Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bersikap Kasar


__ADS_3

Suasana di sore hari ini. Tanpa sengaja, Richard malah bertemu Friska di dekat rumah sakit.


Padahal, banyak orang suruhan Richard yang mencarinya, namun Friska tidak bisa ditemukan, ternyata malah disini.


"Jawab aku, siapa yang menyuruhmu untuk mengantar anak kecil itu di depan kamar pribadiku??"


Sorot mata penuh kekejaman, dari mantan atasannya.


Friska yang memegang rantang isi makanan, karena tangannya gemetar, rantang itu jadi terjatuh.


Friska yang ketakutan, jantungnya berdetak lebih cepat, ia tampak menunduk.


"Bos." Lirihnya Friska dan Richard semakin mencengkeram lengan kanannya dengan keras.


"Jawab aku. Siapa yang menyuruh kamu?"


"Bos, ampuni saya. Saya melakukan ini demi Ibu saya, Ibu saya sakit keras. Bos Richard bisa melihat sendiri keadaan Ibu saya."


"Aku tidak butuh alasan dari mulutmu. Aku hanya ingin tahu, siapa yang sudah menyuruh kamu." Suara Richard begitu pelan, tapi sudah menakuti sosok Friska, wanita itu sampai menangis.


"Menangislah, selagi kamu bisa menangis."


Tidak butuh waktu lama, dua pengawal Richard datang mendekat. Friska jadi berlutut memegang kakinya Richard.


"Bos Richard, saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya memerlukan uang. Saya hanya di suruh oleh pengacara Fredo. Saya bersumpah atas nama Ibu saya. Malam itu, setelah saya dipecat oleh pimpinan tim humas. Saya diminta pengacara Fredo ke hotel DeNuca. Beliau berbincang bersama seorang Nyonya. Nyonya itu, Ibunya Jihan. Saya memang membantu Jihan, karena saya hanya membutuhkan uang untuk Ibu saya. Bos Richard, ampuni saya."


"Nyonya?? Apa maksud kamu, Bianca??"


Friska, perlahan mendongak ke atas dan mengangguk saat menatap Richard.


"Sial, jadi dia yang ikut campur dengan masalah pribadiku. Aku tidak akan mengampuni dia." Batin Richard dan kedua tangannya mengepal.


Richard menoleh ke arah pengawalnya "Kalian berdua. Bereskan wanita ini."


Friska mendengar itu, menjerit "Bos Richard, ampuni saya. Tolong ampuni saya." Sampai merangkak untuk meraih kaki Richard dan terus memohon ampunan.


Lovie dari dalam mobil, ia tidak tega melihat Friska yang diperlakukan dengan keji.


"Apa Kak Richi selalu begitu?" Lirihnya Lovie, dia masih melihat suaminya yang bersikap kejam.


Doddit yang mengenderai mobil berkata "Nona Cantik tidak perlu memikirakan soal Bos Richard. Bos hanya ingin menghukum orang yang jahat."


"Tidak seharusnya bersikap kasar pada perempuan. Aku jadi tidak tega."


Friska yang meronta ingin dilepaskan, saat lengan tangannya dicengkeram erat oleh pengawal.


Richard tak mempedulikan dia, terus berjalan menuju ke mobil sedannya.


Lovie jadi menundukan wajahnya, setelah Richard menaiki mobilnya.


"Sayang, kamu kenapa?"


Bibir Lovie jadi cemberut, ia berkata "Aku tidak tega melihatnya. Sepertinya, ada keluarganya yang sakit."


Richard meraih kepala Lovie segera mendekapnya, "Jangan pedulikan orang lain."


"Kak Richi, kalau keluarga yang sakit membutuhkan dia bagaimana? Coba kalau wanita itu aku."


Richard jadi melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya, ia menatap kasar istrinya, "Lovie, dia bukan kamu. Kamu juga nggak mungkin jadi pengkhianat seperti wanita itu."


"Kak Richi, jangan marah padaku. Aku tidak bermaksud menggurui."


Richard meredam amarahnya, ia berkata "Aku juga tidak membunuhnya. Aku hanya memberinya peringatan.


Lovie jadi terdiam dan melihat ke sisi Friska yang dibawa dua pengawal Richard.


"Kak Richi boleh menghukum dia. Tapi bagaimana dengan keluarganya, cari tahu tentang keluarga dia yang sakit. Keluarganya pasti sudah menunggu kedaatangannya."


