
Suasana malam pesta pertunangan Rey dan Jihan, akan dilaksanakan di hotel JM. Hotel milik Jihan dan jaraknya tidak jauh dari hotel DeNuca.
Aula pesta sudah dipenuhi rangkaian bunga warna putih. Terkesan begitu feminine dan sangat elegan.
Setiap meja tamu juga tampak dihiasi bunga Lily casablanca, warna putih. Kenapa Jihan memilih bunga itu. Padahal, bunga itu biasanya Richard yang memesan untuk diberikan kepadanya. Itu dulu, sewaktu mereka pacaran.
Jihan, sama sekali tidak menyukai bunga itu, namun Richard yang menyukai bunga Lily.
Jihan yang sudah mengenakan gaun biru pastel, tampak mewah dan sangat terkesan feminine. Senada Jas yang akan dikenakan oleh Rey.
Seorang teman model yang berusia 25 tahun, sudah tampak menemani Jihan di ruangan khusus, untuk Jihan.
Ya meski belum resmi bertunangan, Jihan sudah sangat percaya diri dan nantinya akan segera menjadi istri sah dari Rey.
"Sayang, kamu sangat cantik." Pujian dari Mama Bianca.
"Ide Mama, TOP. Aku juga suka dekorasinya."
Mama Bianca, yang membuat ide ini. Rey, sama sekali tidak tahu dengan acara ini. Yang dia tahu, hanya pertemuan dua keluarga dan dia juga belum memberikan jawaban kepada Papanya.
"Franda. Apa kamu sudah gila? Aku sudah berjanji dengan Diana, tidak akan memaksa apapun soal anak-anakku dari Diana."
"Papa. Rey dari dulu sangat menyayangi Jihan. Papa sama Julian juga sahabat dekat. Apa salahnya, menjalin hubungan keluarga. Ini kesempatan Papa untuk membawa Rey ke Hanz Group. Julian, juga mempunyai saham di Hanz Group, dua kekuatan akan bersatu dalam menjayakan Hanz Group."
"Franda. Rey sendiri belum menjawab. Lalu, Diana. Dia pasti akan sangat kecewa padaku. Dia juga mempunyai calon sendiri untuk putranya."
"Papa ingat, Vanco dan Aledraz, juga bisa bersatu sampai sekarang."
Nyonya Franda pergi dan suaminya hanya bisa terduduk di sebuah kursi. Bilangnya, ada undangan makan malam di JM. Tidak tahu, kedua istrinya punya rencana lain.
Nyonya Franda keluar, gantian Mama kandungnya Jihan datang mendekat.
"Kamu juga mendukung Franda?!" Tatapan Presdir Hanz terlihat sangat keji, saat menatap ke arah Nyonya Delia yang baru saja memasuki ruangannya.
"Kak Hanz, aku minta maaf. Aku kali ini, hanya sebagai ibu yang ingin melihat putriku bahagia."
"Delia, aku sudah membantu kamu sampai saat ini dan kamu bersekongkol menjebak putraku, Rey"
"Kak Hanz, aku menikah denganmu. Itu juga karena bisnisku sendiri. Aku tidak berhutang budi padamu. Aku juga punya andil dalam membesarkan Hanz Group. Hanz Corporation, perlahan juga tidak akan ada nama, kalau bukan karena aku."
"Terserah, kalian semua. Yang jelas, kalau Rey sampai menolak. Aku tidak akan membantu kalian berdua."
"Suamiku yang terhormat. Julian sudah menyerahkan Jihan padaku. Aku bisa saja menikahkan Jihan kepada putra Presdir Chen, tapi aku masih mengingat akan putramu yang seharusnya bisa menjadi pemimpin Hanz. Kak Franda, hanya memiliki seorang putri, lalu Diana punya dua anak. Rey, sebenarnya putra keluarga Hanz dan cucu keluarga Vanco. Kalau Ron, aku pikir dia terlalu muda untuk memimpin Hanz Group nantinya."
"Terserah kalian. Kalau ada apa-apa, kalian tanggung sendiri akibatnya."
Nyonya Delia, memegang dada suaminya dan merangkul dari belakang. Suaminya tetap duduk di kursi ukir.
"Kak Hanz, aku dan Julian memang pernah menjalin ikatan, sampai punya dua anak. Aku sampai sekarang, belum ada niat begitu untuk kita. Apa perlu, aku ambilkan obatmu?"
