
Waktu berjalan dengan cepatnya, seperti biasanya Dennis pulang dengan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju mansion milik orang tuanya.
tap
tap
tap
Bunyi suara sepatu pantofel milik Dennis menggema di lantai satu, Dennis berjalan ke ruang keluarga. Dennis melihat semua anggota keluarganya sudah berkumpul termasuk ke dua orang tuanya.
" Sore Dennis." panggil mereka serempak
" Sore." jawab Dennis dengan nada singkat sambil mencium punggung tangan ke dua orang tuanya secara bergantian kemudian berlanjut ke orang yang lebih tua yaitu kakak - kakaknya dan kakak - kakak iparnya sedangkan adiknya Dennisa dan Max mengecup punggung tangan Dennis karena Dennisa adiknya dan karena Max menikah dengan adiknya secara otomatis Max di anggap sebagai adik.
" Sayang, kamu mandi nanti kita makan bersama seperti biasanya." ucap mommy Laras
" Baik mom, mari semuanya." ucap Dennis sambil melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga
Mereka semua menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dennis melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket karena aktivitas dari pagi hingga sore.
Setengah jam kemudian kini mereka semua berkumpul di ruangan meja makan. Mereka makan dalam diam tidak ada satupun yang berbicara karena sudah peraturan dari orang tua Alvonso secara turun temurun.
Selesai makan seperti biasa mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
" Kak Dennis kata mommy, kak Dennis akan menikah dengan kak Elisabeth ya?" tanya Dennisa
" Benar adikku yang paling cantik." ucap Dennis sambil tersenyum.
" Kamu sudah yakin menikah dengan Elisabeth?" tanya kakak pertamanya yang bernama Alvonso.
" Dennis yakin kak, tiga hari lagi kami akan menikah." ucap Dennis sambil tersenyum.
" Kata mommy menikah secara sederhana ya?" tanya kakak ke duanya yang bernama Alvian.
" Iya kak Alvian, sebenarnya kami ingin pesta pernikahan secara mewah." adu Dennis yang sangat dekat dengan Alvian.
Dennis dekat dengan semua saudara - saudaranya tapi yang paling dekat adalah kakaknya yang bernama Alvian.
" Tidak apa-apa Den, yang penting sah di mata agama dan negara. Dulu kak Alvonso dan Harlan juga menikah dengan sederhana tidak masalah yang penting sah di mata agama dan negara." ucap Alvian
" Iya kak." Jawab Dennis yang tidak berani membantah perkataan kakaknya.
" Dennis jangan lupa besok setelah menjemput Elisabeth langsung di bawa ke hotel dan ingat jika kalian sudah sampai hotel kamu tunggu di dalam mobil jangan ikut masuk ke dalam kamar hotel karena di sana banyak relasi Daddy dan mommy yang menginap di hotel milik kita." ucap mommy Laras.
" Iya mom." Jawab Dennis patuh.
" Setelah itu kalian pergi ke butik milik bunda Clarissa untuk mencoba gaun pengantin dan jas pengantin." ucap mommy Laras.
" Iya mom." Jawab Dennis lagi dengan nada patuh.
" Karena sudah malam kita istirahat di kamar." ucap mommy Laras.
__ADS_1
" Baik mom." jawab mereka
Merekapun meninggalkan ruang keluarga sedangkan anak - anak mereka bersama babby sister. Alvonso dan istrinya, Alvian dan istrinya, Alviana dan suaminya, Harlan dan istrinya mengecup kening masing-masing anak mereka sebelum di bawa oleh baby sister mereka.
xxxxxxx
Malam berganti pagi seperti biasa para perempuan memasak untuk keluarga besar Alvonso hanya Dennisa yang tidak membantu karena kandungan Dennisa masih lemah dan juga mengingat dulu Dennisa pernah keguguran membuat Max melarang Dennisa masuk ke dalam dapur.
Kelly, dokter Amelia, Alviana, Liani dan Amora tidak masalah dan memakluminya karena mereka di didik untuk tidak saling iri melainkan saling membantu sesama saudara. Sedangkan Debby masih berbulan madu dengan suaminya Leo.
Selesai memasak, satu persatu keluarga besar Alvonso duduk di meja makan. Setelah semuanya sudah lengkap mereka mulai berdoa bersama dengan di pimpin oleh daddy Alvonso. Selesai berdoa mereka makan dalam diam tanpa ada yang bicara.
Selesai makan seperti biasa mereka berkumpul bersama keluarga sebelum mereka berangkat ke kantor masing-masing.
" Bagaimana kantor pusat Al, apakah ada masalah?" tanya daddy Alvonso ke putra pertama yang bernama Alvonso
" Tidak ada dad." Jawab Alvonso
" Kalau Alvian?" tanya daddy Alvonso
" Sama dad, tidak ada masalah.
