Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 7. Ciee! Ketemu Lagi


__ADS_3

"Dia lagi."


Lily melihat pria itu dan ia jadi membalikan badannya.


Banyak pasang mata yang menatap Troy. Bukan hanya karena wajah blasterannya. Karena aura tampannya Troy, memang sangat jauh berbeda, dari sosok pria tampan yang lainnya.


Bukan hanya cewek, yang terpesona padanya. Ada pula cowok yang ingin mendekatinya.


Aduh! Sengaja menabrakan dirinya, mengambil sesuatu.


"Sorry Mister." Ucapnya dan Troy jadi mengerutkan dahi.


"Apa dia gaay?" Batin Troy, ia juga pernah digoda pria gagah yang mengaku bos dan mengajaknya berbisnis. Untungnya, mata Troy itu sangat jeli. Dia paham betul, sosok pria sejati.


Pria itu, masih melihat Troy dan Troy mendesis "Shiit!"


Violla berkata "Lily, aku mau beli sepatu baru. Kamu, yang harus bayarin."


"Emh, tasku juga sudah rusak karena semalam buat mukulin Vano." Suara Lexi manja.


Tidak ada sahutan dari Lily. Keduanya menoleh "Lily."


Violla bingung "Kemana perginya?"


"Kok hilang. Tadi, dia ada disamping aku." Ucapnya Lexi.


Keduanya jadi mematung.


Lily hendak lewat pintu samping mal. Troy, malah putar jalan. Yang tadinya, Troy, mau lewat pintu utama sambil menunggu mobil yang dikendarai Buho. Gara-gara pria gagah tadi, Troy jadi lewat pintu samping juga.


Degh!


"Huf! Dia lagi. Apes banget nasibku. Aku takut sama bininya." Batinnya Lily gelisah.


Troy, belum melihat ke arah Lily.


Lily seketika membalikan badannya, malah bertabrakan sama ibu-ibu yang mendorong stoller.


"Dek, hati-hati kalau jalan. Ini, anak saya jadi kejedot."


"Maaf Buk. Maaf banget. Saya nggak sengaja."


Hikks, huaa.


"Tuh, anak saya jadi nangis." Ucapnya ibu itu keras.


Anaknya nangis, karena suara keras Ibunya sendiri.


"Adik manis, diem ya. Cup cup sayang. Hallo adik manis." Ucapnya Lily, ia jadi berjongkok di depan anak kecil berumur 1 tahun.


Lily bertepuk tangan, dan menyanyikan lagu "Anak cantik, nggak boleh nangis."


Troy mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, seketika ia menoleh ke arah kanannya.


Berdebar sudah jantungnya.


Melihat Lily yang tersenyum dan menyanyi dengan bertepuk tangan.


Manisnya!


Membuat Troy jadi tersenyum sendiri. Pikiran Troy malah jadi travelling.


"Uu, anak manis. Pinternya." Ucapnya Lily.


Setelah berhenti menangis, Ibunya berkata, "Dek, lain kaki jalan pakai mata."


"Iya Buk. Soalnya, saya jalan pakai kaki."


Ibu itu semakin kesal dan tidak lagi menggurui Lily. Beliau berjalan pergi dan Lily masih duduk berjongkok, mengikat tali sepatunya.


Dari kemarin, ada saja yang membuatnya kesal.


Lily jadi tidak fokus, kalau ikat tali sepatunya sudah terlepas.


Lily memakai sepatu sporty warna putih. Pakaian tetap sama, kaos putih dan rok celana jeans. Model celana seperti rok. Roknya celana itu berbahan jeans, dengan panjang di atas lutut.


Itulah, gaya Lily Nee Rilova. Terkadang kaosnya dimasukan ke dalam rok atau hotpants.


Lily masih menunduk, tiba-tiba telapak tangan pria menadah ke wajahnya.


Lily menoleh ke pria itu, berdebar.

__ADS_1


"Matilah aku. Dia malah mendekati aku."


Troy berkata "Ayo berdiri."


Lily tidak mau meraih tangan itu, ia berkata "Maaf, aku tidak mengenal kamu."


"Tapi kita sudah tidur bersama."


Suaranya kencang. Lily jadi menutup mulutnya Troy.


Lily yang berjinjit, ia mendekati telinga kanan Troy "Kalau kamu sudah punya istri. Menjaulah dariku. Tapi, kalau kamu belum punya istri, nanti malam temui aku, di cafe histeria jam 8 malam. Aku butuh bantuan kamu."


Setelah itu, Lily pergi dengan berlari.


Troy berkata "Jam 8. Di Cafe Histeria. Apa maksudnya?"


"Aku belum menikah. Bagaimana aku punya istri?" Batinnya Troy, senang.


