
Siang hari jam 2 waktu setempat, pusat kota Shindong, di halaman kediaman Presdir Julian.
Richard tampak duduk bersandar, di kursi mobil mewahnya.
Dia yang masih sakit, harus datang ke kediaman Presdir Julian.
Hanya demi, permintaan Lovie. Agar Richard berbicara dengan Jihan dan menyelesaikan masalah terpendam.
"Kenapa lama sekali?"
"Jihan paling cuma akting."
"Kak Richi nggak boleh meragukan dia. Dulu, cinta mati. Sekarang ngomong begitu."
"Siapa bilang, aku cinta mati sama Jihan."
"Buktinya, Kak Richi nggak bisa move on dari Jihan."
"Aku udah lama move on."
"Ckckck, buktinya di hotel main-main sama banyak cewek. Biar Jihan datang ke hotel dan memancing emosinya saja. Hemms, aku juga disamperin sama dia. Aku malah gemas. Ternyata, kalian berdua itu lucu." Lovie terkekeh.
"Lucu? Masalahku ini, kamu bilang lucu?!"
Lovie masih menggodanya, "Hemmms, padahal sudah dewasa. Umur Kak Richi kelihatannya sudah 27 tahun, tapi masih suka mancing-mancing emosi mantan kekasihnya. Buktinya, para cewek-cewek Kak Richi nggak ada yang bisa hamil."
"Kamu tahu apa soal aku." Richard jadi memejamkan matanya dan tidak mau lagi diledekin sama Lovie.
"Usiaku 30 tahun. Kamu juga harus hormat sama aku. Tadi, kamu bilang anak muda harus menghormati orang yang lebih tua. Aku lebih tua darimu."
"Oohh, sekarang sadar kalau sudah tua. Baik Om Richard De Nuca. Saya akan menghormati anda."
Richard jadi melek dan menatap ke wajah Lovie. "Apa kamu bilang. Kamu panggil aku, Om Richard?!"
"Om Richard, seumuran Om Rasya. Aku akan mengormati Om Richard."
"Nggak mau. Aku belum setua itu. Memangnya, wajahku sudah mirip Om-om."
"Mungkin, mataku yang salah. Aku pikir, masih usia 20an, ternyata sudah 30an."
"Umurku, bukan 30an. Lebih tepatnya, 30 tahun." Pembelaan diri.
Lovie terkekeh, melihat Richard yang tampak kekanakan.
"Emh, Om Richard, ngambek ya?"
"Aku bukan Om-om." Richard tampak cemberut dan memeluk bantal.
Lebih nyaman memejamkan mata dan tidur. Lovie menoleh ke arah mobil yang memasuki halaman ini.
Di saat bersamaan, Richard menerima panggilan telephone dari Presdir Julian.
"Baik Om. Saya mengerti. Iya, sama-sama." Ucapnya Richard, saat menjawab panggilan dari Presdir Julian.
"Lovie, ayo kita pulang."
"Emmh, iya."
Lovie masih menatap ke arah mobil itu, ada sosok wanita cantik dan terlihat sangat menawan, keluar dari mobil sedan mewah.
Lovie yang masih menatap ke arah itu, "Tante Bianca."
Saat mobil berjalan keluar dari halaman itu, Lovie masih menatap ke arah luar.
"Tante Bianca."
Richard mendengar hal itu, ia bertanya "Lovie, kamu kenapa?"
"Aku, seperti melihat Mamanya Talita."
"Mamanya Talita?"
"Iya, Tante Bianca."
Richard melihat dari kaca mobilnya, ia memang melihat Ibu tirinya Jihan.
"Owh, itu Ibu tirinya Jihan." Ucap Richard dan kembali bersandar. Memejamkan matanya dan merasa tenang.
Tidak akan ada lagi, masalah dengan Jihan.
Berkat ide dari Lovie. Presdir Julian bisa melihat, bagaimana sikap anak keduanya itu.
Jihan memiliki kakak laki-laki, dari satu Mama yang sama. Lalu, ada dua adik dari Mama tirinya dan masih usia remaja.
Setelah kedua orang tua Jihan berpisah. Jihan memilih ikut Papanya, kemudian diasuh oleh Mama tirinya, yang bernama Bianca.
Satu tahun yang lalu, Mama kandung Jihan menikah yang ke empat kalinya dengan Presdir Hanz, Papa kandungnya Rey.
