
Kedua wajah itu benar-benar terlihat dekat. Jarak bibir mereka, 1 centimeter. Wajah Ron berubah gelisah. Membuat Lovie jadi tersenyum.
Lovie dengan cepat tertawa dan menjauh dari Ron.
"Aku menciummu. Yang benar saja. Aku juga tidak akan mencium kamu Ron. Pasti, kamu nggak akan percaya juga sama aku."
"Lovie, kamu ini. Bikin aku kaget saja." Talita menarik tangannya.
"Habisnya, dia ketawain aku. Aku juga ingin tertawa." Lovie kegirangan.
Ron berkata "Lovie, ini nggak lucu."
Ron sepertinya ngambek dan ia berjalan lebih dulu, sampai memisahkan tangan Talita dengan Lovie.
"Apa dia beneran marah?" Talita penasaran.
"Emh, sepertinya tidak. Dia tadi ketawa. Pasti, dia cuma akting ngambek."
"Bisa jadi, Ron menyukai kamu."
"Idih, ngaco. Dari awal kita masuk sekolah. Dia itu, orang yang paling sentimen sama aku." Lovie yang memandangi punggung Ron.
"Lovie, siapa tahu dia begitu karena suka." Talita yang bersedekap, juga melihat ke arah Ron yang berjalan memasuki lobby Bioskop.
"Aah, nggak mungkin. Kalau dia suka sama aku. Nggak bakal mungkin juga, kita bisa bersatu. Kita banyak sekali perbedaannya." Lovie yang menegaskan, soal dirinya sendiri dengan Ron.
"Kalau aku sama dia juga debat terus. Nggak mungkin juga dong, kalau aku dan dia banyak kesamaan."
"Emh, benar juga."
Lovie jadi mengingat kata-kata, yang dia ucapan kepada Richard.
"Kesamaan belum tentu menyatukan dua insan." Ucapnya lagi, saat mengingat kata-kata itu.
"Emh, benar sekali. Tapi, aku juga bingung gimana bisa lupain Bos Rey. Meskipun kita hampir banyak kesamaan."
"Memangnya, kamu sudah seperti aku?"
"Owh, nggak. Aku nggak begitu. Kamu tenang saja."
Talita masih menutup rapat mulutnya. Itu juga karena permintaan Bu Diana. Talita tidak boleh menceritakan kepada siapapun. Yang jelas, Bu Diana yang akan mengurus masalahnya, agar Rey mau menikahi Talita.
"Kamu mau duduk dimana, terserah."
"Ron, hebat juga kamu. Kita bebas nonton disini."
"Aku tetap bayar ruangan ini."
"Owh...kirain, kamu tinggal masuk saja."
"Ya mana bisa begitu. Semuanya ada yang mengelola. Ada managemennya."
Ruangan bioskop ini begitu luas dan ada 30 tempat duduk seperti kasur. Bahkan, bisa tidur dan rebahan manja, sambil nyemil popcorn sepuasnya.
"Ron. Tahu begini. Tadi ajak teman sekelas kita."
"Iya, kamu yang senang. Aku yang pengap."
"Tumben kamu jadi baik begini. Setan apa yang merasuki pikiranmu?"
Talita mulutnya memang nggak bisa diem.
Ron yang duduk di tengah, ia berkata "Ssth, filmnya mau dimulai."
"Opps, sorry."
Lovie jadi jaga jarak sama mereka berdua. Lovie memilih duduk di kursi paling belakang.
"Emh, aku jadi kangen Kak Richi."
Melihat Talita dan Ron yang duduk di tengah. Lovie jadi merasa merindukan pria, yang semalam telah memanjakan dirinya.
Film horor tapi lucu dan ada adegan 17+, dengan ciuman yang manis. Membuat Ron, jadi mengingat bibirnya Lovie tadi, yang hampir menabrak bibirnya.
Ron memegang bibirnya sendiri, Talita menoleh ke wajah tampan itu.
__ADS_1
"Ini bocah, apa beneran suka sama Lovie? Nggak mungkin berubah baik dalam waktu hitungan hari. Dulu-dulu kemana saja, padahal kita satu kelas."
Talita, menoleh ke belakang. Melihat Lovie yang anteng dan tampak fokus melihat ke layar lebar itu.
