Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Kembali Sekolah


__ADS_3

"Lovie!!" Teriakannya.


Terbangun dari mimpi buruk itu.


"Lovie!!"


Terengah-engah dan keringat bercucuran.


Kedua mata, fokus menatap ke arah ruangan yang kosong.


Tiada suara, dan tiada nafas kehidupan selain dirinya.


"Lovie."


Richard, yang telah terbangun dari tidurnya.


Dia, sepertinya mengalami mimpi buruk.


Awalnya mimpi itu manis sekali, tapi sebelum terbangun dari tidurnya.


Bermimpi, tangannya terlepas saat meraih Lovie.


Gambaran dalam mimpi buruknya, Lovie terjatuh dari ketinggian, sampai masuk ke sungai yang dalam.


Gambaran mimpi dalam bawah sadar itu terasa nyata. Saat manisnya cinta bersemi di tengah perjalanan, ada yang menarik mata. Kupu-kupu cantik yang hinggap di mobilnya, sampai Lovie ingin mengejarnya dan pada akhirnya jatuh. Tangan Richard, yang menggapai Lovie untuk menarik ke sisinya, tangan itu jad terlepas, Lovie jatuh hingga terseret arus deras.


Kedua tangan Richard, membasuh muka dan berharap ini hanya bunga tidurnya.


"Lovie, apa kamu baik-baik saja?? Aku jadi merindukan kamu." Gumamnya Richard dan masih terduduk di tengah ranjang pasien.


Jam di dinding menunjukan pukul 5 pagi, dan Richard mulai meraih ponsel yang tergeletak di meja.


Richard hendak menghubungi Doddit, saat Richard baru menekan nomor itu. Doddit sudah mendorong pintu kamarnya.


Doddit melambaikan ponselnya, saat Richard menoleh ke arah pintu.


"Bos sudah bangun."


"Kamu sudah rapi?"


"Iya dong Bos. Saya siap bertugas melayani Bos Richard. Apalagi, Nona cantik tidak ada disini. Meskipun, Bos Richard ada suster-suster cantik. Saya akan tetap melayani Bos pribadi saya."


Richard yang tempak terdiam dan hanya mendengarkan ucapan Doddit.


Dengan suara pelan, Richard berkata "Panggilkan suster, biar melepaskan infus ini."


"Apa Bos sudah merasa baikan?"


"Pikiranku tentang Lovie tidak enak. Aku tidak mau terjadi hal buruk padanya."


Doddit jadi terpana mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Bos kulkas ini.


"Apa Bos Richard beneran tertukar arwah?"


Doddit memandangi wajah itu, lalu bertanya "Apa Bos sudah jatuh cinta sama Nona cantik?"


"Kamu jangan banyak bertanya. Lakukan apa yang aku perintahkan. Lagian, aku juga harus ke kantor. Doddit aku sudah jenuh, apalagi harus tinggal di kamar ini."


"Baik. Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Ya sudah, sana pergi."


"Siap laksanakan."


Doddit yang segera berjalan ke ruang tempat para suster berjaga. Para suster juga tetap stay dan mendatangi ruang perawatan bila memeriksa pasiennya, memberikan suntikan obat dan mengganti infus.


Di rumah Papi Benny, Lovie juga tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


Lovie memang terbiasa melakukan semuanya sendiri.


Meraih seragam sekolah yang ada di lemari gantungan.


Barisan gantungan seragam sekolahnya tertata rapi. Ada asisten rumah tangga, yang sangat memperhatikan Lovie dan selalu menjaga kebersihan kamar Lovie, meskipun Lovie tidak ada di rumah.


Tok tok tok


Lovie yang masih mengenakan pakaian dalam, kembali membalut tubuhnya dengan kimono handuk warna pinky.


"Bibi."


"Ini sarapan Nona. Semalam Nona tidak makan. Saya siapin ini, khusus untuk Nona."


Asisten rumah tangga yang berusia 50 tahun, bekerja dari sebelum Lovie lahir sampai sekarang mengikuti Nenek.


Dulunya bekerja untuk Nenek, bahkan menikah dengan penjaga rumah ini. Sayangnya, beliau tidak punya anak.


"Bibi, terima kasih."


"Sama-sama Nona Lovie. Silakan makan. Saya mau kembali ke dapur."


"Iya."


Setelah membawa nampan sarapannya, masuk ke kamar dan meletakan sendiri di meja belajarnya. Lovie kembali ke pintu dan mengunci pintunya.


