Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Roti Sobek


__ADS_3

Aku Lovie, aku memang bodoh. Aku tidak berfikir panjang, tentang masa depanku. Aku hanya terbawa ego, akan sikap Papiku, Nenekku dan juga Ibu tiriku.


Mungkin, orang lain akan mengatakan aku bodoh. Bisa-bisanya aku melepas kesucianku, di tangan pria yang aku pesan dari aplikasi terlarang.


Aku masih belia, aku juga belum tahu tentang hal dewasa. Namun saat ini, aku bisa melihat sorot mata yang menawan. Pria tampan ini, menggiring aku untuk berciuman.


Entah, kenapa bisa begitu. Padahal, setengah jam yang lalu, pria tampan ini telah menolak aku dengan sikap kasarnya.


Pria tampan ini memang aneh, sangat aneh sekali. Meskipun sempat menolak aku, ia malah membuat aku terbuai dalam dekapan manja.


"Bibir gadis ini lembut banget. Aku ingin menggigitnya." Batin Richard, yang terbawa suasana.


Lovie, setelah mendapatkan ciuman panasnya, ia malah menginginkan lagi. Lovie membalas ciuman Richard dan semakin membuatnya bergairah.


Saling bertaut dengan liddah bergerak lincah sampai membelit dengan manjanya.


Tangan kanan Lovie, bergerak masuk ke dalam kemeja putih, yang dikenakan Richard saat ini.


Setelah keduanya melepas ciuman hangat itu. Lovie menatapnya dan tangan kanannya masih meraba dada bidang nan kekar, bak roti sobek ala Oppa Korea.


Hot Hot


Maksudnya hot, menggoda mata kaum hawa yang menyukai dada kekar menawan.


"Daddy Richi, aku ingin melihat dadamu." Lovie yang sudah penasaran. Matanya berulah, berkedip nakal.


"Daddy? Kamu panggil aku, Daddy?"


Lovie dengan bibir membulat dan kedua pipi tampak melembung, bak bakpao hangat dan Richard ingin segera menyantapnya.


"Iya, kata temanku. Aku harus mencari sugar Daddy. Tapi, aku tidak suka."


"Terus, kenapa memilihku?"


"Aku ingin yang tampan."


"Memang kekanakan." Desisnya.


"Aku harus memanggilmu apa? Cogan? Boy? Handsome? Darling? Atau Kakak? Soalnya, sewaktu aku punya pacar, memanggilnya Honey." Ucapan Lovie begitu polos dan ekspresi itu juga tampak diragukan oleh Richard.


"Muka saja yang sok polos. Tapi, sudah berani naik ke atas ranjangku. Gadis kecil ini memang lebih licik dari cewek mainanku." Batinnya panas.


Richard bertanya, "Kamu tadi panggil aku, Richi??"


Richard tampak penasaran. Hanya Mommy yang memanggilnya dengan nama Richi, itupun dulu sewaktu masih anak-anak. Setelah dewasa, Richard tidak suka dipanggil dengan nama Richi.


"Di aplikasi, nama kamu Richi. Profile, Tuan Muda. Anak tunggal. Kaya raya. Tapi, aku hanya ingin hamil. Aku tidak peduli bila kamu menipu aku. Lagian, setelah malam ini. Aku tidak mau kita bertemu lagi." Jawabnya Lovie polos.


"Mommy, apa Mommy yang menjual aku?" Batinnya seketika sesak.


Beberapa hari yang lalu. Sang Mommy berkata padanya, kalau putra semata wayangnya itu tidak segera menikah. Makanya, dia harus dibuang dari kartu keluarga dan Mommy akan segera mengadopsi anak, dari panti asuhan.


Hiiks


Richard jadi galau dan sesaat terdiam. Lovie bisa melihat dari sisi lain, pria tampan ini juga terlihat biasa saja.


