
" Berarti benar perasaan daddy, waktu Dona bertunangan dengan Doddy perasaan daddy melihat ibunya Dona seperti menyembunyikan sesuatu, kalian masih ingat kan perkataan waktu itu?" Tanya daddy Alvonso
" Ingat dad." Jawab mereka serempak.
" Wanita itu selain membunuh ibu kandung Dona dia juga bekerja sama dengan ibunya Putri dan Petra untuk mencelakai Dona dan Putri." Ucap Max
" Bukan itu saja ibunya Putri dan ibu palsu Dona memberikan kotak seukuran telapak tangan ke Putri dan Dona yang ternyata di dalam kotak itu berisi bom. Mereka meminta agar Putri dan Dona membukanya jika sudah sampai di tempat tujuan." Sambung Louis.
" What??" Ucap mereka serempak
" Dasar iblis, berarti kemungkinan besar mereka meninggal." Ucap Alvonso
" Bisa jadi terlebih sampai sekarang belum ditemukan para korban baik yang hidup ataupun yang sudah meninggal." Ucap Alvian.
" Sepertinya penjara tidak membuatnya jera, hanya kematian yang membuat mereka tidak melakukan itu lagi." Ucap daddy Alvonso menahan amarahnya.
" Memang benar dad, mommy menyerahkan ke kalian semua. Terserah mau kalian tembak mati atau apa mommy sudah angkat tangan." Ucap mommy Laras dengan nada sangat kesal.
" Kok nada suara mommy seperti sedang kesal?" Tanya daddy Alvonso yang mengira mommy tidak setuju dengan idenya untuk menembak mati mereka.
" Iya benar mommy sangat kesal dengan kelakuan ibu dan anak yang tega menyakiti Putri padahal beberapa kali Putri selalu memaafkan kejahatan mereka tapi ternyata mereka selalu berusaha jahat jadi mommy setuju mereka berdua mati dan untuk ibu palsu mommy setuju jika dia di tembak mati karena telah tega membunuh ibunya Dona dan kini Dona. Mereka bertiga telah meledakkan bom dan telah membunuh banyak orang jadi sudah sepantasnya mereka mati." Ucap mommy Laras.
" Baiklah, kalau begitu siapa yang akan menghukum mereka?" Tanya daddy Alvonso
" Kami dad." Jawab para pria serempak.
Keluarga besar daddy Alvonso sangat marah karena itulah sudah sepantasnya mereka dihukum mati.
__ADS_1
" Aldo, istrimu lagi hamil jadi lebih baik kamu tidak melakukannya." Ucap mommy Laras
" Baik mom." Jawab Aldo patuh.
" Daddy juga tidak boleh jadi yang bertanggung jawab melakukan hal ini Alvonso. Jadi Alvonso diskusikan dengan adik-adikmu." Ucap mommy Laras
" Baik mom." Jawab Alvonso patuh
Alvonso dan saudara-saudaranya melakukan rapat apa yang mesti dilakukan setelah satu jam akhirnya Alvonso memutuskan untuk membagi tiga kelompok : kelompok pertama terdiri dari Alvonso, Arlan, Charli dan Alex kelompok ke dua terdiri dari Alvian, Baron, Leo dan Arlan kelompok ke tiga yang terdiri dari Max dan Louis memantau kegiatan mereka.
Alvonso yang akan menembak mati ibunya Putri, Arlan yang akan menembak mati Petra dan Alvian yang akan menembak mati ibu palsu Dona. Setelah mereka mati mayatnya langsung di buang ke jurang paling dalam. Alvonso, Arlan dan Alvian adalah penembak jitu yang bisa menembak dari jarak jauh dan langsung mati di tempat.
Sebenarnya para psycopath yang terdiri dari Max, Baron, Charli, Alex, Leo dan Louis sebenarnya ingin menyiksanya tetapi karena sudah berjanji untuk bertobat mereka tidak melakukannya.
Besok paginya mereka berangkat dan menjalankan misinya dengan rapi sehingga orang-orang tidak ada yang mencurigai mereka.
Dennis menghubungi ke dua orang tuanya kalau dirinya ditugaskan untuk ke medan perang di negara yang sedang konflik.
