
Papa Richard memegang setangkai bunga mawar merah, membelai wajah tenang istrinya dengan mawar itu.
"Selamat pagi sayang."
Sang istri seketika menggeliat manja, perlahan-lahan membuka kelopak mata indahnya.
"Emmmh."
"Ayo bangun."
Memberikan kecupan di kening istrinya. Kemudian, meletakan mawar merahnya, di atas nakas sebelah tempat tidurnya.
Madam Lovie dan Presdir Richard De Nuca. Tengah menikmati masa-masa gejolak manja di usia matangnya.
Mama yang satu ini, semakin sexy dengan paras mencapai body goal.
Paras sintal nan sexy. Meskipun tinggi badannya tetap sama dan tidak bisa bertambah lagi.
Namun, lekuk parasnya semakin terlihat mempesona dimata sang suami tercinta.
Yaps!! Usia Mama Lovie sekarang ini, sudah menginjak usia 36 tahun.
Uuu, body aduhai ala Mama Lovie, terbentuk hourglass body shape.
Dada kenyal menonjol bulat nan padat. Bagian pantat semakin semok, terlihat begitu kencang.
Pinggang langsing nan ramping, meliuk membentuk pinggul yang indah.
Rajin fitness bersama suami tercinta. Hasilnya, membuat suami semakin bucin.
"Sayang. Gendong aku, sampai kamar mandi."
"Dengan senang hati. Aku akan memajakanmu."
Bertambahnya usia, semakin bergairah akan akvitas sexuallnya.
Sambil berjalan, mengangkat tubuh istrinya, bibir manis itu berselancar, ke leher yang terlihat menggoda.
Istrinya juga semakin pandai merawat diri. Meskipun baru bangun tidur, tetap tercium aroma wangi dari tubuhnya.
Kulit putihnya juga semakin glowing dan sangat terlihat mulus nan bersih. Begitu kencang dan belum ada tanda-tanda kerutan halus.
Emmh.
"Sayang...."
"Aku siap memandikanmu."
"Aku cuma mau cuci muka dan gosok gigi."
"Sayang. Hari ini tidak ada jadwal penting. Kita bisa bersantai di rumah."
"Ya, semoga anak-anak tetap aman."
Anak-anak sudah besar, mereka juga sibuk di luar sana. Apalagi, ada yang tinggal jauh dari orang tuanya.
Orang tua ini, akan luasa saat bercumbu mesra. Bahkan, bisa seharian di kamar saja dan tidak ada yang akan berani mengganggunya.
Lucas tetap tinggal di rumah ini. Bahkan, mendirikan usaha, sesuai keinginannya. Tidak untuk mencari keuntungan dan hanya ingin menyalurkan hobbynya saja.
Lalu, adik tampannya masih menimba ilmu di luar negeri.
Latte masuk kelas akselarasi dan ia lulus SMA lebih dulu. Bahkan, sudah hampir skripsi. Nantinya, melanjutkan ke jenjang magister, sementara tetap disana.
Sedangkan si cantik Lily, tinggal di asrama putri.
Sosok tuan putri yang satu ini, sudah menjadi mahasiswi manajemen bisnis dan baru menginjak semester dua.
Semenjak, sang suami menduduki posisi Presdir, Mama Lovie kerap kali mendampingi sang suami tercinta.
Kemanapun perginya Presdir Richard De Nuca, Madam Lovie akan selalu menamaninya.
Meskipun, terkadang harus berpisah sementara. Karena, menangani anak gadisnya yang bandel.
Seperti, pagi ini di asrama putri.
Lily membuat penjaga asrama darting. Sampai-sampai, penjaga wanita ini ingin menendangnya dari asrama.
"Lily. Ini kamar apa kandang kucing?" Tatapannya seperti singa betina, yang sudah kelaparan dan ingin melahab Lily.
Penjaga asrama ini, menegurnya dengan galak sekali. Tetapi, tidak mempan untuk Lily.
"Owh, itu Mom. Semalam, aku ketiduran. Jadinya, ya berantakan begitu bekas mie instannya."
Semalam ketiga belia cantik, tengah asyik memasak hot pot di kamar.
Terdapat bungkus bahan masakan, dan cup bekas makan mereka, tampak berserakan di atas lantai.
__ADS_1
Kamar asrama yang diperuntukan 3-4 mahasiswa ini, terlihat berantakan.
"Mom, paling tidak suka. Kalau kalian semua, telah sengaja meninggalkan bekas makanan di kamar asrama. Kalian ini anak perempuan. Kenapa? Tidak ada satupun dari kalian, yang bisa merapikan kamar kalian?!"
"Mom. Sa-ya, sa-ya. Juga ketiduran." Violla berubah gugup, setiap ditegur penjaga asrama.