"Istriku sayang."


Lovie cemberut, "Iya."


Lovie jadi terdiam saja.


Richard meraihnya untuk mencium bibirnya, namun Lovie jadi duduk menjauh.


"Kenapa malah menjauh dari aku?"


"Aku nggak suka pria kejam."


"Aku tidak kejam."


"Buktinya, itu."


Lovie menunjuk ke Richard, sepatunya tampak bekas goresan, ia sempat menendang rantang makanan yang terjatuh di dekat kaki kanannya.

__ADS_1


"Oke, oke. Aku akan mengurus keluarga dia yang sakit. Tapi, kamu jangan ngambek lagi sama aku."


Lovie mengulum bibir dan tampak menatap ke arah pinggiran jalan.


Richard selesai menghubungi pengawal, dan meraih istrinya kembali agar selalu memeluknya.


"Jangan marah lagi."


"Aku tidak marah. Yang suka marah itu, suami tampanku."


Lucas yang duduk di kursi depan masih terpejam. Dia sama sekali tidak terganggu akan kejadian di sekitarnya.


Doddit yang mengendarai mobil dengan santai, sesekali tampak memperhatikan Lucas.


"Kak Richi juga sering melototin Lucas."


"Tidak juga."


"Papa harus sayang sama anaknya. Lucas masih kecil, dia hanya butuh Papa yang menyayangi dia." Ujar istrinya dan Richard berpura-pura tidak mendengar apapun.


"Suamiku sayang, kamu dengarin aku ngomong nggak sih?!"


"Iya, aku dengar." Balasnya cepat.


"Aku mau jadi Mamanya, terus kenapa Papanya masih gengsi begini?"


Richard menjawab "Aku tidak gengsi. Dia anak laki-laki, harus di didik tegas. Nggak boleh terlalu dimanjain."


Jemari Lovie berjalan-jalan di bagian dada Richard. Sambil memainkan dasi biru bergaris.


"Tapi, Kak Richi juga dimanjain sama Ibu dan Bapak. Terus, anak sendiri malah nggak dimanjain."


"Kamu mau, aku bersikap seperti Daddy? Aku sibuk kerja, urusanku masih banyak. Di rumah banyak pelayan yang bisa merawatnya, ke playgroup ada sopir yang mengantar jemput."


"Emmh, setidaknya, mau gendong Lucas seperti Om Rey. Dia mau menggendong Lucas."


"Kamu malah sibuk bandingin aku. Iya, dia Omnya yang keren dan serba bisa, tidak seperti Papa kejam."


Lovie kesal, ia berkata "Kak Doddit, hentikan mobilnya."


Doddit bingung.


Lovie jadi berteriak. "Hentikan mobilnya!!!"


Richard melihat istrinya yang marah. Lovie secepatnya melepaskan sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobil.


Richard jadi buru-buru keluar dan Lovie sudah menggendong Lucas di bahunya.


"Sayang, kamu mau kemana?" Richard yang mencoba menghadangnya.


"Aku mau pulang ke rumah Papi. Pikirkan masalahmu sendiri. Kamu sepertinya, sudah tidak membutuhkan aku lagi."


"Jangan pergi tinggalin aku." Tangannya sudah memegang pergelangan Lovie.


"Selama sebulan ini, aku jadi istri yang diam dan hanya patuh padamu. Tapi apa, kamu tidak pernah mendengar perkataanku. Aku akan mengajak Lucas pergi bersamaku."


Lovie berjalan pergi, Richard berkata "My Lovie, kembali ke mobil."


"Tidak."


"Kembali ke mobil."


"Nggak mau. Pikirkan masalahmu, tanpa aku."


Tangan Lovie bergerak menghentikan sebuah taxi. Ada taxi putih, dan segera berhenti di hadapannya.


Lovie secepatnya, menaiki taxi itu dan membawa Lucas bersamanya.


"Lovie."


Beberapa hari ini, sikapnya semakin kasar dan susah dinasehati oleh Lovie.


"Iya, pergilah bersama Lucas."


Sampai detik ini, Lucas baginya hanya anak pengganggu dalam kehidupannya.


Lovie mengerti akan situasi ini, namun setelah mengetahui hasil test DNA tadi. Lovie menyadari, kalau Richard dan mertuanya masih butuh waktu, untuk menata pikiran mereka.


Memang tidak akan mudah, untuk menerima kejadian ini. Apalagi, akan menyangkut kehidupan seorang anak, yang harus diakui, dirawat, dididik, dibesarkan, semua itu membawa nama keluarga Nuca.