__ADS_1
Pria cassanova, tapi sosok pekerja keras dan bertanggung jawab kepada semua istri dan anak-anaknya.
Di antara 3 sahabat Presdir ini, hanya Presdir Nicholas yang memiliki keluarga utuh.
Pimpinan yang hebat, namun tidak punya ambisi untuk menjadi konglomerat.
Kerjanya selalu santai, sesuai jam kerja. Setiap pulang kerja, di rumah menikmati waktunya, bersama keluarga.
Setelah Richard dewasa, ia jadi punya kesibukan sendiri, tidak ada lagi waktu bersama, kecuali memang ingin di rumah dan bermanja kepada orang tuanya.
Sekarang ini, Richard sudah bersikap manja lagi, kepada orang tua dan juga suster pilihannya.
"Aaa, aku masih ingin di elus-elus."
"Iya, kucingku yang manis."
Meow Meoowng!
"Kepalaku jadi pusing, gara-gara tadi kamu memarahi aku."
"Kapan aku memarahi?" Lovie menatap ke wajah itu.
"Tadi, waktu ada Om Julian."
"Owh, itu aku cuma menegur Kak Richi."
"Hemm, kamu bisa begitu sama Papanya Jihan. Kenapa kamu masih marah sama Papi kamu sendiri??"
"Aku nggak marah sama Papi. Malahan, aku sudah berdamai. Hanya saja, aku masih malas pulang ke rumah."
"Lovie, jangan tinggalin aku. Aku masih butuh perawatan dari kamu."
"Kak Richi punya perawat. Kenapa masih meminta aku terus yang merawat Kak Richi?"
"Luka ini, gara-gara mantan kamu. Kamu memangnya nggak merasa tanggung jawab atas apa yang menimpa aku?"
Richard, bisa saja ngomongnya. Bilang saja, cuma ingin dimanja Lovie.
"Tapi, besok aku ke sekolah dulu. Tadi, aku dicariin sama guruku. Talita sudah masuk sekolah. Aku juga harus masuk sekolah."
"Katanya, mau homescholing."
"Kak Richi, sekolahku tinggal beberapa bulan lagi. Aku cuma sekolah. Kak Richi kalau sudah sembuh juga harus kembali kerja. Kasian Bapak Ibu, Kak Richi jadi anak laki-laki nggak boleh terlalu manja begitu."
"Memangnya, kalau aku manja kenapa? Kamu nggak suka sama aku?"
"Siapa tadi kamu bilang, putra Bu Diana?"
"Iya. Guru matematika aku, punya putra seusia Kak Richi. Tapi aku lupa namanya. Reynal. Siapa ya. Lupa aku. Dia kerja di Perusahaan Sheen. Aku pernah mau dicomblangin sama Bu Diana. Tapi, waktu itu aku jadian sama Damian. Terus, Talita juga punya pacar."
"Apa kamu sekolah di Sheen Internasional?" Richard sudah berwajah cemburu.
"Iya, kok Kak Richi tahu.".
"Rey. Reynaldi Jo Vanco. Ibu Rey, namanya Diana."
"Omo. Iya. Namanya sama. Kenapa aku bisa lupa. Yoyoyo, Berarti Talita emang dicomblangin sama Bu Diana. Pantas saja, tadi Bu Diana tahu, kalau aku kabur dari rumah. Pasti Talita curcol sama Bu Diana."
"Memangnya, kamu sedekat itu sama guru kamu?"
"Iya, soalnya aku selalu punya jam tambahan, khusus mata pelajaran matematika."
"Yang rajin belajarnya, biar cepat lulus."
"Lulusnya ya serentak, nggak bisa cepet-cepatan."
"Maksud aku, kamu sekolah yang rajin."
"Aku harus mengejar pelajaranku yang tertinggal. Aku nggak sepintar Talita."
Richard mengelus rambut Lovie "Lovie, setiap orang itu beda-beda. Nggak semua sama. Aku juga banyak kekurangan. Nilai pelajaranku, nggak pernah dapat 100. Rey yang selalu mengerjakan tugas rumahku."
"Aku juga begitu, Talita yang mengerjakan tugas rumahku."
Richard, tersenyum "Mau ya, jadi istriku. Kita banyak kesamaan."