"Aku harus bisa hidup sendiri. Tidak ada lagi yang mempedulikan aku."

__ADS_1


Lovie duduk, menghadap cermin meja rias. Serangkaian ritual manis dengan sentuhan jemarinya. Tampak make-up natural tipis, dengan bibir lembab terlihat pinky. Biasanya tidak seperti ini. Namun, kali ini Lovie ingin tampil berbeda.


Tidak lupa, memakai lotion kulit tangan dan kaki.


"Oke, sudah cukup. Aku tidak boleh terlambat."


Memakai seragam sekolah. Kemeja pendek warna putih, dipadukan rok sepan hitam dan blezer warna biru dongker. Tidak lupa, dasi murid perempuan.


Buku pelajaran jadwal hari ini, sudah tertata rapi di tas ranselnya.


"Emh, parfum. Aku ingin memakai yang ini."


5 parfum berjejer di kotaknya dan menyeprotkan ke nadi tangan, selekasnya menggosok lembut.


"Wanginya, feminine." Ucap Lovie dan ia kembali meletakan botol kaca yang berbentuk love dan cairan parfum itu berwarna pinky keunguan.


"Ini saja, aroma vanila. Aku lebih suka yang manis dan lembut." Gumamnya.


Lovie menyemprotkan parfum ke seluruh badan bagian atas.


"Aku tidak nafsu makan. Bibi, maafkan aku." Batinnya saat menatap ke arah nampan itu. Terlihat susu vanila, sandwich keju dan sosis panggang bumbu barbeque.


Jam di ponselnya, menunjukan pukul 6.05 pagi waktu setempat.


Di rumah ini, para penghuninya masih sibuk bersiap-siap. Belum ada yang keluar kamar. Lovie berjalan keluar kamar. Saat menuruni anak tangga menuju ke lantai satu, ada Ibu tiri yang berjalan ke arahnya.


"Kamu siap ke sekolah."


"Iya. Aku sudah tertinggal banyak pelajaran. Aku tidak mau terlambat ke sekolah."


"Tunggulah Jenny dan Jerry."


"Kenapa aku harus menunggunya? Aku bisa berangkat sendiri." Jawabnya ketus.


Lovie melewatinya begitu saja, ibu tiri ini jadi mematung dan memandangi Lovie yang pergi dari hadapannya.


"Lovie."


Degh!


Lovie menghentikan langkahnya dan perlahan membalikan badannya.


"Ada apa lagi?"


"Ini, uang sakumu hari ini."


"Tidak perlu. Aku tidak butuh uang itu."


Lovie kembali berjalan dan Jenny merasa ada hal aneh.


Ibu tiri ini, tidak banyak mengulik tentang hal lainnya. Apalagi, beliau memang tidak tahu soal warisannya Lovie.


Richard-pun, saat ini juga tengah bersiap untuk menjemput sang pujaan hati.


Sudah tampil memakai kemeja dan celana bahan. Jas warna abu-abu muda, ia selempangkan di tangan kirinya.


Doddit juga siap, mengantar Bos tampan ini.


"Doddit, kamu tahu rumahnya?"


"Tidak. Hanya ada kartu nama Mr. Benny."


Richard menggelengkan kepala, kemudian Mommy Nancy jadi mendekati mereka berdua.


"Ini alamat rumah Lovie." Ucap Mommy Nancy, tampak aura wajah segar dan sangat bersemangat. Apalagi, melihat putranya sudah pulih dan punya tekad yang kuat untuk menikahi Lovie.


"Mommy memang yang terbaik."


"Ini demi calon cucuku." Hemms, lagi-lagi kembali soal cucu.


"Mommy tunggu saja kabar baiknya."


"Kerja bagus."


Richard meraih pintu mobilnya dan menaiki mobil mewahnya.


"Richard, bawalah Lovie kembali ke rumah ini."


"Iya Mom. Aku akan mengajaknya kemari."


Richard menutup pintu mobilnya dan ia sudah memakai sabuk pengamannya.


Kaca mobil diturunkan oleh Doddit, sang Mommy melambaikan tangannya.


"Siap jalan Bos?"


"Ayo jalan."


Doddit dengan santai, memegang kemudi dan perlahan melajukan mobilnya.


Mobil sedan mewah itu, perlahan meninggalkan halaman kediaman Presdir Nicholas.


"Semoga, aku segera mendapatkan cucu." Batinnya Mommy Nancy yang masih berharap.


