Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 10. Berusaha Saling Mengenal


__ADS_3

Pagi yang indah telah kembali. Raut wajah cantik, tanpa polesan make-up, sudah tampak dipandangnya.


Jam 7 pagi, waktu kota Shindong.


"Bee, kamu ingin sarapan apa?"


"Aku suka bubur daging."


"Tapi disini cuma ada sereal. Aku tidak bisa memasak untukmu."


"Kita makan di luar saja. Dekat kampus aku, banyak restoran yang buka di jam pagi."


"Oke. Aku akan bersiap-siap." Troy malah pergi secepat kilat dan segera berganti pakaian.


"Om Bule." Lily belum sampai menjelaskan lagi, tapi calon suaminya, sudah sangat antusias sekali.


"Gimana kalau Violla dan Lexi tahu soal ini. Mereka, pasti akan mengadu sama Mama." Gumamnya Lily, bingung.


Setelah beberapa menit kemudian, Troy sudah rapi dengan setelan jasnya.


"Let's go."


"Dikau rapi sekali. Padahal cuma makan bubur. Aku saja belum mandi, cuma cuci muka dan gosok gigi."


"Lalu, aku harus bagaimana? Aku Troy. Troy Arrion Shonte. Aku nggak bisa berpenampilan biasa, apalagi di luar rumah."


"Om Bule. Terserah kamu saja. Tapi ingat! Aku belum mau mengenalkan kamu sama Mama Papaku, aku mau kita backstreet dulu."


Uhuk, uhuk,


Troy jadi terbatuk-batuk.


Perasaan sama gadis yang lain. Malah mereka ingin segera dikenal, di datengin rumahnya dan ingin dilamar. Kenapa, bocah satu ini banyak aturan mainnya.


"Ribet amat aturannya."


"Iih, Om Bule. Katanya mau perhatian sama calon istri. Gimana sih?!"


"Oke. Aku turuti keinginanmu."


Troy memberikan lengan tangannya dan Lily segera merangkul lengan itu.


Elevator khusus, untuk akses keluar masuk Lily Penthouse terdapat di sisi kiri.


Lift kaca yang mewah dan akan terlihat oleh siapa saja yang memasuki Penthouse.


Layar cctv juga merekam akses itu, dan seseorang sudah melihat Lily yang berduaan bersama Troy.


"Bukannya itu, Kak Lily." Gumam Morgan.


Namun, ia bukan orang yang kepo dan suka mengadu. Morgan tipikal pria cuek dan suka menutup kedua telinganya.


Memakai headseat di kedua telinganya, menutupi kepalanha dengan kupluk hoodie yang ia kenakan.


Morgan mau berangkat ke sekolah. Padahal, sudah jam 7 dan ia berjalan kaki menuju ke SMA Rich Internasional.


"Kita jalan kaki?"


"Om Bule, jalan kaki lebih sehat. Kita lewat jalan pintas. Nanti ada gang yang samping mini market. Disitu banyak banget yang jualan makanan pagi." Jawabnya Lily.


"Iya. Aku paham. Aku juga terbiasa jalan kaki." Balasnya ringan. Troy mengamati gaya jalan Lily, ia bertanya "Kamu suka jalan kaki?"


"Tidak. Aku suka naik mobil."


"Terus, kenapa sekarang jalan kaki?"


"Ya, biar kita jadi lama ngobrolnya. Soalnya, kalau naik mobil kecepetan sampainya. Terus, aku nanti harus balik dulu ke asrama."


"Kamu tinggal di asrama?"


"Iya. Asrama mahasiswa perempuan. Soalnya, rumah aku jauh banget." Ucapnya dan Lily membatin "Ya, jauh kalau jalan kaki."


Ehem, heem.


"Om Bule, malu nggak? Punya pacar yang masih imut begini?" Lily bahkan tidak segan, memegang lengan kirinya Troy dengan kedua tangannya.


"Aku malah berfikir. Kamu yang malu, jalan sama Om-om seperti aku."


Lily tersenyum senang.


"Yes. Setidaknya, aku sudah punya pacar. Aku akan buktikan sama teman-teman di kampus. Aku sudah punya calon suami tampan."


Lily memandangi wajah Troy dan pria blasteran itu tetap kaku. Dia juga tidak tahu, bagaimana cara memahami seorang gadis belia.



Visual hanya pemanis, nyomot dari pinterest.


Bayangan othor, ini kawasan lingkungan apartemen Rilova. Yang dikelilingi apartemen lainnya.


Soalnya, memang banyak apartemen dan gedung perkantoran baru di kawasan Shindong barat.

__ADS_1


Di pusat kota Shindong, apartemen semakin mahal. Banyak pekerja di pusat Shindong, yang memilih tinggal dan membeli apartemen di kawasan barat.


