Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 2. Lily Punya Calon Suami


__ADS_3

Tiga gadis belia, menatap ke sosok yang tampan dan mengendarai mobil sport warna merah. Putra pemilik hotel JM, yaitu Ethan.


Si cowok seusia tiga gadis belia ini, dia mahasiswa kampus sebelah. Tepatnya, di kampus teknik informatika. Jarak kampusnya, tidak jauh dari kampus ini.


Senyumannya bagaikan matahari yang baru terbit, melepas kacamata gaya dengan gaya menawan.


Jiaah!


Ada yang sudah terpesona.


"Lexi, kamu balikan sama Ethan??" Lily yang sudah berkacak pinggang, saat si tampan Ethan, tengah berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.


Violla yang turut menjajarkan kakinya di sisi kanan Lily, ia berkata "Pantas saja dari tadi Lexi sudah rempong. Ternyata pangeran JM nyamperin dia kesini."


Lily menoleh ke wajah Lexi yang sudah berbinar-binar dan ia berkata "Lexi, kamu memang ratunya dalam mempermainkan para cowok. Tapi, kalau yang ini aku sudah muak. Aku tak akan meladeni dia."


Cih!


Lily melihat wajah Ethan Karriro saat di depannya dan langsung berpelukan.


Hoeek!' Batinnya Lily yang seketika mual.


"Hish, sudah dilepeh dijillat lagi." Lalu beralih ke Violla "Yuk cabut! Aku geli lihat mereka berdua."


Lily lantas pergi dengan tengilnya dan Violla turut mengekor berjalan dibelakang sisi kanannya. Masih menoleh ke arah Lexi.


"Lily. Gimana kalau Lexi ditampar Ethan lagi??" Perasaan Violla yang gelisah, saat mengingat kejadiannya.


"Biarin saja. Lexi memang tergila-gila sama si playboy cap beruang kutub." Ucapnya Lily yang sudah terdengar malas, ketika membahas soal Ethan.


Ethan terlihatnya penyayang dan penuh kehangatan, tapi dia tidak main-main kalau lagi marahan sama kekasihnya. Cuma laki-laki brengsek ini yang menjadi cintanya Lexi. Yang lain, cuma cadangan saja.


Ya, sama bodohnya dalam perasaan. Selalu dibuat main-main, bilangnya mumpung masih bisa menikmati masa mudanya. Nanti kalau sudah dewasa, nggak bisa berpindah-pindah hatinya. Apalagi, gonta ganti pacar. Pastinya lebih fokus memilih pasangan hidup.


Ethan melepaskan pelukannya, dan menoleh ke arah Lily yang berjalan pergi. Ethan berkata "Tumben, Lily cuekin aku."


"Mungkin, dia bosen menegur kamu." Balasnya Lexi dan tangannya masih memegang dada sang kekasih hati.


Ya kali, putus nyambung, sang sahabat bosan melihatnya.


"Lily,..." Violla meraih lengan tangannya dan Lily jadi membalikan badan.


Lily bertanya "Ada apa lagi?"


Violla sudah menyengir, ia menjawab "Emh, kamu harus temani aku."


Lily yang menatapnya, bertanya "Temani kemana??"


"Aku harus ke kantor Mama." Jawabnya Violla dan masih menyengir.


Balasnya Lily tampak ketus padanya, "Ogah. Aku lagi malas bertemu Papa."


Lily, benar-benar sudah berbeda. Tidak lagi bermanja kepada sang Papa.


Yang ada, malah sering berdebat karena berbeda pendapat. Papa bilang A, Lily akan bilang C, dan seperti itu terus. Apalagi, kalau Lily sedang berbuat ulah. Papanya, nggak akan bisa menasehati putrinya ini.


"Ayolah!"


"Emh, oke. Nanti setelah jam kuliahku selesai."


"Aku tunggu."


Violla pagi ini tidak ada jadwal kuliah dan ia akan menunggu sahabatnya yang sedang berkuliah.


Datang terlambat dan berjalan ke bangku paling ujung.


"Sorry." Ucapnya kepada mahasiswa yang ia lewati.


Sempat membungkukkan badan dan kembali berjalan ke bangku kosong itu.


Apa yang dilakukan Lily, ketika mengikuti perkuliahannya?


Lily duduk anteng dan tidak terdengar suaranya. Tapi, tangannya tengah sibuk menulis jejak jelek di halaman buku kuliahnya.


"Kapan aku bisa jatuh cinta lagi?" Batinnya Lily.


Kenapa harus kapan? Mungkin, Lily pernah jatuh cinta sewaktu SMA.


"Sorry." Ucapnya mahasiswa sebelah kiri dan pemuda ini mengambil bolpen yang terjatuh di dekat kaki kiri Lily.

