Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Pertemuan Penting


__ADS_3

Suasana siang hari di Hotel DeNuca. Sudah waktunya untuk pertemuan penting.


Mama Lovie ternyata harus pergi ke tempatnya mengajar, karena ada urusan penting dan Lily bersama sang Papa di hotel.


"Lily sayang. Kamu bisa mainan dulu sama Tante Metta, adik bayi dan Om Doddit. Papa, mau meeting sama rekan bisnis."


Lily yang tadinya sudah ceria saat bertemu adik bayi tampan. Tapi, mendengar ucapan sang Papa. Keceriaan itu seketika pudar.


"Nggak!"


Metta dan Doddit di restoran. Lily-pun senang saat bersama mereka. Namun, kalau ditinggal sang Papa, ia juga tidak mau.


"Aku ikut Papa."


"Papa juga tetap di restoran. Tapi duduknya di sebelah sana. Lily, masih bisa melihat Papa dari sini."


Lily melihat ke arah ruangan VIP, meski masih di restoran yang sama. Tapi, Lily merasa kalau ruangan itu jauh darinya.


"Nggak. Nggak mau. Aku mau ikut Papa." Ucapnya yang tegas.


Papa Richard, tanpa merayu lagi. Langsung mengangkat putrinya untuk turun dari kursi, dan menggandeng Lily, mengajak ke ruang pertemuan bisnis.


Metta dan Doddit jadi menatap sang Bos Richard yang menggandeng putrinya. Metta yang mendekati sang suami.


"Suamiku, ada apa dengan Lily? Kenapa sikap manisnya berubah?"


"Dia sangat cemburuan."


"Aku sempat gelisah, saat melihat wajah Bos Richard. Tapi dia tidak marah."


"Ya, namanya juga anak sendiri. Apalagi, anak perempuan. Mana bisa Bos Richard marah sama anaknya."


"Anak perempuan yang cemburu akan tindakan Papanya. Memangnya, Bos Richard punya WIL?"


"Hush, ngacok kamu. Lily saja yang semakin hari jadi memberontak dan cemburu banget kalau Papanya bersama perempuan lain."


"Emh, aku jadi ngerti. Aku dulu juga begitu. Apalagi, melihat Papaku yang menikah lagi. Tapi, aku dan Ibu tiriku baik."


"Kakakmu sudah pulang, kenapa kamu tidak menghubunginya?"


"Entahlah, aku malas. Aku bingung, kenapa saudara kembarku bisa menikahi Jihan. Aku heran."


"Metta, apapun yang terjadi dengan mereka. Kita biarkan saja."


"Emh, tapi soal Lucas itu gimana?"


Doddit menutup mulut istrinya, ia berkata "Ssth, jangan dibahas lagi."


"Oke. Selama Jihan tidak menyulitkan Kakakku, aku juga tidak akan bilang sama Kakakku soal Lucas."


Metta dan Pedro, saudara kembar. Karena itu, Doddit mengenalkan Pedro kepada Presdir Nicholas. Tidak tahunya, Pedro anak tirinya si pengacara tua.


Namun, tidak masalah bagi mereka berdua. Selama bisa bekerja untuk Bos Richard. Mereka akan terus menyimpan rahasia tentang Lucas.


"Sayang, kamu mau makan apa?"


Lily, terdiam dan tidak bicara.


Lily, menatap ke arah wanita yang baru masuk ke ruangan ini.


"Lily sayang. Kamu mau makan apa?"


"Es Krim." Jawabnya.


Duduk di sebelah sang Papa dan tampak manis.


Wanita yang hampir seusia Papa Richard. Berpenampilan menarik, parasnya yang meliuk terlihat sexy.


Berwajah kebuleen dan suaranya juga seperti bule medok.


"Hallo, anak manis. Kamu putrinya Mr. Richard?" Marghinsha menyapa dengan bahasa seperti Richard, tapi tetap kebule-bulean.


"Sayang, ini Nona Marginsha. Teman kerja Papa."


"Teman kerja Papa?"


"Iya, seperti kamu dengan Violla, Lexi dan teman yang lain."


Papa Richard memang pandai, saat menjelaskan kepada putrinya ini.


Namun, pikiran Lily sudah mengarah ke hal lain. Kalau teman dekat, biasanya mereka juga akan pelukan, saling sayang. Makan bareng, bobok berdua dan mandi bersama.


