Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Ajaran Sahabat


__ADS_3

Suasana pagi yang menegangkan, Lovie yang berada di kamar masih menata pakaiannya, ke dalam tas ranselnya.


Richard telah datang mendekat, ia berkata "Aku akan mengembalikan uangmu dan mengantar kamu pulang. Kamu juga harus sekolah. Pasti temanmu sudah merindukan kamu."


Lovie hanya diam tak berkata apapun, kedua tangannya sibuk melipat kaos dan langsung memasukan ke dalam tas ransel sekolahnya.


Richard merogoh ponsel dari saku jas, yang ia kenakan. Jemarinya kanannya bergerak cepat melihat ke rekening pribadinya.


Tett tot


"Di blokir??"


Richard kembali memasuki aplikasi bank dan melihat ke nomor rekening miliknya.


Tik tuk tuk tik tuk


Berulang kali, sampai tujuh kali dia melihatnya dan ternyata nomor rekening itu sudah di blokir.


"Aaa. Siallan Doddit, pasti dia berpihak sama Mommy."


"Aku harus gimana?"


"Cuma itu satu-satunya harapanku."


Meski hidup dalam gelimang harta, Richard tak pandai menyimpan uang. Itupun, rekening baru dibuatkan dua bulan yang lalu, oleh asistennya.


Semua uangnya yang membawa tetap Mommy. Setiap mau berbelanja dan bersenang-senang, Doddit yang harus meminta uangnya itu kepada Mommy.


"Siall, tahu begini aku kawin saja. Mommy beneran tega sama anaknya sendiri. Katanya putra kesayangan, tapi hidupku seperti ditangan ibu tiri." Batinnya terus saja menggerutu, sampai Lovie sudah menatapnya.


Lovie mendekat, ia berkata "Aku tidak akan meminta uang itu. Aku sudah berniat dari awal. Aku tidak masalah, mau hamil dengan siapapun. Semoga Kak Richi bertemu dengan wanita yang baik. Kalau memang Kak Richi masih ingin balikan sama Mantan. Aku yakin, Ibunya Kak Richi pasti mau menerima dia kembali, asalkan Kak Richi bahagia."


Degh


Denyut jantung Richard seketika jadi meningkat, saat saling memandang.


"Kecil-kecil sudah pintar menasehati. Apa Mommy cerita tentang Jihan kepada Lovie. Kenapa, dia bisa bicara begitu?"


"Kak Richi, aku pamit dulu."


Lovie tampak mencium tangan kanannya. Richard hanya mengangguk pelan dan terus saja menatapnya.


"Dia sopan sama aku. Tidak seperti gadis yang lain."


"Aku nggak boleh goyah. Perempuan selalu punya trik sendiri untuk mengelabuhi pria."


"Lovie."


"Iya Kak." Lovie sudah mendekati pintu, ia jadi membalikan badan dan sudah menatap Richard.


Richard datang mendekat, ia berkata "Kamu gadis yang baik. Kamu harus pulang ke rumah. Katakan sama Papi kamu, kalau kamu tidak hamil. Pasti, Papi kamu akan menjaga kamu."


"Tidak, Kak Richi. Aku tidak ingin memasuki kehidupan Papi bersama keluarga barunya. Aku lebih suka begini, aku tidak ingin pulang ke rumah. Papi sudah mengajak orang lain memasuki rumahku, tanpa meminta pendapatku. Untuk apa aku kembali dan meminta perlindungan darinya. Berbeda dengan Kak Richi. Ibu dan Bapak sudah berusia. Mereka hanya menginginkan cucu. Aku sudah berjanji kepada Ibu Nancy, untuk memberikan cucu padanya. Aku juga tidak menginginkan pernikahan. Bagiku, cinta itu semu. Baru tiga tahun pergi, Papiku sudah menikah lagi. Padahal, Mami sama Papi, dulu saling mencintai. Aku tidak keberatan semisal Papi menikah lagi, tapi saat ini, tidak seperti harapanku." Balasnya Lovie, dengan tatapan menyentuh perasaan Richard.