Wanita berusia 35 tahun, yang berbadan gemuk dengan penampilan garang. Meskipun beliau sedang bahagia, wajah itu tetap kaku dan tidak terlihat eskpresi bahagia.
Semua penghuni asrama putri sangat takut kepadanya. Kecuali si bandel Lily Nee Rilova. Nggak ada kapoknya. Malahan, merasa senang bila ditegur oleh Wanita yang dipanggil Mom itu.
"Lily. Cepat bereskan!! Sampah-sampah itu!" Perintahnya dan membuat takut para penghuni kamar asrama.
Penghuni lainnya, melihat dan mengintip dari pintu.
Kamar ini, sangat berantakan sekali. Bahkan, bau masakan masih menyengat, saat pendingin ruangan ini dimatikan.
"Mom saja yang bereskan. Aku disini, juga bayar biaya asrama." Ucapnya Lily begitu santai dan tidak merasa takut padanya.
Penjaga ini, ingin sekali mengeluarkan jurusnya. Namun, akan percuma bila melawan Lily.
Lily Nee Rilova, tuan putri dari Presdir Richard yang selalu bersikap bandel.
Bahkan, suka menindas para cowok yang sudah mencampakan para gadis kenalannya.
Tapi, bukannya mendapat pujian. Malah Lily, yang kena damprat para gadis itu.
Lily yang sering kali mengenakan pakaian over size di badan mungilnya. Terlihat sangat biasa dan tidak ada yang memandangnya sebagai sosok tuan putri dari keluarga kaya.
Tinggi badan Lily juga sangat standar. Bila disandingkan dengan kembarannya. Terlihat jelas, perbedaan tinggi badan mereka berdua.
Lily tinggi badannya hanya 163 centi, sedangkan Latte tinggi badannya 180 centimeter.
Perbedaan, yang cukup jauh bukan.
Dari segi penampilan, juga sangat berbeda.
Lily yang suka tampil apa adanya. Ia selalu berpakaian casual dengan kaos over size, yang berwarna putih. Dipadukan dengan rok jeans atau hotpants, pokoknya yang berbahan jeans.
Penampilan casual, dengan gaya sikapnya yang tengil nan bandel. Itulah, Lily Nee Rilova.
Berbeda dengan kembaran tampannya, Latte sosok yang dingin dan arogan. Gaya penampilan Latte, juga tidak berubah sama sekali. Sayangnya, dia masih kuliah di luar negeri.
Lily yang mengerucutkan bibirnya. Tampak kedua tangan yang berkacak pinggang dan satu kakinya bertumpu pada ranjang tempat tidurnya.
Tingkahnya, memang tidak terpuji.
Violla dan Lexi, hanya menatap sosok penjaga asrama itu, dengan wajah polos mereka berdua.
Mereka dari playgroup sampai ke jenjang perkuliahan, tidak mau berpisah dari Lily.
Malahan, orang tua mereka yang bosan. Karena, kerap kali harus bertemu setiap ada pertemuan wali murid.
Violla, gadis endut, namun berusaha untuk menguruskan berat badannya.
Violla juga selalu memakai kacamata bening dan gaya penampilannya juga sangat biasa. Hanya memakai kaos dan celana panjang berbahan jeans setiap dia kuliah. Kecuali, kalau berada di kamar, dia memakai baby doll dengan motif kartun yang lucu.
Sedangkan Lexi, si gadis feminine dan pujaan para pria. Ia playgirl yang sangat terkenal di kampus ini. Padahal, masih junior kampus, tapi ia sudah berani mempermainkan 4 cowok, senior kampus.
Tatapan Mom itu, kembali tertuju kepada Lily.
Lily berkata "Kalau Mom sudah selesai. Silakan keluar. Aku ingin segera mandi dan ganti baju."
"Lily. Meskipun, kamu cucu pemilik kampus ini. Mom, tidak akan memberikan kelonggaran untukmu."
"Emh, Mom ternyata sangat perhatian." Lily jadi tersenyum senang dan berjalan mendekatinya.
Selangkah maju, Mom jadi mundur.
"Lily, jaga sikapmu. Mom ini, lebih tua dari kamu. Mom, akan mengadukan sikapmu kepada orang tuamu."
"Baik. Silakan, Mom adukan sama Mama. Aku akan bilang sama Mama. Kalau Mom, sangat perhatian sama Lily. Bahkan disetiap hari. Seperti, sekarang ini." Tengilnya Lily, dan tidak takut sama sekali.
Mom jadi mematung, dengan tangan kanan yang masih menjinjing kantong sampah.
Lantas, Lily berjalan pergi ke kamar mandi.
Penjaga itu, meremas kesal kantong sampah yang ia bawa itu.
"Aku bersumpah. Aku akan menendangmu dari asramaku."
Lexi dengan manis, nan lembut berkata "Silakan, Mom segera keluar. Saya, juga keberatan bila selalu diawasi."