"Delia, pergilah. Aku ingin sendiri."
"Benar. Aku memang, harus segera ke aula pesta."
Mulutnya Nyonya Bianca begitu pandai. Sampai-sampai kedua istri Presdir Hanz menyetujui ide gilanya ini.
Pantas saja, Talita juga pandai dan saat ini, Talita juga sudah tampil cantik dan pestanya akan segera dimulai.
Hotel DeNuca, di aula hotel ini juga ada pesta yang tidak kalah menarik. Bahkan, ini pesta tahunan Rich. Richard tampak menggandeng sang pujaan hati.
"Emh, ternyata begini pestanya. Sangat menarik."
"My Lovie, kamu harus selalu berada di dekatku. Nanti, kalau aku memberikan sambutan untuk para tamu. Kamu tetap harus duduk disini. Jangan pergi kemana-mana, oke?!"
"Oke, aku tidak akan pergi."
Lovie begitu manis dengan make-up natural.
Dress mode A selutut dengan kerah leher bentuk V, warna abu-abu. Dresscode pesta tahunan malam ini, harus mengenakan busana warna abu-abu.
__ADS_1
Seperti ulang tahun perusahaan sebelumnya. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ada tamu dari Sheen dan itu adalah Kakeknya Rey.
Kakek tua yang memakai tongkat berjalan memasuki aula dan sudah didampingi oleh Bu Diana. Lalu, ada sosok tampan yang tampak menuntun Kakeknya. Dia adalah Rey.
"Selamat datang Presdir Yu." Presdir Nicholas menyambutnya dan langsung memeluknya.
"Nicholas, apa aku sudah tampak tua dihadapanmu?"
"Tidak Presdir Yu, anda selalu gagah dan berwibawa."
"Tapi cucuku yang tidak tahu diri ini. Dari turun dari mobil sampai disini, dia tidak melepaskan aku."
Presdir Nicholas tersenyum, "Cucu anda sangat menyayangi Kakeknya. Itu tanda bakti dari seorang cucu, yang berlimpah kasih sayang dari Kakeknya."
"Aku tidak pernah menyayangi dia. Tapi, dia selalu menurut dan patuh padaku. Aku kadang ingin mengusirnya. Biarkan dia pulang ke rumah Papanya."
"Apa Presdir sudah mencoba mengusirnya?"
"Baru punya ide seperti itu. Tapi, dia tidak mau aku usir."
"Berarti sama seperti putraku, Richard."
"Anak muda jaman sekarang takut dengan orang tua, tapi sebenarnya takut terlantar di jalanan." Ucapannya yang terkesan serius, tapi hanya candaan saja.
Rey tampak terdiam, Bu Diana juga hanya tersenyum.
Nyonya Nancy, dari tadi juga hanya tersenyum saat menyambut Presdir Yu. Dulunya, beliau adalah majikan Ibunya.
"Nancy, apa kamu tidak mau menuntun aku?"
"Bapak masih kuat jalan sendiri. Tidak perlu saya gandeng. Karena saya tidak mau mempermalukan Bapak."
"Jadi, Rey ini sudah mempermalukan aku?"
"Rey, mungkin takut anda tersandung. Atau takut Kakeknya tergoda para gadis cantik."
"Iya, mungkin dia takut, aku ke sasar masuk ke kamar tamu."
Para tamu undangan, sudah tampak memenuhi kursi tamu undangan.
Setelah Presdir Yu, duduk di kursi yang disiapkan khusus untuk Sheen.
"Kenapa kamu tidak pergi??"
"Aku akan temani Kakek."
"Kalau kamu sudah mengikuti aku. Kamu harus terima aturanku."
"Terserah Kakek saja."
Yang di JM. Para tamu juga tampak berdatangan. Meski pesta pertunangan ini terkesan dadakan. Namun, beberapa undangan sudah tersebar di kalangan teman dekat, saudara dan kerabat dari kedua pihak keluarga.
Tetapi, Rey tak kunjung datang.
Nyonya Franda sudah menghubungi ponselnya Rey. Namun, ponselnya tidak aktif.
Nyonya Bianca datang mendekat, bertanya "Kak Franda. Apa Rey sudah datang?
"Tadi pagi, Rey mengatakan kalau dia akan datang kemari. Tapi, kenapa ponselnya tidak aktif?"
