
"Om Bule. Kak Latte dan Vanilla. Mereka memang orang tua kandung bayi ini. Tapi, mereka belum menikah resmi. Sepertinya, bayi ini bisa membuat kita menikah."
"Maksud kamu??"
"Pasti, bayi ini harus masuk ke dalam kartu keluarga. Butuh ayah dan juga Ibu. Ya, setidaknya kita akan jadi keluarga. Meskipun, bayi ini hanya keponakan aku. Tapi, dia bisa jadi anak angkat kita. Dengan begitu, kita bisa menikah dan Mama Papa pasti setuju."
Troy membatin "Benar juga. Aku harus cari cara. Agar Madam Lovie mau merestui pernikahan ini."
Troy berkata "Bee. Tapi merawat bayi itu tidak mudah. Kamu masih kuliah dan aku juga harus kerja."
"Daddy..."
Suara gemas memanggilnya Daddy, bikin Troy semakin bergairah mesra.
Aaaah'
Lily bermanja "Ayolah Daddy. Mau ya?!"
"Hemm.."
Lily mengelus-elus dadanya Troy. Tangan itu, malah meraba lembut.
"Daddy." Lily memang pandai menggoda.
Troy menjawab "Oke. Bee. Aku setuju. Lalu, kapan kita bisa menikah??"
"Besok bisa. Yang penting, Om Bule surat-suratnya sudah beres."
"Aku tinggal minta Buho."
"Lalu, orang tua Om Bule?"
"Besok pagi. Mereka tiba disini."
"Besok pagi??!" Lily jadi melotot.
"Iya. Semalam, aku sudah memberikan kabar baik untuk mereka. Ibuku, sangat bahagia mendengarnya."
"Benarkah?"
"Iya."
Lily meringis, antara senang dan tidak. Meskipun, senang akan menikah. Tapi, Lily bukan tipikal orang yang bisa kalem dan lemah lembut. Apalagi, kalau harus bertemu calon mertua dan saudara Troy. Apa bisa, dia berubah kalem. Meski, itu hanya pura-pura.
Owee'
Owee'
Si bayi tampan sudah memanggil. Lily "Hallo sayang, kamu mau apa? Susu? Iya?"
Lily membaca panduannya dan Troy, melirik ke bayi mungil itu.
Owee'
Oweee'
Semakin nyaring suara tangisnya. Tapi, Lily malah asyik baca panduan tulisan Latte, tentang merawat bayi ini.
Troy, jadi tidak tega. Ia menghampiri bayi mungil itu dan melihatnya lebih dekat.
"Hallo Milo."
Oaaa
"Apa kamu sudah haus? Mommy baru siapin susu."
Oweee'
Oweee'
Setelah kesekian menit, Lily bergerak membuat susu. Agak bingung juga bikinnya. Sudah kayak main bayi-bayinan.
Meski terlihat kacau saat membuat susu bayi, Lily bisa mengerjakannya.
"Milo sayang. Ini susunya sayang."
Oweee
"Bee, dia tidak haus. Dia butuh Ibunya."
"Tapi, aku."
Keduanya saling menatap, Lily jadi bergumam "Iya. Aku tahu caranya."
Lily dengan rasa gelisah dan takut. Tapi, dia berusaha untuk mengangkat bayi mungil ini.
"Pelan-pelan." Troy yang melihatnya, ngeri.
"Ini juga pelan-pelan." Balasnya Lily dan dia juga asal saja menggendongnya.
Troy mengambil ponsel dan mencari tahu tentang tata cara merawat bayi yang benar.
"Bee, kamu salah gendongnya. Ini bayinya masih kecil. Begini caranya."
"Owh, iya, iya. Aku tahu."
Lily meletakan bayinya di sofa dan ia mulai mencium aroma "Om Bule, kok pantatnya bau asem ya."
"Pantat?"
"Ini, celananya bau asem gitu."
"Coba aku lihat."
Troy mendekat dan mengintip di dalam sana. Mencium bau tak sedap. Namun, ia tahan. Tidak ingin menyakiti perasaan bayi yang tak berdosa ini.
"Milo buang air besar."
"Owh, Milo pup. Pantas saja rewel."
Lily berjalan ke stroller, di bawah stroller itu ada satu tas perlengkapan alat bayi.
__ADS_1
"Ini popoknya."
Lily mendekat dan membawakan perlengkapan baby Milo.
"Milo sayang. Ayo bersihin dulu pantatnya. Biar nyaman."
"Bee. Apa kamu bisa?"
"Bisa dong." Jawabnya dengan percaya diri.
Setelah membuka kain selimut dan celana bayi. Pelan-pelan sekali, kedua tangan Lily bergerak membuka popok perekat dan terlihat mungil.
Lily menyengir gemas "Kamu cowok. Kayak Om Bule."
Lily malah cekikikan sendiri, Troy jadi menatap Lily, "Bee. Aku tidak suka, kamu menertawakan aku."
