
Siang yang hareudang, Lovie menatap ke arah Ibu tiri yang berjalan memasuki kantor polisi Shindong.
Gaya Nyonya Jessika memang menawan. Dengan dress hitam kerah V, dibalut blazer kotak-kotak putih.
"Papi, apa penculik Lovie sudah mendapat hukuman?"
Ibu tiri yang datang tanpa diundang dan tidak memperhatikan Lovie yang ada di luar, malah menyelonong masuk, dan menemui suaminya, menanyakan kabar penculiknya.
Sang Ibu tirinya Lovie ini. Memang selalu mencari muka.
"Kamu sudah menemui Lovie?"
"Lovie lagi asyik bersama teman dekatnya."
Papi Benny berkata "Aku akan mencabut laporanku."
"Kenapa begitu? Harusnya, Papi bertindak tegas kepada pria penculik itu."
"Lovie sendiri yang ingin tinggal di rumah kekasihnya. Aku tidak bisa melarangnya."
"Apa??! Tinggal di rumah kekasihnya?" Jessika merasa heran.
Kemarin, beliau membela putrinya yang bersama Damian di hotel DeNuca.
"Perasan Jenny tidak akan terluka, karena Damian batal menikahi Lovie." Batinnya mulai nyaman.
Doddit, untungnya sudah berpamitan dengan Papinya Lovie. Seandainya, mendengar ucapan Ibunya Lovie. Pasti, dalam hatinya mengumpat.
"Papi, aku akan mendukung Papi."
"Aku akan bicara dulu sama pengacara."
"Papi. Boleh aku ikut masuk ke dalam?"
"Pulanglah ke rumah, rapikan kamar Ibu. Ibu juga sudah tidak betah di rumah sakit.
"Emh, Papi tunggu sebentar. Bagaimana dengan Damian? Apa dia jadi menuntut balik penculiknya?"
"Jessika, Damian bersalah. Sepertinya, Damian yang akan masuk ke dalam penjara."
Mama Jessika penasaran, "Papi, kenapa bisa begitu?"
"Dari rekaman cctv, dan semua telah diperiksa oleh polisi yang bertugas. Damian memang salah dan pria itu pacarnya Lovie, dia bukan penculik."
"Aku paham."
"Lebih baik, kamu menjaga Ibu."
"Iya. Aku akan pulang dan menunggu Papi bersama Ibu kembali ke rumah."
"Hati-hati."
"Baik."
Mama Jessika berjalan pergi dan Papi Benny kembali ke ruangan pertemuan tadi.
"Semoga saja, Damian tidak masuk penjara. Kalau Jenny sampai hamil, bisa gawat. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Batinnya.
Mama Jessika memang sosok pendiam bila dihadapan Ibu mertuanya. Lebih memilih diam, bila suaminya sudah menasehatinya.
Itulah, yang disukai oleh Neneknya Lovie. Menurut akan perkataan sang suami.
Sayangnya, itu hanya luarnya saja. Dalam hatinya, siapa yang tahu.
Saat Lovie dan Talita sudah di dalam mobil bersama Doddit. Ibu tiri Lovie, berjalan keluar dan menuju ke parkiran mobil.
"Lovie, Ibumu memang luar biasa. Dia sama sekali tidak menegur sapa kamu." Ucap Talita.
"Dia bukan Ibuku. Mamiku, sudah meninggal 3 tahun yang lalu."
"Sorry Lovie sayang, aku cuma heran saja. Bisa-bisanya kamu punya Ibu begitu."
"Mungkin, Ibumu juga begitu."
"Ibuku sudah mati. Bahkan tidak ada kuburannya."
"Kita sama-sama tidak punya Ibu."
"Lovie, kalau nanti aku bertemu Ibu kandungku gimana ya? Apa dia akan mengenali aku?"
"Yang jadi pertanyaanku. Apa nantinya, kamu akan mengakui Ibu kandungmu?"
"Tumben, ngomongmu bener."
Lovie merangkul bahu Talita, ia berkata "Yang penting, kita selalu bersama dalam suka maupun duka."
"Iya, cuma kamu yang selalu ada untuk aku." Balasnya Talita.
"Masih ada Kak Lolla. Dia tetap saudara kamu satu-satunya."
"Aku juga belum ketemu dia lagi. Aku belum pamitan sama dia."
"Ya sudah, temui Kakakmu dan pamitan baik-baik. Jangan kayak aku."
