
Saat ini, di hotel berbintang. Tepatnya di hotel DeNuca. Lovie datang lebih dulu ke tempat yang sudah diatur dalam perjanjian.
Dia bahkan, sudah membayar sekian juta untuk mendapatkan pria tampan.
Yang diingatnya, ia menekan angka 0 banyak. Entah 10 juta atau 100 juta. Lovie tidak mengingat lagi, dia telah menggunakan rekening tabungan Maminya, itu atas nama seseorang di luar kota.
Lovie sudah menunggu lebih dari satu jam, namun pria tampan itu tak kunjung datang.
Lovie yang ke kamar mandi, tiba-tiba pria tampan memasuki kamar itu.
"Aku lelah. Aku mau tidur."
Blegh!
Pria tampan itu, dia sudah tengkurap di atas kasur empuknya. Ruang kamar pribadi yang selalu membuat dirinya nyaman.
Perlahan, rasanya ada yang menindih punggungnya. Pria itu masih memejamkan kedua matanya.
Perasaannya semakin aneh. Ada yang memijat kedua bahunya. Pria itu jadi membalikan badan dengan kasar.
Degh!
Kedua wajah itu saling menatap. Lovie, dengan senyuman melambaikan tangan kanannya.
"Hallo."
Lovie dengan senyuman manis di wajah cantiknya. Menatap wajah pria tampan yang ada di hadapannya.
"Hai, kamu kenapa bengong begitu?" Lovie jadi memegang pipinya dan semakin menggoda pria tampan ini.
"Ka-mu. Kamu siapa? Kenapa bisa ada di kamarku?" Tanya pria tampan ini, kepada Lovie.
Pria tampan ini, menganggap kalau Lovie sudah salah masuk kamar.
"Aku disini. Karena, kita sudah buat janji." Balasnya seketika polos.
"Kita? Janjian? Kapan? Dimana?" Pertanyaan itu, terdengar tegas.
Lovie bingung, tapi dia hanya berfikir. Kalau pria yang dia sewa ini, memang jual mahal.
Apalagi, pria tampan ini, sewaktu di aplikasi BOX Tampan banyak penggemar. Bahkan, mendapat nilai bagus dibandingkan pria tampan lain. Profilnya juga tampak terkunci.
Hanya saja, tanpa banyak bertanya, Lovie langsung memilih dan membayar melalui transfer.
Lovie tidak berfikir kalau foto itu bisa saja dipalsukan, atau orang lain telah melakukan penipuan.
Ternyata, alamak!! Pria ini, lebih tampan dari foto yang terpampang di aplikasi.
"Kamu mau apain saya? Jangan coba-coba. Kamu mendekat saya juga bisa nekat."
Lovie menjauh dan ia meraih ponselnya.
"Ini perjanjian kita. Apa kamu lupa?"
Lovie memperlihatkan chat yang berasal dari nomor pribadinya. Tapi, pria tampan itu tidak membuat janji, apalagi untuk berkencan dan bercinta di Hotel ini.
"Aku tidak menulis itu. Pasti, ada orang menyalahgunakan ponselku." Balasnya begitu tegas.
"Ini, aku sudah transfer uangannya, atas nama Richard De Nuca."
Makjleb! Matilah kau Richard. Sudah digiring ke kandang meong betina.
"Tapi, aku tidak tahu. Aku bahkan tidak pernah melihat uang masuk dan uang keluar dari pemberitahuan."
Benar, yang mengetahui uang masuk dan uang keluar dari rekening pribadi, hanyalah asisten pribadinya.
__ADS_1
"Apa dia dijual Bapak gerrmonya?" Batin Lovie, kalau nama Richard De Nuca, yang menjual Richi.
Karena, di aplikasi tertulis Tuan Muda Richi. Sayangnya, para peselancar aplikasi, telah mengira adanya penipuan.
Mana ada orang seganteng Richi dan berstatus tuan muda, mau masuk ke BOX Tampan.
Kebanyakan yang ada di aplikasi juga dari kalangan gadis biasa. Tidak seperti para gadis sexy berkelas.
