
Pagi dengan suasana berbeda, Lovie yang berangkat ke sekolah ditemani sang kekasih hati yang belum resmi.
Lalu, Talita bersama Nyonya Nancy. Sekalian mengantar dokumen yang baru, untuk merubah semua biodata Talita di data sekolah Sheen.
Saat tiba di halaman sekolah, Jenny melihat Talita yang berjalan ke gedung sekolah. "Mama, itu Talita."
"Kamu tenang saja, biar Mama yang menghadapinya." Mama Jenny juga bersiap untuk membalas Talita.
Nyonya Nancy sudah memasuki ruang sekretariat sekolah. Sudah didampingi Bu Diana. Karena semuanya, harus sesuai prosedur sekolah Sheen.
"Diana, kalau diperlukan. Aku akan hubungi pengacaraku. Biar dia kesini."
"Kak Nancy, aku percaya sama Kak Nancy. Aku hanya ingin melihat identitas barunya Talita."
"Putramu nanti malam mau tunangan, kenapa kamu masih sibuk di sekolah?"
"Aku tidak tahu menahu. Aku juga malas. Anggap saja, Rey bukan lagi putraku. Tapi dia jadi putranya Nyonya Franda Aledraz."
Nyonya Nancy yang mengulum senyum, tampak anggun dan beliau berkata "Rey, tetap darah dagingmu. Kenapa kamu bisa mengalah begitu saja. Kalau aku jadi kamu, aku akan datang sebagai Ibu yang melahirkan putraku."
Bu Diana berkata "Lihat nanti gimana Kak. Rey sendiri juga tidak mau lagi mendengarkan ucapanku."
"Kamu selalu bisa sabar. Aku tidak bisa seperti kamu. Untungnya saja, suamiku tidak aneh-aneh."
Nyonya Nancy sudah seperti kompor meleduk.
Dulunya, beliau ini teman satu kelas dengan Franda Aledraz. Perbedaan status keluarga dan juga kepintarannya. Nyonya Nancy memang sangat minus. Tetapi, saat bekerja di pabrik, jaman dulu sebagai karyawan di pabrik snack, eh putra bosnya tidak sengaja bertemu dan sampai kepincut karyawan yang bernama Nancy, sosok yang memang apa adanya, tidak banyak gaya dan selalu ceplas ceplos kalau berkata.
Meski tidak berpendidikan tinggi, beliau bisa membaca jalannya bisnis suaminya. Sampai sekarang, sebenarnya penentu bisnis suaminya adalah Nyonya Nancy.
Bahkan, uang bulanan selalu ditabung sampai bisa membeli hotel lama dan merenovasinya menjadi hotel DeNuca.
"Kak Nancy, pasti sangat mengenal baik Kak Franda."
"Diana, dia dulu memang temanku sampai sekarang, ngakunya sahabatku. Tapi, ya begitulah. Aku dan dia tidak begitu dekat. Tidak seperti kamu. Karena dari dulu. Aku selalu menganggap kamu, seperti adikku."
"Iya Kak Nancy, Kakak dan adikku malah, sampai berebut kedudukan."
"Kalau Rey di Hanz, bukannya itu akan lebih baik dari pada di Sheen, nantinya bisa memimpin Hanz Group."
"Kak Nancy, aku sekarang tidak lagi peduli. Yang penting, aku bisa hidup sama Renata. Kalau soal Renata, aku nggak mau ada perjodohan. Dia juga sudah bahagia dengan pacar bulenya. Setelah aku pensiun, aku ingin pindah kesana."
Laki-laki, berusia 40 tahun, yang bekerja di kantor sekretariat Sheen, sudah tiba.
Nyonya Nancy menyampaikan niatnya datang kemari. Beliau mengenalkan dirinya sebagai Mommy Talita.
Di ruang guru wali kelas, Mama Jessika sudah mengadukan tindakan Talita yang menampar dan mengancam Jenny.
Jadinya, Talita sudah dipanggil ke ruang guru itu.
Talita yang sudah menjadi tuan putri. Dia jadi diam saja, saat gurunya Jenny dan Mama Jessika menegurnya. Talita, sama sekali, tidak melawan teguran itu.
"Bu guru pasti sangat mengenal Jenny. Dia anak yang pendiam dan tidak banyak tingkahnya. Tapi, Talita selalu mencari masalah dengan Jenny."
