Tentara Dingin VS Dokter Dingin

Tentara Dingin VS Dokter Dingin
Dennis dan Elisabeth


__ADS_3

" Aku juga mencintaimu, aku merasa nyaman bersamamu. Tinggallah di kota ini agar kita sering bertemu. Jika aku dapat ijin bermalam kita bisa bertemu kembali jadi sekali lagi aku pinta padamu tinggallah di kota ini." Pinta Dennis sambil melepaskan tangan kanannya yang memegang dagu Elisabeth begitu pula dengan tangan kirinya yang memeluk tubuh Elisabeth.


Elisabeth langsung bangun dari tubuh Dennis dan duduk di sisi ranjang samping memandangi Dennis seakan tidak percaya dengan ucapan Dennis barusan.


" Kak Dennis jangan bercanda." Ucap Elisabeth


" Kakak tidak bercanda sayang, kakak mencintaimu jangan pergi lagi." Ucap Dennis sambil memeluk tubuh Elisabeth


" Sayang?" Tanya ulang Elisabeth sambil membalas pelukan Dennis


" Mulai sekarang dan seterusnya aku akan memanggilmu dengan sebutan sayang dan aku ingin sayangku juga menyembutku dengan sebutan sayang." Ucap Dennis sambil mendorong perlahan agar dapat melihat wajah cantik Elisabeth.


" Baik sa... sayang." ucap Elisabeth dengan nada gugup hatinya sangat bahagia karena ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


Dennis tersenyum melihat ke dua pipi Elisabeth yang bersemu merah sambil membelai rambut Elisabeth.


" Sayang, kakak mau mandi dulu." Ucap Dennis sambil berdiri menuju ke arah kamar mandi


" Tapi kak kok mandi di kamarku?" tanya Elisabeth


" Sebenarnya ini kamarku tapi kenapa kamu tidur di kamarku?" tanya Dennis baru tersadar karena melihat banyak barang - barang wanita di meja rias.


" Aku tidak tahu kalau kakak tidur di sini, aku akan pindah kamar." ucap Elisabeth tidak enak hati.


" Tidak apa - apa pakai saja kamar yang aku tempati dan tenang saja walau kita tidur bersama kita hanya berpelukan dan selebihnya hanya ciuman." Ucap Dennis dengan nada santai.


" Yakin kalau hanya sekedar ciuman?" tanya Elisabeth


" Kalau kamu minta lebih aku bersedia kok." Goda Dennis.


" Aish... enak saja." Ucap Elisabeth sambil berdiri dan memukul bahu Dennis dengan gemas


Pukulan Elisabeth tidak ada artinya buat Dennis karena terasa seperti pijatan lembut.


" Hehehehe... tenang saja aku bukan pria brengsek. Kita melakukan itu jika kita sudah resmi menikah tapi itu kalau kamu setuju menikah denganku." Ucap Dennis


" Tentu saja aku setuju menikah dengan kak Dennis." Ucap Elisabeth dengan yakin.

__ADS_1


" Aku menikahnya lama menunggu aku selesai pendidikan dan naik pangkat baru aku ada keinginan untuk menikah dan juga lulus kedokteran." ucap Dennis.


" Aku akan menunggu kak Dennis melamarku." ucap Elisabeth sambil tersenyum bahagia.


cup


" Terima kasih mau menungguku." Ucap Dennis


Elisabeth tersenyum kemudian berlari dengan cepat ke arah kamar mandi dan langsung mengunci pintu kamar mandi membuat Dennis bengong. Setelah agak lama barulah Dennis tersadar dari lamunannya.


" Elisabeth!!!" teriak Dennis karena dikerjai oleh Elisabeth.


Elisabeth tersenyum dan membiarkan Dennis berteriak dan mengetuk pintu kamar mandi. Elisabeth melepaskan seluruh pakaiannya hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.


Elisabeth menyikat gigi terlebih dahulu setelah selesai Elisabeth menyalakan air shower agar tubuhnya basah setelah di rasa cukup, Elisabeth mematikan air shower kemudian seluruh tubuh mulusnya disabuni hingga berbusa. Elisabeth kembali menyalakan kembali air shower hingga busanya benar - benar habis.


" Aduh aku lupa bawa pakaian, masa aku pakai handuk doank." Ucap Elisabeth sambil menepuk keningnya.


Elisabeth menutupi sebagian tubuhnya dan hanya menyisakan setengah gunung kembarnya dan setengah paha yang putih mulus.


ceklek


" Ngapain ngintip - ngintip mau maling ya?" usil Dennis


" Kak Dennis!!! bikin kaget saja." pekik Elisabeth sambil mengusap dadanya.