Dia senang, karena memang belum menikah. Kalau sudah menikah, dia tidak bisa mendekati gadis malamnya.


Tidak lama, Troy sudah melihat mobilnya yang mendekat.


"Orang dicariin di depan, malah berdiri di pintu samping. Dia ngerti nggak sih, aku ngomong apa?"


Buho aslinya orang Min-ju. Usianya baru 30 tahun. Tapi, menganggap bosnya itu bisa dimanfaatkan. Apalagi, soal uang, yang memang royal. Nggak pernah itung-itungan.


Begitu baiknya, eh asistennya masih mencari keuntungan. Tapi, sangat memperhatikan Troy, dari pertama kali kerja sampai sekarang ini.


Sudah lebih dari 6 tahun bekerja untuk Troy. Sampai harus bolak-balik terbang dari negara sendiri ke negara aslinya Troy.


Sesampainya di store, langganan para gadis belia itu.


Lily malah sampai lebih dulu, ia tadi mengabari kedua sahabatnya.


Lexi berkata "Yeee, kita nyariin kamu keliling mal, ternyata nyampe sini duluan."


"Sorry, sorry. Tadi, aku buru-buru ke toilet."


Kecilnya mereka, nongki di taman ceria. Sekarang di toko barang-barang mewah, yang berharga mahal.


"Oke. Kalian bebas belanja sepuasnya. Aku yang akan bayar tagihan kalian."


"Itu, memang harus. Aku ingin tas baru." Ucapnya Lexi.


Lexi langsung cuz ke tempat tas mewah dan Violla jadi duduk di sebelah Lily.


"Lily, aku masih cemas soal Vano. Apa kamu beneran mau datang kesana? Tadi, Ethan juga marah banget. Aku takut, dia akan balas dendam sama kamu."


"Violla. Aku baik-baik saja. Kamu nggak perlu cemas begitu."


Violla jadi memeluk Lily, ia berkata "Nanti malam, aku akan temani kamu."


"Kamu tenang saja. Lagian, ketemuannya di cafe Kak Lucas."


"Iya. Nanti aku duduk jauh dari kamu. Biar Vano dan yang lainnya nggak curiga."


"Oke. Kamu sama Lexi, bisa menemani aku." Balasnya Lily tengil.


Violla merasa lega, ia jadi berbelanja dan ingin membeli sepatu.


Lily malah membatin "Apa pria itu akan datang membantu aku?"


Lily, saat di mini market tadi tidak fokus. Padahal, Violla mengatakan nama pria itu. Lalu, saat Lexi kenalan. Violla belum menceritakan kepada Lily.


Lily, tidak tahu kalau pria itu bernama Troy dan icarannya Nona Katte.


Lily jadi malas berbelanja, ia merasa dirinya bodoh. "Kalau dia ngakunya single atau duda gimana? Hish, aku harusnya nggak mengatakan begitu. Bakalan kesenengan dia. Kalau dia punya istri, bisa kacau."


Lily jadi heboh sendiri. Kedua kakinya menghentak bergantian dengan cepat. Kakinya, seperti berlari di tempat. Pikiran Lily jadi terasa aneh.


"Aaaa..." Meremas bantal sofa dan langsung menjatuhkan kepalanya ke kanan. Memeluk bantal sofa dan tidur menyamping di sofa.


Kakinya masih menginjak lantai, ia jadi mendesis "Aku sudah terserang virus dilema."


Outlet mewah dengan brand terkenal. Menjadi tempat bersantai Lily. Sudah terlanjur PW. Apalagi, Lily juga sudah mengenal para pelayan toko ini. Pria dan wanita yang mengenakan pakaian formal. Bahkan, saat memegang tas yang diinginkan oleh Lexi, para pelayan itu harus mengenakan sarung tangan warna hitam.


Mal ini sangat terkenal, akan toko-toko yang menjual barang branded, bahkan ada tas dan sepatu yang dijual dengan harga ratusan juta.


Seperti sekarang ini, harga barangnya sekian dollar. Lily harus merogoh uang jajannya, hanya demi tas cantik yang diinginkan oleh Lexi.


Meskipun, Lexi cucu dari Presdir Bram. Lexi bukan sosok tuan putri yang termanjakan. Makanya itu, ia selalu mengincar pria tampan dari kalangan A. Karena dia sadar, kedua orang tuanya bukan kalangan A, seperti Papanya Lily.

__ADS_1


Sedangkan Violla, cucu dari Sheen dan cucu keluarga Nuca. Bahkan, ada darah keturunan dari Hanz, namun bukan tuan putri.


Meskipun, kedua orang tuanya bisa juga memanjakan anak perempuannya.


Namun, Violla punya banyak sepupu dari Sheen dan Hanz. Ia sangat minus dibanding tuan putri Katte, Jeamy dan Yukenzi. Violla kalah pamor, kalah fisik luarnya dan kalah akademiknya.