Talita hanya diam dan duduk manis di sebuah sofa.
"Talita, harusnya kamu tidak boleh melakukan hal ini. Kamu memang murid di kelas unggulan dan kamu juga selalu mendapatkan beasiswa. Tapi, tindakan kamu ini sudah melanggar aturan sekolah."
"Nah ini Bu guru. Ada rekaman kejadiannya."
Mama Jessika, ingin Talita dikeluarkan dari Sekolah.
__ADS_1
"Nyonya Jessika, anda harus tenang. Saya akan bicarakan ini dengan wali kelas Talita dan juga kepala sekolah."
"Bu guru, Jenny jadi ketakutan setiap ke sekolah."
"Saya mengerti. Nanti selanjutnya, saya akan datangkan saksi."
"Di video ini, ada beberapa murid yang melihat, serta wali murid sepertinya juga melihat kejadiannya. Itu juga keluarga saya. Yang mengantar Jenny." Mama Jessika sudah mengaku-ngaku kalau Richard keluarganya.
Lovie dan Ron, masih menunggu Talita di depan ruang itu.
Nyonya Nancy dan Bu Diana, sudah keluar dari ruang sekretariat.
"Ibu. Bu Diana."
"Lovie kenapa kamu ada disini? Sudah jam belajar." Ucapnya Bu Diana dan menoleh ke Ron yang bersedekap dan bersandar dinding ruang itu.
"Kamu juga Ron. Ngapain kamu disini? Sana, belajar yang rajin."
"Bu Diana, begini Bu Diana. Talita dipanggil Bu Carmel."
"Ada apa dengan Talita, sampai dipanggil Bu Carmel?"
"Soal yang pagi itu Bu Diana. Talita nampar Jenny, itu semua karena Lovie. Malamnya di rumah, Jenny nampar saya. Terus pagi-pagi, Talita marah sama Jenny, dia nampar Jenny. Ada videonya. Ada Kak Richi dan Kak Rey juga ada."
"Owh, begitu ceritanya. Kalian masuk ke kelas saja. Biarkan Bu gurumu ini yang menangani masalah Talita."
"Baik Bu Diana. Terima kasih." Lovie jadi tersenyum, dan Ron juga merasa lega.
Lovie mendekati Nyonya Nancy, "Ibu, saya mau ke kelas."
"Iya sayang, kamu harus belajar yang rajin." Bu Nancy tersenyum.
Lovie dan Ron, berjalan pergi ke kelas mereka.
"Semoga, harapan Kak Nancy segera terwujud."
"Iya, aku biarkan Lovie dan Talita sekolah dulu."
"Kak Nancy tenang saja. Aku akan menjaga mereka selama di sekolah. Wajar juga, anak remaja sering bertingkah aneh-aneh."
"Diana. Aku bisa percayakan mereka sama kamu. Aku juga masih ada urusan lain. Aku pergi dulu."
Kemudian, Bu Diana mengetuk pintu ruangan guru wali kelas Jenny, segera Bu Carmel membuka pintunya.
"Bu Diana, kebetulan sekali anda datang."
"Saya memang harus datang, untuk murid kelas saya yang katanya sudah membuat ulah."
"Bu Diana. Silakan masuk."
Mama Jessika yang dari tadi tampak sewot, sudah melihat wali kelas Talita.
Talita tersenyum tipis, saat melihat guru kesayangannya datang.
"Saya Bu Diana, saya wali kelas siswa, dari kelas unggulan."
"Saya Jessika, Mamanya Jenny."
Setelah saling bersalaman dan memperkenalkan diri.
Bu Diana, memilih duduk di sebelah Talita. Menatap wajah Mama Jessika dengan tenang. Tampak senyuman tipis yang menghiasi wajah cantiknya.
__ADS_1
Mama Jessika tersenyum, beliau berkata "Bu guru Diana. Anak saya, sudah dibully oleh Talita. Sampai anak saya jadi takut untuk ke sekolah."
"Nyonya Jessika, saya mengerti. Masalah ini sebenarnya sudah saya usut dari pagi kejadian waktu itu. Namun, kemarin ada jadwal pemeriksaan bulanan. Saya jadi lupa mengurusnya."
"Jadi bagaimana Bu guru, apa Talita akan diberi hukuman?" Mama Jessika memasang mimik wajah yang sendu. Seolah putrinya benar-benar sudah tertekan karena ulah Talita.
