Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Launching Produk Baru


__ADS_3

Siang yang cetar dan tampak memegang payung.


"Panasnya biasa aja. Ngapain pakai payung segala?" Talita yang kesal dari tadi Rey sibuk memayungi Talita.


Talita berjalan dari stand ke stand dan calon suaminya tampak perhatian padanya.


Namun, Talita malah risih dibuatnya.


Talita mendorong payungnya "Hish, Bos Rey sengaja buat aku jengah?!"


"Bos? Jengah? Talita, aku ini harus menjaga calon istriku. Apalagi, kamu tuan putri dari Rich, aku nggak mau kulitmu kena terik matahari."


"Bisa nggak sih?! Nggak usah sok perhatian begitu. Bikin aku kesal. Kesal banget!"


Talita berjalan dengan muka bete dan Rey terdiam, membuang payungnya. Kemudian merapikan jasnya dan berjalan dengan menawan.


"Aku sudah berusaha baik sama dia. Bukannya terima kasih, malah marah sama aku."


"Dia pasti punya niat balas dendam sama aku. Aku harus hati-hati sama dia. Bu Diana juga sudah membuat aku jadi korban dan mengatakan kepada Papanya Rey, aku hamil. OMG, kenapa malah rumit begini. Minggu depan aku harus menikah dengannya."


Raut wajah itu, dan ternyata jadi tuan putri itu tidak mudah. Bangun pagi sudah ada suster yang melayani semuanya. Bahkan, semua kegiatannya sudah sesuai jadwal.


Rey sudah ada di sisi kanannya, Talita menoleh "Aku tetap Talita. Aku mohon jangan menggoda aku terus menerus."


"Baiklah, aku juga tidak mau bersikap konyol."


"Apa kabarnya Jihan? Apa kamu tidak mau menghubunginya?"


"Jihan punya kehidupan sendiri. Biarkan dia bersenang-senang. Aku tidak mau merusak kebahagiaan dia. Aku tahu, dia masih ingin kebebasan. Kalau menikah denganku, Kakekku punya aturan sendiri."


"Iya, bahkan aku harus memakai pakaian adat bila mengunjungi Kakek."


"Aku yakin, kamu bisa melakukannya."


Rey meraih topi yang dibawa Milie, "Nona Milie ini untuk Nona Talita."


"Iya Bos Rey, tidak masalah. Saya bisa mengambil lagi topinya di ruang panitia."


Rey memakaikan topi dikepala Talita "Aku suka dirimu yang apa adanya."


Rey berjalan pergi, Talita "Tahu apa, kamu soal aku."


Dari sudut lain, teras aula gedung serba guna. Ada sosok cantik yang berusia 28 tahun dan menatap Talita.


"Jadi, dia calon istrinya Bos Rey."


Sosok cantik yang masih menatap Talita, ia adalah sekretaris Rey.


Sekretarisnya datang bersama tim yang membuat iklan kosmetik dan saat ini sudah mengawal artis cantik yang bernama Crystal. Sebentar lagi, peluncuran iklan juga akan segera tayang.


Jam siang, di panggung acara. Richard, Crystal dan pimpinan pabrik kosmetik akan memperkenalkan produk baru dari Rich Corporation.


Serangkaian produk kosmetik, dari foundation, bedak, lipstik, eyeshadow, maskara, eyeliner, ada pula suncreen, pelempab wajah, lotion, dan cream untuk mencegah penuaan dini.


Lalu, ada pula yang paling dinantikan konsumen ialah, serangkaian skincare berbahan herbal untuk kulit sensitif.


"Iklannya, sesuai ideku. Apa dia ingat kata-kataku waktu presentasi." Talita yang bersedekap menatap ke arah panggung dan ada iklan yang terpampang di layar besar.


Tepuk tangan dari para penonton dan Cyrstal memang sangat cantik saat memperagakan serangkaian kosmetik itu.


Lovie yang berdiri di dekat panggung acara, ia tidak henti memandangi sang artis "Cantik, sexy. Iya, nanti kalau aku sudah menikah dengannya dan aku hamil. Dia pasti juga akan tergoda sama mereka yang lebih sexy."


Doddit yang berada di dekat Lovie. Ia berkata "Nona cantik tidak perlu jealous. Bos bukan tipe pria yang suka gonta ganti pasangan."