"Kalian menghabiskan saldoku."


Lexi bertanya "Beneran habis? Bukannya kamu habis dikasih uang jajan sama Oppah?


Lexi juga diberi uang jajan sama Oppa Benny. Malahan, nominalnya lebih besar untuknya, dari pada uang jajannya Lily. Karena, Oppah Benny tahu kebutuhan dandan Lexi lebih banyak dari Lily. Bahkan, orang tuanya Lily, juga selalu memanjakan putrinya. Bukannya Oppah Benny membedakan cucu-cucunya, tapi Oppah Benny mengerti keadaan kedua orang tua Lexi. Mereka sudah bekerja keras di perusahaan miliknya. Mamanya Lexi, jadi CEO di departemen store Style Fashion dan Papanya Lexi bekerja di pimpinan pabrik Style Fashion.


Sedangkan Lily, nggak perlu di kasih uang jajan Oppah Benny juga punya duit sendiri, dari hasil sewa apertemen.


"Ini, kalian lihat sendiri. Uangku sudah habis-bis."


Lexi membalasnya manja, sambil mengelus rambutnya. "Uuu, sayang. Terima kasih banyak."


"Aku sayang Lily." Ucapnya Violla juga gemas manja.


"Padahal begitu doang bentukan tasnya. Sampai menguras uang jajanku. Semoga saja, nanti suami kalian berdua bos pemilik emmol" Ucapan Lily, sampai menekan kata mal menjadi emmol.


Biasanya mereka tahu diri, membeli barang dibawah 50jeti, namun kali ini lebih dari itu. Bukan cuma satu barang yang mereka ambil, tapi beberapa barang import merk terkenal.


Selesai berlanja dan Lily hanya beli topi buket yang harga sekitar 7 jutaan.


Tiing, Tiing, Tiing


Ada 3 pesan masuk. Pemberitahuan dari bank. Saldonya sudah habis. Uang masuk dari xxx dan pesan dari Nyonya Apartemen.


"Lily, itu uang sewa sebulan ya."


"Hah?!" Spontan, dengan gaya sok kaget.


Ada nominal 300 juta kiriman Nyonya Metta dan ia jadi tersenyum tengil. "Guys. Ayo, kita makan enak."


"Bukannya, uangmu habis?"


"Ada yang sewa Lily Penthouse. Ayo, kita makan di restoran."


"Ayee ayee." Ucapnya Lexi kemayu.


Violla berkata "Uuu, baik banget sih calon adik iparku."


"Lily, gitu loh! Yuk, cap cuz guys!" Lily gemas, kedua sahabat gesreknya segera merangkul tangan Lily.


Tiga belia yang suka jajan, untungnya sudah malam. Nggak sampai makan di restoran yang ada di luar negeri. Biasanya, pagi-pagi berangkat ke negera tertentu dan malamnya pulang. Kayak waktu ingin makan nasi padang, mereka terbang ke Indonesia. 😂 --canda Lily.


Yuk balik ke cerita.


Malam yang menawan sudah kembali. Lily dan Violla pulang ke asrama.


Sedangkan Lexi, tadi nggak sengaja ketemu Papanya dan dia pulang ke rumah.


"Lily, bukannya kamu janjian sama Vano??"


"Aaa.. Benar. Sudah jam 8. Mereka pasti bilang aku cemen."


Lily pulang shopping asyik makan di restoran mewah. Saking senangnya, Lily jadi lupa kalau ada janji sama Vano.


Violla sudah memegang perut, karena mules. "Duh, Lily. Perutku sakit. Kamu nggak usah berangkat ya."


"Violla. Kamu tenang saja."


Lily jadi berangkat sendirian, kebetulan tempatnya tidak begitu jauh dari asrama ini. Lily segera berlari dan mencari taxi.


Tidak lama, ia-pun sudah duduk di dalam taxi.


"Pak, ke Cafe histeria."


"Baik Nona."


Semenjak kuliah, Lily tidak mau dikawal bodyguard dan ia memilih tinggal di asrama bersama kedua sahabatnya itu.


Karena jalanan masih ramai, taxi-pun bergerak lebih santai.


Sudah jam 8 lebih 15 menit. Lily, melihat kalau jalanan ini sudah dekat dengan cafe histeria. Ia-pun segera turun dari taxi dan berlari sampai ke cafe.


Ternyata, memang benar. Cowok-cowok itu sudah menanti Lily.


"Hish, siaal. Mereka beneran mau balas dendam sama aku." Batin Lily.

__ADS_1


Lily melihat beberapa cowok sudah menunggunya. Lalu, ada pria tampan berpakaian formal tampak menawan.


__ADS_2