
Setelah melihat Lucas ada di tempat ini. Jihan buru-buru mencari suaminya. Jihan berharap, suaminya tidak akan bertemu mantan kekasihnya.
Pedro dan Richard memang tidak saling mengenal dekat. Namun, Pedro pernah bekerja untuk Presdir Nicholas, meski itu tidak lama, tetapi sempat bertemu Richard.
"Katanya beli es krim. Mana es krimnya?" Sang suami menatap Jihan. Lalu, melihat ke sang putra yang tampak cemberut.
"Food court ramai banget. Ini juga waktunya makan siang. Lebih baik, kita ke tempat yang lain saja." Jawabnya Jihan dan berusaha tetap tenang. Anaknya, juga tidak suka tempat keramaian.
Pedro menatap putranya dan bertanya "Ethan sudah bosan?"
"Iya Papa." Jawabnya Ethan dan tampak lelah.
Semenjak tiba di Shindong. Ethan juga terlihat tidak senang. Ia merasa lebih suka tinggal di luar negeri.
Demi ingin menyenangkan putranya, pagi-pagi tadi kedua orang tua itu, membawa putra tampannya ke Taman Fantasya.
"Kak Pedro." Panggilan dari arah kanan dan ternyata itu adalah Metta.
Metta yang mendorong stroller dan Jihan melihatnya jadi dag dig dug.
"Metta? Kenapa Metta kemari? Dia juga mengenal suamiku??" Batinnya Jihan yang sudah gelisah.
Doddit ternyata juga berjalan di belakang Metta, tampak menggendong ransel, isi perlengkapan kebutuhan bayi tampannya.
"Metta."
Keduanya saling memeluk di depan Jihan.
Amat sangat terkejut.
Jihan tak bisa berkata-kata dan semoga saja jantungnya tetap aman, meski berdesir hebat sekali.
"Bagaimana kabar kamu?" Tanya Pedro kepada saudara kembarnya, yang bernama Metta.
Metta menjawab "Kabarku baik. Ini, aku sudah punya jagoan."
"Hem, Kakak juga punya jagoan."
Metta melihat ke arah Jihan, ia jadi menjulurkan tangan kanannya "Hai Kak. Aku Metta. Saudara kembarnya Kak Pedro."
"Kembar?!" Jihan yang terkejut. Tapi, dia berusaha tenang. Kali ini, harus bisa akting di depan suami tampannya.
"Iya. Apa Kak Pedro tidak cerita soal aku?" Tanya Metta.
"Emh, iya. Suamiku cerita, punya saudara perempuan. Ternyata, kembarannya memang cantik."
"Kakak bisa saja."
"Panggil Jihan saja. Aku tidak nyaman bila dipanggil Kakak. Sepertinya, aku lebih muda dari kamu." Ucapnya Jihan.
"Baik."
Pedro merangkul bahu Metta, ia berkata "Meskipun begitu, kamu harus menghormati Kakak iparmu."
"Aku mana pernah tidak menghormati Kakak. Makanya, aku panggilnya Kak Jihan. Tapi istrimu, tidak mau."
Doddit hanya tersenyum saja. Pedro bertanya "Doddit, apa Metta sering menyusahkan kamu?"
"Tidak Kak. Metta Mommy yang mandiri. Dia serba bisa. Malahan, aku sering tinggalin dia sendirian."
Pedro jadi menggendong Ethan dan ia berkata "Ethan, sapa Tante sama Om kamu."
"Hallo Tante, Hallo Om."
"Iya ganteng. Emh, kamu ganteng banget sih?!" Gemasnya Metta, kepada keponakannya.
Ethan hanya tersenyum, lalu Pedro berkata "Ethan dari pagi disini. Ini kita mau pulang."
Metta berkata "Kita bertiga malah baru datang. Soalnya, disuruh sama Pak Bos nyusul kemari."
"Kalian, masih kerja di Rich?"
"Aku nggak. Cuma Papanya Morgan yang kerja."
Anaknya Doddit, si bayi embul umur 9 bulan, namanya Morgan.
"Ya sudah, kita mau pulang dulu. Kita sudah di kota ini lagi, kalian harus main ke rumah."
Doddit bertanya "Kak Pedro, masih tinggal di apartemen yang dulu?"
__ADS_1
"Iya. Kita tinggal di Azzura."
Metta tersenyum, ia berkata "Iya, kapan-kapan aku main kesana. Aku ingin mencicipi masakan Kakak iparku."
