Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Kembali Bertemu


__ADS_3

Sore yang menyenangkan saat tiga remaja asyik menikmati tontonan yang menegangkan. Seru akan komedi yang terselip dalam filmnya. Mereka melihat dua tokoh utama yang membuat suasana jadi semakin membawa perasaan.


Setelah lampu kembali menyala, Talita bergumam, "Hish, aku jadi kepingin cippokan lagi sama Bos Rey."


Ron menoleh ke arah Talita, "Talita, kamu bilang apa barusan?"


"Emh, ada deh. Mau tahu aja urusan orang lain." Balasnya Talita dan ia kembali memakai sepatu sporty putih.


Tadi, dia ingin rebahan sampai harus melepas dua sepatunya itu. Ron jadi mengalihkan padangannya. Menoleh ke belakang, Lovie sudah tidak terlihat lagi.


"Talita? Lovie kemana?"


"Emh, bukannya tadi masih di belakang. Tadi, dia juga menjerit."


Ya jelas menjerit, Richard datang dari belakang, lalu membawa calon istrinya pergi.


"Iih, Kak Richi bikin aku kaget."


"Kamu juga, pergi ke bioskop nggak bilang sama aku."


"Memangnya, aku harus selalu minta ijin dulu sama Kak Richi?"


"Iya, itu jauh lebih baik. Biar aku tidak kepikiran soal kamu."


"Emh, iya. Aku sudah mengerti. Aku minta maaf. Aku lupa memberitahu Kak Richi, kalau aku diajakin Ron sama Talita buat bikin tugas, mengulas tentang isi film di jurnal diskusi."


"Memangnya, ada pelajaran seperti itu?"


"Iya, ini kalau nggak percaya. Aku sudah menulisnya. Talita yang memilih filmnya, dan Ron yang mengatur tempatnya."


Hish, bisa saja ini bocah satu, membantin "Aku harus berbohong. Padahal, ini tugas bulan lalu. Aku hanya suka, membuat kesimpulan dari isi filmnya."


Richard memegang tangannya, ia berkata "Aku percaya sama kamu."


"Emh, tadi aku bertemu Jihan disini. Lebih tepatnya, di lantai 2."


"Kamu bertemu Jihan?" Entah kenapa tatapan Richard saat ini, aneh.


"Apa Kak Richi hanya ingin punya anak? Dia juga pernah tidak menyukai aku. Aku tidak jadi hamil. Apa yang harus aku lalukan padanya? Aku sudah terlanjur janji dengan Ibu Nancy."


Ron dan Talita, melihat ke arah Lovie yang bersama Richard. Ada 4 pengawal yang berjaga di sekitar mereka dan ada Doddit yang berdiri tidak jauh dari sang Bos tampannya itu.


"Jadi beneran, Kak Richard itu kekasihnya Lovie yang baru? Apa karena Kak Richard, Lovie sampai tinggal di rumahnya."


Ron mendengar, kalau Richard sudah punya calon istri. Makanya, tidak bisa kembali dengan Jihan. Itulah, yang Ron tahu saat Papanya bercerita dengan kedua istrinya.


Talita memanggil, "Lovie."


Di lobby bioskop ini, Richard juga bisa melihat sosok Tuan Muda dari keluarga Hanz, yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Talita, sorry. Aku sudah diculik sama Kak Richi." Ucapnya Lovie dan tampak cengengesan di depan kedua teman kelasnya ini.


Lovie memasukan bukunya ke dalam tas dan Talita tampak menjijing tas belanjaan, yang berisi seragam Lovie.


"Apa kamu mau ninggalin ini? Tasnya kebawa sama aku. Kamu nanti bingung nyariinnya." Ucap Talita dan menyodorkan tas belajaan itu.


"Kamu belanja?" Tanya Richard, yang berdiri di sisi kanannya.


Lovie sudah meraih tas itu, ia berkata "Ini seragam sekolahku. Tadi, rokku kotor karena minuman Talita."


"Owh, tadi kamu shopping. Harusnya, kamu bilang sama aku kalau mau shopping."


"Bukan, aku yang shopping. Ron yang membelinya."


"Ron?" Suara itu pelan, tapi dalam benaknya sudah kacau.


Talita sadar akan tatapan Richard yang tidak suka, ia semakin mendekati Lovie.


