Tentara Dingin VS Dokter Dingin

Tentara Dingin VS Dokter Dingin
Susul Kami


__ADS_3

" Kami sudah lama menanti kekasih kami masing-masing dan sangat merindukannya." Ucap Dennis


" Aku juga sama sangat merindukan kekasihku, susul kami." Ucap Elisabeth, Dona dan Putri serempak.


" Kami akan menyusul kalian." Ucap Dennis.


" Ok. Kami tunggu." Jawab ke tiganya dengan serempak.


tut tut tut tut tut


" Yes.... Yes... Elisabeth masih hidup, aku sangat mencintaimu!!!" Teriak Dennis bahagia


" Kenapa sih Den? teriak-teriak" Tanya mommy Laras dengan nada terkejut.


" Mommy, Elisabeth, Putri dan Dona masih hidup kita pergi ke kota Semarang." Jawab Dennis sambil tersenyum bahagia


" Apa?" Teriak mommy Laras


" Ya sudah kamu hubungi Doddy dan mommy hubungi Clarissa." Ucap mommy Laras.


" Baik mom." Jawab Dennis


Mommy Laras dan Dennis menghubungi Doddy dan Clarissa kalau Dona dan Putri selamat. Selesai menghubungi mommy Laras dan Dennis menaiki anak tangga dan melihat daddy Alvonso.


" Mau kemana mom?" Tanya daddy Alvonso


" Dad, Putri, Elisabeth dan Dona selamat kita akan bersiap ke bandara menjemput mereka." Ucap mommy Laras


" Kenapa ke bandara, kita kan punya pesawat pribadi dan juga pesawat. Kita berangkat sekarang saja ke sana." Ucap daddy Alvonso.


" Oh iya kenapa mommy lupa ya." Ucap mommy Laras.


" Ada apa ini, kok sepertinya seru?" Tanya Alvian


" Putri, Elisabeth dan Dona selamat kita akan berangkat menjemput mereka." Ucap mommy Laras


" Kami ikut." Jawab mereka serempak yang tiba-tiba datang.


" Lebih baik mommy, daddy dan Dennis kalian di sini saja karena besok baru kami pulang ke sini." Ucap mommy Laras


" Baik mom." Jawab mereka patuh.


Mommy Laras, daddy Alvonso dan Dennis menaiki pesawat dan tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di Bandara Udara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang mereka melanjutkan naik mobil.


" Oh iya Dennis lupa menghubungi kak Arlan dan kak Harlan untuk datang ke xxxxxxx Jl. xxxxxxx no. 5." Ucap Dennis


Dennis langsung menghubungi kak Arlan dan sambungan pertama langsung diangkat oleh Arlan. Dennis menceritakan secara singkat dan Arlan akan datang lebih awal bersama Harlan. Selesai menghubungi ponselnya di simpan di dalam sakunya.


xxxxxxx


Tempat Kediaman Ramon


" Permisi nyonya." Ucap kepala pelayan


" Ada apa bi?" Tanya Imel


" Ada tamu." Ucap kepala pelayan

__ADS_1


" Siapa bi?" Tanya Imel penasaran


" Katanya keluarga Elisabeth, Dona dan Putri." Ucap kepala pelayan.


" Baik, suruh mereka menunggu di ruang tamu." Ucap Imel


" Baik nyonya." Jawab kepala pelayan.


Kepala pelayan itupun pergi meninggalkan Imel sedangkan Imel memanggil ke tiga gadis tersebut. Mereka berempat berjalan ke ruang tamu, Imel membulatkan matanya karena pria yang sudah lama dilupakannya kini ada di hadapannya.


" Kak Harlan." Panggil Imel


Harlan yang sedang mengutak atik ponselnya mengangkat kepalanya karena suaranya sangat familiar di telinganya.


" Imel." Panggil Harlan dengan nada terkejut sambil berdiri.


" Kak Arlan, kak Harlan." Panggil Elisabeth, Dona dan Putri serempak


" Hallo adik-adik kakak yang cantik-cantik." Ucap Arlan sambil membelai rambut mereka secara bergantian begitu pula dengan Harlan.