"Apa Metta sengaja? Mau meneror aku?" Batinnya Jihan dan ia hanya memasang senyuman tipis di wajah cantiknya.
"Oke. Kita bisa makan malam sebagai keluarga."
"Dengan senang hati Kakakku. Aku akan siap menghabiskan jamuan dari kalian."
Pedro, mencubit gemas pipi bakpao bayi "Morgan tampan, Paman pergi dulu ya."
"Iya Paman. Sampai bertemu lagi." Balasnya Metta, yang membahasakan bayinya.
Jihan jadi membatin "Kenapa dunia ini terasa sempit bagiku?"
Metta tersenyum, ia membatin "Emh, sesekali aku harus membalasmu Nona Jihan. Dulu, kamu pernah menyiram wajahku."
Pedro menikah hanya di dampingi oleh Ibu kandungnya, dan mengatakan kepada Jihan kalau dia punya saudara kembar perempuan, yang tinggal dengan Papanya. Setelah pernikahan, Pedro dan Jihan tinggal di luar negeri. Pedro dan Metta hanya sesekali bertukar kabar. Mereka juga tidak dekat, karena dari kecil sudah terpisah jarak sebagai keluarga.
Setelah keluarga kecil Pedro pergi, dari hadapan Metta. Adik kembarnya itu jadi tertawa gemas.
"Sudah jangan diketawain terus."
"Suamiku, ekspresinya Jihan lucu banget. Aku jadi kepingin bilang. Hallo, mantannya Bos."
"Hush, nggak boleh begitu. Nanti kalau Nyonya Bos tahu, jadi berabe. Mereka juga nggak ingin bertemu Jihan."
"Bos Richard disini. Jihan juga disini. Pasti dari mereka, ada yang bertemu. Apa,, Jihan sudah bertemu dengan Lucas?"
"Ssuth, jangan dibahas lagi. Ayo kita cari Nyonya Bos dulu."
"Iya, disini panas. Kasian Morgan jadi kepanasan."
Setelah sampai di food court dan bertemu keluarganya Bos.
"Eee, bayi ganteng. Datang juga." Mama Lovie yang tadinya duduk dan siap menyuapi anak-anaknya, malah jadi tertarik mendekat ke arah bayi embul itu.
"Hallo Morgan. Kamu lucu banget sih?! Kamu makannya apa, sampai embul begini?"
Bayi Morgan ini memang terlihat embul dan putih. Kedua pipinya sampai tumpah-tumpah.
Perlahan Mama Lovie membuka sabuknya pengamannya, segera menggendong bayi embul ini.
Kedua anaknya yang ingin disuapi, jadi menatap ke sang Mama. Mamanya fokus pada bayi.
"Oke. Aku makan sendiri saja." Ketusnya Lily, tapi dia tidak cemburu, karena sang Mama memilih menggendong dedek bayi. Lily, juga sangat menyukai si embul Morgan.
"Adikku cantik, kita makan bareng ya. Aku yang suapi kamu." Ucapnya Lucas dan segera memegang sendoknya.
Papa Richard masih menikmati snack ringan yang dibeli Latte. Karena Vanilla tidak mau pemberiannya. Jadinya, snack itu diberikan ke Papanya.
"Wah... Tuan muda sekarang punya teman baru." Doddit datang menggoda.
Papa Richard mengedipkan sebelah mata, "Dodd, jangan ganggu dia. Dia lagi baper."
Latte diam saja dan Vanilla sudah tampak makan pemberian Mama Lovie.
Makanan siap saji, yang terkenal akan ayam goreng krispinya yang renyah.
Kreess!
"Bos, tadi ada Jihan." Bisiknya Doddit.
"Aku tahu. Aku tadi bertemu Pedro di depan toilet." Balasnya Papa Richard tampak santai.
"Lalu, apa Pedro menanyakan kabar Lucas?"
"Emh, Pedro sepertinya tidak tahu. Tadi, Lucas juga kenalan sama dia." Jawabnya Papa Richard.
Di dalam mobil, Pedro yang mengendarai mobil tampak santai. Bahkan, ia menceritakan pertemuannya dengan Richard.
"Benar-benar, dunia ini sudah gila. Kalau aku jadi Richard, aku nggak akan sudi menerima anak itu." Ucapnya Pedro.
"Apa maksud kamu?" Tanya Jihan, gelisah.
Raut wajah Jihan saat ini, masih bisa menutupi perasaan hatinya.