Dennis bersama Rocky, Doddy dan teman-temannya berangkat untuk perang. Awalnya orang tuanya tidak setuju tapi karena tugas negara akhirnya merelakan putranya untuk pergi medan perang.
Waktu berjalan dengan cepatnya hingga tidak terasa sudah empat bulan mereka pergi ke medan perang hingga akhirnya perang berakhir. Sebagian ada yang gugur di medan perang, ada yang selamat dan ada yang luka-luka dari yang terkecil hingga terberat.
Dennis dan Doddy hanya luka ringan sedangkan Rocky yang paling parah. Rocky mengalami kelumpuhan dan cacat pada wajahnya terkena serpihan bom ketika menyerang para musuhnya. Keluarga besar Alvonso, keluarga besar Kennath datang ke rumah sakit untuk menjenguk keadaan Rocky.
" Hiks... hiks... La... Mar... hiks ... hiks ..." Ucap Clarissa sambil terisak dan memeluk ke dua sahabat baiknya.
" Sabar ya Cla." Ucap mommy Laras dan dokter Maria sambil memeluk sahabatnya.
__ADS_1
" Rocky, terpuruk sejak kepergian Putri. Aku takut putra pertamaku akan bertambah terpuruk jika dirinya mengetahui kalau wajahnya cacat dan dirinya lumpuh." Ucap Clarissa sambil melepaskan pelukannya begitu pula dengan mommy Laras dan dokter Maria.
" Bukankah wajahnya bisa di operasi dan lumpuhnya tidak permanen jadi kemungkinan besar Rocky hidup normal lagi." Ucap dokter Maria
" Memang benar tapi apakah dirinya bersedia melakukan operasi dan belajar jalan karena belahan jiwanya telah meninggal jadi tidak ada semangat untuk melakukan itu." Ucap Clarissa
" Kalian tahu waktu Rocky mendengar kabar Debby menikah dirinya sedih tapi dirinya tidak pernah menangis tapi ketika Putri meninggal dirinya menangis di kamarnya. Hatinya sangat hancur mendengar kabar tersebut membuatnya tidak ada semangat untuk hidup." Ucap Clarissa dengan nada sendu.
" Bukan kamu saja, Dennis dan Doddy juga sama-sama terpuruk. Dulu waktu Dennis dengan kekasihnya batal menikah Dennis merasakan sedih hingga kami menjodohkan Dennis dengan teman bisnis tapi tak satupun yang menarik hatinya dan kalian pasti tahu kalau putraku yang dingin terhadap siapapun dan berwajah datar berubah karena bertemu dengan Elisabeth. Tapi ketika mengetahui Elisabeth meninggal Dennis kembali seperti dulu lagi malah dua kali lipatnya." Ucap mommy Laras dengan wajah sendu.
" Sabar ya La, Cla." Ucap dokter Maria sambil memeluk ke dua sahabatnya.
Mereka bergantian masuk ke dalam ruang perawatan dan melihat Rocky yang masih tidak sadarkan diri dengan wajah dan tubuhnya di perban mirip mumi. Setelah hampir dua jam satu persatu pergi ke rumah sakit menuju ke mansion masing-masing meninggalkan dua pasang suami istri yaitu Ronald dengan Clarissa dan pasangan muda Harlan dengan Liani putri mereka.
" Bunda dan ayah lebih baik pulang, biar aku dan mas Harlan menunggu kak Rocky." Ucap Liani
" Tidak bunda dan ayah akan menunggu kakakmu." Ucap bunda Clarissa
" Kalau begitu kami pulang dulu nanti malam kami akan kembali lagi." Ucap Liani
" Baiklah hati-hati." Jawab Ronald dan Clarisa serempak.
Liani dan Harlan mengecup punggung tangan Ronald dan Clarissa secara bergantian setelah itu mereka pulang ke mansion sedangkan Clarissa duduk di kursi dekat ranjang dengan di temani suaminya Ronald.
" Seandainya Putri masih hidup mungkin Rocky akan semangat dalam menjalani hari-hari." Ucap Clarisa dengan nada lirih.
" Dia sudah meninggal mom, ikhlaskan Putri." ucap Ronald yang juga berharap ada keajaiban walau itu tidak mungkin.
__ADS_1