
Pagi yang indah dan masih di kota Shindong.
Sinar mentari, menerawang masuk ke tirai yang menutupi kaca. Perlahan, seseorang menekan remotnya.
Tirai jadi bergeser ke sisi kanan.
Cahaya menyilaukan mata cantiknya.
Hotel DeNuca menjadi saksi, saat gadis belia yang bernama Lily tengah tidur bersama pria.
Gadis belia, yang merasakan sakit kepala, dengan sekuat tenaga, ingin segera bangkit dari tidur lamanya.
"Aku tidak mau mati sebelum kawin." Celotehnya, saat matanya masih merem.
Memegang kepala yang masih nyeri. Seluruh badannya juga terasa berat. Ada rasa yang sangat menyakiti tubuhnya.
"Aaa, aku dimana?" Pandangan mata redup dan berusaha memperjelas penglihatannya.
"Owh. Aku di hotel." Lirihnya.
Meraba-raba di sekitarnya, sepi. Menarik kembali selimutnya.
Lily menggeliat manja dan berkata "Aku masih ingin tidur."
Tiba-tiba, terdengar deheman pria.
Ehem.
Menoleh, seperti gerakan slow motion.
Saat, Lily melihat sosok itu.
Wow.'
Lily terperanjat, rasanya susah untuk bernafas, seakan jantungnya tengah berhenti sesaat. Atau, mungkin saja waktu yang telah berhenti berputar.
60 detik dan saling menatap.
Auuh! Dada batakonya sangat menggiurkan.
Gadis belia ini, seketika lapar saat melihat dada sixpack ala pria tampan ini.
Pandangan matanya, sangat berbeda.
Beneran ngiler, tangan kanannya segera mungkin, mengusap liur yang merembes, dari sudut kanan bibir imutnya.
Ck' Eskpresinya Troy.
Gadis belia yang bernama Lily itu, jadi salah tingkah saat melihat pria tampan, yang hanya melilitkan handuk di pinggang sampai ke lutut.
Lily memakai kemeja Troy, ia membatin "Berarti, dia sudah berani menyentuh aku. Karena dia tampan, aku akan memakluminya."
Lily berkata "Aku, minta maaf."
Lily jadi duduk di tengah kasur dan membungkus dirinya dengan selimut tebal berwarna putih. Hanya terlihat bagian kepala, dengan matanya menghadap ke arah wajah tampan.
"Kamu sudah sehat. Cepatlah, pergi."
"Kamu, mengusir aku? Tapi ini_" Ucapannya, jadi terputus.
Lily teringat, kalau kamar hotel favoritenya, akan dibuka untuk para tamu-tamu, selama ada pesta untuk kalangan bisnis. Bahkan, bukan tadi malam saja. Nanti malam dan besok, akan ada pesta dari perusahaan lainnya.
"Owh, mungkin dia orang yang booking kamar ini. Aku yang salah, karena obat gila dari Vano." Batinnya Lily.
Lily sempat menolak keras permintaan sang Papa. Namun, ia merasa harinya sudah kembali mujur.
Lily jadi menggigit bibir bawahnya, dan malu-malu meong.
"Kenapa, kamu nggak pakai baju?" Tanya Lily.
"Kemeja favoriteku. Masih kamu pakai."
"Owh, ini. Kamu ingin pakai ini?"
Lily yang merasa, kalau harus membuka pakaian yang masih melekat di tubuh mungilnya.
Setelah membuka baju di dalam selimut, Lily melemparkan kemeja itu. "Ini bajumu."
Troy berkata "Aku tidak menyentuh kamu."
"Kalau kamu tidak menyentuh aku, siapa yang memakaikan baju itu ke badanku?"
"Ya, aku. Tapi aku tidak menyentuh tubuh kamu. Aku bersumpah."
"Hei, Om Bule. Aku tidak menuntut kamu atas tindakan kamu. Aku hanya ingin memastikan, kalau tangan kamu yang menggantikan bajuku."
"Iya. Tapi aku matikan lampunya. Aku nggak melihat apapun."
Lily membatin "Apa dia berkata jujur? Kenapa aku merasa patah hati?"
"Terima kasih, atas bantuannya."
Lily yang masih memakai selimut tebal itu turun dari tempat tidur dan berkata "Aku pergi dulu."
"Eh, kamu jangan pergi."
Lily dalam hatinya tersenyum, "Ayo, buruan katakan."
"Tinggalkan selimutnya."
Deueer!!
"Kamu gila. Aku bisa malu kalau nggak pakai baju." Ketusnya.
Pria itu menunjuk ke atas sofa "Itu, disana ada pakaian baru. Aku baru membelinya dari seseorang."
"Terus. Bajuku yang semalam dimana?"
__ADS_1
"Sudah aku buang."
"Aaaaa...." Menjerit.
"Pakaian kamu sudah aku gunting."