"Bukannya, setelah putus dari Jihan, Kak Richi selalu gonta ganti teman kencannya dan sampai berkencan di kamar pribadinya."


"Nona cantik, itu hanya untuk luapan masalahnya saja."


"Kak Doddit nggak perlu belain Kak Richi. Aku tahu, harus bersikap apa padanya. Dia bilang, aku harus cemburu bila di dekat perempuan lain."


"Owh, Bos Richard saja yang terkadang aneh. Dia kadang kekanakan. Kalau Nona cemburuan, nanti Bos Richard malah bosen dan bisa-bisa berpaling ke yang lain. Biarkan saja Bos bersama perempuan dan Nona tidak perlu marah padanya, apalagi cuma Nona Lovie, satu-satunya perempuan yang ada di rumah Bos Richard."


"Apa yang dikatakan Kak Doddit benar. Kak Richi seorang Bos dan banyak perempuan sexy yang akan ada di setiap acaranya. Aku harus bisa mengerti dia dan aku, tujuanku cuma hamil."


Para staff Rich yang bekerja sebagai panitia acara. Ada yang menatap ke arah Lovie yang berdiri di samping Doddit.


Karyawan perempuan bertanya kepada rekannya. "Yang di sebelah Doddit itu siapa? Apa dia, calon istrinya Bos Richard?"


"Iya. Dia cewek yang aku ceritain sama kamu. Aku terkejut waktu Bos mencium dia di lift. Mana malam-malam sudah sepi." Jawabnya staff keamanan.

__ADS_1


"Masih kecil."


"Apanya yang masih kecil?"


"Ya orangnya dodol. Memangnya, aku mengatakan kalau dadanya terlihat kecil."


"Eh, aku nggak menerka begitu. Kamu yang berarti salah persepsi."


"Aku??!" Tulunjuknya menunjuk ke dirinya sendiri, ia berkata ketus "Jangan dekat-dekat sama aku."


Ya, perempuan berusia 26 tahun itu pergi dan staff keamanan hanya bisa mengehela nafas halusnya.


"Dasar, cewek aneh." Desisnya pelan.


"Kenapa aku harus jadi panitia? Enakan yang lainnya, semalam bisa ke pesta dan makan-makan enak." Gerutunya sambil berjalan ke arah gedung serba guna.


Tidak sengaja, staff perempuan itu bertabrakan dengan rekan satu tim humas.


"Friska!"


Tatapannya sangat terkejut saat melihat ke layar ponsel yang tergeletak di atas paving block.


Friska meraih ponselnya yang terjatuh dan ada gambar Bos Richard dan Crystal yang terpampang diponselnya.


Baru saja mau pergi, sang panitia itu berlari cepat ke sisi panggung untuk menghentikan videonya.


"Niko, Matikan videonya!!" Teriakannya nyaring sekali. Sampai Lovie dan Doddit menoleh ke arahnya.


Secepat kilat dia berlari, eeh malah tersandung.


Duh!


Mana pakai rok, roknya sampai menyelingkap ke atas.


Niko, staff keamanan malah datang mendekatinya dan menutup roknya.


"Bodoh. Kenapa kamu kemari?"


"Aku datang bantuin kamu."


"Cepat matikan laptopnya."


"Matikan videonya."


Niko yang pergi dan segera mematikan tayangan iklannya.


Layarnya jadi tampak putih bersih dan tidak ada gambarnya.


Staff itu, mulai berdiri, "Untung saja. Aku bisa menyelamatkan wajah Bos."


Dia kembali ke mejanya. Panita yang bertanggung jawab untuk acara launching produk kosmetik ini. Sudah tampak memicingkan mata kepadanya.


"Dessya, kamu sudah gila?!!"


"Pak, ini ada kesalahan."


"Apa maksud kamu ada kesalahan?"


Doddit datang mendekat, ia berkata "Sudah, tenang semuanya. Acara tetap berlangsung."


Untungnya, MC acara sigap dan segera diisi acara lainnya, yaitu pembagian hadiah sesi pertama. Lalu, akan ada penyanyi yang turut memeriahkan jalannya acara.


"Dessya, memang ada kesalahan apa??"


Doddit bisa membaca gerak-gerik staff ini, yang tiba-tiba berteriak dan meminta rekannya sesama panitia acara, agar segera mematikan videonya.


