
Dennis menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menatap tajam ke arah Elisabeth.
" Kamu dandanin aku jadi pria culun." pinta Dennis pasrah sambil duduk di kursi rias.
" Baiklah." Jawab Elisabeth
Elisabeth mulai menyisiri rambut Dennis yang awalnya seperti model kini di ubah menjadi pria culun.
" Kak Dennis sekarang menghadap ke aku?" pinta Elisabeth setelah selesai merubah rambut Dennis menjadi culun.
Dennis dengan patuh membalikkan badannya dan menatap Elisabeth dari dekat. Elisabeth memegang kancing kemeja milik Dennis.
grep
" Apa yang ingin kamu lakukan hah!!" bentak Dennis sambil menahan tangan Elisabeth.
Elisabeth menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menatap tajam ke arah Dennis.
" Kak Dennis aku hanya mengancingkan kemeja kak Dennis sampai atas." ucap Elisabeth berusaha menahan emosinya karena di bentak oleh kak Dennis.
" Aku bukan mau pergi ke kantor, apalagi akukan hanya memintamu mendadani aku pria culun kenapa mesti pakai dasi?" protes Dennis
" Siapa yang memasangi kak Dennis dasi? Aku hanya mengancingi sampai atas agar terlihat lebih culun." ucap Elisabeth dengan nada ketus.
" Kenapa kamu marah - marah?" tanya Dennis terkejut.
" Siapa yang tidak marah karena kak Dennis bicara denganku dengan nada satu oktaf." ucap Elisabeth sambil mengancingkan kemeja kak Dennis.
( " Ingin rasanya mencekik leher kak Dennis, jadi pria ngeselin banget." umpat Elisabeth dalam hati ).
" Kamu mengumpatku?" tanya kak Dennis
" Tidak." Jawab Elisabeth sambil fokus mengancingkan baju yang paling atas
" Benarkah?" tanya Dennis sambil tangan kanannya memegang dagu Elisabeth dan mendekatkan wajahnya ke wajah Elisabeth
" Iya aku mengumpat kak Dennis, puas?" tanya Elisabeth sambil menepis tangan kak Dennis dan membalikkan badannya.
grep
Dennis memeluk Elisabeth dari arah belakang dan menghirup aroma lavender membuat adik kecil milik Dennis mulai menegang.
" Kak Dennis lepas." ucap Elisabeth
( " Sial kenapa adik kecilku menjadi tegang." umpat Dennis dalam hati sambil melepaskan pelukannya ).
" Oh iya ketika kita keluar dari kamar hotel kita harus menyamar menjadi pasangan kekasih agar mereka tidak curiga." ucap Dennis
" Baiklah, oh iya koperku dan pesanan makananku ada di resepsionis jadi nanti kita mampir ke resepsionis." ucap Elisabeth.
__ADS_1
" Ok." Jawab Dennis singkat.
Mereka berdua keluar dari kamar Dennis sesuai kata Dennis, Dennis memeluk Elisabeth dari arah samping.
deg
deg
deg
Ke dua jantung mereka berdetak kencang ketika Dennis memeluk Elisabeth.
" Kak Dennis kenapa memelukku?" protes Elisabeth
" Akukan sudah bilang kalau kita pura - pura pasangan kekasih." bisik Dennis sambil menahan hasratnya karena walau bagaimanapun dirinya juga lelaki normal.
" Baiklah." Jawab Elisabeth sambil tersenyum menyeringai
Elisabeth meletakkan kepalanya di dada bidang Dennis sambil membalas pelukan Dennis.
" Apa yang kamu lakukan?" bisik Dennis sambil masuk ke dalam pintu lift.
" Kan kak Dennis bilang kita pura - pura jadi pasangan kekasih." Jawab Elisabeth polos.
Dennis hanya diam tapi hatinya menyesali apa yang dikatakannya.
( " Aduh jantung kenapa jantungku berdetak kencang, aduh apa yang akan aku katakan ke gadis ini kalau jantung ku berdetak kencang. Di lihat dari dekat gadis ini sangat cantik dan seksi apalagi tanpa menggunakan sehelai benang pun. Aduh Dennis kenapa jadi mesum sih? ingat Dennis semua gadis itu sama." omel Dennis dalam hati sambil menggeleng - gelengkan kepalanya ).
" Tidak ada apa-apa, hanya leherku terasa pegal karena itu kepalaku aku geleng - gelengkan." ucap Dennis sambil menggerakkan lehernya.
Elisabeth hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan percaya omongan Dennis.