"Yee, aku nggak kabur dari rumah. Aku waktu berangkat, juga pamitan sama Om Benny. Ya kebetulan saja, pagi itu Om Benny datang ke rumah, jadi ketemu deh sama Bos Rey."
"Iya, iya. Sayangku."
__ADS_1
Doddit menggeleng dan melihat dari kaca spion, ia bertanya "Nona-nona yang cantik. Kita mau pergi kemana?"
"Emh, aku mau ikut Lovie saja."
"Kak Doddit, antar aku pulang ke rumah Ibu Nancy."
"Oke, jangan lupa sabuk pengaman kalian. Saya akan mengantar kalian sampai ke tujuan."
"Let's go Kak Doddit!"
Setelah, mobil sedan mewah melaju pergi meninggalkan kantor polisi Shindong.
Talita berkata "Lovie, ceritain sama aku soal malam pertama kamu."
"Aku tidak ada malam pertama." Balasnya Lovie, memang benar adanya.
"Katanya, kamu sudah melakukannya sama putra pemilik Rich. Gimana ceritanya.
"Iya. Tapi bukan malam pertama."
"Terus, kamu cuma pegang burungnya?"
"Ssth, jangan kenceng-kenceng ngomongnya."
Mereka berdua, jadi menatap Doddit.
Doddit tersenyum, ia berkata "Aku akan menutup kedua telingaku ini."
"Jangan dong Kak. Bisa bahaya. Aku juga tidak mau meladeni Talita."
"Iih, kamu begitu sama aku. Aku dari tadi sudah penasaran."
"Yang jelas, pagiku menawan."
"Jam Pagi? Kamu berhubungan di pagi buta? Bukan jam malam? Atau di tengah malam begitu?"
"Ya pokoknya jam pagi. Jam 7an gitulah. Aku juga lupa."
"Kamu lupa? Kamu beneran lupa?"
"Ya aku tidak mengingat jamnya. Aku juga tidak merasakan aneh. Aku sudah seperti mimpi. Setelahnya, sakit. Sakit banget. Gitu saja."
"Sakit? Sakit banget?"
"Aaa, tahulah. Pokoknya begitu saja. Kamu juga bakalan tahu rasanya."
"Mendengar ceritamu aku merinding. Aku nggak mau. Aku akan buang jauh-jauh pikiran konyolku ini." Wuss, seolah Talita membuang pikiran joroknya itu.
"Lovie, kamu nggak nyesel? Kamu tidak takut kalau kamu hamil?"
"Tidak. Aku memang ingin hamil."
"Iya, aku lebih baik hamil, dan punya anak. Dari pada aku balik ke Papi, aku lebih baik tinggal sendiri sama anakku."
"Lovie, hamil itu nggak mudah. Perutmu akan seperti balon besar, badanmu bisa bengkak, terus kamu tidak bisa bergerak bebas. Nanti, melahirkannya juga sakit. Kamu juga harus menyusui dan terus merawat bayi itu. Kenapa kamu bodoh sekali?!!"
"Aku memang bodoh. Aku tidak pernah mendapat nilai sempurna. Apalagi, pelajaran matematika. Aku selalu mendapatkan nilai jelek."
"Lovie, kamu bilang hamilnya cuma pura-pura saja. Tapi, nggak begini juga Lovie sayang. Hamil?! Kamu ingin hamil di usia kamu yang masih muda. Aku nggak habis pikir sama kamu."
"Memangnya, apa yang salah? Aku juga perempuan biasa. Nantinya, kamu juga bakalan hamil."
"Lovie, masa depanmu masih panjang. Memangnya, kamu tidak mau jalan ke mal, belanja, nonton film, dugem sama aku dan teman-teman lainnya."
"Nggak. Yang penting aku hamil. Lagian, kamu nggak mungkin ninggalin aku. Aku yakin, kamu pasti mendukung aku."
"Aku bilang, kita cari sugar daddy, atau pria tampan. Bukan hamil, Lovie." Hikss.
Talita jadi menangis lagi, dan Lovie berkata "Aku sudah dapat pria tampan. Kak Richi tampan."
"Lovie, kamu nggak tahu siapa Richard. Dia nggak bisa mencintai kamu."
"Aku juga tidak mau menikah sama dia. Cukup punya anak saja."
"Waah, kamu semakin gillaa."
Hikss. Hoo Hoo. Hooo
Talita beneran nangis poll. Gendang telinga Doddit seakan bertabuh kencang.