Perjalanan yang tenang, di tengah kota Shindong.

__ADS_1


Saat bersamaan, mobil Richard melewati sekolah Lovie. Sebuah taxi warna putih juga tiba di sekolah dan penumpang itu adalah Lovie.


Lovie, memindai tarif taxi dari ponselnya.


"Sudah ya Pak."


"Iya Nona. Terima kasih."


Lovie keluar dari taxi dan saat hal yang sama. Si tampan ketua kelas, juga turun dari mobilnya.


Lovie dan dia, jadi saling menatap.


"Lovie." Panggilnya.


"Ron." Balasnya Lovie.


Keduanya bertemu di gerbang sekolah. Sosok pandai, ketua kelas dan sangat disiplin. Dia adalah Ronaldo Gi Vanco. Putra tunggal dari istri ketiga Presdir Hanz. Ya lebih tepatnya, bisa dibilang adik tirinya Rey.


Anak berusia 18 tahun itu, sosok yang sama miripnya dengan Rey. Hanya saja, dia lebih cuek dan tidak pandai bergaul. Hal ini, cukup membedakan dirinya dengan Rey. Sedangkan, Rey sosok yang ramah dan banyak kenalan.


Ya bisa dibilang, kulkas dua pintu. Tatapan itu, selalu membuat Lovie gelisah. Bahkan, cowok ini pula yang menunjuk Lovie, jadi duta kebersihan sekolah.


"Kamu, lama tidak masuk sekolah."


"Iya, ada urusan pribadi."


"Cepat rapikan kelas. Tidak ada yang mau menyentuh alat kebersihan."


"Iya. Iya." Lovie mengangguk pelan dan kedua tangannya memegang sisi tas ranselnya.


Ron membatin "Dia pergi kemana? Bukannya dia sudah putus dari Damian?"


Satu sekolah juga tahu, kalau Lovie sempat menjalin hubungan dengan si playboy Damian.


Damian dulunya kakak kelas Lovie. Setelah dua tahun lulus, tapi masih sering ke sekolah ini. Hanya karena Lovie dan sekarang malah menjalin hubungan dengan saudara tiri Lovie.


"Ini, bukunya kenapa tidak dirapikan?" Tanya Lovie.


"Owh, itu kemarin ada tugas rangkuman. Kemarin sore pada kecapean, mereka buru-buru pulang, jadi melupakan bukunya."


"Kamu ketua kelas. Apa gunanya kalau mengurus ini saja tidak bisa."


Ron membalas perkataannya "Ini tugas duta kebersihan. Ya anggap saja, itu hukuman buat kamu."


"Hukuman buat aku?"


Tangan Lovie bergerak cepat menata buku-buku, yang berserakan di setiap meja siswa.


"Kamu beberapa hari tidak masuk sekolah. Aku yang harus mengerjakan semua tugas sekolahmu."


Lovie yang berdiri di dekatnya. Tangan kanannya meraih buku yang ada di meja Ron. Bangku barisan ke dua dan ada di tengah.


"Kenapa menatap aku begitu?"


"Tumben, kamu baik sama aku." Balasnya Lovie.


Setelah mengambil bukunya Ron, Lovie berjalan pergi ke meja yang lainnya.


"Talita kemarin sudah menjelaskan sama aku."


"Menjelaskan sama kamu?"


"Emh, iya. Soal kamu yang pergi ke rumah kekasihmu."


"Owh, Talita cerita begitu sama kalian semua."


"Tidak semuanya. Hanya aku dan Bu Diana yang tahu."


Entah kenapa, saat Lovie kembali berjalan mendekat di barisan meja sebelah kiri.


Ron berubah gugup, saat menatap wajah Lovie.


"Ron, aku lagi ada masalah." Keluhnya Lovie, tapi wajah itu tampak biasa saja.


"Apa masalah kamu sampai tidak masuk sekolah?"


Lovie, menarik dasi Ron sampai mendekat, berbisik ke telinga Ron, "Aku hamil."


Jreeetrs!


Ron berdebar kencang, badannya seperti tersengat listrik.


Richard, yang tiba di rumah Papi Benny dan Doddit menunggunya di mobil.


"Selamat pagi, Om Benny."


"Selamat pagi. Mari silakan masuk."


Istrinya berbisik "Papi, dia siapa?"


"Pacarnya Lovie."


Mereka terpesona.


__ADS_1


__ADS_2