__ADS_1


Pemuda manis dan seusia Lily. Tampak wajah biasa dan Lily juga merasa tidak suka kepadanya.


"Apa yang salah dengan penampilanku??" Batinnya Lily.


Cowok itu, masih saja menatap Lily dan Lily bingung, ia meraih buku.


Aktingnya, sedang membaca buku.


Lily mengangkat buku itu, sampai menutupi muka.


Menggeser bukunya dan cowok itu tersenyum, Lily jadi semakin tidak menyukainya.


"Aaa.. Kenapa dia lihatin aku terus?? Huf. Aku tidak suka padanya." Batinnya Lily jadi semakin gelisah. Berharap, kalau kuliah pagi ini akan segera selesai.


Satu jam lagi. Lily masih menahan dirinya, agar tidak salah tingkah.


Cowok itu, menggeserkan kursinya dan ia menuliskan sesuatu di sebuah kertas.


"Lily. Apa kamu punya pacar?" Tulisan dalam secarik kertas kecil dan memberikan kepada Lily.


Lilya rasanya ingin menghilang dari ruangan ini.


"Iyuh, kalau doi ganteng sih nggak apa-apa. Aku nggak suka dia. Huh." Batinnya Lily, yang semakin kacau. Bukannya menerendahkan fisik luar, namun penampilannya terlihat kuno.


Lily, sangat menjaga nama baiknya, kalau berhadapan dengan cowok yang dia suka. Namun, kali ini dia beneran nggak suka.


"VANO. MAAF BANGET. AKU SUDAH PUNYA CALON SUAMI." Tulisan balasan dari Lily. Tulisannya diperjelas. Pakai huruf besar semua.


Lily memberikan kertasnya dan cowok itu mengangguk meredam perasaannya.


"Huh. Pagiku kenapa gini banget sih?! Mendingan Lexi, ditembak cowok keren, meskipun brengsek." Batinnya Lily.


Lily meringis, saat cowok itu masih menatapnya. Lily, perlahan membuang muka ke kanan.


Cowok itu, memotret tulisan Lily dan ia ternyata orang suruhan para cowok, yang memang sengaja ingin menjebak Lily.


Violla yang membaca berita hot dari sebuah akun yang memperlihatkan tulisan Lily. "Hah! Lily punya calon suami?!"


"Wah gila. Tapi, ia masih suka ikut campur urusan kita." Seorang cewek, yang membaca tulisan itu.


"Gadis itu pasti cuma berbohong. Kalian tetap pada rencana awal." Ucapnya cowok dan dia dalang utamanya. Percakapan dalam chat mereka dan punya rencana hajat untuk Lily.


Lalu, berita dari akun itu sudah dilihat beberapa akun penggemarnya. Hanya beberapa orang saja, yang belum tahu akan berita tentang Lily.


"Aku, ingin dia membawa buktinya. Jam 8 malam, di tempat biasanya." Ucapnya dalam chat dan sang teman itu sudah menoleh ke arah Lily, ia-pun kembali tersenyum.


"Lily, aku ingin melihat calon suami kamu. Aku tunggu di cafe histeria jam 8 malam." Tulisan mahasiswa itu, ia berikan kepada Lily.


"Duh, nggak mungkin juga aku kenalin Kak Lucas sebagai calon suamiku. Mana dia percaya, kalau pemilik cafe itu calon suami aku." Batinnya Lily.


Lily bingung, selama ini dia nggak punya teman cowok. Dia selalu bersama Violla. Kemana-mana bersama Violla dan juga Lexi.


"Baik. Aku akan datang kesana." Tulisnya Lily dan segera memberikan kertasnya itu.


"Iiih, aku harus cari kemana cowok itu. Mana mungkin, aku asal comot, nanti kalau aku tertipu malah berabe." Batinnya Lily, dan segera melihat ke layar ponselnya. Beberapa menit lagi, kuliah paginya akan selesai.


2 jam kemudian.


"Lagian sih, kamu. Bilang saja nggak mau pacaran dulu. Mau fokus kuliah dulu. Gitu-kan bisa. Kenapa kamu malah bilang punya calon suami." Ujar Violla dan ia juga membantu milihin cowok dalam aplikasi kencan.


"Violla, kamu jangan nyalahin aku lagi. Cepat cari cowok yang bener. Jangan sampai salah orang." Balasnya dan ia rebahan sambil menatap layar ponselnya.


Lexi sedang pergi ke luar kota, bersama Ethan dan ia juga belum membuka ponselnya. Bukannya kuliah, malah bolos dan jalan bersama sang mantan pacar.


Balikan! Rujuk dan memadu kisah kasih.


"Pokoknya, aku mau yang tampan. Bos. Apa gitu. Yang seperti Papa." Ucapnya Lily kepada Violla.