"Tidak aktif? Bukannya, Rey sudah menyetujui pertunangan ini."
"Dia belum menyetujui."
Nyonya Bianca berkata "Jihan bilang sama aku. Rey tidak akan meningglkan dia seperti Richard."
"Bianca, kalau rencana kita gagal bagaimana?"
"Keluargaku yang akan malu. Bukan keluarga Kak Franda." Balasnya judes. Mereka ini Kakak beradik dan sama-sama liciknya.
__ADS_1
"Tapi, aku membawa nama baikku. Aku juga mengundang semua teman arisanku. Hanya, Nancy yang tidak bisa hadir karena dia ada pesta."
Nyonya Bianca bertanya "Apa maksudnya dengan pesta?"
"Rich, mengadakan pesta tahunan. Ya, samacam ulang tahun."
"Aku pikir, pertunangan putra tunggalnya."
"Nancy mana berani menampilkan putranya di media. Dia tidak suka membesarkan dan memperlihatkan putranya di media manapun. Kalaupun, ada yang berani meliput putranya, Nancy tidak akan memberinya ampun."
"Ternyata, menarik juga."
Nyonya Bianca, memang tidak pernah mau bertemu secara dekat dengan keluarga Nuca. Meskipun, suaminya sahabat dekat Presdir Nicholas. Beliau ini selalu menjaga jarak dengan semua rekan suaminya.
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Di JM masih jedag jedug, seperti olah raga jantung.
Nyonya Bianca juga telah mengirim orang, untuk mencari keberadaan Rey. Namun, sayangnya belum ditemukan.
"Papa, apa Rey belum datang?" Jihan, dan wajah itu tampak gelisah."
"Papa tidak tahu."
"Papa, bagaimana kalau Rey tidak datang?"
"Kamu yang ingin tunangan dadakan. Rey juga belum memberikan kepastian."
"Papa, ini semua ide Mama Bianca. Kenapa Papa jadi sinis sama aku?"
Jihan amat kesal dengan Papanya. Sepertinya, kedua orang ini setiap hari telah diadu domba oleh Nyonya Bianca. Hanya saja, Jihan selalu percaya akan ide gila ibu tirinya itu.
"Jihan, apapun nanti keputusan Papa. Kamu jangan menolaknya."
"Papa mau ngapain??"
Presdir Julian kembali ke aula. Karena MC yang membawakan acara pesta pertunangan sudah memberikan sambutan manisnya.
"Hanz, apa putramu hanya mempermainkan keluargaku?"
"Julian, istri kamu yang telah mengatur semuanya. Bahkan, aku sendiri tidak tahu acara pesta ini."
Kedua Papa itu, sudah berwajah tegang. Apalagi, Presdir Julian selaku tuan rumah acara untuk putrinya.
Bila Rey tidak datang, nama baiknya yang jadi taruhannya.
"Papa." Ron mendekat, dia menunjukan berita dari layar pintarnya.
"Sheen dan Rich, menyatukan ikatan sebagai keluarga? Apa maksudnya ini?!"
"Papa, aku lupa memberitahu Papa. Kalau tadi di sekolah." Ron yang sudah tampil menawan dengan setelan jasnya, tampak gelisah saat menatap Papanya.
Presdir Hanz bertanya "Ada apa Ron??Cepat kamu jelaskan sama Papa."
"Ini soal Talita. Talita, sudah diadopsi keluarga Nuca. Sepertinya, Kak Rey dan Talita. Malam ini, mereka telah bertunangan."
Degh!
Presdir Julian juga mendengar hal ini. Presdir Hanz jadi semakin gelisah, jantungnya berdebar kencang.
"Papa. Baik-baik saja?" Ron merengkuh punggung Presdir Hanz.
Presdir Julian bertanya "Ron, kamu tahu siapa itu Talita??"
"Sebenarnya, dia gadis yang tinggal di apartemen Kak Rey, beberapa hari lalu. Dia teman sekelasku. Calon istrinya Kak Richard juga teman sekelasku."
"Jadi, Rey juga sudah punya kekasih?"
"Julian, karena itu aku mengatakan sama kamu. Keputusan ada pada Rey. Lalu semua ini. Ulah para istri kita yang tidak sabar menunggu."
"Hanz, bagaimana dengan putriku?"
__ADS_1
"Julian, aku juga malu."