"Mama." Lirihnya Lucas dan masih mengantuk.


Duduk diatas pangkuan dan perlahan melorot ke kursi sebelah Lovie.


Kepala Lucas, berada dipangkuan Lovie dan memegang erat tangan Lovie.

__ADS_1


"Mama, kita pergi?"


"Iya sayang, kita ke rumah Oppah, nanti kita bertemu Nenek."


Lovie mengelus rambut Lucas dan anak kecil itu merasa nyaman.


Hanya Lovie dan Talita, yang selalu memperhatikan anak kecil ini.


Setibanya di rumah Papi Benny, dan kebetulan Nenek ada di halaman depan.


"Nenek. Nenek. Nenek." Panggilan Lucas dan sang Nenek tua itu, menoleh ke arah gerbang rumahnya.


"Owh, anak kecil itu lagi."


Nenek sudah menghembuskan nafas panjangnya dan segera berdiri.


Lucas berlari dan mendekatinya, memeluk tangannya.


"Anak ini. Apa kamu baru bangun tidur?"


Lucas mendongak ke atas dan sudah menyengir.


Lovie yang berjalan santai, ia berkata "Nenek, Lucas bangun tidur. Dia belum mandi."


Sang Nenek menepuk bokong anak kecil itu dengan gemas "Sana, ayo mandi sama Ommah. Ada Ommah di dalam."


"Nenek. Ommah Jess galak. Aku nggak mau mandi sama dia. Aku maunya sama Mama."


"Dia galak karena kamu bandel kalau disuapin. Dia memang begitu."


Mama Jessika keluar dari rumah, ia berkata "Emmh, kamu kemari lagi."


"Ini rumah Papiku. Suka-suka aku mau datang atau pergi."


"Anak tirimu sudah makan belum?"


"Belum makan."


Saling bersedekap dan memasang aura sinis.


"Lucas anakku, bukan anak tiri."


Lucas datang mendekat, melihat kedua perempuan dewasa yang saling memancarkan kilatnya.


"Ommah galak."


"Anak bandel."


"Ommah galak."


Lovie berbisik "Anak kecil hatinya lebih bersih. Lucas mengerti, mana yang ibu sesungguhnya dan mana yang Ibu tiri kejam."


Lovie menggandeng Lucas, ia berkata "Ayo! Lucas mandi sore sama Mama."


Lucas-pun mengangguk gemas.


Richard yang berada di pintu gerbang, hanya menatap dan bersedekap. Ia masih bersandar tembok gerbang.


Nenek menoleh ke arah Richard "Dia hanya bisa jadi penonton. Apa gunanya punya Papa, kalau tidak bisa mengasuh anaknya sendiri."


Richard juga bisa mendengar itu, ia jadi berjalan mendekat ke arah sang Nenek.


Richard tanpa basa basi, duduk di samping sang Nenek dan mengambil potongan buah apel fuji dari piring.


"Kalau apel dari kebun sendiri, rasanya lebih segar."


Sang Nenek, menepuk tangan Richard "Cuci tanganmu dulu."


"Ini sudah pakai handsanitizer."


Nenek memang sibuk menggerakan tangannya. Hanya mengupas apel saja. Penampilannya tetap glamour, duduk di kursi taman, sambil menanti senja sore.


Setiap hari, memastikan penglihatan dan tangannya, masih bekerja dengan baik. Mengingat akan usianya yang tak lagi muda. Sang Nenek ini, selalu menjaga kebugaran badannya.


"Richard."


"Iya, Nenek."


"Bagaiman kabar orang tua kamu?"


"Daddy dan Mommy, kabarnya baik."


Nenek menyodorkan piring, yang berisi potongan buah apel.


"Richard, pikiran orang tuamu dan kamu pasti ada perbedaan. Lalu, jalan pikiran kamu dengan Lovie pasti juga tidak sama. Menyatukan dua hati, memang lebih mudah dari pada menyatukan dua kepala dengan pemikiran berbeda. Yang satunya begini, yang satunya begitu. Kamu sebagai suami, memang harus bisa menasehati dan memimpin istri kamu. Namun, tidak selamanya pemikirian kamu itu benar. Meskipun, Lovie masih kecil, tapi dia sudah bisa mengerti, mana yang baik dan mana yang buruk."

__ADS_1


"Papa!" Panggilnya nyaring.


__ADS_2