Dung dung rung dung dung.
"Dua bocah ini, berisik sekali."
Talita menyeka air matanya, ia berkata "Kalau Richard lepas tanggung jawab. Aku akan membunuhnya."
"Ssth, apain sih. Kak Richi orangnya baik. Dia tidak seperti Damian. Aku yang sudah mengejar dia, agar aku bisa segera hamil."
Wajah Talita berubah gatang, air matanya kembali mengalir, ia berkata "Oke, aku akan setia kawan. Kamu hamil anak Richard, aku juga harus hamil anak Rey."
Seet!!!
Dugh!
Gedubrak!!
Yaaah, nabrak.
__ADS_1
Doddit menundukkan kepala. Lovie terdiam saja. Talita, menatap ke arah mobil depan yang ditabrak Doddit.
"Panjang umurnya. Rey, datang."
Doddit berkata "Talita, pergilah dengan bosmu."
Talita membenahi dirinya, Rey turun dari mobil dan berjalan mendekat.
Doddit menurunkan kaca, "Bos Rey."
"Kenapa menabrak mobilku?"
"Penumpangku berisik."
Rey menatap ke arah Lovie dan Talita.
"Doddit, di dalam mobilku ada pasien VVIP. Lain kali, kamu harus berhati-hati."
Lovie tenang, ternyata Richard sudah boleh dibawa pulang dan akan di rawat di rumah saja.
Rey kembali ke mobilnya dan Talita masih menatap punggung Rey.
"Pria itu, apa hebatnya?" Tanya Lovie.
"Bos Rey, pekerja keras."
"Talita, aku tidak suka padanya."
"Aku juga tidak menyukai Richard."
Keduanya saling adu pandang. Mereka saling menatap sengit.
"Kalian berdua masih ingin ngerumpi?" Tanya Doddit.
"DIAM!!!"
Bentakan dari mereka berdua, secara bersamaan.
"Aku pikir, mereka berdua Nona-nona yang manis, ternyata penilainku sudah salah. Hanya Metta, perempuan yang berlaku lembut."
Metta jelas lembut, apalagi belaiannya, tidak perlu diragukan lagi.
"Nona Metta, ini berkas untuk rapat besok pagi."
"Terima kasih Bu Choi."
"Nona Metta, ada telephone dari pimpinan pabrik softdrink, di sambungan 4."
"Oke."
Metta jadi super sibuk, disaat Doddit dan Richard tidak ada di ruangan itu.
Juno, Milie, Bu Choi, dan yang lainnya membantu sekretaris ini.
"Juno, tolong berikan ini ke bagian administrasi."
"Siap Nona Metta."
Metta menanti kabar dari Doddit, tapi dari pagi tidak ada kabar apapun.
"Nona Metta. Bos Richard telah bebas. Bos Richard tidak lagi dituduh menculik gadis."
"Milie, kamu dapat info dari mana?"
"Di grup sebelah. Saya barusan bertemu tim humas."
"Sana, kembalilah berkerja."
"Siap Nona Metta."
Metta melihat ke layar ponsel dan mengirim pesan kepada Doddit. Metta memberitahu soal berita penting yang muncul di grup para staff kantor R.C.
Doddit tidak membaca pesan itu dan masih sibuk mengendarai mobil. Dua penumpangnya sedang bad mood.
Giliran mereka berdua diam dan terasa hening. Doddit, merasa hawa dingin merasuki sekujur badannya.
"Semoga saja, mereka berdua tidak kesurupan."
Melihat wajah Lovie jadi terasa merinding. Meski terdiam, kulit Lovie yang putih sedikit pucat karena lelah. Membuat pandangan Doddit seram.
"Nona Lovie baik-baik saja?"
"Kak Doddit, aku ngantuk banget."
"Sebentar lagi, kita sampai di rumah Nyonya Nancy."
"Iya Kak Doddit. Ini, aku tahan ngantuknya."
Talita menoleh ke wajah Lovie yang sudah tampak pucat.
"Lovie, sepertinya kurang istirahat."
"Lovie, apa kamu sakit?" Tanya Talita dan sudah bersikap manis sekali.
"Aku tidak sakit. Tapi, tadi malam aku nggak bisa tidur."
__ADS_1
Talita terdiam, ia hanya membatin "Apa Lovie sudah jatuh cinta sama Richard? Kalau benar begitu, aku harus menjaga Lovie dari Jihan."
Setibanya di rumah, Jihan datang.