
Seperti angin yang membawa kesejukan, saat keluarga baru Lovie sudah terpesona kepada sosok tampan, yang ada di hadapan mereka semua.
Nenek kembali bertemu sosok ini, "Kamu lagi."
"Iya. Saya Richard."
Papi Benny berkata "Lovie sudah berangkat. Apa dia tidak memberitahu kamu?"
"Tidak Om Benny, ponselnya juga tidak aktif." Jawabnya Richard.
Keluarga ini sudah selesai sarapan pagi dan bersiap ke sekolah dan Papi Benny juga akan segera ke kantor, karena ada pertemuan penting di pagi ini.
"Lovie tadi juga tidak berpamitan sama saya. Hanya berpamitan kepada Ibunya."
"Iya Papi, katanya tadi Lovie ada tugas sekolah. Dia tidak mau terlambat ke sekolah." Ucapan Mama Jessika yang terlalu manis. Membuat Richard hanya tersenyum tipis.
Jenny dari tadi memandangi wajah itu dan Jerry juga penasaran akan sosok tampan ini.
"Apa dia kekasihnya Kak Lovie?" Batin Jerry yang bertanya-tanya.
Jenny membatin "Pantas saja, dia cepat melupakan Damian. Ternyata, cowok ini sudah memikat perasaan barunya."
Mama Jessika memandangi Richard. Semua yang dikenakan Richard saat ini, berharga fantastis.
Mama Jessika sangat tahu. Berapa harga dari jam tangan Richard, jas yang dipakai, sepatu dan harga parfumnya.
Dulunya, Mama Jessika yang mengurus keluarga Hanz, jadi sangat tahu barang mewah yang bernilai tinggi.
"Papi, Mama mau mengantar anak-anak dulu ke sekolah, keburu terlambat."
"Iya." Balasan suaminya.
Richard berkata "Kalau begitu, saya juga akan ke sekolah Lovie."
"Kamu mau kesana?"
"Iya Om. Saya ingin memastikan, kalau Lovie baik-baik saja." Tatapan Richard ke keluarga baru Lovie sangat kentara. Membuat Mama Jessika tersenyum aneh.
"Sepertinya, dia sangat tahu apa yang sudah terjadi. Rupanya, Lovie sudah pengadu." Batin Mama Jessika.
"Om Benny, kalau begitu saya pergi dulu."
Mama Jessika jadi berkata "Papi, perut Mama tiba-tiba sakit. Tolong antar anak-anak ke sekolah."
"Jessika, aku ada pertemuan penting di kantor."
Richard, berkata "Mereka biar bareng sama saya. Saya juga hanya bersama asisten. Mobil saya di depan."
Nenek Lovie berkata "Anak muda yang pengertian. Lovie sangat beruntung mengenal kamu."
"Nenek bisa saja."
Nenek menoleh ke Jenny dan Jerry, "Jenny, Jerry, kalian juga harus menghormati kakak ipar kalian."
"Kakak ipar?" Jenny tidak terima karena dia usianya sudah 18 tahun. Sedangkan Lovie baru 17 tahun lebih 4 bulan.
"Iya, pemuda ini Kakak ipar kalian. Kamu harus sopan sama dia."
"Baiklah. Aku pamit dulu." Jenny telah mencium tangan para orang tua dan Jerry juga melakukan hal yang sama. Menyalami kedua orang tua dan Nenek.
Jessika pergi, karena berpura-pura sakit perut. Nenek dan Papi Benny mengantar Richard sampai ke depan. Mobil sedan mewah terparkir di pinggir jalan dan tidak masuk ke halaman rumah ini.
Rumah tampak dua lantai, bangunan modern dan temboknya dicat warna creamy.
Ada beberapa tanaman hijau yang tertanam di pot-pot besar, telah menghiasi halaman rumah.
Rumah ini tidak seluas kediaman Presdir Nicholas. Tetapi, masuk di area komplek mewah, yang ada di pusat kota Shindong.
"Nenek, saya pamit dulu."
"Iya, titip dua bocah ini ya."
"Baik Nenek."
Richard juga menirukan apa yang dua remaja itu lakukan, Papi Benny tampak tersenyum saat Richard mencium tangannya.
Nenek melambaikan tangannya.
Richard duduk di depan bersama Doddit. Dua remaja itu, duduk di belakang.
Perjalanan ke sekolah, hanya memakan waktu 10 menit. Setelah keluar jalan komplek mewah ini, tinggal lurus saja jalannya.
