
Malam tanpa bintang dan berjalan di bawah rintikan air hujan.
Hanya untuk memantaskan diri, tangisan ini tiada berarti.
Rasa hampa dan kecewa.
Dunia ini, kejam baginya.
"Talita." Rey yang memanggil dan tampak berpayung hitam.
"Apa lagi? Apa lagi yang kamu inginkan dariku? Ambil saja hidupku ini."
Tangisnya sesenggukan, Rey memeluknya.
Rapuh, dan terduduk di atas genangan air.
Hujan lebat mengguyur kota Shindong.
Talita yang tersakiti, dalam dadanya berdesir hebat. Rasanya, ingin pergi dan tidak mau lagi bertemu dengannya.
"Talita. Ayo, naik ke mobil."
"Aku tidak mau. Aku mau pergi sendiri."
"Talita."
Mereka berdua, saling menatap lekat. Wajah basah itu, dan air matanya masih mengalir deras.
"Kamu kenapa?" Tanya Rey.
"Bos, biarkan aku pergi sendiri."
"Tidak, ini sudah tengah malam."
"Aku ingin sendiri."
Talita berjalan pergi, tanpa menoleh ke arah Rey.
"Ada apa dengan Talita? Apa yang sudah terjadi padanya?"
Talita yang berpegang pagar jembatan. Dia terus berjalan di jalan utama, pusat kota Shindong.
"Aku tidak punya Ibu. Aku tidak punya Ibu. Aku, tidak punya ibu."
Tertatih dalam kegelapan. Hujan yang mengguyur kota ini semakin lebat. Pakaian, tas selempang dan sepatu sporty warna putih sudah basah.
Saat ini, sudah tengah malam.
Blegh!
"Talita!"
Talita terduduk, dan bersandar tembok jembatan. Ada Sungai Yua, di bawah jembatan ini.
Rey, berlari menghampiri Talita.
"Talita."
Talita menatapnya, dengan deraian air mata.
"Ayo pulang."
"Aku tidak mau tinggal bersamamu."
"Aku akan mengantar kamu pulang ke rumahmu."
"Aku bisa pulang sendiri."
"Ini sudah larut, disini sepi. Apa kamu tidak takut kalau ada orang jahat yang menyakiti kamu."
"Siapa yang lebih jahat dari seorang Ibu, yang meninggalkan anak kandungnya dan membesarkan anak orang lain??"
Degh!
Rey, mulai memahami perkataan Talita.
"Ayo, aku akan mengantar kamu pulang. Aku sudah berjanji sama Richard, kalau aku akan menjemput kamu."
"Richard?!"
Rey terdiam, tadi ia mengatakan kalau memang sengaja menjemput Talita ke rumah sakit. Ini hanya permintaan Lovie, yang tadi menghubungi Rey.
Flashback yuk,
Kembali pada sore hari.
Saat, Talita masih bersama Lovie, di rumah Nyonya Nancy.
Talita tampak riang gembira dan mencoba beberapa pakaian yang disiapkan untuk Lovie.
__ADS_1
Tampak berdiri di depan standing mirror, dan memadukan pakaian itu.
"Orang kaya memang beda."
"Pakai ini saja. Sana, buruan mandi. Aku empet lihat kamu pakai seragam sekolah."
"Ye, tadi pagi aku memang mau ke sekolah. Tapi, aku lagi males."
"Sudah, sana mandi."
Talita memegang satu setel pakaian. Kaos putih lengan pendek dan rok span levis biru muda 7/8, dengan sedikit belahan tengah.
Setelah selesai mandi sore, Nyonya Nancy datang dan memandangi Talita.
"Nyonya Nancy."
"Kamu cocok juga pakai itu."
"Maaf Nyonya Nancy, saya tidak bermaksud mengambil pakaian Lovie."
"Tidak masalah. Ayo, kita ke rumah sana."
Lovie merangkul lengan tangan Talita, "Talita, kamu tidak dimarahi."
"Aku, tidak enak hati."
Lovie berkata "Ibu Nancy orangnya baik. Beliau tidak seperti Ibu tiriku."
Talita juga sempat begitu di rumah Lovie, ucapan Jessika terlalu menusuk perasaannya. Setelah itu, Talita jadi malas berkunjung ke rumah orang tua Lovie.