( " Aduh untung dia percaya kalau tidak apa alasanku." ucap Dennis dalam hati.
( " Jantung kak Dennis berdetak kencang sama seperti jantungku. Apakah kami saling jatuh cinta? karena dari buku yang aku baca kalau jantung mereka berdetak kencang tanda kalau dirinya jatuh cinta. Tidak - tidak semua pria sama saja suka mempermainkan perasaan wanita sama seperti kak Aldo dan juga teman - temanku yang mengalami putus cinta. Aku harus menghilangkan perasaanku padanya karena aku yakin kalau kak Dennis pasti banyak yang mengejar - ngejar karena kak Dennis sangat tampan dan aku lihat dari pakaian kak Dennis semua barang branded." ucap Elisabeth dalam hati ).
Ting
Pintu lift terbuka mereka pun keluar dari pintu lift. Banyak pasang mata yang menatap mereka tapi karena penampilan mereka culun membuat mereka tidak curiga. Mereka berjalan ke arah resepsionis untuk mengambil koper milik Elisabeth yang tadi dititipkan dan juga mengambil makanan pesanan Elisabeth serta kartu kredit miliknya.
Mereka berdua keluar dari lobby dan berjalan ke arah parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil milik Dennis.
" Syukurlah mereka tidak curiga." ucap Elisabeth sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang karena takut ketahuan.
Dennis mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke arah tol.
" Kalau ketahuan apakah kamu akan lari meninggalkan aku?" tanya Dennis sambil melirik sekilas ke arah Elisabeth.
" Tidak." Jawab Elisabeth singkat.
__ADS_1
" Kenapa? bukankah kamu dari tadi memelukku dengan kencang seperti orang ketakutan?" tanya Dennis
" Memang benar aku takut tapi aku bukan orang yang tega melihat orang disakiti." ucap Elisabeth
Dennis hanya menganggukkan kepalanya, jauh di dasar hatinya dirinya sangat kagum dengan sikap perduli Elisabeth. Mereka sebenarnya sudah ada perasaan suka tapi belum ada yang menyadarinya.
Elisabeth membuka dua kepang rambut kemudian melepaskan kaca matanya karena dirinya terbiasa rambutnya di urai. Tanpa sepengetahuan mereka mobil mereka diikuti oleh satu mobil.
" Cantik." gumam Dennis melirik sekilas ke arah Elisabeth
" Apa?" tanya Elisabeth yang mendengar gumaman Dennis
" Itu bunga - bunga yang di jual di toko sebrang cantik." ucap Dennis berbohong.
" Iya bunganya cantik." ucap Elisabeth sambil melihat toko bunga yang berada di sebrang.
( " Untung dia percaya kalau tidak mau taruh di mana wajahku." ucap Dennis dalam hati ).
Tiba - tiba ponsel milik Dennis berdering.
" Tolong ambilkan ponselku di saku celanaku dan sekalian tolong di angkat." pinta Dennis
" Kalau kekasih kak Dennis telepon bagaimana?" tanya Elisabeth.
" Aku tidak punya kekasih, tolong angkat ponselku." pinta Dennis
" Baiklah." Jawab Elisabeth dengan nada singkat sambil mengambil ponsel milik Dennis di saku celananya kemudian melihat siapa yang menghubungi kak Dennis setelah itu menggeser tombol berwarna hijau.
" Selamat sore tante ." Panggil Elisabeth dengan nada lembut
" Ini siapa ya?" tanya seorang wanita
" Saya Elisabeth tante." ucap Elisabeth dengan nada lembut.
cittttt
Dennis mengerem mobilnya mendadak membuat Elisabeth nyaris terkena dasboard mobil karena Elisabeth menggunakan sabuk pengaman. Dennis menarik paksa ponselnya yang berada di tangan Elisabeth.
" Maaf mommy, Dennis lagi di jalan nanti kalau sudah sampai Dennis akan menghubungi mommy." ucap Dennis
" Ok hati - hati, kamu punya utang penjelasan." ucap mommy Laras
" Baik mommy." Jawab Dennis
tut tut tut tut
Sambungan komunikasi pun langsung terputus. Dennis menatap tajam ke arah Elisabeth.
" Turun!!" bentak Dennis
__ADS_1
" Kita kan belum sampai?" tanya Elisabeth dengan nada bingung karena baru kali ini melihat kemarahan Dennis tanpa sebab yang jelas.
" Turun!!!" bentak Dennis mengulangi perkataan nya.