"Apa Lovie beneran cinta sama Richard? Kalau hamil, harusnya pakai cinta. Aku harus cari tahu soal perasaan Lovie. Apalagi, dia nggak hamil. Jangan sampai masa mudanya terbuang sia-sia."
Talita jadi banyak berfikir, tentang dua temannya ini.
Ron melihat ke arah Talita "Talita kenapa bisa, tinggal berduaan sama Kak Rey??"
"Apa yang mereka lakukan kalau di apartemen? Kenapa Papa malah nyuruh aku yang menyelidiki soal Kak Rey. Ada pengawal banyak, malah aku yang disuruh-suruh."
"Pinter doang. Sexy juga nggak."
Mereka saling membatin.
Lovie merasa kecewa lagi, gara-gara diketawain sama Ron.
"Apa aku tidak secantik Jihan?? Makanya, Ron jadi ngewatain aku."
Lovie melihat ke dirinya sendiri "Aku tidak sesexy Jihan. Apa mungkin, aku bukan kriteria Kak Richi?? Jadinya, Ron menganggap aku ini cuma bermimpi."
"Uuh, cowok-cowok sama saja. Untuk apa aku memikirkannya, bullshitt soal cinta. Buktinya, Papi juga bisa melupakan Mami begitu saja."
Sayangnya, Lovie tidak tahu hal sebenarnya. Di ruangan kantor Papi Benny. Hanya satu foto yang terpajang. Yaitu, foto istri pertamanya.
Bisa jadi, sampai sekarang Papinya belum menyentuh Ibu tirinya.
Saat yang di bioskop tampak menonton film dengan tenang. Yang berada di kantor Rich.
"Iya Om. Saya mengerti."
"Om percaya sama kamu."
Ternyata, Papi Benny menemui Richard di kantor Rich. Di ruang kerja CEO ini, Papi Benny bisa melihat sosok tampan ini, rupanya sosok pekerja keras.
Papi Benny dan Richard, duduk di sofa dan Papi Benny sempat menceritakan tentang Lovie, si gadis kecil.
Richard, melihat ke layar ponselnya. Jihan mengirim foto Lovie yang bersama Ron.
Papi Benny berkata "Sepertinya. Kamu masih banyak pekerjaan. Om juga mau ada urusan lain."
"Om Benny santai saja. Kadang saya memang sibuk sekali. Tapi, sore ini sudah santai. Tidak sesibuk pagi tadi."
"Kalau kamu ada waktu, berkunjunglah ke tempat Om. Om akan dengan senang hati menyambut kamu."
"Om Benny, tidak perlu begitu. Aku akan menyempatkan diri kesana. Sekalian, ingin mencici kopi ala Style Fashion."
"Kalau di tempat Om. Kopi racikan tangan. Nggak pakai mesin begini. Kamu, harus mencobanya nanti."
"Siap, Om Benny."
Setelah Papi Benny pergi meninggalkan kantor Rich. Richard memanggil Doddit.
"Bos memanggil saya?"
Doddit sudah menatap wajah Bosnya. Richard menyodorkan foto kiriman dari Jihan.
"Cepat, cari tahu soal ini." Perintah Bos tampan ini.
Doddit meraih ponsel itu, ia berkata "Baik Bos. Saya akan segera mencari tahu."
Doddit bergumam "Kalau begitu, saya pamit ke HaHa dulu Bos."
"Kamu mau ngapain ke HaHa?"
Haha sebutan mal termegah milik Hanz Group. Karena bentuk bangunan mal ini, kalau di lihat dari atas, bisa dibaca Haha.
Entah, arti Haha itu apa, tapi penduduk Shindong, yang suka menyebut mal itu dengan, kata Haha.
"Nona Cantik pasti di Haha, ini di sebelahnya ada tas cewek. Ini mirip tasnya Talita."
"Kamu hafal banget??"
"Soalnya, beberapa hari lalu. Saya yang mengantar Nona dan Talita ke rumah Nyonya Nancy. Saya sampai menghafal tasnya Talita yang unik."
__ADS_1
"Owh, begitu. Jadi mereka pergi bertiga. Kamu selediki saja, apa Ron berupaya ingin mendekati Lovie?"
"Baik Bos. Saya mengerti. Saya akan segera meluncur kesana."
Richard berfikir ulang, sampai kapan dirinya akan selalu cemburu buta begini.
