
Inilah aku
Bodoh
Tidak bisa melawan
Dan hanya bisa menangis.
Aku dulu tidak pernah merasakan hal ini, aku dulu tidak pernah merasa kesakitan seperti ini.
Sakit tapi tak berdarah.
Sakit saat orang tuaku melihatnya hanya diam tak bisa menegur Jenny.
Mata cantiknya sudah berkaca-kaca. Tangan itu memegang pipi yang memerah karena tamparan.
Sakit, rasanya pedih, sampai sekarang masih terasa panas. Tapi, perasaanku lebih sakit.
Aku hanyalah Lovie,
Aku yang kecewa akan keadaan,
Aku tidak menyukai keluarga baru ini.
Hidup yang aku jalani,
Mungkin akan terus begini,
Karena aku sendiri menganggap keluarga baru ini, hanyalah masalah bagiku.
"Kalian jahat padaku!" Batin Lovie yang sudah marah.
Papi Benny mendekat dan memeluk putrinya.
Mama Jessika mendekati Jenny, dengan emosi berkata "Jenny masuk ke kamar kamu."
"Mama, dia yang salah. Aku sudah dituduh." Belum sampai dia berkata panjang lebar, Mamanya menarik keras tangannya dan membawa masuk ke kamarnya.
Lovie yang bergemuruh, tapi tangannya tak sampai menampar balik Jenny.
"Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Papi, aku ingin sendiri." Jawabnya dan berlalu pergi dengan berlari ke kamarnya.
Jerry melihat itu, "Ada apa dengan mereka semua? Hanya karena Damian, mereka jadi ribut."
Lovie melewati Jerry dengan kasar menyenggol bahunya.
Jerry jadi melihat dekat wajah itu, Lovie sudah menangis dan tamparan itu jadi membekas kemerahan di pipi Lovie.
"Kak Lovie pasti kesakitan."
Ibunya Damian jadi mendengar ucapan Lovie, mendekati Papi Benny. Kemudian bertanya "Benny, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dikatakan Lovie? Apa Damian di hotel bersama anak tirimu? Lalu, Damian mau memperkosa Lovie? Tolong jelaskan sama aku."
"Sebaiknya Kak Monica pulang saja. Pasti Kak Bram sudah kembali dari kantor. Silakan Kak Monica tanya sendiri sama Kak Bram." Jawaban Papi Benny yang masih menggantung.
Wajah Ibunya Damian semakin lesu, rasanya sudah tiada harapan baik untuk dirinya, agar putranya bisa segera dibebaskan.
"Benny." Panggilnya dan air mata itu sudah tampak luruh begitu saja.
"Kak Monica, apa yang dikatakan Lovie memang benar. Saya dan Kak Bram, beberapa hari lalu menjemput Jenny dan Damian di kantor polisi. Beberapa anak muda, bermalam di hotel dan akhirnya diperiksa oleh polisi."
"Jadi, Damian?"
"Kalau soal Damian, saya tidak tahu pastinya. Silakan, Kak Monica tanya sendiri kepada Damian, apa yang sudah dia lakukan dengan Jenny di kamar hotel DeNuca."
"Benny, aku memang Ibu yang tidak tahu apa-apa. terima kasih, maaf aku sudah mengganggu waktumu. Aku permisi."
Papi Benny, hatinya semakin berdecak kesal. Sosok Papi yang ini memang tidak bisa meluap-luap, namun sekalinya marah akan menjadi tidak terkendali.
"Benny, tenangkan putrimu."
"Ibu. Aku pusing."
Papi Benny juga merasa percuma kalau Lovie sudah marah. Karena sifat mereka sama, kalau dikejar malah jadi bomerang lagi.
Namun, Papi Benny tetap mengetuk pintu kamar putrinya.
"Lovie, sayang. Buka pintunya sayang."
__ADS_1
Tok tok tok
"Nak, tolong buka pintunya."
Papi Benny masih berusaha, agar Lovie segera membuka pintu kamarnya.
Setelah beberapa saat, dan Lovie sudah mengusap air matanya. Ia beranjak ke pintu dan membukanya.
"Papi."
Wajah itu, sudah terlihat sendu. Air mata Lovie masih terus membasahi kedua pipinya.
Papi Benny masuk ke kamar itu dan memeluk putri kandungnya.
"Maafin Papi."