"Aku juga dibeliin sama Ron. Lihat ini, hampir sama kaos dan roknya."


"My Lovie. Kamu harus berterima kasih sama Tuan Muda Ronaldo Gi Vanco."

__ADS_1


"Kak Richard jangan bikin aku sungkan. Mereka berdua teman sekelasku. Apalagi, Lovie dan aku memang dekat selama di sekolah." Ucapan Ron, seolah mempertegas kedekatannya dengan Lovie.


"Ron, bukannya aku jauh lebih dekat bersama kamu."


"Iya, dekat dan suka berdebat." Sahutnya Lovie.


Richard sudah seperti remaja yang tidak mau kalah, ia meraih badan Lovie dan secepatnya meletakan tangannya di pinggang Lovie.


"My Lovie, kamu masih ingin disini? Apa kita pulang ke rumah?"


"Emh, terserah Kak Richi. Aku sebagai istri, harus patuh kepada suaminya." Ucapnya Lovie, sambil tersenyum.


Ron bertanya "Apa kalian berdua sudah menikah?"


Richard yang menjawab "Tuan Muda Ron, tunggu saja undangan dari kita berdua. Semuanya, sedang dipersiapkan."


"Tapi Lovie masih sekolah. Apa bisa, kalian berdua menikah?"


"Bisa sekali. Lovie sudah 17 tahun. Tidak ada, yang tidak bisa bagi seorang Richard De Nuca."


Ron mingkem, namun ia juga tampak mendesah pelan. Ada hal yang tidak bisa ia mengerti. Kenapa melihat Lovie yang dirangkul oleh Richard, dirinya jadi gelisah dan rasanya tidak senang.


Talita mendekati Ron, tangannya sudah genit dan merangkul lengan Ron "Ron, kamu janji nganterin aku pulang ke apartemen Loona."


"Iya, aku akan mengantar kamu kesana."


Saat ini juga, Jihan bertepuk tangan dan terlihat seperti meledek Talita yang berubah genit.


"Rey sudah setuju mau dijodohin sama aku. Terus, kamu kegenitan nempel ke adiknya."


"Ye, suka-suka aku dong. Ron saja tidak marah." Balasnya Talita.


Richard malas bertemu Jihan, ia berkata "My Lovie, ayo kita pergi dari sini."


"Iya Kak Richi."


Jihan berkata "Kalian. Tunggu sebentar."


"Mumpung kalian semua sudah kumpul disini. Aku mau kasih undangan buat kalian semua."


"Sis, tolong bagikan ini ke mereka semua. Itu, kalau perlu sekalian buat dia. Asistennya si Richard."


"Si Richard??" Batinnya Richard tidak senang, tapi dia tidak mau meladeni mantannya.


Talita menerima itu, ia berkata "Wow, pasangan yang cucok meong. Oke, besok aku akan datang."


"Kalau begitu. Kamu sadar. Kenapa masih ingin pulang ke apartemen Rey?"


"Aku cuma mau ambil koper. Aku juga akan menghapus kontrak kerjaku sama Bos Rey."


"Owh, cuma begitu. Iya silakan. Tapi ingat, jangan harap kamu kembali lagi dan mengganggu Rey."


"Soal itu, ya tergantung gimana Bos Rey. Dia yang mempekerjakan aku. Aku juga tidak mau jadi perebut milik orang lain. Apalagi, keluarga. Tidak ada, dalam kamusku merebut milik orang lain. Aku bukan perempuan seperti kamu, kanan kiri oke nggak pakai ngerem. Hemms. Richard dan Rey, aku dengar ceritanya saja jijik." Balasan Talita yang seperti kereta api, panjang dan cepat sekali.


Talita berkata "Ron, aku bisa pergi sendiri. Aku juga tidak mau bergantung sama cowok lain."


Ron meraih tangan Talita "Aku sudah janji, aku akan mengantar kamu ke apartemen Kak Rey."


"Noh, kamu lihat sendiri. Mata kamu pasti nggak buram, telinga kamu juga pasti mendengarkan ini??"


Talita jadi merangkul lagi lengan tangan Ron dan berjalan pergi. Jihan jadi menggerutu sendiri "Cewek sakit jiwa. Awas saja, kalau kita bertemu lagi."


"Nona yang tenang." Asisten Mama Bianca, ternyata yang menemani Jihan.


