
Masih melanjutkan cerita bab sebelumnya.
Keluarga Lovie bisa menerima Lucas dan ibu tiri Lovie yang sering kali dipanggil Ommah galak, juga sudah menerimanya meski terkadang galak. Namun, lain hal terjadi di kediaman Presdir Nicholas.
"Lovie. Kamu harus menerima keputusan Ibu."
Nyonya Nancy tetap ingin, Lucas berada dalam asuhan suster dan tinggal di luar kota.
"Ibu, Lucas cucunya Ibu. Sudah lama, Ibu menantikan cucu kandung Ibu."
Di ruangan ini, ada Presdir Nicholas, Nyonya Nancy, Richard dan juga Lovie.
Setelah makan malam di rumah Papi Benny, ternyata Lovie teringat Ibu mertuanya. Apalagi, akhir-akhir ini keadaan Ibu mertua memang kurang sehat. Jadinya, setelah selesai makan malam bersama keluarganya. Lovie, kembali ke rumah Presdir Nicholas.
Richard hanya diam, berkata-pun juga akan percuma. Tidak ada pembelaan untuk istri dan anaknya yang bernama Lucas.
"Kamu pikir, kamu akan bisa merawat dan membesarkan dengan nama keluarga kita. Itu, tidak akan pernah terjadi. Tidak akan." Suara itu, sudah bergetar dan Nyonya Nancy kembali meraba sofa, suaminya dengan setia memapahnya kembali, untuk duduk di sampingnya.
Lovie, yang duduk di sofa menghadap kedua orang tua ini.
Di ruang keluarga, kediaman Presdir Nicholas. Jam 10 malam, waktu kota Shindong.
"Ibu. Lucas masih anak kecil. Dia butuh keluarganya. Terutama Papa dan Mamanya. Kasian dia, kalau dia tinggal tanpa keluarganya." Ucapnya Lovie, juga sudah terdengar sendu.
"Lovie. Lucas bukan anakmu. Dia anaknya wanita lain. Bahkan, Ibu kandungnya sendiri saja tega. Kamu masih sekolah dan kamu masih punya janji dengan Ibu."
"Ibu."
Richard merangkulnya, dan berkata dengan lembut "Sayang, apa yang dikatakan Mommy memang benar. Aku juga nggak bisa bertemu Jihan. Dia pasti akan sering kemari dengan alasan mangasuh Lucas. Kalau Lucas di luar kota dan di rawat dengan baik oleh para suster. Kita masih bisa menjenguknya. Kamu juga masih banyak kewajiban kamu yang lain. Kamu juga masih sekolah, kamu juga sudah janji sama Papi akan tetap mengejar cita-citamu sebagai guru. Kamu harus bersiap untuk mengkuti ujian masuk di perguruan tinggi."
"Iya. Tapi apa kita tega. Disini pelayan juga bisa merawat Lucas. Kenapa harus mengirimnya ke Min-ju? Di luar pulau, jauh dari kita berdua. Aku nggak tega."
"Ibu sudah buat keputusan. Kamu harus bisa melepaskan Lucas. Ibu bisa saja mengakuinya dan memberikan nama Nuca untuk cucu kandung Ibu, tapi tidak dengan Lucas. Kalau memang Lucas cucuku, aku akan merawatnya dengan caraku."
Nyonya Nancy lekaskanya pergi dari ruangan ini. Presdir Nicholas menatap Lovie, beliau berkata "Lovie, tolong kamu bisa memahami situasi ini. Kita semua sudah menerima kehadiran Lucas. Tapi, untuk merawat dan membesarkan Lucas, itu tidak akan mudah. Keluarga Jihan, akan terus memantau dan mengawasi Lucas. Mereka mengatakan tidak mengakui, tapi dalam hati Julian, Bapak sangat tahu kalau dia juga ingin mengakui Lucas sebagai cucu kandungnya. Karena kamu disini sebagai istri dan Mama dari Lucas. Ibu dan Bapak, juga sudah memikirkan rumah tanggamu. Jihan pasti akan terus menerus menghantui rumah tangga kamu, dengan alasan menjenguk dan mengasuh Lucas. Kalau Lucas di Min-ju, Keluarganya Jihan, tidak akan berani mengusik keberadaan Lucas."
Lovie yang sudah tampak berlinang air mata, ia berkata "Bapak benar. Semua ini demi Lucas."