"Kamu gila ya. Itu baju termahal dalam hidupku. Itu, baju pinjaman dari sahabat aku. Dia, bisa membunuh aku."
"Itu, cuma daster." Bahasanya kaku.
"Daster pala lu' peyang. Meski wujudnya daster. Di mata sahabatku itu sangat berharga. Kamu malah membuangnya. Oh, pororo yang malang, kamu sudah dibantai pria kejam ini."
"Hei, aku tidak kejam. Kalau aku kejam, pasti sudah menggauli kamu."
"Bodo amat, aku nggak peduli. Pokoknya, kamu harus mengembalikan pororo tersayang. Sekarang juga!! Aku nggak mau mati di tangan sahabatku."
"Hei, kamu yang main masuk sembarangan ke kamar ini."
"Aku akan menuntut kamu, tindakan penc*bulan terhadap gadis belia."
"Aku tidak mencabuli kamu."
"Terserah! Aku nggak peduli. Pokoknya, kamu harus kembalikan baju pororo itu."
"Kamu anak kecil, nggak sopan sama orang tua."
Melihat dari wajahnya memang dewasa. Apalagi, terlihat seperti orang tua.
"Duh. Gimana kalau dia punya istri? Aku harus buru-buru pergi dari sini."
"Om Bule. Kali ini, aku memaafkan perbuatanmu. Semoga, kita tidak bertemu lagi."
Lily segera meraih kantong baju, yang ada di sofa dan berlari ke kamar mandi.
Sat set, saat berganti baju dan ia meninggalkan selimutnya di dalam kamar mandi.
Pergi, dengan memakai sandal hotel.
"Yah, sandal jepitku juga tertinggal. Bodo ah, penting aku nggak sampai dicekik sama istrinya. Hii, serem".
Visualnya othor ini saja. Asal nyomot dari pinterest.
Pokoknya, gaya Lily mirip sama Ulzzang girl, yang suka pakai kaos longgar, terus rambutnya dicempol kayak bun. Itu ninggalin kamar hotel, nggak sempat ngikat rambut panjangnya. Hehehe.
Kalian bebas bayangin visual sesuai keinginan kalian, mau bayangin Troy lebih dari Carty Caruso. Ya, up to you. Terserah kalian.
Semoga, tidak bermasalah dengan visualnya.
Yuk, balik ke cerita.
Troy yang masih menutupi bagian miliknya dengan handuk.
Ternyata, Troy ingin menenangkan burungnya.
Ya iyalah, semaleman burungnya genggam erat sama Lily.
Bagaimana bisa, bocah yang dianggapnya terlalu manis. Malah melebihi para wanita liar, yang pernah menggodanya.
"Aku sudah kasih dia obat. Tapi kenapa obatnya bekerjsama. Jadi reaksi ++."
Ooh, Shhit!
Troy menggila kembali ke bath-tub dan merelaksasikan tubuhnya. Agar burung jantan miliknya bisa kembali tenang. Tidak lagi meronta dan memintanya, untuk segera masuk ke sangkar.
"Ooh, baby... Aaagh..." Bergeming dan entah apa, yang Troy lakukan.
Troy sangat mengingat jelas, gadis belia itu ngecup bibir tebalnya.
"Emh, manis... imut banget bibirnya."
Rasanya sangat berbeda, ketika gadis sexy dengan bibir tebal nan dower yang mencium bibirnya itu.
"Kenapa aku malah membiarkan dia pergi. Aku sudah terlanjur dijamah sama dia. Harusnya, aku meminta hakku agar burungku bisa tenang."
Itu, si Troy ngomong pakai bahasa asing. Ya, kalau diterjemahkan begitu bahasanya.
Mata terpejam dan berusaha tenang. Setiap membayangkan hal lain, malah selalu muncul sekelibat wajah gadis belia itu.
Aaagrh'
Semoga saja, Troy tidak gila. Apalagi sampai kapok, tinggal di kota Shindong.
Bukan lagi ramah dan sopan, yang Troy dapatkan. Tapi, atraksi liar dari gadis belia yang bernama Lily.
Lily yang berjalan di basement. Untung saja, di kamar mandi tadi ada masker penutup mulut. Jadinya, tidak ada yang mengenali putrinya pemilik hotel ini.
"Aaaa... Itu mobilnya Mama." Lily jadi minggir ke sisi tembok parkiran hotel.
Lily menghadap ke tembok, saat mobil sedan mewah warna putih barusan lewat dan hampir saja berhadapan dengannya.
"Ooh, Mama." Lily masih memegang dadanya.
Ia menoleh ke sekitarnya, tidak ada siapapun, ia buru-buru keluar dari pintu masuk area parkiran mobil.
"Untung saja, terjebak di hotel sendiri. Kalau di hotel luar sana. Aku pasti tinggal nama." Batinnya Lily yang masih berusaha untuk tetap tenang. Agar orang lain tidak curiga.