"Ya. Aku pikir, wanita itu sudah hilang akal dan moralnya."
__ADS_1
"Hilang akal dan moralnya? Maksud kamu? Dia Ibu yang kejam?"
"Darling. Sebelum kita menikah. Aku sempat menangani masalah Richard. Terus soal Lucas, anaknya yang tadi kenalan sama aku. Ya, Richard cerita masalah intinya. Tapi, aku pikir, wanita itu yang bersalah, dan juga keluarganya. Aku yakin. Wanita itu, hanya ingin memanfaatkan Richard, agar dia bisa kembali kepada Richard."
"Jadi. Kamu menganggap dia tidak bermoral, begitu maksudnya?"
"Ada banyak perempuan di luar sana. Yang ingin sekali mendapat karunia, agar bisa hamil dan melahirkan, tapi dia malah membuat ide gila semacam itu. Padahal, hanya pacaran, dia sudah meminta yang diluar nalar pikiran manusia normal. Itu namanya apa, hilang akal, gila?? Untungnya saja, sekarang Richard sadar dan wanita itu tidak lagi mengganggu dia."
"Jadi kamu pikir. Dia gila??" Jihan menahan perasaannya.
"Iya. Dia gila."
"Kamu mengatakan, istrimu ini gila." Batinnya Jihan kesal.
Pedro memegang tangan Jihan, dan ia berkata "Aku bangga, punya istri yang sempurna seperti kamu."
Kemudian, mencium tangan Jihan dengan perasaan manis.
Ethan, yang duduk di belakang dan sudah tampak tertidur pulas.
Duduk sendirian dan dipakaikan sabuk pengaman. Sudah terbiasa begitu dan dia bukan tipe anak yang rewelan.
"Kamu, mencintai aku. Karena aku yang mengandung dan melahirkan anak kamu?" Mata Jihan sudah tampak berkaca-kaca.
"Aku bertanggung jawab karena kamu hamil anakku. Kenapa harus kamu pertanyakan lagi? Bukankah, kita bersatu karena itu."
Air bening itu, menetes dari pelupuk matanya.
Setetes, demi setetes dan perasaannya semakin sakit. Dadanya berdesir hebat.
"Pedro, kalau aku waktu itu keguguran. Apa kamu akan terus menyayangi aku?"
"Jihan."
"Jawab saja. Aku akan mendengarnya."
"Sudahlah. Aku tak ingin membahas soal kita."
"Kamu masih mencintai Clarissa?"
"Apa maksud kamu. Kamu malah bawa-bawa Clarissa."
"Aku tahu, kalian berdua masih bertemu."
Sang suami terdiam, lalu berkata "Aku minta maaf. Aku tidak sengaja bertemu dia."
"Iya. Aku mengerti."
Sang suami, jadi merasa bersalah, ia berkata "Jihan aku mencintai kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu. Apapun yang akan terjadi, kita akan terus bersama."
Pedro kembali meraih tangan istrinya. Jihan semakin tidak berani, untuk mengatakan kepada suaminya. Kalau dialah wanita, yang membuat Lucas ada di dunia ini.
"Aku memang bersalah. Aku akan menerima nasibku."
Jihan perlahan menyeka air matanya dengan tisue dan kembali tersenyum.
Jihan berkata "Aku juga mencintaimu. Hanya kita dan anak kita."
Kembali, pada Mama Lovie yang masih asyik menggendong si bayi embul.
"Bbibibip calon mantu." Gumamnya.
"Apa itu calon mantu?" Tanya Lily.
"Calon menantu, ya pasangan buat pengantin begitu." Jawabnya Lucas.
Mama Lovie cuma berdendang, lalu Lily berkata "Owh, maksud Mama. Aku mau dijodohin sama adik bayi ini."
"Lily sayang, Mama itu cuma nyanyi." Balasnya Lucas, mengelus kepala adik cantiknya ini.
Lily berbisik ke telinga Lucas, ia berkata "Nanti, kalau aku sudah besar. Aku ingin punya pacar kayak Om Ron tampan."
"Om Ron tampan?"
"Iya. Tapi, Kak Lucas jangan bilang sama siapa-siapa. Ini rahasia kita berdua."
"Oke. Aku akan mengunci mulutku."
Selesai makan, Vanilla mencuci tangan. Setelah itu, kembali duduk di sebelah Metta.
__ADS_1
Latte berkata "Vanilla. Ayo kita ngedate lagi."