
Sore hari, saat melepas kepergiannya.
Tampak terukir senyuman manis, dari wajah cantiknya.
"Kak Richi..."
"My Lovie."
Daa daa, Richard tersenyum manis.
Saat tangan ingin merengkuh dalam dekapannya. Hanya bisa melambaikan tangannya. Sampai menghilang pergi dari pandangannya.
"Yaaah, Lovie beneran pergi."
Wajah masam dan begitu kekanakan. Sikap konyol saat membalas tatapan sang Daddy.
"Apa Daddy lihat-lihat!"
Decak kesal dari Richard ini, malah membuat sang Daddy gemas.
Richard duduk di kursi roda dan melewati kedua orang tuanya.
Doddit sang asisten pribadi, kembali bertugas setelah Nona cantiknya pergi.
Doddit yang mendorong kursi roda ini, dan ia tersenyum melihat wajah sang Bos tampannya.
Bilangnya rela ditinggal pergi, tapi saat ini sudah cemberut. Mukanya tampak ditekuk dan tidak bersemangat.
"Bos ingin ke kamar?" Tanya Doddit, dan masih mendorong Richard masuk ke rumah mewah ini.
"Iya, aku lebih baik tidur. Bangun. Makan. Minum obat. Tidur lagi. Biar lukaku cepat sembuh." Jawabnya Richard dengan nada kesal.
"Bos yang santai. Yang tenang. Kalau pikirannya enjoy, pasti cepat sembuh. Kalau Bos manyun, masam dan kesal. Malah bikin bad mood, jadinya nggak sembuh-sembuh."
"Emang iya, ngaruh gitu sama luka yang ada di perutku ini?" Richard sepertinya sudah error.
Richard memang lulusan luar negeri, tapi hal sepele, dia tidak paham. Yang penting, bisa kuliah di kampus favorite, lulus dengan baik, namun tidak pandai menyaring kata-kata di setiap perkuliahannya.
"Bos, aku juga punya luka. Malahan di kepala. Bos pasti juga ingat. Bos sendiri yang menyemangati aku. Katanya, Doddit jangan banyak pikiran. Yang rileks, santai, bla bla bla. Giliran cuma ditinggal kekasih pergi, Bos kesal."
"Iya juga ya. Kenapa aku harus kesal. Lovie besok juga akan kemari lagi."
"Nah itu Bos paham. Aku yakin, Nona cantik tidak seperti mantannya Bos."
"Sudah, jangan bawa-bawa mantanku. Kamu sudah dapat info apa soal Jihan sama Rey?"
"Sepertinya, perjodohan."
"Wuih, gercep juga Presdir Julian."
"Tapi sepertinya ada masalah. Soalnya, Presdir Hanz baru mempertimbangkan."
"Iya juga. Apalagi, Mamanya Jihan sekarang di rumah Presdir Hanz. Aah, bodo amat. Yang penting, My Lovie harus aku kangenin."
"Ckckck, Bos baru semenit Bos. Baru jalan. Ngapain dikangenin. Nanti, Nona cantiknya malah nggak nyaman di rumahnya."
"Iya iya. Bawel. Kamu udah mirip Mommy."
Setibanya, di kamar dan masih dalam perawatan medis.
Doddit menyampaikan kedatangannya, meminta beberapa tanda tangan Bosnya.
"Bos, kapan balik ke kantor? Tim kita bingung, milih cover baru untuk produk sabun cuci."
"Pilih tinggal pilih saja bingung."
"Ya bingung Bos. Nanti kita sudah setuju, lalu selesai cetak. Eh, endingnya Bos minta ganti cover lagi. Ya, takutnya buang waktu, buang biaya." Keluhnya Doddit.
Jadi, Bos bobrok ini, bukan hanya kepada perusahaan Rey berlaku aneh. Sering kali, Bos ini membuat para bawahannya gila.
Pernah, produk baru sudah mau launching dan iklan sudah dibuat.
Eh, tiba-tiba ada ide gila yang muncul begitu saja. Akhirnya, 10000 produk yang siap dikenalkan dan siap edar ke pasaran. Malah ditarik kembali dan dirubah covernya.
Rugi? Jelas rugi, dalam perhitungan mata telanjang. Namun, di mata Bos bobrok ini, dia mendapatkan untung. Setelah diganti cover dan ada foto wajah aktor guanteng yang sedang terkenal.