Lily, akhirnya bisa keluar hotel dan segera mencari taxi di halte terdekat.
"Aku harus buru-buru balik ke asrama. Jangan sampai Mama mengetahui kejadian ini." Gumamnya pelan dan ia tengah menghentikan taxi warna hitam.
"Pak. Tolong antar saya, ke asrama putri kampus RL."
"Baik Nona."
Lily menatap ke arah jalanan. Suasana pagi, di kota Shindong. Hiruk-pikuk kota dan semakin ramai di setiap harinya.
__ADS_1
Bangunan pencakar langit tampak menjulang tinggi. Sudah banyak sekali, gedung bertingkat dan apartemen di sekitar jalanan ini.
Setiap tahun, ada bangunan gedung baru. Seolah-olah, tengah berlomba dalam pembangunan kota Shindong.
Dulunya, jaman muda Nyonya Nancy. Kota Shindong masih sangat sepi. Banyak lahan tandus dan gersang. Bahkan, orang mengatakan tentang tahayul kota Shindong, tempatnya hantu perempuan.
Banyak pula yang mengatakan, kalau kota Shindong banyak janda dan anak perempuan sulit mendapatkan jodoh. Itu, dulu jaman Neneknya Lily.
Sekarang, sudah sangat jauh berbeda. Kemajuan pesat kota Shindong, tengah dirasakan oleh warga kota Shindong.
Khususnya di era saat ini. Lily bisa melihat. Dulu semasa kecilnya, Hotel DeNuca memang modern dan sekarang ini, lebih canggih lagi fasilitas dan layanannya.
Taxi itu melaju melewati jalan tol, kota Shindong. Setelah 30 menit, Lily tiba di asrama putri.
"Pak tunggu sebentar ya. Saya tidak bawa Hp. Saya ambil uang dulu di kamar. Kalau Bapak tidak percaya. Bapak bisa ikut saya ke dalam. Menunggu di ruangan penjaga."
"Saya tunggu, disini saja."
"Baik Pak. Terima kasih."
Lily juga lupa, pasti ponselnya terjatuh di kamar hotel.
Karena, semalam waktu naik taxi ke hotel. Lily masih bisa bayar taxi pakai aplikasi ponselnya.
Lily yang berlari memasuki asrama perempuan, eh malah dihadang sama Mom.
"Lily. Kamu dari mana?"
"Mom, pinjem duit dong. Buat bayar taxi."
"Bayar taxi??"
Meski niatnya ingin menegur dan segera memarahi Lily. Namun, melihat taxi yang parkir di halaman depan asrama. Mom, juga jadi tidak tega sama sopirnya.
"Berapa ongkos taxinya?"
"130 ribu Mom."
"Ini, uang pas."
Mom, memberikan 3 lembaran ke tangan Lily.
"Terima kasih Mom."
Lily berlari lagi, dia sampai susah berkata "Pa-k. Ini, uangnya."
"Terima kasih, Non."
"Sama-sama Pak."
Dari jendela kamar, yang ada di lantai dua. Lexi memanggil "Lily!!"
Lily melambaikan tangannya dan sudah meringis.
Mom sudah tampak membawa tongkat satpam.
"Lily."
"Eh, Mom. Sampai lupa. Sebentar ya Mom. Saya ambilkan dulu uangnya."
"Kamu semalam kemana?"
"Emh, semalam saya...."
Lily jadi berubah formal, ia sampai berdiri tegap menghadap penjaga asrama ini.
"Itu Mom. Semalam, ada pesta penting sama keluarga."
"Sama keluarga?"
Mama Lovie di hotel menanyakan keberadaan putrinya kepada Staffnya, tidak ada yang melihat Lily.
"CCTV dimatikan??!"
"Maaf Madam. Itu instruksi dari Presdir, agar tamu merasa nyaman saat berpesta."
"Kalian benar-benar, bikin saya pusing."
"Keamanan di depan, juga tidak ada yang melihat Nona Lily kemari."
Mama Lovie membatin, "Lily semalam tidak di asrama, biasanya datang kesini. Kalian semua, periksa di setiap ruangan."
"Baik Madam."
Di hotel, semua kru keamanan, staff dan pelayan, dikerahkan untuk mencari tuan putri Lily.
Lily dengan wajah polos dan bibirnya sudah mengerucut.
"Kamu, pasti bersama pria?"
"Nggak Mom!"
"Kamu menginap dimana?"
Tatapan Mom, sangat mengerikan.
Baru kali ini, Lily merasa terjebak akan mulutnya yang berbohong.
"Saya menginap di hotel Papa. Beneran. Sumpah. Nggak bohong."
Satu jam kemudian, menemukan benda mencurigakan.
"Cepat! Kalian periksa."
Terdapat ponsel Lily, daster tergunting kasar, dan bungkus kond*m.
"Ethan??!"
__ADS_1