Tentunya, udara di Shindong barat, juga masih asri dan tidak sepanas wilayah pusat kota Shindong.


Kedua insan yang berbeda tujuan, sudah tampak mesra saat saling menggenggam tangan.


Mereka berjalan melalui jalan pintas tercepat, untuk ke kampus Lily.


Bilangnya sih jaraknya dekat, 1 kurang lebih 500 meter. Untuk sampai ke kampus RL. Apalagi, kalau melewati jalan utama, pasti lebih dari 1 kilometer.


"Om Bule. Beneran asli orang luar negeri?" Tanya Lily, santai. Ia sambil menatap ke wajah kakunya Troy.


Troy menjawab "Aku memang warga asing. Tapi, Ibuku asli dari kota Shindong."


"Benarkah?" Lily yang senang mendengarnya.


"Iya. Ibuku, asli sini. Ibuku wanita yang biasa. Sederhana dan sangat perhatian sama Ayahku." Jawabnya Troy dan terlihat senyuman tipis.


"Om Bule, punya saudara tidak?"


"Punya. Aku punya dua adik perempuan. Tapi, adikku berbeda Ibu."


"Aku paham. Pasti Ayahnya punya dua istri." Ucapnya Lily polos.


"Tidak, begitu. Ayahku hanya iseng. Tahu-tahu sudah menghamili wanita lainnya. Aku sangat tidak menyukai hal itu." Balasnya Troy tenang.


"Owh, aku paham. Seorang pimpinan pasti mudah berselingkuh. Papaku juga sering digoda wanita lain. Makanya itu, Mamaku selalu mendampingi Papa."


Troy jadi tersenyum, "Tapi, aku tidak begitu. Aku memang suka main perempuan. Tapi, aku tidak pernah terjebak perasaan. Apalagi, sampai mempunyai anak dari seorang wanita."


"Ya, untuk saat ini. Sepertinya belum terjadi. Siapa tahu, nanti itu bakalan terjadi." Balasnya Lily.


Troy bertanya "Kamu nggak takut sama aku?"


"Tidak. Aku sama sekali tidak takut sama Om Bule."


"Kalau kamu tiba-tiba hamil anakku, terus aku kembali ke negaraku gimana?"


"Ya sudah, aku akan mengurus anakku seorang diri. Kalau nanti Papanya anakku kembali, aku tinggal menghabisi dia."


"Wah, serem juga ya kamu."


"Aah, tapi nggak mungkin kita sampai begitu."


"Kamu percaya aku??"


Troy membuat Lily menatap matanya. Troy terdiam sesaat untuk memandang wajah Lily. Troy hanya ingin, menanti jawaban dari calon istrinya.


"Aku percaya sama Om Bule." Jawab Lily, saat menatap matanya. Terlihat hal manis, dari sorot mata seorang pria dewasa ini.


"Tentu saja. Selama kita masih terjalin ikatan. Aku akan selalu menunggu Om Bule kembali kesini. Atau mungkin, aku akan menyusul ke negara Om Bule tinggal." Jawaban Lily santai.


Di saat yang jalan berduaan tampak manis. Yang di asrama, masih tarik selimut tinggi-tinggi. Agar tidak ketahuan Mom asrama.


Mom asrama tahunya, Lexi pulang ke rumah orang tuanya dan ternyata Lexi kembali mengendap-endap lewat pintu belakang asrama putri. Lalu, tidur di ranjang Lily, yang ada di atas tempat tidur Violla.


Ranjang besi bertingkat warna hitam. Terlihat penghuni kamar yang masih anteng di atas tempat tidur.


Mom berkata "Kalian, sudah jadi gadis yang manis."


Mom setiap pagi memang berkeliling kamar-kamar, untuk melihat situasi.


Mom, menutup pintu kamar itu dengan pelan tanpa terdengar suara.


Violla mengintip, perlahan lega "Aaa... Lily, bikin aku senam jantung."


Lexi juga membatin "Untung saja, Mom tidak sampai mendekati aku."


"Lexi, kita harus gimana?"


"Aku juga bingung. Aku semalam sudah dimarahin Mama Papa gara-gara tas itu. Sekarang, harus hadapi Mom yang galaknya minta ampun."


"Aku bantu kamu putar jalan belakang. Nanti, pura-pura lewat depan. Terus, aku tinggal bilang. Lily sudah jalan duluan."


"Oke." Balasnya Lexi dan ia sudah tampak rapi.


Pagi-pagi sekali, mereka sudah bangun dan langsung mandi. Takut kalau sampai ketahuan penjaga asrama lagi. Kemarin pagi sudah bikin onar, karena Lily tidak ada di atas kasurnya.