"Aku tidak menertawakan Om Bule." Balasnya tengil.
Lily sudah mengganti popok bayi mungil itu dan ternyata masih menangis.
"Gimana caranya, biar dia nggak nangis."
Lily juga bingung. Ia mengangkat bayi itu dan mendekapnya. Kepala bayi, ada di kanan. Sudah seperti robot yang menggendong bayi. Ya, begitulah caranya. Lily merawat bayinya.
"Bee. Bukan begitu gendongnya."
"Terus gimana gendongnya??"
Ini bayi orang, buat mainan. Tapi, salah sendiri dititipin ke Lily.
Lily mengurus dirinya sendiri saja belum bisa. Malah disuruh merawat bayi.
"Sini, aku gendong Milo." Ucap Troy.
Untuk pertama kalinya, Troy menggendong bayi.
"Anteng." Celetuknya Lily dan ia jadi tersenyum. Lily menggoda Troy "Nah, ini pas banget. Cocok jadi Daddy. Keren! Makin cakep."
Troy berkata "Dia masih bayi. Kasian kalau rewel terus."
"Eemh. Aku heran. Kenapa Vanilla dan Kak Latte bisa tega ninggalin Milo??"
Lily berkata pelan "Daddy tampan."
Auu, Lily bisa saja buat Troy berdebar.
"Aa, Om Bule kalau aku goda gitu. Dia pasti mau merawat Milo." Batinnya Lily yang punya rencana sendiri.
Troy jadi duduk di sofa, karena lelah berjalan kesana-kemari. Tapi, tetap menimang bayi itu.
Lily jadi merangkul lengan Troy dan bersandar bahunya "Aku ngantuk."
"Tidurlah."
"Sudah sore. Nanggung, kalau aku tidur jam segini."
"Nanti, kita mau makan malam dimana? Bukannya, kita ada janji."
Lily malah tertidur nyaman. Bahu Troy terasa enak buat sandaran dan ia tampak tenang.
Bayi tampan nan mungil itu, juga tampak anteng dalam dekapan Troy.
Setelah, 20 menit kemudian.
Oweeee
Oweee
"Hah?! Ada suara bayi??" Lily yang terbangun dari tidur tersentak kaget.
Troy yang berada di sebelahnya. "Bee. Ini bayi beneran."
Lily mengucek mata kantuknya dan ia jadi teringat akan pesan Latte padanya.
"Milo sayang. Kamu kenapa?"
"Sepertinya. Buang air besar."
"Kok sudah pup lagi?"
"Tadi sudah minum susu. Bayi baru lahir sepertinya memang begitu. Rewel, buang air, minta ganti popok, minta susu dan minta digendong tangan begini."
"Om Bule, tahu dari mana?"
"Di website ada. Di sosmed juga ada grup panduan dari Ibu-ibu yang sudah berpengalaman. Tapi, setelah aku baca tadi. Bayi ini memang membutuhkan Ibunya."
"Terus, aku harus cari kemana Ibunya. Pasti, Kak Latte juga nggak tahu keberadaan Vanilla."
"Kita bisa konsultasi ke dokter khusus bayi."
"Benar. Kita harus ke rumah sakit. Aku punya saudara yang bisa jelasin sama kita."
"Tapi, kita berdua."
"Daddy."
"Baik."
Baru dua hari kenal Lily. Troy jadi penurut begitu sama gadis belia ini.
Lily merapikan perlengkapan Baby Milo dan meletakan di rak stoller hitam itu.
Lily juga sudah mengganti diapers dan pakaian bayi itu. Kemudian, mereka berdua pergi ke rumah sakit.
Sudah jam 17.15, waktu kota Shindong.
Taxi putih melaju santai menuju ke rumah sakit. Lily dan Troy berusaha menjadi pengasuh bayi.
"Bee. Kita harus memakai jasa babysister."
"Daddy tenang saja. Mommy yang akan cari sister hebat buat Baby Milo."
__ADS_1
Baby Milo tampak anteng dalam dekapan Daddy.
Troy jadi menatap wajah imut yang terlihat begitu damai. Kehidupan baru bagi seorang Troy, sudah tampak ada di depan mata.
"Kalau, nanti aku punya anak. Apa akan sama seperti ini?" Batinnya yang bertanya sendiri.
Lily, masih terus merangkul lengan Troy.
"Daddy, tenang saja. Besok, aku akan ajak Baby Milo ke kampus. Malam ini juga, aku akan mencarikan Babysister yang handal."
Troy cukup senang mendengar ucapan Lily. Meskipun Lily asal gendong dan bikin susu bayinya tidak pandai. Tapi, dia tetap berusaha menjadi Mommy yang baik untuk baby Milo.
"Emh, hidung kamu nggemesin kayak Vanilla." Gumamnya Lily.
Troy malah jadi bertanya "Bee. Kalau kita punya anak gimana?"
"Iya. Kita akan punya anak. Aku, ingin anak perempuan. Pasti nggemesin kayak aku." Ucapnya yang tampak bangga pada dirinya sendiri.