Violla mendessah pelan, "Huh."


"Violla."


"Iya, iya, ini aku cariin. Kalau Bos ya, umurnya kayak Papa. Kamu mau, yang mirip Om Richard??"


"Ya jangan setua itu dong. Paling nggak, seusia Mama boleh juga." Balasnya Lily.


Kedua gadis belia itu, berselancar dunia maya. Bahkan, Violla sudah mengajak chating beberapa cowok. Malahan, dia berubah geli.


"Iih, apaan sih?! Aku Violla. Bukan Berby."

__ADS_1


"Violla, itu foto kamu pakai gambar sexy. Dia panggil kamu Berbie ya wajar dong."


"Huh, kamu saja ini yang chatingan sama dia. Yang butuh cowok kamu. Kenapa aku yang repot??"


Violla jadi meninggalkan laptopnya dan ia meraih ponsel dari mejanya. Masuk ke kamar mandi dan bersemedi.


"Lily. Lily. Makanya nggak usah ngerjai cowok-cowok berengseek itu. Giliran begini, siapa yang repot? Aku?!"


Violla, jadi menggerutu sambil ngeden di closet duduk.


Bilangnya begitu, tapi dia sahabat yang baik dan setia. Violla sudah menghubungi beberapa saudara sepupunya.


Namun, hasilnya nihil.


Nanti malam ada pesta penting di Hanz Group. Makanya, Violla harus menemui Mamanya dan meminta ijin kepada sang Mama. Soalnya, keluarga besarnya harus berkumpul, meskipun sekarang ini, keluarga besar Hanz terpecah belah.


Violla juga punya banyak sepupu di keluarga Sheen, namun mereka juga kuliah di luar negeri.


"Lily. Sepertinya, nasibmu sedang sial. Tidak ada satupun saudaraku yang bisa membantu kamu. Kalau aku pilih dari aplikasi, aku takut kamu ditipu orang gila." Gumamnya Violla dan segera meraih tisue toilet.


Eeggh'


Masih ngeden lagi rupanya. Dia lagi minum obat diet, demi mendapatkan cowok idaman hati.


"Violla, lama banget beolnya."


Lily kembali fokus ke layar laptop dan mencari dari aplikasi yang lain. Bahkan, mencari bule ganteng.


"Tapi, kalau fotonya palsu bagaimana? Kalau yang datang lebih jelek dari Vano, gimana? Huh!"


Lily jadi mengayak rambut panjangnya. Begitu kesal sekali dan rasanya akan sia-sia.


"Udah deh, Kak Lucas aja. Pasti Kak Lucas mau bantuin aku." Hikks.


Lily kembali rebahan, dalam bayangan manisnya, akan datang pangeran tampan dari negeri dongeng.


Violla keluar dari kamar mandi, ia melihat Lily yang tertidur pulas.


"Coba kamu feminine seperti Lexi. Pasti banyak yang tertarik sama kamu."


Flashback On.


"Violla. Kamu kenapa?"


Sewaktu SD kelas 6, Lily masih terlihat manis dan feminine.


"Aku nggak mau makan lagi. Aku selalu dibilang mirip dugong." Ucapnya Violla dan sudah menangis.


Lily jadi duduk disebelahnya. Tepatnya, di taman sekolah mereka berdua.


"Violla, kamu harus semangat." Lily mengelus rambutnya.


"Kamu tidak gemuk seperti aku."


"Aku kurus, bukan ideal."


Lily melepas jepit rambutnya yang terlihat manis dan merubah gaya rambutnya menjadi bun ke atas.


"Ini, rambutku juga jelek." Lily sudah merubah gaya rambutnya.


"Kamu tetap cantik."


Lily tidak pantang menyerah "Violla, kita ini perempuan pastinya cantik bukan ganteng kayak Kak Lucas. Anggap saja, mereka iseng."


"Tapi, kita tetap berbeda. Kamu bisa pakai rok span. Lihat aku, nggak bisa pakai rok seperti kamu."


"Oke. Aku akan pakai kaos dan celana. Aku bisa pakai kaos yang seukuran sama seperti kamu."


"Benarkah?!" Violla sudah berbinar-binar.


"Selama kamu masih memakai kaos besar. Aku juga akan memakai kaos besar. Aku juga tidak suka pakai dress. Ini dandanan ala Mamaku. Aku juga ingin bergaya sesuai kemauanku."


"Kamu bisa begitu?"


"Iya Violla. Aku akan membeli baju seperti yang kamu beli. Aku juga akan makan seperti yang kamu makan."


Violla, jadi tersenyum.


"Sini, bakpaonya dibagi dua. Aku juga suka bakpao daging."

__ADS_1


Lily mengambil bakpao Violla, memakannya dengan lahab.


Flashback Off


__ADS_2