"Kenapa Papi tidak menegurnya? Kenapa Papi tidak memarahinya?"
Lovie dalam dekapan Papi Benny, tampak protes.
Papi Benny menjawab "Dia bukan anak Papi. Papi tidak bisa menegurnya."
"Papi, jahat!"
"Jenny memang suadara tiri kamu. Tapi Papi tidak sampai hati. Papi berusaha agar adil. Jessika tidak berani melerai kamu. Papi juga tidak sanggup untuk menegurnya. Karena dia bukan anaknya Papi. Anaknya Papi cuma kamu."
Lovie dengan isak tangisnya, ia berkata "Papi tidak sayang aku."
"Papi sangat menyayangi kamu. Apapun yang kamu minta, Papi selalu menuruti kenginanmu."
Tangan Papi seraya mengelus rambut putrinya dan Lovie perlahan kedua tangan Lovie melingkari perut Papinya.
"Aku sebal sama Papi. Papi selalu diam dan tidak mau membela aku."
"Sayang, kamu benar. Papi yang salah. Papi minta maaf."
Papi Benny menatap wajah itu. Lovie yang terdiam, tetapi air matanya tetap mengalir lembut.
"Aku merindukan Mami." Ucapnya Lovie.
"Papi juga merindukan Mami kamu. Tapi, kita harus kuat untuk masa depan kamu. Papi akan terus berjuang untuk kamu."
"Papi pikir, dengan adanya saudara dan kehadiran seorang Ibu. Kamu akan bisa bahagia lagi seperti dulu."
"Papi lebih mentingin omongan Nenek dari pada aku. Aku kecewa sama Papi. Papi juga tidak meminta pendapat aku. Aku benci sama Papi, yang menganggap aku masih anak-anak." Lovie kembali menangis tersedu-sedu dan berlari ke tempat tidurnya.
Lovie jadi memeluk guling sampai menutupi wajahnya. Air matanya semakin mengalir deras.
Papi Benny berjalan mendekati putrinya dan duduk di sisi kanannya, mengusap lembut kepala putrinya ini.
"Papi harus bagaimana? Apa Papi harus menceraikan ibu tirimu?"
Lovie hanya terdiam dan tak berkata apapun. Yang ada, tangisan tanpa suara.
Hatinya semakin sakit, bahkan tidak tahu caranya, untuk menyembuhkan luka hatinya.
"Kalau itu yang kamu mau. Papi akan segera menceraikannya." Papi Benny juga telah berlinang air mata.
Papi, mencium kepala putrinya dengan segenap perasaan cinta yang ada untuknya.
"Papi mau menceraikan Mama? Kenapa aku jadi sakit hati saat mendengarnya?" Batin Jerry dan ia berdiri di sisi pintu kamar.
Pintu kamar itu, masih terbuka dan Papi Benny menoleh ke arah Jerry yang masih menatapnya.
"Jerry."
Jarry berlari pergi dan segera mengadu kepada sang Mama.
Papi Benny mendesah kesal dalam batinnya. Ini kesalahannya, yang selalu menurut akan ucapan sang Ibu.
Papi Benny mengelus rambut Lovie dan kembali "Sayang, jangan menangis lagi. Papi jadi semakin merasa bersalah. Cukup Papi saja yang kecewa dengan diri Papi sendiri. Kamu harus bahagia. Kamu bisa memulai hal baru yang menyenangkan. Papi tidak akan melarang kamu."
Dalam isak tangisnya itu, Lovie-pun jadi tertidur dan Papi Benny masih mengelus kepalanya.
"Tidurlah yang nyenyak. Papi sayang kamu."
Papi Benny dalam hatinya berkata "Raisa, aku minta maaf. Aku tidak bisa menjaga Lovie. Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri."
Raisa, Mami kandungnya Lovie dan wajahnya Lovie memang duplikat dari Mamanya. Hanya saja, Raisa berparas sedikit gemuk dan rambutnya selalu pendek sebahu. Mata itu, sangat mirip dan senyuman Lovie juga sama miripnya dengan Mami kandungnya.
__ADS_1
"Jerry, mungkin kamu salah mendengar."
"Mama, aku nggak salah dengar. Aku juga melihat dengan kedua mataku ini."
"Papi Benny begitu, karena ingin menenangkan Lovie."