Bu Diana berkata "Kalau hukuman. Pasti akan saya berikan hukuman. Karena, kejadiannya di lingkungan sekolah. Tapi, untuk hal lainnya. Sepertinya, Nyonya Jessika juga harus menasehati Jenny, agar bersikap baik dengan saudara tirinya. Bukannya begitu, Nyonya Jessika?"
"Bu Diana, soal masalah keluarga saya. Saya selalu menasehati Jenny. Agar selalu mengalah dengan Lovie."
"Saya tidak menyebutkan nama putri tiri anda, Nyonya Jessika."
Mama Jessika jadi tersenyum dan berkata "Bu Diana, saya sudah menjadi Ibunya Lovie. Saya tahu, Bu Diana sudah memberikan jam tambahan matematika untuk Lovie."
"Nyonya Jessika. Sepertinya, anda sangat memperhatikan Lovie."
"Iya Bu Diana. Saya juga sangat memperhatikan Lovie."
"Apa Nyonya Jessika tahu, kalau Lovie sudah tinggal bersama keluarga Nuca?"
Mama Jessika terdiam sesaat. Guru Jenny yang duduk di sebelah beliau hanya mendengarkan obrolan ini.
"Iya Bu Diana. Saya sangat mengetahui, semua tentang keinginan Lovie."
Ekspresi wajah itu, sudah mulai terpancing.
Bu Diana berkata "Saya turut senang mendengar kabar, kalau putra keluarga Nuca akan segera meminang Lovie. Kebetulan, pemilik sekolah ini, dua tahun yang lalu berpindah di tangan keluarga Nuca. Saya jadi senang, murid saya yang selalu dianggap kurang pintar. Namun, sudah menjadi tonggak untuk masa depan Sheen. Bahkan, saya baru saja menandatangi soal dokumen baru siswa yang bernama, Talita Re Nuca."
"Talita Re Nuca?" Batinnya Mama Jessika, yang tampak bingung.
Mama Jessika tersenyum, beliau berkata "Bu guru Diana, apa maksudnya dengan Talita Re Nuca? Saya tidak mengerti dengan hal ini."
"Talita, sudah di adobsi oleh keluarga Nuca. Bahkan, kemarin. Papinya Lovie yang menyetujui dan menjadi saksi di pengadilan. Apa Nyonya Jessika, tidak mengetahui hal ini?"
Mama Jessika terdiam dan sudah meremas tas jinjing, yang ada di pangkuannya saat ini.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa dipermalukan. Papi tidak cerita apapun."
"Bu Diana, soal itu memang saya sempat mendengarnya. Saya pikir, hanya gurauan saja. Saya juga, tidak terlalu ikut campur mengenai masalah di luar masalah keluarga."
"Nyonya Jessika tidak perlu cemas. Saya akan segera memberi hukuman kepada Talita dan hukuman itu, juga menurut aturan dari sekolah."
"Bu Diana, saya percayakan kepada Bu Diana. Yang penting, anak saya tidak takut ke sekolah."
"Nyonya Jessika. Saya akan menegur siswa yang memang suka berbuat ulah. Baik itu Talita, Lovie maupun siswa yang lainnya."
Mama Jessika tersenyum, beliau berkata "Bu guru Diana, sepertinya saya sudah menganggu waktu anda dan juga merepotkan Bu guru Carmel. Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Nyonya Jessika, saya akan mengantar anda."
"Owh, tidak perlu repot-repot Bu Diana. Saya bisa sendiri. Saya hafal lingkungan sekolah ini."
"Baik kalau begitu. Silakan."
Mama Jessika keluar dan ia merasa kesal sekali. Ternyata sudah sejauh ini, suaminya tidak memberi informasi apapun.
"Benny keterlaluan. Pantas saja, aku kasih tahu info soal Lovie dia nggak percaya."
Mama Jessika yang mendesis sendiri dan berjalan keluar gedung ini.
"Owh aku ngerti. Lovie pandai bersembunyi. Dia tahu, kalau aku mengikutinya, terus dia pergi ke sembarang rumah yang terlihat jelek."
__ADS_1
Meski begitu, beliau masih ingin menjauhkan sumber masalahnya.
"Apa aku, harus memindahkan Jenny dan Jerry?"