"Pokoknya, kamu harus bisa menghamili aku!"
"Menghamili??! Yang benar saja. Kita kenal juga nggak." Balasnya dan masih terus mempertahankan dirinya, dari meong yang hendak menggigitnya.
Lovie melihat ke aplikasi, tapi sudah tidak ada profil Richard. Sudah terhapus dan tidak ada lagi bukti dari aplikasinya.
Semalam, aplikasinya tidak bisa di SS. Hanya bisa membuat janji dari aplikasi chat yang tertera nama email tersenyembunyi, baru keduanya menjalin komunikasi setelah adanya persetujuan kedua belah pihak.
"Siaalan, dia menipu aku." Batin Lovie dan merasa ditipu oleh pria tampan ini.
Batin Lovie semakin bergemuruh, tapi dia sudah terlanjur masuk ke kamar sialan ini, "Baik, aku akan membelaimu."
Lovie tadinya masih ingin meperlihatkan kemolekan dirinya saat mengenakan riasan tebal. Dia mengapus semua riasan, yang menutupi wajah manisnya.
Pria itu mencoba untuk berlari, Lovie sudah menghadangnya di depan pintu.
"Tampan, hamili aku!" Perintahnya manja.
Tuing,*
"Masih bau kencur minta dihamili? Apa dia masih waras?" Batin sang pria matang.
Tatapan Lovie memburunya dan segera berlari mendekat.
Sayangnya, pria aneh itu. Bukannya menerima kecupan Lovie, malah berlari dan Lovie terus mengejarnya.
"Siall, mimpi apa aku semalam? Sampai dikejar-kejar cewek mesum." Pria aneh itu, masih berlari di sekitar kamarnya dan melemparkan bantal empuknya ke arah Lovie.
Degh!
Richard jadi merinding. Ia terpejam sesaat dan Lovie semakin erat memeluknya.
Kedua tangannya, sudah melingkari perut kekar pria tampan itu dan Lovie merasa kalau Richard tidak lagi menolaknya.
Tangannya, perlahan meraba dada Richard dan nafas manja Lovie sudah terdengar oleh kedua telinga Richard.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Richard pria normal, yang suka berganti wanita setiap saat dia membutuhkan. Hanya saja, untuk hal pernikahan. Richard selalu mengelak dan mengatakan kalau dia tidak ingin menikah. Menganggap kalau para wanita yang di sekitarnya, hanya menginginkan gemerlap luarnya saja, bukan memakai perasaan dan hatinya.
Ya namanya juga cowok tajir, anak tunggal, semua serba mewah, dan tampan. Pastilah, perempuan yang mengenalnya, berlomba-lomba untuk dapat mendekatinya, bahkan mau saja bila diajak bercumbu mesra. Eit, Richard masih perjaka, meski suka berkencan dengan wanita sexy, tapi dia tidak mau bercinta.
Namun, kali ini. Apa yang akan terjadi padanya. Baru disundul dua gundukan kenyal, dari belakang dan menggesek punggung kekarnya, dalam hati Richard sudah meremang manja. Memintanya untuk lebih dan lebih.
Dessah nafas Lovie membuat Richard merinding. Gadis belia itu, juga hanya menuruti naluri hasratnya.
Bahkan, semalaman Lovie membaca dan mempelajari dari aplikasi layar pintarnya, tentang cara-cara bercinta dengan pria dewasa dan membuat dirinya bergairah.
Richard bertanya "Apa yang kamu lakukan?"
Lovie tersentak kaget, tanpa sadar tangannya sudah meraba kemana-mana.
"Owh, aku hanya sedang pemanasan."
"Dasar mesum."
Pikiran Richard malah senang, "Masih ingusan sudah pandai merayu hasrat liarku."
__ADS_1
"Aku tidak mesum. Aku hanya," Lovie merasa dirinya gagal. Dia tidak lagi menatap pria tampan ini.
Richard yang sudah membalikan badan dan menatap tajam sosok gadis belia ini.
