Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 15. Memahami Tingkah Lily


__ADS_3

"Lily."


Sosok yang anggun dan feminine, telah ada di hadapan Lily.


Lily menunduk mengikat tali sepatu, saat wanita itu, dari tadi sudah berada di dekatnya.


Setelah, wanita itu memanggil namanya. Lily mendongak, melihat wajahnya.


Cantik, anggun, tinggi semampai, lekuk tubuhnya sangat ideal, bagi seorang wanita.


"Kak Katte." Lily tampak mengukir senyuman, saat melihat sosok ini.


Lily salah satu gadis, yang mengagumi sosok cantik ini.


"Ternyata, kamu. Calon istrinya Troy." Ucapannya begitu santai. Lily jadi bangkit dari sofa dan berdiri di depannya.


Lily bertanya "Kak Katte mengenal Om Bule?"


"Iya. Aku sangat mengenal dia. Dia juga rekan bisnis di Hanz Group."


"Owh, benar juga. Pantas saja, Papa juga rekan bisnisnya dia." Lily mulai paham, soal urusan bisnis Troy dengan Papanya. Itu, karena Hanz Group.


"Aku tidak menyangka. Ternyata, kamu pandai menggoda Troy." Ucapan itu, mulai terdengar sinis.


"Maksudnya Kak Katte, apa?" Lily bahkan harus mendongak, saat menatap wajah Katte.


Sudah tinggi, pakai high heels. Badan Lily, jadi kalah jauh tingginya.


"Aku dan Troy, terikat hubungan perjodohan." Ucapnya Nona Katte dan tersenyum sinis.


"Perjodohan?? Tapi, Om Bule nggak bilang begitu sama aku."


"Benar sekali. Dulu Kakek Hanz dan Ayahnya Troy, membuat perjanjian. Tapi, Troy salah. Dia tergoda di malam pesta Hanz Group. Harusnya, di malam itu. Troy sudah menyetujui perjanjian itu. Itu, semua, gara-gara kamu yang tengah menggoda dia." Ucapnya Katte dan itu benar adanya.


Malam pesta Hanz Group, sebenarnya juga ada niatan lain. Dari pimpinan yang sebelumnya.


Mengingat, akan nama besar Hanz Group dalam dunia bisnis.


Saat saham tertinggi sudah berada di tangan Troy. Pemilik Hanz yang dari awal meniti perusahaan dan sampai akhirnya terbentuk Hanz Group, tidak terima kalau nantinya Hanz Group harus ditangan orang lain.


Karena itu, pemilik Hanz Group, yaitu Kakeknya Katte. Ingin Troy meminang Katte, dengan alasan ikatan bisnisnya agar menjadi keluarga.


Sayangnya, di malam pesta Hanz Group, Troy menolak perjodohannya. Troy mengatakan, kalau dia sudah punya calon istri.


Lily masih terdiam, bahkan tidak berani melawan perkataan Katte. Apalagi, dari dulu Lily memang memuji kecantikan dan gaya Katte, yang selalu anggun sebagai wanita berkelas.


"Lily. Aku tahu. Troy, tidak akan tergoda dengan kamu. Sepertinya, Troy hanya ingin menunjukan sama keluargaku. Kalau dia punya calon istri. Bahkan, dia melamar kamu disini. Di mal milik Hanz Group. Kamu tahu, apa itu artinya. Kamu, hanya gadis kecil, yang dimanfaatkan sama dia, untuk menolak keluargaku secara halus."


Tatapan Katte, sudah menusuk perasaan Lily.


Lily masih terdiam, ia tidak membalas perkataan Katte.


"Gadis kecil yang bisa dimanfaatkan dan setelah dia bebas dari keluargaku. Troy, pasti akan mencampakan kamu. Atau mungkin, dia akan menghamili kamu lalu meninggalkan kamu. Troy, tidak akan mungkin selamanya tinggal di kota ini. Bahkan, dia pria cassanova, yang suka bergonta-ganti pasangan."


Nona Katte semakin memanasi Lily. Dia tersenyum, meski hatinya sudah rapuh.


Lily berkata "Kak Katte sepertinya salah paham. Aku tidak bermaksud merebut Om Bule dari Kak Katte. Apalagi, sampai menggoda Om Bule, agar menolak perjodohannya. Aku mengenal Om Bule baru beberapa hari. Kita hanya sebatas pacaran."


"Emh, Lily sepertinya berkata jujur." Batinnya Nona Katte perlahan lega.


"Aku harap. Kamu tahu posisi kamu. Aku hanya perhatian sama kamu. Seharusnya, kamu tidak terjebak dalam masalah keluargaku sama Troy. Apalagi, kamu masih muda. Kamu masih kuliah dan orang tua kamu. Pasti tidak mau menanggung aib, kalau kamu sampai kecelakaan."