Richard memeluk Lovie, ia berkata "Sudah, jangan menangis. Lucas tetap ada diantara kita. Selamanya, Lucas anak kita berdua. Dia putramu."
"Emh, iya. Kamu benar."
Setelah itu, Lovie kembali ke kamar tamu, ingin tidur bersama Lucas.
Richard juga turut bersama istrinya.
__ADS_1
"Sayang, sudah nangisnya. Setiap bulan. Kita bisa kesana, sekalian liburan."
"Iya. Tapi aku masih nggak tega. Lucas masih kecil. Aku takut, kalau dia sampai tidak mengenali aku lagi."
"Kamu ini sudah keracunan drama. Aku yakin, Lucas akan terus mengingat kamu sebagai Mamanya. Mama yang mencintainya."
"Selalu saja begitu. Seorang Papa mudah sekali berkata. Seperti tidak punya perasaan saja."
"Sayang, jangan dibahas lagi. Aku juga punya perasaan. Aku juga menerima kehadiran Lucas di dalam hidup kita berdua. Tapi, aku juga mau, kamu bisa mementingkan dirimu sendiri. Kamu selalu mentingin orang lain, tapi kamu nggak peduli sama diri kamu sendiri."
Lovie cemberut dan mulai berbaring di sebelah Lucas. Menatap wajah Lucas dan ia berkata "Iya, aku paham. Ayo kita tidur. Besok aku Ujian."
"Nah, itu ingat Ujian. Cepat merem, jangan lihatin Lucas terus."
Richard meraih istrinya dan memeluknya.
"Sana, pergi ke kamarmu. Disini sempit."
"Setelah kamu tidur. Aku pergi ke kamarku."
"Iya, tapi janji ya. Kita sering bertemu Lucas lagi."
"Iya. Aku janji. Kita akan sering menjenguknya."
Malam yang dingin, namun terasa hangat dalam dekapan.
Richard berkata "Aku lakukan ini demi kamu, sayang. Aku nggak mau, kamu nantinya sedih karena aku. Jihan pasti akan memanfaatkan situasi saat ini. Aku nggak mau, nantinya kamu salah paham dan sampai pergi ninggalin aku."
Jihan saat ini, sudah ada di hotel JM. Dia tadinya hendak mengadu kepada Papanya. Namun, Papanya malah sudah menemukan laki-laki yang menghamili Jihan.
Pria itu sebenarnya, sudah pernah mendatangi Jihan. Namun, lagi-lagi ucapan Nyonya Bianca membuat Jihan, seolah mengelak akan malam panjangnya itu.
"Apa benar, Mamaku yang jahat. Aku harus menyelidiki ini. Aku juga merasa ada hal aneh. Aku sering kali berdebat dengan Papa. Mama tetap membela aku di hadapan Papa. Tapi, setiap aku sudah mengadu sama Papa. Kenapa Papa juga tidak menegur Mama? Pasti ada yang salah."
Baru membatin begitu, Nyonya Bianca tiba "Jihan, kenapa tidak pulang?"
"Mama kenapa kemari?? Aku hanya ingin tidur disini."
Nyonya Bianca yang sudah bersedekap di hadapan Jihan, beliau berkata "Aku sudah banyak membantu kamu. Kamu harusnya bisa nekat, pergi ke rumah Richard dan mengurus anak kalian."
"Mama, aku tidak menyuruh Mama melakukan itu. Aku memang mencintai Richard, tapi aku tidak jahat."
Mendekat selangkah, Jihan yang ada di atas kasur semakin gelisah.
"Kamu pikir, Mama orang jahat. Kalian yang sepakat akan membuat anak. Mama menyuruh profesor itu, karena Mama tahu, kalian itu saling mencintai. Richard hanya gensi. Dia bersikap itu, hanya berpura-pura, untuk melihat kamu cemburu."
__ADS_1
"Mama, aku tahu Richard tidak begitu. Aku sangat tahu dia seperti apa. Ini semua karena Mama. Aku jadi merasa rendah di hadapan Richard dan Rey. Aku ini putrinya Presdir Julian. Aku pemilik JM. Tapi, Mama yang sudah membuat aku terlalu rendah di mata sahabat dekatku." Jihan mulai menangis, ia merasa sudah terlalu jatuh ke bawah. Sampai hilang sudah kehormatan dan harga dirinya.