Richard bergerak sendiri menemui aktornya dan menjalin kerja sama dengan agensi aktor tersebut.
Setelahnya, launching produk terbaru itu. Langsung diserbu konsumen. Bahkan wuuzz, ludes dalam sehari.
"Ini coba lihat. Bos pilih yang mana?" Doddit sedang memperlihatkan 4 desain cover, yang sudah dibuat tim desain.
"Nanti, aku suruh My Lovie yang memilihnya."
__ADS_1
"Bos, ini tentang produk kita. Bukan tentang perasaannya Bos."
Richard tersenyum, ia memegang bahu Doddit, lantas berkata "Apapun yang dipilih My Lovie. Aku juga akan setuju. Aku akan menyukai pilihannya."
"Bos baru mengenal dia. Kenapa bisa bucin begini? Apa kemarin dia juga amnesia? Gagar otak? Apa jiwanya tertukar waktu operasi?"
Doddit jadi merinding, saat memperhatikan wajah Bosnya.
Richard kembali menatap ke arah tablet dan jemarinya bergerak di layar tablet itu.
Satu persatu gambar yang ada di layar itu, dilihat dan diamati seksama. Tampak senyuman aneh di wajah tampannya itu, membuat Doddit semakin membatin sosok Bosnya.
"Bos memang aneh. Kalau Bos tertukar jiwanya, lalu jiwa Bos Richard terbang dan masuk ke badan siapa? Apa aku harus mencarinya?" Doddit yang sudah melamun.
Richard membuatnya kaget, "Doorrr!!!"
"Anjj!" Tersentak kaget, hampir mengumpat Bosnya.
"Kenapa malah melamun?" Tanya Richard.
Richar kembali sibuk melihat ke beberapa gambar, yang ada di tablet kerjanya.
"Bos."
Richard sesaat menatap Doddit.
"Tim kita mendo'akan Bos. Mereka titip salam untuk Bos."
"Do'a kalian tulus? Apa nyumpahin aku?"
"Kita semua, tulus do'ain Bos."
"Owh, tumben pada respect sama aku."
"Ya-kan Bos Richard, sakit, kita sebagai pekerjanya Bos cemas. Kita ingin melihat Bos Richard sembuh, biar bisa kembali ke kantor. Soalnya, kerjaan kita menumpuk selama nggak ada Bos."
"Nah, benar filingku. Pasti kalian cuma ingin terbebas dari pekerjaanku."
"Bos, tidak begitu maksudnya. Kita semua, beneran ingin Bos sembuh."
"Oke. Besok aku sudah sembuh. Besok aku ke kantor dan siap memerintah kalian semua."
"Yaahh, jangan begitu juga dong Bos. Nanti, semuanya jadi nggak respect lagi sama Bos Richard."
"Bos Richard, atasan saya dan CEO Rich Corporation."
"Terus, tugas kalian semua apa?"
"Membantu pekerjaan CEO."
"Nah itu tahu. Berarti, aku bebas menyuruh kalian, membantu pekerjaanku."
"Maaf Bos."
Doddit jadi tampak pasrah dan kembali mendorong kursi roda Richard, sampai ke sisi ranjang pasien.
"Kamu bisa balik ke kantor. Aku ada suster sama perawat ahli. Aku juga bisa sendiri."
Richard berdiri dengan tegak dan berjalan santai naik ke ranjang.
Perasaan beberapa waktu yang lalu, Bosnya ini tampak loyo dan tadi diperiksa dokternya juga mengoceh, mengerang kesakitan, karena luka tusukan itu. Kenapa bisa, secepat ini sembuhnya.
"Bos, sudah tidak sakit?"
"Aku tidak sakit. Hanya luka dibagian sini. Aku kuat menahannya."
"Kenapa tadi Bos teriak-teriak?"
"Biar, My Lovie mencium aku."
Doddit tepuk jidat dan ia masih menatap sang Bos yang berubah tingkahnya.
"Aku bahkan sudah tertipu. Wah, gawat. Aku harus bilang ke Metta, kalau besok Bos Richard akan kembali kerja."
Setelah kabar ini masuk ke telinga Metta. Yang tadinya, para staff andalan itu bersiap-siap pulang. Mereka malah jadi lembur dan merapikan ruangan Bos Richard.
