
Rocky mendengar tawa Putri hanya tersenyum karena entah kenapa hatinya kini lebih berwarna sejak dirinya kenal Putri dan bisa melupakan Debby teman masa kecilnya yang dicintainya.
" Putri, kakak kangen." ucap Rocky sambil tersenyum malu.
" Putri juga kangen dengan kakak." Ucap Putri dengan wajah memerah menahan malu.
" Benarkah?" tanya Rocky dengan rona bahagia.
" Seperti ABG saja." goda Dennis
" Sirik aja kamu Den." Ucap Rocky
Dennis hanya tersenyum melihat temannya seperti itu. Jujur hatinya juga senang karena temannya sudah bisa move on dari kakaknya yang bernama Debby.
" Siapa itu kak?" tanya Putri
" Dennis, kamu ingatkan waktu itu pernah datang ke rumahku?" tanya Rocky
" Iya kak aku ingat, oh iya kak bilang ke kak Dennis dapat salam dari Elisabeth." ucap Putri
" Elisabeth?" tanya ulang Rocky
" Iya kak, Elisabeth yang menemaniku tinggal di rumah kak Rocky." Ucap Putri
" Memang Dennis kenal dengan Elisabeth?" tanya Rocky sambil melirik ke arah Dennis.
" Kenal kak, kakak masih ingatkan koper yang ditinggalkan di kamar tamu tempat kak Dennis menginap di rumah kak Rocky?" tanya Putri
" Iya aku ingat memang apa hubungannya?" tanya Rocky
" Hubungannya Elisabeth lah pemilik koper itu kak." ucap Putri sambil menepuk keningnya karena Rocky tidak paham dengan ucapannya.
" Kamu kenapa menatapku seperti itu? aku tahu aku tampan." ucap Dennis narcis
" Idih narcis, kamu kenal Elisabeth?" tanya Rocky
" Elisabeth?" tanya Dennis mengulangi perkataan Rocky
" Iya Elisabeth, koper yang kamu tinggalkan di rumahku itu milik Elisabeth kan?" tanya Rocky
" Iya benar, kok kamu tahu?" tanya Dennis
" Putri barusan cerita kalau itu koper miliknya. Elisabeth sekarang tinggal sama tunanganku." Ucap Rocky
" Kamu mau bicara dengan Elisabeth?" tanya Rocky.
" Paling dia sama tunangannya." ucap Dennis
" Kak Rocky bilang sama kak Dennis kalau Elisabeth tidak bersama dengan tunangannya tapi sama aku, kami berada di rumah sakit kak." ucap Putri
" Siapa yang sakit Put? kamu atau Elisabeth?" tanya Rocky agak panik
__ADS_1
" Putri, Elisabeth tidak apa - apakan?" tanya Dennis sambil mendekatkan mulutnya ke ponsel milik Rocky dengan nada panik.
" Kami baik - baik saja kak." ucap Putri sambil tersenyum karena dirinya dikuatirkan oleh Rocky.
" Lalu siapa yang sakit?" tanya Dennis
" Petra kak, kak maaf bolehkah aku pakai kartumu lagi buat bayar perawatan adikku Petra? aku janji kalau aku sudah kerja dan dapat gaji aku bayar tapi bayarnya nyicil ya?" ucap Putri tidak enak hati.
" Santai saja Put, pakai saja tidak apa - apa." ucap Rocky
" Terima kasih banyak kak dan maaf kak dokternya sudah keluar nanti sambung lagi." Ucap Putri sambil berdiri mendekati dokter tersebut diikuti oleh Elisabeth.
" Ok deh, jaga dirimu baik - baik." Ucap Rocky
" Kakak juga jaga kesehatan, oh iya kak salam kangen buat kak Dennis dari Elisabeth." ucap Putri sambil tersenyum jahil.
" Putri kamu itu ya." ucap Elisabeth dengan nada agak kesal
" Kamu tidak kangen sama aku Put?" tanya Dennis
" Kangen banget aku kak, semoga kita bisa bertemu." Ucap Putri
" Aku juga kangen banget sama kamu Put, semoga secepatnya kita bertemu. Bilang sama Elisabeth salam kangen dari Dennis." ucap Rocky usil
bugh
" Rocky." ucap Dennis dengan nada kesal sambil memukul bahu Rocky dengan pelan membuat Rocky tersenyum bahagia karena wajah Dennis bersemu merah.
" Ok, bye." Jawab Putri
tut tut tut tut tut
Sambungan komunikasi pun langsung terputus.