"Pak Doddit, itu. Ada gambar Bos Richard bersama si model. Sepertinya, editan dari salah satu tim humas."


"Dessya, kembalilah bekerja. Aku yang akan mengurusnya."


"Iya Pak Doddit."


Staff itu duduk di kursinya bersama rekannya yang dari staff keamanan.


"Memangnya, ada apa?"


"Ada yang mau merusak acara ini."


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Ada rekaman yang tidak senonoh, meski terlihat editan. Tapi, orang yang melihatnya, tetap akan menilai jelek Bos kita."


"Kamu, tahu dari mana kalau itu editan?"


"Gini-gini, aku lulusan IT dari luar negeri."


"Terus, kenapa kerja di tim humas?"


"Susah nyari pekerjaan."


"Masuk di tim aku saja. Nanti aku bantuin ngomong ke pimpinan."


"Nanti aku pikirkan dulu."


Tanpa banyak kata, jarinya dengan lincah menekan tombol keyboard dan secepatnya video editan itu terhapus olehnya.


"Kenapa dihapus videonya?"


"Ini aku sudah kirim ke Bos Richard dan yang di iklan sudah aku bereskan."


Staff keamanan mengacungi jempol kanannya. Dia kembali bernafas lega.


"Apa dia, orang suruh Jihan? Pantas saja, Pak Bos menempatkan aku di tim humas."


Rey dan staffnya juga melihat hal itu, membuat staff Rey jadi kecewa.


"Apa yang Rich lakukan pada Sheen sangat disayangkan?!"


"Talia, kamu tidak mengerti apapun."


Sekretarisnya menoleh ke wajah Bosnya. Tangan Rey tampak bersedekap dan menatap ke atas panggung acara.


"Bos, sudah berubah."


"Aku tidak berubah."


"Apa ini, demi Jihan?"


Rey menoleh ke wajah sekretarisnya, ia berkata "Talia. Kamu jangan ikut campur dengan masalah pribadiku."


"Bos, saya hanya memperhatikan Bos. Saya tidak bermaksud ikut campur."


"Terima kasih sudah memperhatikan aku. Kalau begitu, kamu urus saja pekerjaan kamu. Jangan lagi mencampuri urusan pribadiku."


Rey memang begitu, tapi kali ini sang sekretaris tidak suka dengan ucapan Rey, yang terlalu menolak perhatiannya.


"Pasti karena perjodohan itu. Dia tidak suka dengan perjodohannya." Batin sang sekretaris, lalu mendekati timnya Rey dan mengatakan hal manis kepada mereka semua.


"Rich, memotong bagian penting, nanti akan dianjutkan iklannya. Itu, trik marketing." Ucapnya manis.


Talita yang sudah berada di dekat Lovie, ia bertanya "Apa kamu tidak bosan memandangi dia?"


"Maksud kamu, Crystal?"


"Maksud aku, Kak Richard. Aku pikir, kamu dari tadi sibuk menatap wajahnya."


"Aku tidak begitu."


Talita menarik lengannya, ia berbisik "Ayo, kita jajan. Jangan cuma sibuk ngelihatin calon suami."


"Tapi, Kak Richi melarang aku pergi."


"Kamu sama orang tuamu mulai tidak patuh, tapi sama Kak Richard jadi patuh banget. Lovie, aku jadi heran."


"Emh, bukan begitu. Aku hanya tidak mau dia cemas."


Talita tetap memaksanya pergi dan sudah menarik tangannya. Berjalan berdua dan hendak menikmati kuliner, yang akan memanjakan lidah mereka.


Setelah di stand kuliner, Lovie dan Talita bertemu tim kerjanya Bos Richard.


Bu Choi bertanya "Nona Lovie mau jagung rebus?"


"Iya Bu Choi."


Jagung rebus yang direbus dengan susu rendah gula. Lovie sedang memilih gagang bambu, ada mitos keberuntungan.


Bu Choi berkata "Wahh, Nona Lovie beruntung. Dapat yang besar dan panjang."


Lovie memegang gagang bambunya, uap panas masih mengitari dari bagian jagung yang tampak kuning keemasan. Lovie berkata "Bu Choi, saya memang suka yang besar dan panjang."

__ADS_1


Tim Bos Richard, jadi menatapnya.


__ADS_2