"Masak iya, dia Tuan Muda. Kalau dia Tuan Muda. Pastinya, akan selalu terjaga. Kenapa malah menjual diri padaku?" Batin Lovie.


Lovie dengan wajah polos, ia bertanya "Kak Richi, apa Bapak gerrmo kamu itu orangnya jahat?"


"Bapak gerrmo? Apa maksud kamu?"

__ADS_1


"Emh, semacam orang yang menampung dan menjualnya. Aku membayar kamu, ke rekening Pak Richard. Apa, beliau itu Bapak Gerrmo kamu?"


"Pak Richard? Gerrmo??" Richard semakin pusing tujuh keliling.


Tok Tok Tok


Tadi sudah di abaikan, belum ada setengah jam kembali mengetuk pintu.


"Itu, pasti Jihan. Aku yakin, dia Jihan."


Jihan sang mantan, tapi tidak mau diputusin oleh Richard.


Itulah alasannya, mengapa Richard tidak kunjung menikah dan suka bermain mesra dengan para gadis sexy.


Richard terlanjur patah hati, saat Jihan berani selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Itu terjadi, sekitar 5 tahun yang lalu. Richard yang baru pulang dari luar negeri, melihat kekasihnya memadu kasih dengan sahabatnya sendiri.


"Gadis kecil, sana buka pintunya."


"Aku?"


"Iya kamu, gadis kecilku. Aku mau ke kamar mandi."


"Siapa yang berani mengganggu kita?"


"Pasti dia perempuan, yang minta kembalian. Aku lupa memberikan kembalian."


"Aku bawa uang cash. Berapa jumlahnya?"


"5 juta. Segitu, kalau tidak salah ingat." Jawab Richard.


"Baik." Lovie berjalan ke arah tas kertas yang berisi belanjaan. Ia juga menaruh uang kertasnya ke dalam paper bag.


Richard berjalan melewati Lovie, ia terheran. Bisa-bisanya, gadis belia ini membawa duit banyak dan hanya menaruhnya di tas belajaan.


"Kak Richi, diamlah. Kalau Kakak berisik. Nanti ada yang tahu."


"Aku tahu, apa kamu tidak takut kalau aku bisa saja merampok duitmu itu?"


"Aku tidak takut sama kamu." Jawabnya dan ia berjalan pergi.


Richard secepatnya pergi ke kamar mandi.


Setelahnya itu, merogoh ponsel dari dalam saku jasnya. Jas yang tersampir di lengan kanannya. Tampak mewah dan pastinya berharga mahal.


"Busyet. Dia transfer aku 100 juta. Aneh banget. Biasanya, aku yang ngasih gadis kencanku. Tapi, kenapa malam ini aku yang dibayar sama anak bau kencur."


"Namanya, Rasya. Rasya Hermawan. Emh, apa ini nama bapaknya??" Setelah, Richard mencari tahu, pemindahan dana yang cukup besar. Uang segitu, cukup buat jajan di malam minggu.


"Lumayan, aku tidak harus keluar duit. Besok malam minggu, bisa ajak yang lainnya, berpesta."


Richard merasa senang, tapi yang di depan pintu sudah ribut.


"Richard! Richard!" Teriakan itu, dan menerobos masuk ke dalam kamar.


Lovie memandangi sosok berparas ideal. Tinggi badan semampai, langsing, wajah cantik, rambut pajang dengan sedikit curly dibagian bawah. Kulitnya juga putih, dengan make-up natural dan terlihat penampilan glamour berkelas.


Lovie hanya bersandar pintu, dan ia seolah-olah sudah menjadi gadis nakal. Tampak memakai lingerie hitam dan masih tertutup. Tapi, dia ingin memperlihatkan dadanya, sedikit membuka bagian atas, agar menonjol.


"Cantik dan sexy. Kenapa dia mencari Bapak Gerrmo??" Batin Lovie.


Wanita yang berusia 28 tahun itu, sudah tampak memegang gagang pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Siapa di dalam??"