" Dokter bagaimana keadaan adikku?" tanya Putri
" Di manakah suaminya?" tanya dokter tersebut
" Suami?" tanya Putri mengulangi perkataan dokter tersebut
" Iya suaminya." Jawab dokter tersebut
" Suaminya sedang bekerja dok, memang ada apa dengan adik saya dok?" tanya Putri berbohong karena dirinya tidak tahu maksud sang dokter tersebut.
" Janin yang berada di dalam kandungan adik nona, maaf kami sudah sekuat tenaga tapi takdir berkata lain kami tidak bisa menyelamatkannya dan selain itu rahimnya harus di angkat karena benturan yang mengenai diperutnya membuat rahimnya bermasalah jadi kami meminta persetujuan operasi untuk melakukan pengangkatan rahim." ucap dokter itu.
deg
Jantung Putri berdetak kencang karena tidak menyangka nasib adiknya yang tragis karena Petra keguguran dan rahimnya harus diangkat.
" Apakah adikku sudah sadar dok?" tanya Putri tanpa menjawab pertanyaan dokter.
__ADS_1
" Adik nona belum sadar, jadi bagaimana?" tanya dokter tersebut
" Apa tidak ada cara lain dokter?" tanya Putri
" Maaf tidak ada dan sekali lagi maaf harus secepatnya karena bisa membahayakan nyawa adik nona." ucap dokter tersebut
" Baiklah dok, saya akan menandatangani surat persetujuan operasi." Ucap Putri pasrah.
" Baik, silahkan ikuti suster itu." Ucap dokter itu menunjuk ke arah suster kemudian masuk ke dalam ruangan ugd untuk dipindahkan ke ruang operasi.
Tangan Putri gemetar menulis data dan menandatangani surat pernyataan operasi, walau adiknya jahat padanya tapi Putri bukan tipe yang dendam pada adiknya. Setelah selesai Putri dan Elisabeth duduk menunggu di ruang operasi.
" Kamu kalau lelah pulang saja El, kamu bisa naik mobil milik kak Rocky" ucap Putri sambil mencari kunci mobil milik Rocky
" Kok kunci mobilnya hilang, kemana ya?" tanya Putri sambil mencari
" Kuncinya ada di aku Put, kan tadi aku yang mengendarai mobil waktu kita ke rumah sakit. Aku akan menemanimu Put tenang saja, oh ya aku mau ke kantin mau nitip apa?" tanya Elisabeth.
" Terima kasih El, kamu memang teman baikku, aku pesan susu coklat hangat." Ucap Putri
" Kitakan bersahabat jadi sesama sahabat harus saling membantu." Ucap Elisabeth sambil tersenyum.
Elisabeth berdiri dan berjalan ke arah kantin untuk memesan dua minuman susu coklat hangat.
bruk
Seorang pria berjalan sambil memainkan ponselnya tanpa memperhatikan jalan hingga menabrak Elisabeth. Elisabeth nyaris terjatuh karena lengan kekar menahan tubuh Elisabeth.
" Maaf aku tidak sengaja." Ucap pria itu.
" Tidak apa - apa, maaf tangannya." ucap Elisabeth dengan nada dingin.
" Oh iya maaf." Ucap pria itu sambil melepaskan pelukannya.
Elisabeth hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya kembali.
" Menarik, biasanya setiap wanita bertemu denganku langsung menempel seperti lem tapi gadis itu bersikap dingin dan cuek." ucap pria itu mengikuti Elisabeth.
Elisabeth memesan dua minuman coklat hangat dan berjalan dengan santai menuju ruang operasi. Elisabeth tahu dirinya diikuti oelh pria yang menabraknya tapi Elisabeth pura - pura tidak tahu.
" Put, ini minumannya." Ucap Elisabeth sambil duduk di samping kursi Elisabeth dan memberikan minuman ke Putri.
" Terima kasih El." Ucap Putri sambil menerima minuman susu coklat hangat.
" Sama - sama Put." Jawab Elisabeth
Mereka berdua meminum secara perlahan-lahan, mereka hanya diam tanpa ada yang bicara sedangkan pria itu hanya tersenyum menyeringai kemudian menghubungi seseorang setelah selesai menghubungi pria itu pergi meninggalkan tempat itu.
Tiga jam lamanya mereka menunggu akhirnya pintu ruangan operasi terbuka. Elisabeth dan Putri langsung berdiri dan mendekati dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan adikku dokter?" tanya Putri
__ADS_1
" Operasi berjalan lancar sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap dokter tersebut.
" Baik dokter terima kasih." Ucap Putri