Dennis tersenyum geli melihat Elisabeth yang sangat menggemaskan.


" Lupa bawa pakaian ya?" goda Dennis


" Hehehehe... kak Dennis tolong donk keluar aku mau ambil pakaian." Pinta Elisabeth


" Kenapa malu? toh aku sudah dua kali melihat tubuh polosmu." Goda Dennis


deg


deg

__ADS_1


Jantung Elisabeth berdetak kencang mendengar ucapan Dennis walau dirinya tahu kalau Dennis bercanda tapi hatinya sangat terluka dan malu terhadap Dennis dan merasa dirinya kotor serta menjijikkan. Wajah Elisabeth yang awalnya memerah menahan malu berubah menjadi sendu dan matanya berubah memerah menahan air matanya yang siap keluar.


Dennis yang awalnya senyum - senyum melihat Elisabeth memerah karena malu senyumannya langsung memudar dan merasa bersalah karena Elisabeth berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah penuh kesedihan.


" Hiks ... hiks ... hiks..." Tangis Elisabeth sambil duduk bersimpuh di lantai kamar mandi.


Dennis mendorong perlahan pintu kamar mandi kemudian menarik tubuh Elisabeth dan memeluknya.


" Maaf aku hanya bercanda." Ucap Dennis


" Hiks... hiks... hiks.. aku kotor hiks... hiks.. aku menjijikkan hiks... hiks ..." ucap Elisabeth sambil menangis dan membalas pelukan Dennis.


" Ssstt jangan menangis kamu tidak kotor dan tidak menjijikkan." ucap Dennis sambil membelai punggung Elisabeth agar berhenti menangis.


" Hiks... hiks.. lebih baik kak Dennis mencari gadis lain yang lebih baik dariku hiks...hiks... aku tidak pantas untuk kak Dennis hiks .. hikss... aku tidak akan marah karena kakak berhak bahagia." ucap Elisabeth sambil terisak.


" Tidak bagi kakak kamu pantas untuk mendampingi kakak. Bersabarlah empat tahun lagi kita akan menikah." Ucap Dennis penuh keyakinan.


Elisabeth mengangkat kepalanya dan menatap wajah tampan Dennis dan melihat di mata Dennis tidak ada kebohongan di matanya. Dennis menatap bibir Elisabeth yang sudah menjadi candunya.


cup


Dennis yang sudah tidak tahan mengecup bibir Elisabeth dengan singkat karena tidak ada perlawanan Dennis mulai mengecup bibir Elisabeth dan ********** membuat Dennis menuntut lebih. Dennis menarik handuk Elisabeth kemudian tangan kanannya memainkan salah satu gunung kembar milik Elisabeth.


******* keluar dari mulut Elisabeth membuat Dennis semakin semangat bibir Dennis menggigit leher Elisabeth hingga meninggalkan jejak kemerahan. Tanpa sadar tubuh Dennis juga polos tanpa sehelai benangpun sama seperti Elisabeth.


Dennis menggendong Elisabeth dan mereka berdua masuk ke dalam bathtub dan menyalakan air kran tanpa melepaskan ciuman mereka.


Dennis dan Elisabeth yang sudah terbakar gairah membuat adik kecil milik Dennis ingin merasakan dan masuk ke gua yang paling dalam milik Elisabeth. Dennis memegang adik kecilnya dan didekatkan ke privasi Elisabeth dan kepalanya masuk sedikit.


" Sstttt... sakit..." Rintih Elisabeth


Dennis langsung tersadar dan langsung berdiri dan berjalan ke arah shower untuk mendinginkan tubuhnya dengan bermain solo. Setelah selesai Dennis langsung mandi membersihkan tubuhnya.


Dennis berjalan dengan santai kemudian mengambil handuk baru untuk menutupi tubuh bagian bawahnya dan keluar dari kamar mandi.


Begitu pula dengan Elisabeth dirinya langsung mandi. Selesai mandi Elisabeth berjalan menuju ke lemari yang menyimpan handuk bersih dan mengambilnya untuk dipakainya.

__ADS_1


Elisabeth menghembuskan nafasnya dengan berat melihat perubahan sikap Dennis yang tiba - tiba dingin. Elisabeth keluar dari kamar mandi sambil menahan agar air matanya tidak keluar. Elisabeth melihat Dennis sudah tidak ada di kamarnya.


" Sepertinya aku memang harus pindah ke Jakarta, kenangan di sini terlalu menyakitkan buatku." Ucap Elisabeth dalam hati.


__ADS_2