"Ibu, apa Kak Richi baik-baik saja?"
"Iya, dia baik-baik saja."
Mereka berjalan dan mengikuti langkah kaki Nyonya Nancy. Talita, dari tadi masih menatap wajah Nyonya Nancy.
"Seandainya aku punya Ibu seperti beliau." Batin Talita.
Nyonya Nancy merasa, kalau dari tadi Talita menatap dirinya. Nyonya Nancy menghentikan langkah kakinya.
"Talita, kenapa kamu memandangi wajahku? Apa wajahku ini terlalu cantik?"
"Emh, iya Nyonya. Saya sampai kagum melihatnya." Jawaban Talita santai.
Nyonya Nancy jadi tertawa, "Kamu masih anak-anak. Nanti kalau kamu sudah dewasa. Kamu harus ke klinik kecantikan, mengencangkan kulit yang sudah mulai keriput."
"Iya Nyonya. Saya akan bekerja keras. Biar saya sukses seperti Nyonya."
Talita sesaat terdiam, lalu berkata "Mana ada orang yang mau sama saya. Apalagi, saya tidak ada orang tua. Saya, hanya hidup dengan saudara."
"Kamu tidak punya orang tua??"
"Iya Nyonya. Saya hidup dari orang tua Lovie. Makanya, saya selalu bersama Lovie."
Melihat sorot mata yang rapuh. Meski, Talita terlihat kuat dan percaya diri. Namun, dari sorot mata itu terlihat jelas, ada bekas luka yang tersimpan dalam hati kecilnya.
"Kalau begitu, kamu bisa memanggil aku Mommy. Anggap saja, kamu adiknya Richard."
"Mana bisa begitu."
Talita yang malu, dan Lovie berkata "Talita, kalau kamu jadi adiknya Kak Richi, duniaku sempurna."
"Yee, mana mau dia punya adik seperti aku."
Nyonya Nancy, jadi menggandeng kedua anak perempuan ini.
Mereka bertiga, tampak menyebrang jalan raya, meski bukan jalan raya utama kota Shindong. Jalan ini, namanya Jl. Kenangan Manis.
Setelah tiba, di ruangan tempat Richard dirawat.
Mommy Nancy berkata "Ini, Mommy sudah membawakan calon istri kamu dan calon adik kamu."
Richard yang duduk di kursi roda, mendengar itu, tidak terima.
"Apa? Calon adik? Apa maksud Mommy? Apa Daddy mau menikah lagi?"
"Ini Lovie, calon istri kamu. Ini di kiri Mommy, ada Talita calon adik kamu. Mommy mau menjadikannya, adik kamu. Biar kamu punya saudara."
"Mommy, yang benar saja. Dia udah gede, buat apa di adopsi. Lagian, aku tidak suka punya saudara, apalagi dia, nggak tahu asal usulnya. Mommy kenal dia juga baru beberapa jam."
Lovie berjalan mendekat "Iih, Kak Richi. Ibu Nancy juga cuma bercanda. Kak Richi jadi serius banget. Nggak boleh ngomong begitu. Masa iya, aku calon istrinya Kak Richi dan Talita jadi adiknya Kak Richi."
"Kalau kamu calon istriku. Itu serius." Ucapnya Richard dan menatap wajah Lovie.
Lovie berkata "Emh, itu mana bisa. Aku tidak mau ada pernikahan. Apalagi, jatuh cinta."
"Kenapa nggak bisa?" Richard berwajah muram.
"Papiku yang menikah saja, istrinya meninggal bisa menikah lagi. Aku jadi korban dari pernikahan baru Papi. Aku nggak mau menikah. Aku hanya ingin punya anak saja. Apalagi, kalau aku mati duluan, Kak Richi menikah dengan yang lain. Anakku, jadi sedih."
__ADS_1
"Kamu ini ngomong apa. Aku ini serius."
"Kalau serius, ya sama. Aku mau jadi istri Kak Richi dan Talita jadi adiknya Kak Richi. Aku juga nggak mau pisah dari Talita. Talita, sudah seperti saudaraku sendiri."
"Itu, syarat yang kamu ajukan?!"
"Emh, tidak juga. Nanti aku pikirkan dulu. Kalau Talita mau jadi adiknya Kak Richi. Aku juga mau jadi istrinya Kak Richi."