Lily tak henti menatap wajah wanita bule itu. Rambut pirang keemasan dan kulitnya juga bule. Berbeda dengan sang Mama.


"Papa." Lirihnya.


"Iya sayang? Kamu kenapa?"


"Aku mau Mama saja." Jawabnya.


"Kamu mau Mama saja? Maksudnya?"


Belum sampai Lily menjawab pertanyaannya Papa Richard.


Munculah, pria tampan wakil dari Hanz Group.


"Ron!"


"Siallan! Kenapa aku tidak berfikir kalau Ron akan kembali kesini?" Batinnya Papa Richard yang hareudang.


Pria tampan dengan penuh pesona. Bahkan, sudah lebih tampan dari sewaktu dia SMA.


Baru lulus S2, dan telah menjabat posisi sebagai CEO di Hanz Group.


"Hallo, Kak Richard. Apa kabar?"


Ron mengulurkan tangan kanannya, Richard masih terpaku pada pesona ketampanannya.


"Kabarku baik. Sangat baik. Aku sampai tidak mengenali kamu."


Nona Marghinsa merangkul lengan Ron, ia berkata "Jadi, kalian berdua sudah saling mengenal dekat." Logatnya bule.


"Nona Marginsha, CEO Richard, dia sudah seperti keluarga bagi saya."

__ADS_1


"Wah, bagus kalau begitu. Saya akan dengan senang hati, berkerjasama dengan kalian berdua. Ini sangat hebat." Ucapnya dan Lily mendengarkan.


"Papa." Lily menarik-narik ujung jas Papanya dan sang Papa jadi menoleh ke wajah putrinya.


Ron jadi menatap ke wajah imut, berkata gemas "Hallo sayang. Kamu pasti Lily Nee Rilova."


"Kok, Om tahu nama panjangku?"


"Emh, aku teman Mama kamu."


"Teman Mama?" Lily jadi menoleh ke arah Marginsha.


"Kok teman Mama? Bukannya, Om teman Tante itu?" Lily menunjuk ke Marghinsa.


Papa Richard jadi duduk dan memegang wajah Lily, Papa Richard berkata "Lily, Papa, Om dan Tante ini, mau kerja dulu. Lily bisa makan es krim sama Om Juno."


"Emh, aku bisa makan sendiri. Aku nggak mau berteman sama Om Juno."


Lily turun dari kursinya. Ron masih tersenyum gemas menatap Lily.


"Mirip banget sama Lovie." Batinnya Ron dan gemesan sendiri. Sayangnya, dia belum memikirkan tentang anak. Meskipun, sebentar lagi akan menikah.


Lily duduk di sofa single dan menikmati es krim rasa strawberry. Tampak manis dan anteng.


Ron, jadi fokus memandangi Lily dan Papa Richard jadi jengkel melihatnya.


Nona Marginsha, membubuhkan surat kerjasama serta tanda tangannya. Ia juga membawa sekretaris pribadinya.


Ron tampak seorang diri. Ia juga sudah membawa surat dari Hanz.


Papa Richard malah jadi hareudang sendiri, ia juga cemburu kalau Ron memperhatikan anak-anaknya.


Bahkan, saat Lovie mengandung, Ron juga membelikan es strawberry di sekolahnya.


Dugh!


Lily terjatuh, saat berlari mendekat ke arah Papa Richard.


Ron yang ada di dekat Lily, segera mendekat dan sang Papa tampan juga melihat putrinya terjatuh.


"Lily sayang, kamu tidak apa-apa?" Ron berusaha membangukan Lily yang masih tengkurap saja.


Papa Richard sudah di dekatnya, berkata "Kamu, jangan menyentuh anakku."


"Kak Richard. Aku cuma mau nolongin Lily. Tidak bermaksud untuk hal lain."


Ron semakin tersenyum aneh, apalagi bisa menggoda Richard.


Papa Richard menggendong putrinya, dan Lily menempelkan wajahnya ke bahu sang Papa. Ia tidak menangis, tapi sepertinya, Lily sangat malu.


"Sayangnya Papa hebat, tidak menangis."


Papa Richard tetap menggendong Lily.


Nona Marginsha menatap ke arah Ron dan bertanya "Mr. Ron, bukannya anda akan segera menikah?"


"Iya Nona Marginsha, bulan depan saya menikah. Anda juga harus datang ke pernikahan saya nanti."


