat geger para wartawan yang bertanya, saat keberangkat Troy ke kota Shindong.
Dalam berita terkini, Ayahnya Troy sangat berharap, Troy segera menikahi gadis Shindong.
"Wah, aku pasti sudah gila. Aku jadi terjebak. Lepas dari Vano and the genk. Aku, malah masuk ke kandang singa."
Troy, semakin menarik pinggang Lily, sampai keduanya wajah bertemu dekat.
Lily bahkan tampak berjinjit, ia meronta "Lepaskan aku!"
"Percuma aku berteriak."
"Aku sudah membantu kamu. Apa imbalan kamu untukku?"
"Apa, yang kamu inginkan dari gadis kecil seperti aku?"
Lily yang tengil, matanya malah berkedip-kedip. Troy tersenyum nakal, pelan-pelan, semakin menarik pinggang gadis malamnya.
__ADS_1
"Aku ingin kepuasan. Aku ingin, kamu memberikan aku kepuasan."
"Owh, oke. Aku akan memberikan kamu kepuasan. Tapi, lepaskan pinggangku." Balasnya Lily.
Setelahnya, Lily mengajak Troy berjalan berdua.
Lily menggandengnya ke tempat yang gelap. Troy melihat sekitar, tidak ada siapapun.
"Kenapa kita kemari?"
"Aku akan memberikan kamu kepuasan."
"Di tempat terbuka begini?"
"Memangnya, kamu mau dimana?"
"Aa, baiklah. Terserah kamu saja."
Lily jadi bingung, berfikir "Atas dulu? atau bawah?" Lily mengerjainya.
Troy bertanya "Kenapa kamu diam?"
Lily bingung, ia berjinjit dan segera mencium bibir Troy. Troy merasa kalau bibir Lily memang lebih manis, dari para perempuan yang pernah mencium bibirnya itu.
Emhh.
Saat kedua bibir tengah berciuman, ada rasa manis yang akan membuat candu.
Tiga.
Dua.
Satu.
Aaagrh.
Lily berkata "Maafkan aku. Ini kali pertama, aku berciuman."
Pertama??'
"Kamu sengaja menggigit Liddahku?"
Liddahny, sampai berdarah.
"Itu, darah." Lily menunjuk ke sudut bibir, ada darah yang menetes.
Troy memegang liddah, dengan gemetar menatap tetesan darah di jemarinya.
"Darah. Aku berdarah?" Troy ketakutan.
Pria tampan yang satu ini takut melihat darahnya sendiri. Semakin berdebar, kedua kakinya lemas dan pandangan matanya terasa gelap.
"Tuan. Tuan!"
Troy rubuh dan tak lagi bertopang.
Lily cemas dan semakin bingung "Aku cuma menggigit lidahnya saja. Kenapa sampai pingsan begini? Apa dia cuma ngeprank aku?"
"Kalau, dia beneran pingsan gimana?" Batinnya Lily bingung.
"Tolong!" Teriaknya Lily.
"Tolong!!!" Teriakannya lebih nyaring.
"Tolong!!!" Teriaknya Lily dan semakin gelisah.
Lily berkata "Om Bule. Ayo bangun!"
"Om Bule bangun dong. Jangan mati disini."
"Om Bule." Lily jadi menangis.
Asisten dengan rambut klimis itu, juga sedang mencari-cari Bosnya.
"Om Bule, bangun!" Lily menggoyang badannya Troy dan menangis tersedu-sedu.
"Om Troy, Bangun!!"
Sang asisten mendengar itu, pikirnya adalah Troy sedang bercinta dengan gadis malamnya.
"Om Bule, sadarlah. Jangan mati disini." Ucapnya Lily.
Mendengar hal itu, pikiran Buho jadi panik "Apa Bos dibunuh orang?"
Buho berlari ke arah suara yang menangis. Ia tertegun, saat melihat Troy terduduk di gegelapan.
"Apa, Bos dilukai sama anak muda tadi?"
Buho melihat gaya anak muda tadi ada yang begajulan, terlihat dari penampilannya.
"Bos. Bos Troy."
Lily menoleh ke wajah Buho "Kamu siapa?"
"Saya Buho. Asisten Bos Troy."
Lily yang masih memeluk Troy dalam dekapannya, ia berkata "Om Bule masih pingsan. Cepat bawa dia ke rumah sakit."
"Pingsan?"
"Iya. Pingsan. Padahal cuma aku gigit liddahnya." Jawabnya Lily.
"Gigit Liddah?"
"He'em. Terus Om Bule pingsan."
"Apa, sampai berdarah?"
"Iya."
"Owh, saya paham. Bos takut darahnya sendiri."
"Pobia, melihat darahnya sendiri?"