Dari gerbang komplek, belok ke kanan dan melalui jalan utama pusat kota Shindong.
Richard yang hanya terdiam dan dua penumpang yang duduk dibelakang, juga anteng.
Doddit menyalakan lagu-lagu melo dan membuat dia sedikit bergeming akan lagunya itu.
__ADS_1
"Dengarkanlah...."
Anggap saja, Doddit menyanyikan lagunya Kangen Band.
Richard hanya menggeleng, ingin sekali dia segera menyumpal mulutnya Doddit.
Suaranya biasa saja dan tidak nyaman di telinga Richard.
"Bos, Nona cantik kenapa tidak masuk sekolah?"
"Sudah berangkat duluan."
"Waah... Perasaan, tadi kita sudah cepat. Kenapa kita bisa terlambat."
"Mana aku tahu, kalau Lovie sudah berangkat duluan."
Richard kembali melihat ke layarnya. Tak ada pesan, tak ada panggilan. Mencoba untuk memanggil lagi.
"Sudah aktif, tapi nggak diangkat. Dia sibuk ngapain?" Richard bergeming sendiri, saat melihat ke layar ponselnya.
Jerry yang duduk di belakang berkata "Pasti Kak Lovie bersih-bersih kelas."
Richard menoleh ke arah Jerry "Apa kamu bilang? Lovie bersih-bersih kelas?"
"Iya. Setiap hari begitu."
"Memangnya, tidak ada petugas kebersihan??"
"Ada. Hanya saja setiap kelas memang ada jadwal yang bertanggung jawab menjaga kebersihan kelasnya. Tapi, Kak Lovie selalu menjaga kebersihan setiap harinya. Sampai, Kak Lovie menjadi duta kebersihan sekolah."
"Wah, ini nggak bisa dibiarin. Doddit, hubungi sekretariat Sheen." Lanjut bergumam "Enak saja My Lovie di suruh bersih-bersih. Memangnya calon istriku asisten sekolahan."
"Sabar Bos. Siapa tahu, Nona Cantik memang suka menjaga kebersihan. Buktinya, setiap hari menjaga badan Bos. Itu bulunya bos siapa yang nyukur, kalau bukan Nona Cantik." Doddit malah menggoda Bosnya.
Jenny mendengar itu jadi risih "Kenapa bisa, Lovie mengenal mereka ini? Apa yang sudah direncanakan sama Lovie?"
Di rumah, Mama Jessika langsung melihat beberapa barang mewah yang dipakai Richard.
"Benar dugaanku. Dia dari kalangan A. Apa mungkin, Benny sudah serius akan pernikahan Lovie? Harusnya dia cerita sama aku. Aku ini istrinya, kenapa dia tidak menceritakannya?"
Mama Jessika jadi hareudang sendiri. Meski Damian putra Presdir Bram. Tetapi, melihat Richard, beliau jadi ingin mencari tahu tentang Richard.
Setibanya di sekolah, mobil Richard memasuki halaman sekolah dan di belakangnya ada mobil Rey.
"Itu, pasti Lovie." Ucapnya Talita dan ia sudah menghafal mobil yang sering dikendarai Doddit.
"Jenny??!"
Sontak terkaget, saat melihat Jenny yang keluar dari mobil itu.
Rey menoleh ke arah Talita , "Mereka siapa?"
"Itu, Jenny sama Jerry. Musuhku." Jawaban Talita dan ia sudah naik pitan.
Keluar dari mobil dan Rey segera ingin pergi. Rey tidak mau terlibat masalah dengan Talita. Tapi, mengingat akan perkataan Ibunya.
Rey, jadi mematikan mesin mobilnya.
"Hish, cuma sekali saja. Aku harus bertanggung jawab untuk selamanya. Kenapa bisa Ibu muncul di waktu sialan itu." Hikks, Rey yang melepaskan sabuk pengamannya dia fokus menatap ke arah Talita, yang mengayunkan tangan kanannya.
Pllaaak!!
Talita dengan garang, menampar Jenny di halaman sekolahnya. Ada beberapa siswa yang melihat ke arah mereka.
Richard dan Jerry tercengang, saat melihat Talita yang tiba-tiba menampar pipinya Jenny.
"Talita." Jerry melerai.
"Kamu juga."
Talita mengangkat tangannya, tapi Jerry lebih tahu akan niatnya. Secepatnya menangkap tangan Talita.