"Aku malu, dengan mereka. Aku malu di hadapan orang lain. Mereka semua tidak tahu perasaanku. Semua ini, karena Mama."
"Oke. Ternyata, kamu sudah pintar. Baik, Mama akan mengalah. Kamu memang putrinya Delia, bukan putri kandungku. Putriku hanya Briella dan putraku hanya Bentley. Terserah kamu, bagaimana mau menganggap aku seperti apa. Kamu akan menikah dengan pengacara itu. Siapa namanya, Mama sampai lupa. Dia tidak selevel dengan kita. Apa kamu yakin, bisa tidur di kamar biasa dan hidup sederhana."
Jihan hanya bisa mengeluarkan air mata. Suaranya-pun, ia tidak bisa mengeluarkan, apalagi membalas semua perkataannya.
Nyonya Bianca meraih dan memegang sebuah bantal, "Ini, lihat ini. Empuk, halus, wangi. Bantal kamu saja berapa harganya??" Kemudian, melemparkan ke lantai dan lanjut berkata lagi, "Terus, nantinya apa kamu sanggup, tidur di apartemen kelas C dan hanya makan seadanya. Biasanya, kamu sering makan wagyu. Apa gaji suamimu, bisa mencukupi kehidupan kamu yang terbiasa nyaman?"
"Aku pasti bisa. Aku punya hotel ini dan juga Papa."
Nyonya Bianca sudah menyunggingkan bibirnya, "Jihan sayang. Mama harap, kamu hanya sedang istirahat mengejar Richard. Papanya Rey bisa beristri 4. Sepertinya, Rey bisa menikahi kamu. Mama kamu Delia, pastinya akan memohon kepada suaminya, agar Rey segera menikahi kamu."
"Mama bisa nggak sih, nggak usah ikut campur masalah pribadiku dan ingin merusak pernikahan orang lain. Owh, aku ingat. Apa mungkin, yang dikatakan Talita itu benar, Mama punya anak di luar sana dan Mama sudah punya anak, sebelum menikah dengan Papa."
Tampak bingung, "Talita?? Siapa itu, Talita?!"
"Dia istrinya Rey. Dia bilang, Mama punya anak di luar sana dan mungkin, anak itu sekarang sudah besar."
"Apa itu, Cantika?? Nggak mungkin kalau Cantika ada di kota ini." Batinnya bingung.
Beliau selalu mengirim uang untuk dua anaknya, lewat teman dekatnya yang ada di kota Haneul. Namun sayangnya, beliau sepertinya sudah tertipu. Bahkan, sang sahabat itu mengatakan, kalau dua anak gadisnya sekarang kuliah di luar negeri dengan biaya hidup mahal.
"Kenapa aku curiga? Aku ingin bertemu dia. Aku juga belum melihat, seperti apa wajah Cherry dan Cantika? Apa aku sudah tertipu Deon?? Baanjingan itu, menipuku??"
Jihan melihat, Nyonya Bianca yang tampak terdiam saja, dan Jihan sudah menyeka air matanya.
"Mama, pergilah. Aku ingin sendirian dulu."
"Oke, Mama akan pergi. Pikirkan lagi, pernikahanmu dengan pengacara itu."
Nyonya Bianca pergi dan meremas kedua telapak tangannya. Beliau merasa, kalau tadi Jihan menyebut nama Talita.
"Talita, apa itu Cantika?? Kenapa perasaanku jadi tidak enak?"
Iya, sebenarnya setelah Talita dan Lolla dibawa pergi Papi Benny dan Mami Raisa.
Nyonya Bianca menghubungi sahabat dekatnya. Bahkan, menitipkan kepada sahabat itu, sebelum dirinya pergi meninggalkan kota itu. Ternyata, sahabatnya itu hanya menguras uangnya saja.
"Nggak. Nggak mungkin. Aku harus memastikan sendiri. Kalau Deon sudah membesarkan dua anak kandungku."
Nyonya Bianca pergi meninggalkan kamar Jihan dan saat bersamaan, seorang anak perempuan keluar dari kamar.
Degh!
__ADS_1
Perasaan Nyonya Bianca, jadi semakin tidak karuan, saat melihat anak usia belia, yang berpakaian sensual dan tertutupi dengan coat marun besar panjang selutut.
"Cherry??!"