Lexi juga sama menyebalkannya, namun dia seperti penjilat yang berubah manis setiap orang tuanya menegurnya dan membalikan fakta yang sesungguhnya. Itu, sering kali terjadi dan ia belajar dari Lily. Gaya bicara dan tingkahnya lebih manis dibanding Lily, benar-benar manis.
Lexi, memang sangat feminine.
"Kalian bertiga, sama saja!!" Ungkapnya jengkel, segera keluar dari kamar ini.
__ADS_1
Suara bantingan pintu, terdengar sampai ke ruangan penjaga asrama.
"Harusnya, dia tidak perlu menegur cucu pemilik kampus." Gumamnya, seorang penjaga asrama yang lain.
Violla, langsung mengunci pintu kamarnya itu dan ia masih berdebar.
Violla sampai memegang dadanya dan berusaha mengatur nafasnya. Untungnya, Lily tidak membalasnya, seperti melawan para cowok.
"Aku akan tetap mendukung Lily." Batinnya Violla dan perlahan tersenyum.
Meskipun Lexi sosok cantik dan feminine. Dia juga sama joroknya dengan Lily. Tidak bisa menjaga kerapian kamarnya. Bahkan, sudah beberapa pakaian, dia lembar ke kasurnya.
Tangannya mengacak-acak lemari pakaian dan menggurutu "Iih, nggak ada yang cocok. Ini sudah jelek."
Padahal, pakaiannya baru sekali pakai dan tidak mau memakainya lagi.
"Lexi, kamu jadian sama siapa lagi?" Tanya Violla.
"Violla. Kamu, nggak usah pedulikan aku."
Lily berdendang di kamar mandi dan menggosok-gosok kulit putihnya. Ia merasa senang, setiap membuat keributan di pagi hari.
Gadis berusia 18 tahun, masih jomblo dan belum terpesona pada lawan jenisnya.
Malahan, misinya menghancurkan para cowok bereengsek.
Eitsz, Lily sepertinya pernah ditolak cowok. Makanya, sikapnya jadi begitu.
"Emh, wanginya aku suka."
Berdiri dibawah shower dan merasakan kesegaran air mandinya.
Bibirnya berwarna pinky peach, tampak mengecap manis.
Rambut Lily tampak panjang sedada. Namun, sering kali mengikatnya seperti bun ke atas dengan poni tipisnya menutupi dahi.
Rambut hitam kecoklatan yang sangat halus itu, sudah diberi shampo. Memijat lembut rambutnya dan kembali berdendang.
Lexi menggedor pintu kamar mandi, "Lily. Buruan mandinya. Aku juga mau mandi."
Meskipun, mereka tidak mau berpisah, tetapi mereka juga sering bertengkar. Bahkan, mereka pernah diem-dieman.
"Lily, buruan mandinya. Aku bisa terlambat." Teriaknya lagi.
Violla berjalan mendekat "Kamu mengincar dosen kamu?"
"Aku, tidak begitu."
"Eee, kamu mengejar mahasiswa baru?"
Di kampus, sudah geger karena....
Mobil sport merah'
Di Kampus RL, Raisa Lovie, itu maksudnya.
Kampus ini, didirikan dalam bentuk persembahan untuk mendiang istrinya tercinta.
Dahulu, mendiang istrinya ingin Oppah Benny mendirikan kampus untuk mahasiswa yang memang ingin belajar ilmu bisnis.
Kampus berlogo internasional dan berfokus pada jurusan ekonomi, akuntan dan menejemen.
Kampus RL didirikan sekitar 15 tahun yang lalu dan dikelola oleh Ommah Jessika.
Kebetulan, beliau dulunya juga lulusan ekonomi dan para dosen pengampu mata kuliahnya adalah dosen pilihan lulusan luar negeri.
Para mahasiswa yang diterima melalui ujian masuk, kebanyakan memperoleh beasiswa.
Sedangkan Lily, Violla dan Lexi, masuk jalur dalam. Hal itu, bukan rahasia lagi.
Pertama kali, mereka memasuk area kampus RL.
3 mobil mewah mengantarkan mereka bertiga dan dikawal beberapa bodyguard.
Namun, saat mereka turun dari mobil masing-masing.
Cucu pemilik kampus biasa saja dan tidak ada yang istimewa.
Jadinya, pada bubar setelah melihat Lily, Violla dan Lexi.
Itu dulu, sewaktu masa ospek.
Sekarang, mereka bertiga jadi terkenal. Tapi, terkenal sikap jeleknya mereka.
Lily, si gadis yang selalu menindas cowok bereengsek dengan keisengannya.
Lexi, yang suka mempermainkan cowok. Baru menerimanya beberapa jam. Lalu, mencampakan cowok itu, dengan alasan yang tidak mudah diterima.
__ADS_1
Violla, meski terlihat pendiam, dia suka membantu Lily, menindas cowok bereengsek.