
Dokter dan perawat saling menatap, mereka berdua bingung dengan sepasang suami istri. Suaminya tersenyum bahagia sedangkan istrinya snagat shock dan terkesan tidak menginginkan kehamilannya.
" Dokter pasti salah, cek yang benar dok." pinta Petra
" Maaf nyonya, di layar itu tampak jelas satu bulatan besar dan di dalam bulatan terdapat dua bulatan itu adalah dua janin kembar." ucap dokter tersebut menjelaskan.
" Kamu kenapa sayang? apa kamu tidak suka kamu hamil anakku?" tanya suaminya
" Maaf aku hanya kaget saja." Ucap Petra sambil pura - pura tersenyum.
" Oh iya dokter, selama istriku hamil bolehkan kami melakukan kegiatan suami istri?" tanya Rahul
" Untuk sementara jangan dulu tuan karena berbahaya dengan janinnya." Ucap dokter memperingatkan Rahul
" Lalu kapan saya bisa melakukan kegiatan suami istri?" tanya Rahul sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Sampai janinnya kuat kira - kira lima bulan lebih." ucap dokter tersebut karena melihat Petra menatapnya dengan tatapan mengiba dan menunjukkan jari lima ke arah dokter tersebut.
" Sekarang berapa umur janinnya dok?" tanya Rahul sambil menatap ke arah layar monitor di mana ada dua anaknya yang sangat diharapkan.
" Satu bulan tuan." Ucap dokter tersebut karena melihat tatapan memohon Petra dan menunjuk angka satu.
" Berarti empat bulan saya berpuasa?" keluh Rahul
" Demi anak - anak tuan." ucap dokter tersebut
" Baik dokter terima kasih." Ucap Rahul sambil membantu Petra untuk turun dari ranjang.
Dokter itupun memberikan obat penguat kandungan dan vitamin kemudian sepasang suami istri pergi meninggalkan dokter dan perawat.
" Dokter kenapa berbohong?" tanya perawat itu
" Aku terpaksa karena melihat tatapan wanita itu yang sepertinya tertekan dengan kehamilannya dan memohon padaku untuk berbohong. Apakah kamu tidak lihat sepertinya suaminya itu sangat maniak? kalau kita berkata jujur yang ada kasihan janin dan istrinya." ucap dokter tersebut.
Petra dan Rahul duduk di kursi untuk menunggu obat penguat kandungan dan vitamin.
" Bagaimana aku bisa hamil." gumam Petra tidak percaya dengan suara nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Petra berpikir apakah dirinya pernah melupakan meminum pil kb tapi dirinya merasakan dirinya tidak pernah lalai sedikitpun.
" Berarti selama empat bulan aku berpuasa tidak melakukan hubungan suami istri?" bisik Rahul ke telinga Petra
" Sayang, kan bisa melakukan sama wanita lain." ucap Petra tanpa memikirkan akibat ucapannya.
" Baiklah kalau begitu biarlah Rita datang dan tinggal di mansionku." Ucap Rahul tanpa dosa.
" Tidak lebih baik dengan wanita lain saja." Tolak Petra
Rahul ingin menjawab tapi nama istrinya di panggil dan Rahul pun tidak melanjutkan perkataannya. Rahul berdiri dan berjalan ke arah kasir untuk membayar biaya pengobatan istrinya.
Selesai melakukan pembayaran mereka berdua berjalan ke arah parkiran mobil. Rahul dan Petra duduk di kursi belakang pengemudi sedangkan sopir yang merangkap bodyguard duduk di kursi pengemudi dengan di dampingi temannya yang seorang bodyguard juga. Sopir tersebut mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
" Aku ingin dengan Rita dan tidak ada penolakan." ucap Rahul melanjutkan perkataannya yang tadi tertunda.
Petra menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Terserah tapi dengan satu syarat jangan menikah dengannya karena aku tidak ingin di madu." ucap Petra
" Tenang saja asalkan kamu menjaga anak kita yang berada di dalam kandunganmu." pinta Rahul
Rahul pun menghubungi Rita untuk datang sekaligus tinggal mansionnya entah kenapa Petra merasakan hati kecilnya tidak rela jika suaminya bersama wanita itu tapi berusaha ditepisnya.