"Susterku yang manis. Bantu aku ke tempat tidur." Hissh, manjanya nggak ketulungan. Namun, Lovie merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Richard.
Mendorong kursi rodanya, ke sisi tempat tidur dan membantunya berdiri.
Talita tersenyum, saat menatap mereka berdua. Nyonya Nancy yang tampak bersedekap, memandangi mereka berdua.
Dreet Dreet Dreet.
Talita meraih ponsel yang ada di tas selempangnya. Ia berkata "Nyonya Nancy, saya permisi dulu. Mau terima telephone dari Kakak."
"Iya, sana angkat telephonenya dulu."
Talita keluar dari ruangan itu dan menerima panggilan dari Lolla.
Tidak lama, Talita masuk ke kamar itu dan menghadap Nyonya Nancy.
"Nyonya, saya mau pamit pergi. Kakak saya, sedang sakit di rumah sakit."
"Ya sudah kalau begitu. Biar sopir saya yang mengantar kamu pergi."
"Terima kasih, Nyonya Nancy."
Talita mendekat ke arah Lovie dan Richard. Talita dengan suara sendu berkata "Lovie, aku mau pergi ke rumah sakit. Kak Lolla sakit, dia dirawat di rumah sakit."
"Memangnya, Kak Lolla sakit apa?" Tanya Lovie dan berada di sisi kirinya Talita.
"Aku juga tidak tahu. Katanya, tadi sempat pingsan di jalan. Terus, dibawa ke rumah sakit sama orang yang nolongin dia."
Nyonya Nancy mendekat mereka, beliau berkata "Talita, saya sudah siapin sopir buat kamu. Ayo, saya antar ke depan."
"Terima kasih, Nyonya Nancy."
"Lovie, aku pergi dulu."
"Iya, hati-hati."
Talita menoleh ke arah Richard, ia berkata "Kak Richard, semoga Kakak cepat sembuh."
"Terima kasih, sudah menjenguk aku."
Talita pergi bersama Nyonya Nancy sampai ke mobil dan langsung diantar sopir ke rumah sakit.
Meskipun, saat ini sudah pukul 18.05 waktu setempat. Kota Shindong, masih terlihat terang, senja masih menorehkan cahaya indahnya.
Setelah tiba di rumah sakit, Talita bertemu Kakaknya dah melihat keadaan Lolla. Talita sudah tahu, saat suster menjelaskan keadaan Lolla.
"Kenapa bisa sampai hamil? Apa Kak Lolla memang sengaja?"
"Kamu malah mojokin aku."
"Kakak, Om Rasya punya istri. Dia Omnya Lovie. Bisa-bisanya Kakak menjerat dia. Apalagi, Tante Syilla, dia baik sama kita berdua."
"Kamu ini, tahu apa soal aku. Bukannya, kamu juga sudah mulai keluyuran."
"Kak Lolla, aku." Talita sadar, dirinya juga salah. Tapi, Talita merasa malu akan sosok yang ditikung Kakaknya sendiri.
Syilla perempuan yang baik, dari keluarga terpandang dan ia seorang dokter.
"Ya sudah, aku akan menjaga Kakak. Jangan gugurin kandunganmu. Aku akan membantu merawat bayimu."
"Dia mau menikahi aku."
"Kakak tidak tahu malu."
"Hei, aku berbuat ini juga demi kamu. Kamu selalu ingin punya keluarga dan hidup nyaman. Dari mana uang yang aku dapatkan, kalau bukan dari dia."
"Bisa saja, Om Rasya pakai duitnya Lovie."
"Aku tidak peduli. Yang penting, rumah itu akan jadi milikku. Aku sudah memintanya."
"Kak Lolla, itu rumahnya Lovie."
"Diamlah, ocehanmu membuat aku pusing."
Jam terus berputar dan saat ini sudah pukul 11 malam. Talita yang keluar dari kamar inap Lolla.
Berjalan melewati lobby rumah sakit.
Menatap ke arah pintu, utama. Ada tiga bodyguard yang berpenampilan formal.
Sosok wanita cantik berusia 40 tahun, tampak berpenampilan glamour. Semua aksesoris yang melekat di tubuhnya, terlihat mahal dan serba mewah.
__ADS_1
"Mama."