"Owh, iya. Pasti saya akan mengirim undangannya. Saya juga belum menemui calon istri saya."


"Saya turut bahagia."


Ron sempat bertunangan dengan Briella putri dari Nyonya Bianca dan Presdir Julian. Namun, mereka sudah putus pertunangan semenjak Nyonya Bianca ditetapkan sebagai tersangka. Atas tindak kejahatan yang sudah dilakukannya, yaitu membunuh sahabatnya yang bernama Deon.


Seorang pria penjudi, yang mati karena diracun Nyonya Bianca.


Lalu, Briella dan adiknya jadi dipindakan ke luar negeri untuk sekolah disana.


Presdir Julian tidak menceraikan Bianca, namun beliau tidak mau, anaknya mendapat masalah dari lingkungan sekitarnya.


Bahkan, keluarga Hanz juga sudah memutus hubungan dekat keluarga mereka.


Jadi, lebih baik dipindahkan tempat tinggalnya.


Malahan, Talita yang menjaga dua adik tirinya itu. Talita, menerima kehadiran dua remaja itu dan bertindak sebagai saudara satu Ibu.


Meskipun, Talita belum menganggap Ibu kandungnya dan masih tetap bergelar tuan putri dari keluarga Nuca.


Kembali kepada Papa Richard, yang masih sensian bila bertemu Ron.


"Aku tidak mau, dia menemui istriku. Aku harus mengantar jemput Lily. Jangan sampai, Ron mendatangi Violla dan akhirnya bertemu istriku."


Nona Marginsha bertanya "Mr. Richard, anda kenapa?"


"Emh, tidak apa-apa Nona Marginsha. Ini, Lily tampaknya sudah mengantuk. Jam 1, waktunya untuk tidur siang."


"Kalau begitu silakan anda menidurkan putri anda. Saya mengerti, karena saya juga seorang Ibu yang membesarkan putra. Anda memang Papa yang baik ."


"Nona Marginsha. Kerjasama kita sudah terjalin. Semoga, ke depannya, bisnis kita bersama Hanz Group, akan terus berkembang dengan pesat."


"Iya Mr. Richard. Saya juga sangat berharap demikian."


Ron, yang masih bujang sendiri, ia bertanya dalam hati kecilnya "Nona Marginsha sudah punya anak? Kapan menikahnya?"


Nona Marginsha menoleh ke wajah Ron, ia berkata "Mr. Ron, saya juga sangat berterima kasih. Sudah mengenalkan kota Shindong. Ternyata, disini sangat ramah dan nyaman."


"Kalau anda berkenan, besok saya akan menemani Nona Marginsha berkeliling kota Shindong, atau ke tempat lainnya."


"Emh, dengan senang hati. Besok pagi saya menjemput putra saya di Bandara. Dia bilang, ingin ke tempat yang sejuk."


"Saya tahu tempat-tempat seperti itu. Saya, akan mengantar Nona Marginsha menjelajahi kota-kota indah di negara saya ini."


"Baik, besok saya akan menghubungi Mr. Ron."


"Saya akan menantikan kabar dari anda."


Papa Richard membuat Lily tertidur.


Ron melihat ke arah Lily, ia juga sudah membatin "Kapan aku bisa jadi Papa?"


Sang CEO dari Rich Corporation, saat meeting penting, membawa anaknya dan anaknya itu, tengah tertidur dalam gendongannya.


Juno sang sekretaris tampan, jadi memotret moment itu dan mengirim ke grup chat staff andalan.

__ADS_1


Papa Richard kembali duduk dan Lily berada di pangkuannya. Wajah imut itu, terlihat begitu damai dalam dekapan.


"Bos Richard sangat menyayangi putrinya."


"Emh, kenapa aku jadi bahagia?"


"Aku juga kepingin, punya Papa yang sayang sama aku." Hiks.


"Pak Bos, memang TOP BGT!"


"Aku jadi terhura haru. Gemes!"


Ocehan para staff andalan, setelah melihat foto yang istimewa itu.


Ron jadi bertanya "Kenapa nggak di tidurin di kamarnya saja?"


"Nanti terbangun, malah rewel kalau dia tidak melihat aku." Jawabnya Papa Richard yang santai.


Nona Marginsha jadi tersenyum, lalu ia berkata "Mr. Richard, pekerjaan saya sudah selesai. Saya juga masih ada urusan lain. Saya permisi duluan."