Singkat cerita mereka sudah sampai di mansion bertepatan kedatangan Rita membuat Rahul langsung menarik tangan Rita menuju ke kamar tamu untuk menyalurkan hasratnya yang sangat tinggi.
Dua Bulan Kemudian
Sudah dua bulan lamanya Rahul lebih fokus dengan Rita dan Petra tidak memperdulikan nya karena dirinya merasakan kebebasan tidak melayani ***** suaminya yang sangat tinggi yang penting hobbynya yang suka belanja tidak dilarang oleh suaminya namun di hati kecilnya yang terdalam hatinya sangat sakit tapi selalu berusaha ditepisnya.
Petra seperti biasa selalu bangun jam sebelas siang dan langsung menuju ke meja makan tanpa mandi. Entah kenapa sejak kehamilannya dirinya malas untuk mandi dirinya mandi jika sudah jam dua belas siang.
Petra duduk di kursi makan sambil mengambil nasi dan lauk pauk tanpa memperdulikan suaminya. Rita selalu memperhatikan suami Petra mengambilkan nasi dan lauknya kemudian menuangkan minum ke gelas yang masih kosong barulah ke dirinya.
" Petra bisakah sebelum makan kamu mandi dulu?" tanya suaminya yang tiba - tiba merubah panggilan sayang menjadi namanya.
" Anak kita lapar." Ucap Petra dengan nada cuek dan tidak memperdulikan suaminya memanggil dirinya dengan sebutan nama saja.
__ADS_1
Rahul menggenggam erat ke dua tangannya dan Rita hanya mengusap punggung Rahul agar bisa menahan emosinya.
" Apakah setelah mandi kamu pergi lagi ke mall?" tanya Rahul setelah dirinya merasa tenang karena usapan Rita di punggungnya.
" Tentu saja aku bosan di sini." Ucap Petra
" Kenapa kamu tidak bisa seperti Rita tidak pernah pergi ke mall dan menghamburkan uang sampai jutaan?" ucap Rahul berusaha menahan emosinya
" Rita itu cewe bayaran dan sebagai cewe bayaran harus tahu diri akan posisinya dan jangan berlagak sok seperti nyonya rumah." ucap Petra sambil menatap tajam ke arah Rita
brak
" Apakah kamu tidak berfikir aku ini suamimu tapi tidak pernah sedikitpun kamu memperdulikan aku. Kamu makan sendiri sedangkan Rita melayani aku dengan sangat baik baik di ranjang maupun di saat aku makan." ucap Rahul sambil menggebrak meja.
Selama dua bulan sejak kedatangan Rita, Petra tidak pernah sedikitpun perduli dengan suaminya. Setiap pagi Rita menyiapkan pakaian kerja, menyiapkan air hangat, membantu memakaikan pakaian Rahul hingga menyiapkan makanan. Di saat Rahul lelah Rita dengan setia memijat keningnya dan ketika Rahul ingin melakukan hubungan suami istri Rita tidak pernah menolaknya dan melayaninya dengan sepenuh hati berbeda dengan istrinya yang selalu enggan ketika melakukannya.
brak
" Aku kan sudah bilang dia wanita bayaran jadi sudah sepantasnya dia melakukan itu semua, sudahlah aku jadi malas makan." Ucap Petra sambil menggebark meja dan meninggalkan meja makan.
Petra yang sangat kesal karena dibandingkan dengan Rita membuat dirinya pergi meninggalkan ruangan makan dan menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. Sebelum menutup pintu Petra membanting kamarnya dengan keras sehingga terdengar sampai di lantai satu.
" Istriku tidak pernah berubah sejak menikah hingga sekarang." ucap Rahul sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Mungkin pengaruh hormon hamil maka nona Petra seperti itu." Ucap Rita
" Kenapa kamu sangat baik padaku? apakah kamu tulus mencintaiku atau mencintai hartaku?" tanya Rahul
" Aku sangat tulus mencintaimu tuan." ucap Rita dengan tulus
Rahul menatap mata Rita dan tidak ada kebohongan di matanya.
" Panggil aku Rahul." Pinta Rahul
xxxxxxx
Bab selanjutnya penyesalan Petra karena telah menyia - nyiakan suaminya dan juga Petra bertemu kembali dengan kakak kembarnya.
__ADS_1
Ayo donk vote, like, komentar dan hadiah agar author semangat