Doddit hendak pergi, baru saja membuka pintu, Richard berkata "Doddit, kamu tidak perlu mencari tahu. Aku percaya sama My Lovie."
Baru saja ngomong begitu. Doddit hanya terdiam, seperti patung yang membuka pintu.
Bos tampan ini, menyambar jas yang tergantung di stand hanger. Bersiap untuk pergi menyusul kekasih hati. Memakai jas sambil berjalan, auh bikin oleng yang melihatnya. Eh, nggak ada orang yang melihatnya.
"Aku nggak bisa tenang. My Lovie cuma milikku." Ucapnya dengan suara pelan.
Doddit hanya mengikuti saja, kemana Bos tampannya ini melangkahkan kakinya.
"Doddit, berapa sahamku yang ada di Haha?"
"Hanya 35 % Bos."
"Aku ingin meningkatkannya. Pantau My Lovie selama di Bioskop. Blokir semua jalan keluar, aku harus tiba di sana tepat waktu."
Meski sedang menyetir mobil, tangan Doddit tinggal mencet nomor telephone yang tertera di layar pintarnya. Segera terhubung dengan beberapa orang penting yang bersangkutan dengan Haha.
"Bos, saya sudah bicara dengan pembaca saham kita."
"Lalu, apa katanya?"
"Lebih baik Bos Richard bikin mal sendiri. Apalagi, di Haha tidak akan menguntungkan Bos."
"Tapi, My Lovie ada disana."
"Bos lebih baik, bikin emol sendiri buat Nona Cantik. Ya, itung-itung sebagai tanda jalinan kasih kalian berdua. Saya yakin, Nona pasti akan senang menerimanya."
"Ide kamu bagus juga. Kalau begitu, cepat cari lokasi yang cocok."
"Di kawasan pengembangan barat Bos. Itu, kita punya lahan yang sangat luas. Daerah sana juga sedang perluasan pemukiman. Pasti akan jadi kawasan baru, yang lebih pontensial untuk berbisnis. Bos bisa memadu kasih, dan bisnisnya Bos juga terus berjalan."
"Bisnisku berbeda. Aku nggak suka. Apa-apa disangkut pautkan sama perasaanku."
Doddit terdiam dan takut salah bicara lagi. Nantinya malah kena hukuman lagi, seperti kemarin.
"Kamu bicarakan saja sama Daddy. Aku tinggal tunggu hasil baiknya."
"Siap Bos Richard." Doddit kembali bersemangat.
Gimana tidak bersemangat, kalau pekerjaannya jadi bertambah. Gaji dan bonusnya juga akan meningkat. Doddit juga ingin mendirikan usaha sendiri, meskipun akan terus menjadi asisten pribadi Bos bobrok nan tampan ini.
Doddit ingin punya banyak apartemen dan bisa menyewakannya. Keuntungan uang deposit dan profit tahunannya akan mendapat untung dua kali lipat. Apalagi, banyak orang yang mencari apartemen untuk sewa tahunan.
Saat ini, sudah punya dua apartemen, satu yang ia tempati bila mendapat jatah libur dan satunya disewakan.
"Apa Bos butuh pengawalan?"
"Terserah kamu saja."
Doddit hanya ingin memastikan, Bosnya selalu dalam keadaan aman. Mengingat, kejadian akhir-akhir ini, dua kali Bosnya yang terbaring di ranjang pasien.
"Siap Bos. Keamanan Haha akan menyambut dan mengawal anda."
Richard melihat ke layar ponselnya. "Remaja ini memang lebih gencar. Aku juga bisa jadi remaja lagi." Gumannya dan Doddit hanya menyengir.
Setelah mereka tiba di Mal.
"Bos, waktunya anda memasuki Haha."
Pengawal Haha, sudah tampak berbaris di depan pintu utama.
Seorang petugas keamanan, telah membuka pintu mobil itu.
Bos Richard keluar dari mobil mewahnya. Aura gantengnya, yang dingin-dingin kaku ini, jadi terlihat begitu menawan.
Banyak mata yang melihat ke arah Richard. Apalagi jam-jam sore begini. Banyak remaja dan para Nyonya yang siap belanja ke store. Mengingat akhir bulan begini, harga diskon begitu menggiurkan.
Berjalan, dalam pengawalan.
__ADS_1
"Bukannya, itu Richard."