Richard bertanya, "Kamu berjanji sama Ibuku?"


"Iya." Jawab Lovie percaya diri.


Ceklik


Lovie mengunci pintu kamarnya. Kedua orang tua Richard, dari tadi sudah ada di balik pintu kamarnya dan menguping pembicaraan mereka berdua.


Mommy, mendekati suaminya dan berbisik "Daddy, ayo kita pergi."

__ADS_1


"Tunggu sebentar. Daddy masih penasaran."


"Penasaran apa lagi?"


"Itu, si Lovie. Apa, kamu yang mengajarinya bicara begitu?"


"Tidak, aku hanya meminta maaf dan mengatakan niatku agar aku punya cucu."


Nyonya Nancy menarik lengan tangan suaminya. Mereka berdua pergi dari rumah ini. Semua pintu keluar di kunci oleh Mommy Nancy.


"Rencanaku harus berhasil." Batin Mommy.


"Mommy, kita tidak boleh sejahat ini. Gadis itu masih kecil, gimana kalau Richard sampai memukulnya."


"Daddy nggak perlu cemas. Lovie sendiri juga ingin hamil. Mommy yakin, Richard yang akan kalah."


Mereka berjalan keluar dan pintu pagar juga di gembok.


"Selamat bersenang-senang, Mommy tidak akan mengganggu kalian berdua."


Sang suami menoleh ke wajah istrinya yang tersenyum, beliau jadi turut bahagia.


Yang di dalam kamar, Lovie sudah menjatuhan tasnya dan segera melepas sweater rajut warna peach, yang membalut tubuh atasnya.


Terpampang tanktop putih bersih dan dua gundukan yang ada di dalam, terlihat menonjol.


Richard hanya menatapnya dan tak bergerak sedikitpun.


Lovie berjalan mendekat, dan tanpa rasa gugup sedikitpun, ia bertanya "Apa Kak Richi takut padaku?"


"Harusnya aku yang bilang begitu gadis kecil. Apa kamu tidak takut sama pria normal seperti aku?!!" Suara Richard yang terdengar menggertaknya.


Padahal, ucapannya itu terdengar kasar dan membentaknya. Namun, Lovie malah jadi senang. Tidak merasa terluka dan ia malah semakin mendekat.


Lovie dengan senyuman yang nakal, tangannya bergerak, melepas rok pendeknya.


"Lovie, kamu jangan main-main sama aku. Kamu bisa terluka."


"Aku tahu, Kak Richi sudah dewasa dan suka bermain dengan para gadis sexy. Soal itu, aku tidak takut." Ucapnya dengan bibir tersenyum.


Richard melonggarkan dasinya yang sudah mencekik leher. Kenapa rasa dalam dadanya seketika bergitu sesak. Detak jantungnya memacu cepat.


Hawa panas semakin merasuk, tanpa sadar leher jenjangnya sudah berkeringat.


Atasan tanktop dengan bawahan celana short putih yang melekat paha.


Meski tidak sesexy wanita yang pernah dia belai. Namun, Lovie punya daya pikat tersendiri.


"Aaa.." Belum apa-apa, sudah mendessah.


Richard menjauhkan wajahnya dan membuang ke sisi kiri. Kedua tangan Lovie bergerak melepaskan dasi dan membuka jas Richard.


"Lovie, kamu mau bermain-main sama aku. Baiklah, kamu harus tanggung sendiri akibatnya."


Semalam saja, baru digigit sedikit bibirnya sudah kesakitan.


Gimana kalau digigitin nakal dan sampai meninggalkan jejak pada tubuhnya.


Apa yang akan Lovie rasakan, pasti menangis lagi dan menjerit-jerit.


Setelah dasi dan jas itu terlempar ke sembarang arah. Lovie segera membuka kancing kemeja putih.


Aroma parfum itu kembali memikat Lovie. Richard melirikan matanya dan tetap membuang muka ke kiri. Tetapi, matanya juga jelalatan ke arah tanktop.

__ADS_1


Saat ini, Richard seolah korban pelecehhan, dari seorang gadis belia, yang bernama Lovie.