"Talita, kamu kenapa menampar aku??" Jenny yang berpura-pura tertindas, dia sudah menangis dan memegang pipinya yang sakit.
"Itu balasan dari Lovie." Ucapnya Talita garang, ia menatap Jerry "Lepaskan tanganku, atau aku akan menendang burungmu."
"Sorry." Ucap Jerry
Jerry mendekati Jenny, ia berkata "Kakak, sebaiknya masuk ke kelas."
"Jerry, kamu bilang. Kamu ingin mencoba dekat dengan Lovie. Tapi apa, kamu sama saja dengan Kakakmu itu. Kalian, tega. Kalian jahat sama sahabatku."
"Talita, hentikan. Kita lagi di sekolah."
"Owh, kamu malu. Aku tidak malu dengan apa yang aku lakukan sama kalian berdua. Silakan, mengadu sama kepala sekolah. Aku akan adukan soal kamu, Jenny."
Tangan Talita menunjuk jelas, ke wajah Jenny.
__ADS_1
"Kamu sama Damian sudah bersekongkol. Aku tidak akan memaafkan kalian berdua."
"Kamu tidak tahu apa-apa. Kamu juga menuduh aku?"
"Tidak, aku tidak menuduh kamu. Kamu sendiri yang membuktikan dirimu itu jahat. Berani sekali kamu menjembak sahabatku. Tamparan itu, sebagai balasan dari Lovie. Lovie semalam kamu tampar di hadapan keluarganya. Sekarang, giliran aku akan menghukummu."
Talita yang garang hendak menyerang Jenny, Rey memeluknya dari belakang.
"Talita, hentikan. Malu dilihatin yang lain."
"Kamu tahu apa soal aku sama Lovie. Rey, dia semalam membuat sahabatku menangis. Dia sama Damian berniat menjembak Lovie. Dia semalam menampar Lovie di depan Papinya Lovie. Rey, kamu nggak akan ngerti perasaanku."
Jenny dipeluk Jerry dan ia menangis bombay.
Richard dari tadi hanya menatap mereka berdua dan bersandar mobil. Melihat hal itu, Doddit juga keluar dari mobil.
"Bos, ada apa?"
"Lovie. Aku harus menemuinya."
Richard lantas pergi.
Talita menangis tersedu-sedu dan dipeluk oleh Rey.
"Talita, malu dilihatin teman-temanmu."
"Kalau kamu malu, kenapa tidak pergi."
"Ayo, aku antar kamu ke kelasmu."
"Iya."
Talita masih menoleh ke arah Jenny dan Jerry.
"Tunggu balasan dariku." Ucapnya Talita yang menggebu-gebu.
"Jangan jadi pendendam."
"Siapa juga yang pendendam."
Rey tetap memegang tangan Talita.
Richard sudah bertanya sama penjaga sekolah dan ia telah berjalan ke lantai tiga.
Bangunan sekolah modern, dan tampak 3 lantai. Semua fasilitas dan alat-alat di sekolah ini, semua serba digital.
"Silakan masuk, di ujung ada kelas A.12.F." Ucapnya penjaga.
"Iya. Terima kasih."
Doddit melihat ke seluruh lorong di lantai 3 ini dan terkagum akan desain interior ruangannya.
"Bos, itu Nona Cantik."
Richard terdiam, melihat Lovie yang berjalan bersama Ron. Lovie membawa setumpuk buku paket.
"Bos cemburu? Bos mau kabur lagi?"
"Tidak."
"Aku pikir, Bos akan kabur lagi seperti dulu."
Doddit sangat paham, kalau Richard sosok yang cemburuan.
Lovie yang mengobrol dengan Ron. Ada yang sengaja menabrak mereka berdua.
Seet!!
Ron sigap meraih Lovie, dalam dekapan manis.
Tumpukan buku paket tadi, jadi tampak berserakan di lantai.
"Sorry Lovie. Aku tidak sengaja."
"Jonny, hati-hati dong, Lovie lagi."
Lovie dengan cepat membungkam mulutnya Ron.
"Ssthh. Jangan keceplosan."
Ron tahunya Lovie sedang hamil. Ia berkata "Iya, aku lupa."
Lovie tampak cemberut "Ingat, jangan keceplosan lagi."
"Aku akan mengunci mulutku."
Richard menatapnya mereka berdua dan terdiam seperti patung.
__ADS_1
"Bos, mau mendekat atau pergi?"