Violla melihat situasi sekitar lorong, tampak sepi. Karena jam segini, yang lain baru bangun tidur dan mandi. Tidak ada yang keluar kamar mereka masing-masing.


"Ayo, keluar." Ucapnya Violla pelan.


"Oke." Lexi mengikuti langkah Violla dan berjalan dengan pelan-pelan.


Harus menuruni tangga putar tempat laundry, seterika baju dan jemuran.


"Pelan-pelan Violla."


"Ih, ini sempit banget."


"Iya, harusnya kamu nggak usah ikutan turun dong."

__ADS_1


"Ini tangga putar, ikut-ikutan body shaming." Keluhnya Violla sewot.


Sampai turun tangga, mereka harus lewat pintu kecil dan nanti menerobos halaman belakang. Semalam, Violla juga sampai kegencet tangga putar.


Lexi tengah keluar, melalui pintu kecil "Violla. Kamu harus berhati-hati."


"Oke. Kamu juga ya."


Violla lantas mengunci pintu itu dan segera menaiki tangga putar.


"Semoga Lily cepat pulang kemari." Batinnya Violla yang sudah berharap. Kalau sampai nanti di kampus, Lily tidak kembali. Violla harus segera melapor ke Mamanya Lily.


Lily dan Troy, tiba di sebuah kedai makanan khas Shindong.


"Om Bule suka makan apa?"


"Burger." Jawabnya Troy begitu jelas.


"Owh, aku tahu tempat burger yang enak. Nanti, pulang kuliah. Aku beliin burger buat Om Bule."


"Tidak perlu repot-repot. Ini, aku sudah pesan burgernya."


Ternyata dari tadi sibuk dengan ponsel, karena memesan burger kesukaannya.


Sang asisten juga sudah menunjukkan oultet makanan restoran mewah yang cocok di lidah Bosnya ini.


"Om Bule, aku makan duluan ya." Ucapnya Lily terdengar manis.


"Iya. Silakan makan buburnya." Balasnya Troy dan jadi tersenyum manis.


Tempat makan ini, terbilang sederhana. Tidak banyak meja kursi di tempat ini. Hanya beberapa kursi, itupun sudah dipenuhi para pengunjungnya.


Troy, juga terlihat berbeda, diantara para pengunjung kedai ini. Sampai menjadi pusat perhatian, orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Om Bule. Nanti, bisa pulang sendiri?"


"Memangnya, kamu mau kemana lagi?"


"Aku harus balik ke asrama dulu. Terus, aku ke kampus."


"Aku ingin menemani kamu saja."


"Jangan! Nanti, aku bisa dimarahin penjaga asrama."


Troy mengerti maksudnya Lily. Ia berkata "Oke. Aku akan menjemput kamu nanti. Selesai jam kuliah."


"Sini ponselnya." Lily meraih ponsel yang di genggam Troy.


Lily memotret dirinya bersama Troy dengan manis. Lantas, memasukan nomor ponsel Lily dengan nama calon istri, dalam bahasa asing.


"Om Bule, itu. Pesananmu sudah datang."


"Atas nama, Troy."


Lily mengangkat tangannya dan tersenyum "Saya yang pesan burgernya."


"Ini pesanan anda. Sudah dibayar."


"Terima kasih."


Troy, jadi mengerutkan dahi.


Lily berkata "Om Bule kaku amat sih Om. Kasih aja namanya, Om Bule. Jangan Troy, nanti malahan Om Bule jadi terkenal loh."


"Baik. Aku akan merubah profilku di aplikasi."


"Om Bule cuma punya aku." Lily yang tiba-tiba jadi sok manja, ia merangkul bahu Troy, dan menyandarkan dagunya ke pundak Troy.


"Iya. Aku calon suami kamu."


"Oke. Om Bule makan burgernya. Aku mau cuci tangan dulu."


Barusan teman kuliahnya Lily ada yang datang ke kedai ini. Lily jadi sengaja memamerkan kemesraannya.


"Bukannya itu, si Lily."


"Eh, apa benar gosipnya? Dia punya calon suami?"


"Sepertinya memang begitu."


"Aneh. Sangat aneh. Perasaan, kemarin Lily pakai baju itu. Terus, pagi ini sama begitu persis. Sepertinya, dia tidak pulang ke asrama."


"Hei, baju dia memang begitu terus."


"Tapi, kemarin ya itu persis. Roknya itu, aku hafal."


"Sudahlah, kita makan saja. Aku ada kelas pagi ini."


Mereka, lantas memesan makanan dan duduk tidak jauh dari Troy.


Hanya, meja itu yang kosong.

__ADS_1


Lily kembali duduk, ia berkata "Om Bule. Ternyata hari ini, aku free. Nggak ada kuliah.


Troy berkata "Ayo, kita berkencan."


__ADS_2