__ADS_1
Asisten itu, jadi memapah Troy sampai ke mobil dibantu oleh Lily.
"Om Bule makannya apa sih?! Badannya berat banget." Keluhnya Lily.
Beberapa saat kemudian.
Troy sudah sadar dari pingsannya, namun Lily masih merasa cemas. Sampai harus menemaninya.
Jam 9 malam, di kawasan barat kota Shindong.
Tiba di Lily Penthouse.
"Jadi, dia orangnya? Yang menyewa apartemenku." Batinnya Lily.
Lily terdiam, saat tiba di Lily Penthouse.
Troy bersandar sofa dan ia berkata "Aku sudah membantu kamu. Tapi, kamu malah melukai aku."
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Aku belum pernah pacaran. Itu, ciuman pertamaku."
"Hei, Nona malam. Apa, kamu tidak ingat soal tadi malam?"
"Aku tidak ingat apapun. Memangnya, aku berbuat apa sama kamu?"
"Apa, kamu tidak merasakannya?"
"Kamu menodai aku?"
"Kamu yang sudah menodai aku. Kamu merayu dan menindih burung jantanku."
"Apa buktinya?"
"Beneran? Mau tahu rekamanku? Aku merekam kamu, yang menari-nari."
"Kamu sengaja merekam aku. Kamu ingin memeras aku?"
"Gadis-gadis lain sangat segan padaku. Kenapa kita berdua jadi santai begini ya? Dari semalam, kamu memanggilku sayang, cium aku dong. Tampan, hamili aku. Kamu bilang begitu."
"Nggak mungkin!!"
"Itulah, yang terjadi."
"Tuan Troy yang terhormat. Apa anda bisa menghapus rekamannya?"
"Kamu ingin, aku hilang ingatan?"
"Owh, jadi cuma rekaman otak. Aku pikir rekaman camera dan terlihat hal yang tidak-tidak."
"Meski aku pria dewasa. Aku tidak begitu. Aku masih punya moral dan harga diri."
"Emmh. Berapa harga dirimu? Aku akan membayarnya. Sekarang juga, akan aku bayar."
"Nona malamku. Berhentilah, menjadi penguasa pria." Troy tersenyum.
"Silakan. Sebutkan saja nominalnya."
"Pantas saja, temanmu jadi memusuhi kamu. Kamu memang nggak punya etika."
"Tuan Troy, cepat katakan. Apa yang harus saya lakukan untuk membayar semuanya? Soal semalam. Soal calon suami, dan soal anda pingsan."
"Oke. Berikan aku 1 Triliun."
"Itu uang??!"
"Sepertinya, kamu mau membayar aku."
"Benar."
"Aku sehari bekerja. Mendapat 300 juta sampai 1 Miliar. Sekarang lidahku masih sakit, aku butuh waktu istirahat."
"Yang benar saja, sehari dapat 1 M. Pasti cuma mimpi di siang bolong.
"Nyalakan ponselmu. Cari tahu siapa aku. Ketik, Troy Arrion Shonte."
"Buat apa, aku mencari tahu?"
"Kamu, pasti tidak sanggup membayarnya.
"Aku masih mahasiswa. Uang jajanku sebulan, cuma sehari gajimu."
"Kalau begitu. Malam ini, kamu harus tidur denganku."
"Tapi aku masih perawan. Nggak sebanding sama harga 1 T. Aku, akan aduin kamu sama Papaku."
"Aku bilang tidur. Bukan bercinta. Besok, aku ada rapat penting. Aku masih takut darahku. Aku akan susah tidur. Disini tidak ada siapapun, kalau aku pingsan lagi gimana?"
"Owh, cuma tidur."
"Kenapa, kamu tidak menyuruh asisten kamu untuk tidur disini?"
"Dia harus menyelesaikan pekerjaanku di kantor."
Buho hanya mengantar mereka sampai apertemen, selekasnya pergi ke kantor. Buho terbiasa tidur di kantor.
"Aku, tidak akan ijinkan kamu pergi."
"Lily." Lily malah diendus-endus sama robot pembersih lantai, robotnya berkata lagi "Lily."
"Neo sepertinya menyukai kamu. Kamu dan Penthouse ini sama miripnya. Nama dan watak kamu, sama persisnya dengan Lily Penthouse."
Lily jadi terdiam sesaat, ia kembali berkata "Robot kecil, jangan genit sama aku.
"Pilihlah kamar yang kamu mau. Aku harus istirahat."
"Nggak!"
"Ingat! Denda, 1 T."
"Bisa ditawar nggak? Jadi 200 juta saja."
"Kamu pikir, aku ini Neo?"
"Om Bule,," Berusaha manja.
__ADS_1