" Bagaimana dengan Arlan?" tanya daddy Alvonso
" Kemarin siang ada sedikit masalah, sekretaris mendadak berhenti tapi sudah diatasi oleh istriku Alviana waktu istriku mengantar makan siang." ucap Arlan
" Syukurlah daddy ikut senang, kapan mau buka lowongan kerja?" tanya Daddy Alvonso ke menantunya bernama Arlan.
" Bagus, kalian berdua harus bekerja sama dan kamu Alviana sebelum menerima sekretaris baru selidiki dulu apakah dia benar-benar serius kerja atau ada penyusup yang sengaja di kirim musuh. Kamu bisa minta bantuan saudara - saudaramu." ucap daddy Alvonso.
" Baik dad." jawab Alviana dan Arlan serempak.
" Bagaimana dengan Harlan?" tanya daddy Alvonso
" Tidak ada dad." jawab Harlan
" Hmm.. bagus kalau begitu, kalau ada waktu bantu Arlan karena dulu kamu sekretaris Arlan." ucap daddy Alvonso.
" Baik dad, nanti siang kebetulan jadwal Harlan kosong nanti mampir ke kantor kak Arlan." jawab Harlan.
" Ok." Jawab daddy Alvonso singkat.
Semenjak Harlan menikah Harlan tidak bekerja lagi dengan Arlan karena daddy Alvonso memberikan posisi CEO di cabang perusahaan yang menyebar di mana - mana sedangkan Arlan bekerja meneruskan perusahaan milik almarhumah ibunya.
" Kalau perusahaan Alex dan Leo?" tanya daddy Alvonso
" Tidak ada masalah dad, kami bertiga saling membantu perusahaan milik Alex dan Leo." ucap Max, Baron dan Charli serempak.
" Syukurlah, kalau perusahaan milik Debby atas nama Leo?" tanya daddy Alvonso
" Sama dad, tidak ada masalah." jawab Max, Baron dan Charli serempak.
__ADS_1
" Bagus ,Daddy senang kalian saling membantu. Oh iya semalam Debby hubungi mommy kalau hari ini pulang." ucap daddy Alvonso.
" Bukannya bulan madunya masih lama dad?" tanya Alvonso
" Memang benar tapi Debby, Inge, Alex dan Leo ingin secepatnya menemani Louis untuk operasi wajah katanya lebih cepat lebih baik. Mereka berempat langsung ke mansion milik Alex dan membawanya ke klinik xxxx tempat temannya Angelina." ucap mommy Laras yang menjawab pertanyaan anaknya yang bernama Alvonso.
" Oh." ucap Alvonso singkat.
" Perusahaan milik Baron, Charli dan Max tidak ada masalahkan?" tanya daddy Alvonso
" Tidak ada dad." jawab mereka serempak.
" Bagaimana dengan mu Dennis?" tanya daddy Alvonso
" Perusahaan nya ada masalah sedi..." ucap Dennis terpotong karena ponselnya berdering.
" Maaf daddy ponselku berdering." ucap Dennis
" Angkatlah." ucap daddy Alvonso
Dennis mengambil ponselnya di saku jasnya kemudian mengangkatnya setelah agak lama akhirnya sambungan komunikasi terputus.
" Mommy dan daddy, Elisabeth sudah sampai di bandara. Maaf Dennis berangkat duluan." ucap Dennis sambil mengecup punggung ke dua tangan orang tuanya secara bergantian dan di lanjutkan dengan saudara - saudaranya berserta ipar - iparnya setelah selesai Dennis langsung pergi meninggalkan mereka semua.
" Kalian sudah tahu apa yang akan kalian lakukan?" tanya Daddy Alvonso mengenai rencana yang di susun oleh daddy Alvonso dan mommy Laras.
" Sudah dad." Jawab Alvonso, Alvian dan Max
" Bagus kalian pergilah dan untuk Baron dan Charli tolong bantu pekerjaan Alvonso dan Alvian." perintah daddy Alvonso
" Baik dad." Jawab Alvonso, Alvian, dan Max kompak merekapun langsung berpamitan seperti biasanya kemudian meninggalkan mereka semua yang berada di situ.
" Baik dad." Jawab Baron dan Charli serempak langsung berpamitan dan pergi meninggalkan mereka yang berada di situ.
" Untuk kalian yang tinggal di sini, untuk saat ini jangan keluar dulu." perintah daddy Alvonso
" Baik dad." jawab Kelly, Amelia, Dennisa, Mira dan Amora serempak.
" Bagus, Daddy dan mommy juga berada di sini nanti sahabat mommy Clarissa akan ke sini." ucap mommy Laras.
" Baik." Jawab mereka serempak.
Arlan dan Alviana serta Harlan pergi ke kantor, mereka berpamitan seperti biasanya kemudian meninggalkan mereka semua yang berada di situ.
xxxxxxx
Ayo donk vote, like, hadiah dan komentarnya biar author semakin bersemangat menulisnya.
Terima kasih yang sudah memberikan vote, like, hadiah dan komentarnya.
Salam Author
__ADS_1