"Siapa tahu, anak kita kembar. Kamu saja kembar." Ucapnya Troy.
"Emh, entahlah. Yang jelas, aku suka bayangin kalau aku punya anak perempuan. Aku akan dandanin dia sama kayak aku. Dulu, Mama juga begitu. Aku di dandanin mirip Mama. Tapi, setelah aku besar. Aku nggak suka. Aku suka bermain di luar rumah. Aku merasa, tidak leluasa kalau aku pakai dress, gaun, gitu-gitu. Aku sukanya ya begini saja. Lebih nyaman dipakai. Aku sampai sekarang, nggak bisa pakai high heels. Makanya, aku paling nggak suka ke pesta."
"Tapi, kamu akan jadi Nyonya Troy. Apa kamu, nggak mau mendampingi aku setiap ada pesta?"
"Oh, soal itu. Gampanglah. Nanti aku akan menyesuaikan diri. Aku juga nggak ingin malu-maluin kamu."
Mereka berdua saling menatap, Lily jadi gemas. Lagi-lagi mendusel-dusel lengan Troy, sampai mirip kucing imut beneran.
Setelah 35 menit perjalanan ke pusat kota Shindong. Mereka berdua tiba di rumah sakit swasta.
Rumah sakit Ibu dan Anak.
"Tante Wen."
Dr. anak yang terlihat tomboy dan sangat kharisma. Gayanya memang tomboy. Tapi, beliau ini sosok yang perhatian dan sabar. Apalagi kepada anak-anak.
Beliau putrinya Dr. Syilla dengan Oppah Rasya.
Lily memanggilnya Oppah Rasya. Karena, Oppah Rasya memang Omnya Mama Lovie.
Dr. Wen sebutnya dan beliau menikah dengan Omnya Lily yang bernama Jerry.
Jadinya, Oppah Rasya berbesanan dengan Ommah Jessika. Keluarga besar Oppah Benny, jadi bersatu kembali, karena pernikahan Jerry dan dr. Wen.
"Hei bocil. Apa kabarmu sayang?!" Tante yang satu malah asyik menggoda Lily.
"Iih, Tante. Bocil-bocil begini aku sudah mau menikah."
Week
Lagi-lagi, Lily menampakan sikapnya, yang terlihat kekanakan.
"Ini, Mr. Troy. Calon suami aku." Ucapnya Lily.
Troy mendorong stroller dan Lily merangkul lengannya.
Dr. Wen, bisa melihat kekompakan mereka berdua.
"Emh, iya sih. Tapi aku masih ragu." Balasnya dan tampak bersedekap.
"Apanya yang diragukan? Ini, aku juga punya anak."
Dr. Wen jadi menunduk dan melihat bayi mungil yang terbalut selimut lembut.
"Ini bayi siapa? Ganteng banget."
Dr. Wen jadi duduk berjongkok dan menatap ke wajah bayi tampan itu.
"Aku kemari, karena bayi ini. Aku mau konsultasi sama Tante."
Dr. Wen berdiri dan meraih handsanitizer di dinding. Kemudian, kedua tangan itu, tengah mengangkat Baby Milo.
"Ganteng sekali kamu. Uu, manik matanya kebiruan."
Dr. Wen melihat ke mata Troy, tapi berbeda, tidak sama seperti matanya Troy.
Troy matanya hitam ke abu-abuan. Silvernya beda dan bayi ganteng itu, tampak silver kebiruan.
"Jangan lihat ke calon suami aku. Ayo masuk dulu ke ruangan Tante. Nanti, aku jelasin sama Tante Wen.
"Owh, iya. Sampai lupa nawarin duduk."
Akhirnya mereka masuk ke ruang kerja. Tidak ke ruang praktek dokter.
"Mari-mari, silakan duduk."
"Milo anteng sama Tante." Ucapnya Lily dan ia memilih duduk di sebelah sang Tante.
Troy duduk di sofa seberang meja sofa dan meletakan stroller di kirinya.
Troy tampak menatap dokter ini. Terlihat, usianya baru 28 tahun.
"Dokter. Saya Troy, saya calon suami Lily." Ucapnya saat berkenalan.
Keduanya, jadi salaman.
"Panggil saya Tante Wen. Lily selalu memanggil saya Tante. Saya adik sepupunya Kak Lovie, Mamanya Lily."
"Iya. Saya juga mengenal beliau. Kebetulan, saya rekan kerja Presdir Richard."
"Owh, begitu rupanya."
Lily yang memangku Milo, ia menyela "Eitz, tapi aku kenal Om Bule bukan dari Papa. Aku kenalan sendiri."
"Tapi, aku nggak tanya kamu."
"Aku kasih tahu Tante Wen. Biar Tante nggak mengira aku ini dijodohin sama Papa."
"Hems." Tantenya melengos.
"Terus, ini bayi siapa?"
__ADS_1
Ada tamu datang.