"Kesamaan belum tentu bisa menyatukan dua insan." Balasan Lovie, bikin nyesek.
Richard, sepertinya akan menyerah, sebelum lanjut ke rencana yang berikutnya.
Tidur pulas, bangun-bangun waktu sore dan sudah di ranjang pasien.
Efek obat yang tadi di minum, setelah makan siang.
"Pasienku yang manis. Waktunya mandi sore."
"Lovie, badanku rasanya tidak enak. Rasanya agak meriang, demam."
__ADS_1
"Meriang? Merindukan kasih sayang dariku?"
"Nah, itu kamu tahu. Aku beneran mala rindu, sampai demam."
Lovie mengecup pipi kanannya. Richard merasa tenang.
"Sebaiknya, Kak Richi jangan banyak gerak dulu. Biar lukanya nggak infeksi."
"Lovie. Makanya, kamu disini saja. Jangan kemana-mana. Kalau perlu, kamu boboknya disini. Di samping aku sini." Richard meraba tempat tidur sisi kanannya.
"Mana muat, nanti yang ada, badanku nindihin Kak Richi. Aku kalau tidur banyak gerakan."
"Iya, tapi jangan tinggalin aku."
"Siapa juga yang mau pergi."
Lovie pergi ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat di baskom stenlis.
Setelah kembali dengan peralatannya, Richard seperti bayi, yang sedang di elap kulitnya.
"Lain kali, menurut. Patuh sama orang tua. Ini akibatnya, kalau tidak nurut sama Ibu yang melahirkan."
"Aku patuh, makanya aku mau menikahi kamu."
"Iya, tunggu aku hamil. Kalau aku hamil. Kak Richi bisa menikahi aku."
"Terus, kalau kamu nggak hamil. Kamu mau pergi ninggalin aku?" Entah kenapa, Richard memang berfikir begitu.
"Aku sudah janji, sama Ibu Nancy."
"Janji apa?"
"Janji, memberikan cucu kepada Ibu Nancy."
"Owh, itu saja."
"Iya, memangnya aku harus bagaimana?"
Richard terdiam, dari pada patah hati lagi. Mending diam saja dan patuh sama suster belia yang satu ini.
Selesai membersihkan badan pasien. Richard sudah ganteng, berkat sentuhan tangan suster cantiknya.
Lovie, beranjak pergi tanpa berkata apapun.
Nyonya Nancy mengantar tamu special, masuk ke ruangan khusus ini.
"Mari silakan masuk."
Richard menoleh ke sisi pintu kamarnya, dan Lovie masih sibuk di kamar mandi.
Nyonya Nancy tampak tersenyum, beliau berkata "Ini putra saya, Richard."
Tamu ini, adalah Papinya Lovie.
Richard jadi berdebar. Meski belum pernah bertemu, ada aura yang aneh menyusup ke dalam dadanya.
Serrr-serran.
Desiran hebat ini, membuat Richard gelisah dan gugup.
"Saya, Benny Ferdiawan. Papinya Lovie. Kamu, bisa memanggil saya, Om Benny."
"Papinya Lovie masih terlihat muda. Aku pikir sudah tua. Kalau begini, gimana aku bisa merayu putrinya. Yang ada, aku bakal jadi rivalnya." Batin Richard.
Papi Benny, sudah mengulurkan tangannya dan perlahan Richard menjabat tangan Papi Benny.
Begitu lembut, tidak seperti Omnya Lovie yang waktu itu. Richard, jadi tersenyum tipis.
"Om Benny, terima kasih sudah berkenan kemari"
Keduanya jadi saling tersenyum.
Richard gelisah, ia berkata "Om Benny, saya minta maaf, sudah membawa Lovie kemari."
"Lovie sudah cerita. Saya tidak keberatan. Kalau Lovie, ingin tinggal bersama kekasihnya."
"Kekasih??" Batinnya Richard, berbunga.
Bayangan Richard, sudah menari-menari dibawah pohon bunga sakura. Bunga yang berwarna cantik itu, tampak berguguran dengan indahnya.
"Om Benny. Lovie, sudah membuat saya jatuh hati."
Papi Benny jadi tersenyum.
"Saya kemari, mau membicarakan tentang pernikahan, yang kemarin dibicarakan Presdir Nicholas."
"Saya ingin menikahi Lovie sekarang."
__ADS_1