Jerry jadi terdiam dan tidak lagi berkata ini itu. Mama Jessika sudah memarahi putrinya dan saat ini berjalan ke kamar Ibu mertuanya. Tampak membawakan obat dan segera memberikan kepada sang Nenek.
"Ibu, harus istirahat yang cukup."
"Iya, aku memang mau istirahat."
"Ini obatnya Ibu."
Mama Jenny memberikan dua tablet berbentuk bulat kecil. Lalu, ada satu bubuk vitamin yang sudah terseduh dengan air hangat.
Sang Nenek, sudah meminumnya sampai habis.
"Kamu, urus putrimu dengan baik. Jangan pakai cara kekerasan. Anak jaman sekarang, kalau terlalu dikekang dia bakalan nekat, kalau tidak dikekang, dia juga pandai membodohi orang tuanya."
"Ibu, saya minta maaf atas kelancangan Jenny. Lovie pasti kesakitan. Papinya juga akan merasa tidak enak hati di depan Lovie. Tolong, Ibu bujuk Lovie."
"Jessika, kamu tenang saja. Benny bisa mengurus putrinya sendiri."
Mama Jessika tersenyum. Kemudian mendekati remot AC dan mengatur suhu ruangan kamar.
"Jessika, matikan lampunya. Aku ingin segera tidur."
"Baik Ibu."
Sang Nenek juga tidak nafsu makan karena masalah ini. Hanya memakan sepotong kue lapis rendah gula. Lalu pergi ke kamarnya.
Sang menantu berjalan pergi dan menoleh ke wajah mertuanya.
"Ibu, saya matikan lampunya."
"Iya, cepat matikan."
Lampu kamar-pun sudah padam. Mama Jessika keluar kamar dan menutup rapat pintu kamar mertuanya.
"Kenapa respon Ibu biasa saja? Kenapa tidak marah dengan Jenny? Kenapa tidak membela cucu kandungnya?" Batinnya Mama Jessika malah bingung.
"Kalian mau ribut besar silakan. Aku tidak peduli. Yang penting, ada yang merawat aku dihari tuaku ini." Gumamnya, sang Nenek.
Sang Ibu tiri diam-diam jadi melihat Lovie, dari depan pintu kamarnya.
"Benny sangat menyayanginya. Aku tidak perlu turun tangan, untuk menjadi lebih dekat. Dia juga tidak mau menerima aku."
Papi beranjak pergi dari tempat tidur Lovie. Saat keluar kamar. Bertemu Mama Jessika di depan pintu.
"Apa Lovie marah padaku?"
"Tidak, dia hanya kecewa padaku." Jawabnya Papi Benny, tangannya bergerak menutup rapat pintu.
Ibu tiri masih menatap ke Lovie, sampai pintu kamar itu tertutup rapat.
"Benny, aku minta maaf. Putriku memang sering berbuat ulah. Aku berusaha untuk memperhatikan Lovie, apa nantinya dia mau menerima aku?"
Tatapan mata itu, selalu tenang di hadapan sang suami.
"Untuk saat ini, biarkan Lovie sendiri. Kalau kamu mendekatinya, dia malah semakin menjauh dan tidak akan menyukai kamu." Balasan sang suami.
"Baik kalau begitu, aku akan mencoba memahaminya." Mama Jessika lanjut berkata dengan tenang, "Benny, terima kasih, sudah mau memperhatikan Jenny. Soal kejadian di kantor polisi, aku harap kamu tidak kecewa dan tidak malu dengan keadaan putriku."
Suaminya dengan tenang membalas "Aku hanya bertindak sebagai sebagai Bapak. Yang melindungi anak-anaknya. Meskipun, aku belum bisa menganggap putra putrimu seperti anak kandungku. Aku akan tetap bertanggung jawab, atas semua tindakan mereka berdua."
Mama Jessika tersenyum kaku, "Terima kasih."
Papi Benny berjalan pergi dan Mama Jessika mengikuti langkah kaki suaminya.
Jerry melihat dari kejauhan, "Mungkin, hanya perasaanku saja. Papi Benny orangnya sangat baik."
Mengingat akan pernikahan Mamanya yang baru seumur jagung muda. Jerry hanya berusaha melindungi sang Mama.
πΌπΌπΌ
Saat pagi kembali dan Lovie berangkat sekolah seorang diri.
"Lovie."
__ADS_1