"Iya Nona Marginsha. Saya minta maaf atas pertemuan ini."


"Owh, tidak apa-apa. Kita disini juga santai." Balasnya begitu senang.


Ron berkata "Nona Marginsha, saya akan mengantar anda."


"Dengan senang hati. Saya mau, ke kamar saya di atas."


"Ternyata, anda menginap disini."


"Iya."


Nona Marginsha memegang lengan Ron dan tampak berjalan bersama ke kamar.


Papa Richard bergumam, "Sudah mau menikah, tapi masih suka kegenitan."


Padahal, itu hal biasa dilakukan Ron atas keramahannya, untuk menyambut tamu dan rekan kerjasama bisnisnya.


Cara orang memang beda-beda. Meski Ron dulunya sosok yang dingin dan jutek. Malahan, sekarang sudah bisa bergaul dengan ramah. Bahkan, banyak sekali teman wanita cantik, yang ada di sekitarnya. Hal itu, sudah biasa baginya.


Ron, tetaplah menyukai satu wanita dan sampai sekarang tetap begitu.


"Sayang, kamu tidur disini?"


Dag dig dug der.


Untungnya saja, Ron sudah pergi. Saat ini, tatapan tajam sudah menusuk perasaan Mama Lovie.


Mama Lovie tampak nyengar-nyengir di depan suaminya. Ia bahkan berjongjok, mengelus rambut tuan putri Lily.


"Sayang, maafin Mama ya. Mama tadi ada perlu di sekolah. Mama juga harus ke panti asuhan."


"Kamu lebih mentingin orang lain, dari pada anak kamu sendiri." Meluapkan kekesalannya.


Degh!


"Kak Richi, marahin aku?"


Papa Richard berusaha mengontrol hawa panas, yang barusan menyerbu perasaannya.


"Aku minta maaf. Aku memang salah. Aku nggak tahu, kalau Kak Richi ada pertemuan penting disini."


Wajah Lovie jadi tidak senang. Bibir imutnya jadi membulat dan mata indahnya tengah berair.


"Hish, Kenapa aku malah begini?." Batinnya Papa Richard yang bergeming.


"Sayang, aku tidak memarahi kamu. Kamu harusnya pamit dan kamu bilang pergi kemana. Aku juga nggak akan jadi kepikiran."


Istrinya berkata dengan raut wajah sendu "Ini, aku barusan sudah minta maaf."


"Kenapa, aku jadi semakin merasa bersalah?" Batinnya sang suami.


"Aku tahu, Kak Richi pasti terganggu karena Lily. Aku yang salah. Aku tidak seharusnya meninggalkan putriku." Ucapnya yang semakin sendu.


Begitu Lovie datang, Juno pergi dan hanya berdiri di dekat pintu.


"Sini, duduk di sebelahku."


Lovie-pun berdiri dan mulai duduk di sebelah sang suami.


"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud kasar sama kamu."


"Aku tahu. Aku juga sudah bersalah."


Papa Richard mengecup kening istrinya.


Saat ini juga, Ron kembali ke ruang VIP dan jadi terpana saat melihat keuwuan mereka.


"Ada Lovie." Batinnya dan Ron keluar lagi. Menoleh ke sisi kanan, memperhatikan sekretaris Richard. "Kamu, sekretaris Kak Richard?"


"Iya CEO Ron."


"Tolong berikan ini. Saya lupa memberikan kepadanya."


"Baik CEO Ron. Nanti, saya akan berikan kepada My Boss."


Ron menoleh ke ruangan VIP, membatin "Harusnya aku berani menyapa Lovie. Kenapa aku harus kabur dari mereka? issh, sudahlah. Besok aku akan menemuinya sendiri. Sudah lama juga tidak bertemu dia."


Papa Richard bertanya "Tadi kamu ke panti asuhan ngapain?"


"Emh, itu. Soal murid di sekolah."


"Sayang, kamu sudah makan?"


"Belum."


"Aku juga belum sempat makan siang. Tadi, baru menyuapi Lily."


Lovie segera memesan makanan, dari layar digital yang ada di samping sofa.


Pemesanan makanan bisa melalui layar pintar ini. Tidak butuh waktu yang lama. Makanan segera di antarkan ke ruangan.


"Mama!" Panggilnya.

__ADS_1


__ADS_2