"Kak Katte tidak perlu mencemaskan aku. Aku tahu, aku harus berbuat apa. Lagian, umurku sudah di atas 17 tahun. Aku mau menikah atau tidak. Aku yang menentukan. Soal, hubungan aku sama Om Bule. Aku nggak peduli, kalau nantinya dia pergi. Yang penting, aku dan dia, saat ini sudah jadian. Dia melamar aku dan sudah jadi calon suamiku. Dia sangat perhatian. Bahkan, kasih aku blackcard. Bukannya, itu sangat berlebihan." Cerocosnya Lily.


"Segitunya, Troy sama Lily. Aku harus membuat Lily percaya aku."


"Lily, kamu belum tahu hal dewasa. Apa kamu nggak takut. Tiba-tiba Troy pergi, saat kamu hamil anaknya. Iya, kalau cuma hamil. Kalau dia ninggalin penyakit buat kamu, gimana?" Nona Katte jadi sok perhatian.


Lily bertanya "Apa Kak Katte cemburu?"


Lily melihat gerak-gerik Nona Katte yang jadi salah tingkah.


"Tidak. Aku malah senang, saat Troy menolak perjodohan itu. Soalnya, aku takut. Kalau Troy, sudah celap-celup sama wanita liar."


"Bener juga? Om Bule bilang. Pernah bayar beberapa wanita, untuk melayani dan hanya menginginkan kesenangan. Tapi, aku bisa cek dulu. Aku ajak dia ke dokter. Tanpa dia curiga sama aku."


"Emh, Kak Katte benar. Aku baru kepikiran soal itu. Kak Katte, terima kasih. Sudah memperingatkan aku."


Lily jadi kembali duduk, dan melepas sepatu yang dia coba barusan.


"Kamu ingin sepatu itu?"


"Owh, tidak Kak Katte. Aku baru sadar, ini tidak cocok di kaki aku." Balasnya Lily dan dalam batinnya Lily, ia curiga. Soal perkataan Nona Katte, tentang Troy yang memanfaatkan dirinya saja.


"Aku harus cari tahu. Aku harus cari tahu semuanya." Batinnya Lily.


Nona Katte masih berdiri di depannya, ia berkata "Aku masih ada pekerjaan penting. Aku pergi dulu."


"Iya Kak Katte, silakan."


Lily jadi sebal, ia malah mengikat erat sepatunya dan meminta pelayan mendekat.


"Kak, tolong scan barcode sepatu ini, saya mau bayar disini saja." Pintanya Lily.


"Maaf Nona. Mesinnya tidak bisa dipindah kemari."


"Kenapa pelayanan disini kacau sekali? Begitu saja tidak bisa. Di mal Papaku bisa. Dimana pimpinan kalian?!"

__ADS_1


Manager store sepatu, datang mendekat.


"Iya Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang Pria yang berusia 40 tahun dan tampak penampilan rapi dengan kemeja lengan panjang, serta celana bahan warna hitam. Begitu rapi, sampai rambutnya saja juga terlihat klimis.


"Sepatunya, sudah terlanjur saya pakai. Saya mau, bayar disini saja."


"Saya mohon maaf. Atas pelayanan toko kami."


Kasir dan pelayan mendekat.


Papa Richard sudah melihat kelakuan buruk putrinya. Lily tampaknya juga kesal.


"Mr.Troy, bisa melihat sendiri. Bagaimana sikap Lily, ketika sedang kesal dan ngambek."


Troy tanpa membalas perkataan Presdir Richard. Troy malah berjalan pergi ke store, yang dikunjungi Lily.


Terlihat, Lily dari dinding kaca, duduk di atas sofa dan sudah berwajah masam.


"Bee, kamu kenapa?"


"Ini, sepatunya susah dilepas."


Troy, berlutut dihadapan Lily dan melepas tali sepatu itu.


Lily sama seperti Papanya. Susah untuk mengikat dan melepaskan tali sepatu.


"Pak, tolong pindai ini di kasir. Ini kartu saya."


"Baik Tuan."


Lily jadi menaikan kedua kakinya di atas sofa. Troy memegang tangannya, ia berkata "Kamu sangat menggemaskan."


"Aku lagi sebal."


"Bee. Aku tidak akan sebal sama kamu."


"Kalau aku sudah mengikat talinya, aku tidak bisa melepaskan dengan mudah. Seperti, kita."


Troy mengulum bibir, ia jadi berkata "Iya. Aku mengerti itu."


Dari sisi ruangan yang berbeda. Nona Katte juga melihat perhatian Troy.


Troy, jadi sosok yang berbeda ketika memperhatikan calon istrinya.


Papa Richard bergumam "Emh, tidak ada salahnya. Aku membantu dia. Aku harus bicara sama Lovie."


Papa Richard, lantas pergi bersama asisten pribadinya.


"Ehem. Apa dia, calon mantu anda Presdir?"


"Ya, sepertinya. Umur anda memang sudah cocok. Tapi, apa Nona Lily bisa menjadi Ibu?"