"Eeeugh..." Dessahan lembut dari suara Lovie, saat meraba dada Richard.


Baru mendengar suara itu, Richard sudah terasa tegang.


Apalagi, melihat Lovie dengan bibir yang sudah terngaga, saat Lovie terpana akan batako menawan itu.


Sang pria dewasa ini sedang mengamati rahang pipi yang terlihat lebih menarik, perlahan melihat ke leher yang putih bersih dan ingin segera menggigitnya seperti drakula yang kehausan.


"Aaagh, apa yang harus aku lalukan. Apa aku harus bertidak seperti pria pedofill yang tega memakan gadis kecil."


Meski usianya masih belia dan sangat muda. Tapi Richard juga sudah tergoda.


"Kenapa dia lebih menarik dari pada Netta, Jenny dan Salsa?!"


"Eeuugh." Saat terpejam, Richard malah mengeluarkan suara sensual dan Lovie jadi tersenyum.


"Emh, rupanya dia menikmati sentuhanku."


Hadeh, ia belum menikmati sentuhanmu Lovie. Dia hanya keasyikan dalam angan yang sudah menyetubuhi kamu. Richard tampaknya memang tergoda. Namun, pikirannya sudah jauh sampai terbang ke atas nirwana.


Lovie tersenyum, melihat Richard yang merem melek sendiri dan tangan Lovie bergerak ke bawah menurunkan resleting celana bahan Richard, yang masih rapi membungkus pusakanya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Richard, pusakanya sudah merasakan sentuhan.


"Aku cuma mengelus-elus burungmu." Jawabnya dan polos sekali wajah itu. Bak gadis yang tidak bersalah.


Gadis bodoh ini, ternyata menurut akan ajaran Talita. Sepertinya, Talita tidak hanya mengarinya belajar matematika. Tapi, jurus menaklukan pria dewasa.


Nah-lo,, saat ini Papi Benny bertemu dengan sahabatnya Lovie.


"Om Benny." Talita yang meringis tipis, saat melihat hawa kejam dari sorot mata Papinya Lovie.


"Kamu mau kemana?" Tanya Papi Benny yang melihat Talita yang menarik dua koper berukuran besar.


Papi Benny, juga memasang mata-mata di lingkungan rumah Talita. Karena, hanya Talita, teman yang dekat dengan putri kandungan itu.


Melihat Talita sudah kembali ke rumah, mata-mata Papi Benny secepatnya menghubungi Papi Benny.


"Om Benny, saya mau kerja. Saya mau jadi asisten di rumah majikan." Jawab Talita dan Rey juga mamasang mata. Malahan, Rey sendiri yang bergerak mengikuti gadis belia itu, dia juga tidak mau tertipu oleh gadis itu.


"Apa Pria itu kakasih Cantika?" Batin Rey.


Rey berada di dalam mobil, menatap kedua orang yang tampak berbicang akrab.


"Kerja? Kamu bekerja? Apa pekerjaan kamu sampai harus membawa koper?" Papi Benny sudah curiga, apalagi dapat info dari rekannya tentang sugar Daddy.


"Pembantu. Aku sebentar lagi lulus SMA, aku juga mau kuliah. Aku harus cari uang untuk biaya kuliah."


"Uang? Bukannya Lovie sudah memberi kamu uang, untuk biaya kuliahmu."


Talita jadi gigit jari, saat Papi Benny mengorek keuangannya. Sebenarnya, ini hanya untuk mengetahui keberadaan putri kandungnya.


"Talita, jawab Om. Apa yang kamu ajarkan sama Lovie?"


"Om Benny. Aku cuma ngajari Lovie belajar. Kemarin, aku sudah bilang sama Om." Kilahnya manis.


"Talita."


"Aku nggak tahu soal Lovie. Terakhir bertemu, ya malam itu. Om juga salah, menikah tanpa meminta pendapat sahabatku." Cerocosnya Talita.


Rey melajukan mobil dengan pelan.

__ADS_1


Set!


Rem mobilnya, terlalu baik.


__ADS_2