Lovie berkata "Kak Richi, ayo kita pulang. Aku juga capek."


"Iya." Richard jadi menggenggam tangan Lovie dengan manis dan Jihan bisa melihatnya.


"Huh, Richard benar-benar tidak mau melihat aku." Batinnya Jihan.


Doddit berkata "Saya akan datang dan membawa pasangan. Terima kasih."

__ADS_1


Doddit-pun, juga pergi dan berjalan di belakang para pengawal.


Talita yang pergi duluan, ia berkata "Ron, terima kasih."


"Iya sama-sama."


Tiba-tiba, Talita jadi berubah sendu.


"Ron, aku ingin naik taxi saja. Terima kasih untuk semuanya. Aku suka filmnya. Seru." Talita menaiki lift dan menekan tombol untuk ke lantai bawah.


Ron melihat gelagat Talita yang jadi aneh, "Talita kenapa jadi begitu? Apa, Talita sebenarnya sudah menyukai Kak Rey?"


Talita tidak bisa menahan dirinya, apalagi soal Mama. Tetap saja, dia bersedih kalau mengingat tentang Mamanya.


"Mama. Apa Mama sudah melupakan aku dan Kak Lolla?? Apa aku tidak berarti untuk Mama?" Pikiran polos Talita, bersedih.


Rasanya tidak adil untuknya, disaat dirinya masih ada Ibu kandung. Tetapi, Ibu kandungnya tidak mengenali dirinya.


Bahkan, saat ini Talita yang keluar dari elevator, lagi-lagi melihat sang Mama yang berjalan dan tampak dikawal bodyguard.


"Mama." Ucapnya dan kedua matanya sudah meneteskan air mata.


Jarak itu begitu dekat, namun Talita tak sanggup untuk menggapai tangannya dan memeluknya, apalagi memanggil dengan suara tangisnya itu.


"Mama." Talita yang memilih berlari.


Dari atas, Lovie bisa melihat ke bawah.


"Talita kenapa?" Batinnya dan melihat ke sisi lain, ada seorang wanita cantik yang menjijing tas mewah.


"Tante Bianca." Gumamnya Lovie.


Richard mendengar itu, dia bertanya "My Lovie kamu kenapa?"


"Emh, bukan apa-apa." Balasnya Lovie dan dia sebenarnya ingin menghampiri Ibu itu, untuk menanyakan sesuatu.


Di depan pintu utama, saat Talita yang berlari keluar dari mall Haha. Kemudian, sebuah mobil sedan mewah berhenti di hadapannya. Talita menatap mobil itu.


"Talita."


"Nyonya Nancy."


"Ayo naik."


"Baik."


Talita yang langsung menaiki mobil mewah itu dan tidak lagi melihat ke belakang. Ternyata, Ron tetap mengejar Talita.


"Kemana perginya? Cepat banget ngilangnya."


Ron melihat ke sekitar pintu utama, tidak terlihat teman pintarnya itu.


"Huh, aku sudah berniat baik padanya. Malah ngilang gitu saja."


Talita yang sudah duduk di sebelah kiri Nyonya Nancy, tampak terdiam.


Nyonya Nancy berkata, "Saya sudah tahu semuanya, tentang kamu."


Talita menoleh ke sosok yang dianggap sempurna oleh Talita. Talita hanya bisa memandangi wajah itu, tanpa berkata ini dan itu.


"Kamu putri kedua Bianca. Yang sudah ditelantarkan. Saat usia kamu balita."


Talita tak sanggup untuk mengelak dan tak bisa berkata untuk mengiyakan masa lalu suramnya itu.


"Saya pernah bilang sama kamu. Kamu bisa memanggil saya, Mommy."


Talita berkata "Nyonya saya hanya."


Nyonya Nancy memegang tangannya, beliau berkata "Talita. Roda kehidupan akan terus berputar. Saya dulunya, juga banyak penderitaan. Bahkan semuanya, hanya pemberian. Saya dulunya, sering menerima baju bekas dari majikan Ibu."


"Nyonya Nancy." Tampak kepolosan dari wajahnya, namun itu tidak menandakan kalau Talita sosok yang lemah.

__ADS_1


"Saya tahu, ini tidak akan mudah. Tetapi, saya memiliki tujuan sendiri. Apa kamu bersedia membantu?"


__ADS_2