Lovie tidak mau kalah, dia berjalan dengan gaya nakal. Tatapan dan bibirnya terlihat sensual.


"Hello Nona. Jangan ganggu kekasihku."


"Kekasih?!" Dia terlihat marah, tapi dia sangat penasaran.


"Bukan pintunya. Aku mau melihatnya."


"My Richi lagi pup. Kamu mau melihatnya??"


"Hah?? Pup? Jorok banget?!"


Batinnya, "Dia tidak mungkin Richard. Richard mana pernah bercumbu, apalagi sampai pup bersama gadis kecil. Gadis kecil ini, bukan selera Richard."


"Owh, oke. Aku tidak akan mengganggu kamu."


"Silakan, Nona keluar." Lovie dengan gaya menawan, tangan kirinya sudah mempersilakan wanita itu pergi melalui pintu kamar.


"Tapi, ini kamar Richard. Apa mungkin, Richard pindah kamar? Agar aku tidak bisa melabrak mainannya."


Wanita itu sudah tampak bergemuruh, kedua tangan dengan jari jemari yang saling meremas kesal.


"Nona, silakan pergi."


"Oke. Aku akan pergi."


Richard, yang di dalam kamar mandi sudah tampak tersenyum. Entah kenapa, dia malah tersenyum, saat Lovie bisa mengerjai mantan kekasihnya.


Itulah kenapa, Richard tidak sampai ke ranjang panas. Baru pemanasan, Jihan selalu datang dan membuat keributan. Pernah juga, tidak tahu malu, sampai cakar-cakaran, di depan para tamu hotel ini.


Lovie yang turut berjalan di belakang Jihan. Dia sudah menirukan langkah kaki Jihan, bak model yang berjalan di atas catwalk.


Jihan Mutiara Sasmi, ia seorang model terkenal dan dari keluarga berada. Papanya seorang Presdir dan sangat mengenal dekat keluarga Richard.


Karena itu pula, Richard tidak bisa terlepas dari Jihan, meski dirinya sudah berulang kali mengatakan, kalau hubungannya dengan Jihan, putus.


Jihan yang membalikan badan dan Lovie menutup pintu kamar dengan kasar.


Jebles!


Sopan atau tidak, yang mendahului adalah Jihan. Lovie mengambil lagi uang yang dilemparkan Jihan ke arah wajahnya tadi, sampai terjatuh ke samping pintu kamar hotel 101.


"Sayang sekali. Uang 5 juta bisa buat belanja baju." Gumam Lovie dan ia berjalan kembali ke arah ranjang besar yang menawan.


Sprei putih keabu-abuan, dan desain interior ruangan ini terkesan menawan.


Penuh warna abu-abu dan putih. Baik perabotan dan wallpaper yang tampak menghiasi ruang kamar ini, memang terkesan kamar pria.


"Dia sudah pergi?" Tanya Richard, dan wajahnya tengah berada di bahu kiri Lovie.


Lovie jadi berdebar, saat mendengar suara Richard. Perlahan, Lovie bergerak membalikan badan, agar bisa menatap wajah Richard.


"Kak Richi. Tadi ada perempuan dewasa datang kemari. Dia tidak sopan padaku dan aku tidak suka padanya. Aku sudah mengusir dia." Jawab Lovie tampak polos.


Baru jam 9 malam dan ini baru awalan. Namun, Lovie melihat Richard yang selesai mandi.


Terlihat rambut basah dan ia sudah memakai kimono handuk warna putih. Sedikit celah di bagian dada, Lovie mencoba untuk mengintipnya.


Lovie jadi terpana akan batako Richard. Tangan kiri Richard menarik pinggang Lovie, dengan cepat mendekat.

__ADS_1


Lovie mendongak ke wajah Richard, dan bertanya "Apa aku boleh melihat roti sobekmu?"


"Roti sobekku??!"


__ADS_2