Semoga saja, mereka tidak kelelahan'
"Katanya perutnya di operasi? Kok cepet banget. Cuma cuti 3 hari, besok mau balik ke kantor lagi." Milie yang menata berkas penting, yang ada di ruangan Bos Richard.
"Sudah, kalian semua jangan mengeluh. Yang penting gaji kita lebih tinggi dari tim yang lain." Ucap Bu Choi, yang memang benar adanya.
"Tapi, saya takut kalau bikin kopi selalu gagal. Semoga saja, selama perutnya sakit, Bos tidak meminta kopi." Juno merasa gelisah.
__ADS_1
"Kita harus semangat. Fighting!"
"Fighting!"
Yang di kamar perawatan Richard kembali berbaring santai, dan yang di kantor sibuk karena pekerjaan.
Sedangkan yang kembali ke rumah, sudah menggandeng lengan tangan Neneknya.
Jam menunjukan pukul 7 malam, waktu setempat. Saat ini, Lovie sudah tiba di kediaman Papi.
Papi Benny berjalan dibelakang Lovie dan Nenek.
Ibu tiri jadi berdiri dari kursinya dan melihat ke wajah Lovie.
"Kenapa dia bisa pulang? Katanya mau tinggal di rumah kekasihnya yang baru."
Jerry yang tadinya sibuk makan, jadi menoleh ke wajah Lovie. "Kak Lovie ternyata juga pulang."
"Ini rumah Papiku, tentu saja aku pulang." Balasan Lovie sewot.
Jerry sebenarnya, ingin dekat dengan Lovie. Tapi, Jerry juga selalu membela Mamanya, bila Lovie sewot kepada Mamanya.
"Aku senang, melihat kak Lovie kembali ke rumah."
"Ini semua demi Nenek. Biar Nenek mau pulang ke rumah"
Nenek menyahutnya "Lovie, kamu nggak boleh begitu sama Jerry."
"Terus saja belain dia."
"Dia sudah menjadi adikmu."
"Aku tidak mau."
Lovie melepaskan tangan sang Nenek dan berjalan ke arah kamarnya. Seketika, Jenny berjalan ke arahnya.
Degh!
Keduanya saling menatap, Lovie jadi berkacak pinggangnya, ia berkata "Apa lihat-lihat. Sana minggir."
Jenny juga tidak menghalanginya, ruangan itu sangat luas. Namun, Lovie tetap ingin menabrak bahunya Jenny.
"Hiss, dia kembali. Aku jadi malas tinggal di rumah ini."
Papi Benny hanya menghembuskan nafas kasarnya, saat melihat hal ini di depan matanya.
"Nenek, aku antar Nenek ke kamar. Nanti aku siapkan makan malam untuk Nenek." Ucap Jerry.
"Aku tidak apa-apa. Aku bisa duduk disini. Sana, rayu Lovie. Ajak makan bersama."
"Baik Nenek." Balasnya Jerry dan ia beranjak pergi.
Papi Benny melepas jasnya dan melepaskan kancing kerah tangannya.
Mama Jenny sudah memegang jas itu dan berkata "Harusnya Papi bilang, kalau Lovie sudah mau pulang. Mama bisa masak makanan kesukaannya."
"Aku tidak mengajaknya pulang. Aku datang kesana, cuma ingin mengejuk Richard, terus Lovie bilang mau ikut aku pulang ke rumah."
Papi Benny tersenyum, Jenny yang duduk di kursi meja makan tampak cemberut, mengingat akan sikap Damian yang berniat mendekati Lovie.
Nenek sudah duduk di kursinya dan tampak menunggu Lovie.
Jerry yang mengetuk pintu kamar Lovie, secepatnya Lovie keluar dari kamarnya.
"Kak Lovie, ditunggu Nenek di meja makan."
"Hem, aku malas makan."
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin istirahat. Bilang saja sama yang lain. Makan saja tanpa aku."
"Tapi Nenek bilang."
Jedder!
Belum sampai selesai Jerry berkata, pintu kamarnya Lovie sudah ditutup kembali.
"Apa dia marah sama aku?"
Jerry sosok perasa, dia juga peka. Tetapi, dia anak Mama. Semua perkataan Mamanya dianggap benar dan dia anak laki-laki, yang ingin melindungi Mamanya.
Dan saat ini pula, ada tamu yang datang ke rumah ini.
__ADS_1