"Apa mau kamu?"
"Aku hanya ingin hamil."
"Hanya ingin hamil?"
Richard, tidak habis pikir. Gadis ini, lebih licik dari pada gadis sexy yang sudah dikenalnya.
Lovie tak lagi berani menatapnya dan Richard semakin mendesak Lovie. Richard bertanya "Kamu ingin hamil? Kamu ingin hamil anakku?"
Lovie dengan tangan yang gemetar dan perasaannya kembali gugup. Rasa berdebar dan terluka dalam hatinya, bercampur menjadi satu. Tanpa sadar, langkah kakinya jadi mundur.
"Aku hanya ingin hamil. Aku tidak bisa hamil kalau tidak bercinta dengan pria."
"Hah" Dessahan Richard dan ia berfikir kalau Lovie akan menyerangnya bila sudah hamil. Pasti akan minta nikahi dan meminta pertanggungjawaban darinya.
"Kamu memang pandai, gadis kecil." Bibir Richard yang menyeringai, dan tatapannya kejam.
"Aku sudah membayarmu. Aku hanya ingin hamil." Balasnya lagi, dan seketika.
Aaaa!
Lovie dari tadi mundur, ia tidak sadar kalau mereka berdua, berdiri di atas tempat tidur.
Secepetnya, tangan Richard meraih dan mendekap Lovie, sampai mereka berdua terjatuh ke atas tempat tidur yang empuk.
Keduanya saling menatap dan jarak wajah mereka begitu dekat.
Entah kenapa, Richard bisa melihat sorot mata keluguan, yang terpancar dari gadis belia ini.
Tangan kanan Richard terkunci badan Lovie yang sintal nan padat. Tidak gemuk dan tidak kurus. Tampak berisi dan kulitnya juga putih bersih, terasa halus nan lembab. Bibir imut, tampak bekas lipstik merah yang tertinggal.
Kedua mata dengan bulu mata lentik, dan wajah itu terlihat menggemaskan. Kedua pipi cubby yang saat ini, telah merona kemerahan karena tatapan Richard.
"Dia memang tampan." Batin Lovie.
Pria tampan dengan pesona yang terlihat menawan. Manik mata yang memikat, bibir yang terlihat menggoda nan sensual, bentuk alis dan pelipis yang mengagumkan, serta bulu mata memberikan kesan manis dan kedua rahang pipinya, terlihat menonjolkan kewibaan pria menawan. Leher pria tampan ini, sudah meminta kecupan.
Bibir Lovie tampak monyong manis, sudah menjelajahi leher Richard.
Padahal, rasanya begitu aneh, saat gerakan bibirnya Lovie tak beraturan. Bibir itu bukannya mencecap, menjillat, atau mengecup, hanya berputar-putar tak tahu arah. Akan tetapi, Richard malah merem melek dan menikmatinya.
"Kamu masih perawan??" Tanya Richard.
Lovie jadi menghentikan, aksinya itu. Lovie menjawab "Aku masih Virgin. Aku pernah punya pacar. Tapi, aku nggak mau diajak bercinta sama dia."
"Kenapa tidak mau?" Tanya Richard dan berubah penasaran.
"Tadinya, aku ingin menjaga kesucianku untuk pacarku. Tapi dia plaboy. Aku kesal padanya, akhirnya kita putus. Dia juga sempat mengajak aku ke hotel. Aku tetap tidak mau."
"Terus, kenapa sekarang kamu ingin hamil?"
"Sekarang, tidak ada yang peduli padaku. Aku hidup bebas dan ingin hamil. Itu saja."
"Tidak ada yang peduli?" Richard semakin penasaran. Dia bisa mendengar suara polos dari Lovie.
"Kamu tidak harus tahu. Kamu juga tidak perlu mengenal aku. Aku hanya ingin hamil."
"Kenapa begitu??"
"Semalam. Aku sudah menjelaskan keinginanku sewaktu memilihmu. Kamu sudah setuju."
__ADS_1
Tok Tok Tok
Ada, yang datang.