Degh!


Papa Richard menghentikan langkah kakinya, menoleh ke wajah sang asisten bawelnya itu "Apa kamu meragukan putriku?"


"Maaf Presdir. Bukan begitu maksud saya. Itu, seperti di toko itu. Nona masih ngambek. Nanti, gimana kalau anaknya nangis??"


"Apa kamu lupa sama istriku. Yang sering menangis, ketika Lily dan Latte masih bayi."


"Iya. Presdir benar."


"Tapi, istriku juga bisa melewati masa sulitnya."


"Iya Presdir. Saya mengerti. Maafkan saya. Saya hanya merasa kalau Bos Troy, sangat perhatian."


"Doddit, cari tahu soal Troy dan Hanz Group. Tentang perjodohan Troy dan Katte. Aku tidak ingin melihat putriku sampai bersedih."


"Baik Presdir."


Setelah itu, berjalan lagi dan meninggalkan Mal Haha.


Lily masih memeluk kedua kakinya.


"Tuan ini kartu anda."


"Terima kasih."


Sepatu itu, dipakaikan lagi ke kaki Lily.


"Kamu suka?"


"Tidak."


"Terus, kenapa kamu mencobanya??"


"Aku hanya tertarik luarnya saja. Ternyata, tidak nyaman dipakai. Ini sempit."


"Mau dilepaskan lagi?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku sudah terlanjur menginginkannya."


Troy mengerti, meski perkataan Lily susah untuk dia pahami. Namun, ia sedikit mengerti suasana hati Lily.

__ADS_1


"Kalau tidak nyaman. Tidak perlu dipaksakan. Nanti kaki kamu bisa terluka."


Lily dari tadi hanya menunduk. Perlahan, ada yang menetes dari pelupuk matanya.


"Kalau aku tidak nyaman dengan kamu. Apa aku harus melepaskan kamu?"


"Bee. Apa maksud kamu?"


"Kalau kamu memang memanfaatkan aku. Karena aku masih kecil. Aku tidak terima. Tapi, aku sudah terlanjur ingin bersama kamu."


"Apa Lily tahu, aku ingin menikahinya. Hanya, karena untuk mengobati gangguan sexxualku??"


"Bee."


"Tidak perlu dijelaskan. Aku tidak apa-apa."


"Bee. Aku akan menjelaskan sama kamu. Tapi, di apartemen. Bukan disini."


"Iya."


Lily mengusap air matanya dan ia berdiri di atas sofa. Tampak kekanakan sekali gadis belia ini.


"Gendong aku."


"Baik."


Troy membalikkan badan dan memberikan punggungnya.


Lily dengan cepat meraih bahu dan menyandarkan kepalanya di bahu Troy.


Troy bertanya "Kamu nyaman begini?"


"Iya. Nyaman sekali." Jawabnya Lily.


Nona Katte jadi semakin panas, saat melihat Troy yang menggendong Lily.


Entah, rasanya semakin tidak bisa menerima hal ini, apalagi di depan matanya sendiri.


Beberapa orang, melihat ke arah pria blasteran yang berlaku manis kepada gadis.


Ada pula yang cuek dan tidak peduli dengan sekitarnya.


Jam, sudah menunjukan pukul siang.


Troy bertanya "Kita, mau makan siang dimana?"


"Di apartemen saja."


Tidak lama, mobil sedan mewah. Sudah berhenti tepat di depan pintu utama Mal Haha.


"Itu, Buho sudah menjemput kita."


"Iya."


Setelah di dekat mobil, Troy menurunkan Lily dan membuka pintu mobil untuk calon istri manjanya.


"Silakan tuan putri."


"Terima kasih."


Buho tersenyum senang, saat melihat Bosnya sudah terkena virus cinta.


Setelah Troy dan Lily duduk di kursi belakang. Buho, mulai melajukan mobilnya.


Buho asisten yang tidak suka menggoda Bosnya. Dia memilih diam saja. Fokus mengendarai mobilnya.


Perjalanan dari pusat kota Shindong ke kawasan barat, lumayan jauh.


Lily sudah tampak bersandar dada Troy. Aroma parfum Troy saat ini. Membuat gadis belia itu, merasa nyaman.


"Bee. Kamu mau tidur?"


"Ini nyaman sekali."


Jawabnya, mengalihkan pertanyaan Troy.


Pria dia dewasa ini, jadi mengecup rambutnya.


"Aku suka wanginya." Ucap Lily.


Troy jadi berbisik "Jangan menggoda."


"Aku cuma suka. Apa salahku?"


Troy berbisik "Tunggu sampai apartemen. Kita bisa bobok bareng."


"Emh, disini nyaman sekali. Aku mau disini saja."


Buho, tidak mempedulikan obrolan mereka.


"Buho. Kita mampir ke DeNuca."


"Baik Bos."


"Kenapa ke hotel Papa?"


"Makan."

__ADS_1


__ADS_2