Arlan dan Harlan menganggap Elisabeth, Putri dan Dona sebagai adik begitu pula sebaliknya menganggap Arlan dan Harlan sebagai kakak tidak lebih.


" Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian tidak ada kabar beritanya?" Tanya Arlan


" Silahkan duduk." Jawab Imel


Merekapun duduk dan Elisabeth mulai bercerita secara singkat dari mereka bertiga terdampar hingga bertemu dengan keluarga Ramon sedangkan Imel menatap Harlan yang tidak pernah berubah malah semakin bertambah tampan hanya sayang Harlan tidak memperhatikan dirinya sama seperti dulu dingin dan cuek.


" Kak Harlan boleh kita bicara sebentar?" Tanya Imel


" Ikuti aku." Ucap Imel


Imel berdiri dan berjalan menuju ke taman belakang diikuti oleh Harlan.


" Kak Arlan dan kak Harlan kenal kak Imel?" Bisik Elisabeth


" Mereka dulu sepasang suami istri tapi sudah lama berpisah." Bisik Arlan tapi masih terdengar oleh Putri dan Dona.


Arlan duduk di tengah-tengah sebelah kanannya Elisabeth sedangkan sebelah kirinya Dona sedangkan Putri sebelah Dona.


" Kok bisa kak?" Tanya ketiganya kepo.


ctak


ctak


" Aduh." Teriak Elisabeth dan Dona serempak sambil mengelus keningnya karena di sentil oleh Arlan


" Weeee.... Ngga kena." Ledek Putri


" Kak Arlan nanti aku aduin sama kak Dennis." Ancam Elisabeth


" Iya aku juga akan aduin sama kak Doddy." Ancam Dona ikutan mengancam


" Kakak tidak takut." Ucap Arlan dengan nada santai.


" Kalau begitu bilang ke kak Alviana, kita bilang kak Arlan menganiaya kita." Ucap ke tiganya sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


" Awas ya kalau kalian mengadu nanti kami tidak mengajak kalian pulang biar kalian tinggal di sini." Ancam Arlan balik


" Aish... kakak nyebelin." Ucap ke tiganya serempak dengan wajah di tengkuk.


" Pffftttt hahahaha... biarin." Jawab Arlan sambil tertawa puas.


xxxxxxx


Harlan dan Imel berdiri agak berjauhan sambil menatap bunga warna warni di taman belakang.


" Ada apa?" Tanya Harlan datar dan dingin.


" Apakah tidak ada sedikitpun perasaan untukku?" Tanya Imel sambil berjalan mendekati Harlan.


" Stop, jangan mendekat. Dari dulu hingga sekarang tetap sama tidak ada sedikitpun perasaan suka. Aku hanya menganggap dirimu sebagai adik seperti anak-anak daddy Alvonso Debby, Dennis, Dennisa, Elisabeth, Putri dan Dona." Ucap Harlan


" Apakah kak Harlan sudah menikah?" Tanya Imel sambil menahan rasa sakitnya.


" Aku sudah menikah dan mempunyai anak dua laki-laki dan perempuan." Ucap Harlan


" Apakah kak Harlan mencintainya?" Tanya Imel


" Ya, kakak sangat mencintai istriku. Dia adalah belahan jiwaku dan tidak ada wanita lain selain istriku." Ucap Harlan


" Aku mohon lupakan aku apalagi aku melihat kamu sudah hidup bahagia dengan suamimu yang mencintaimu dengan sepenuh hati dan juga ke dua putramu." Ucap Harlan


" Darimana kakak tahu!" Tanya Imel dengan nada terkejut


" Kakak tidak bisa mengatakannya sekali lagi bukalah hatimu untuk suamimu. Jangan kamu menyesal jika seandainya suamimu lelah menghadapimu karena kamu tidak mencintainya." Ucap Harlan.


Harlan membalikkan badannya dan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Imel sendirian menuju ke ruang keluarga.


" Kak Arlan, bagaimana kabar kak Rocky?" Tanya Putri


Arlan menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian menatap ke arah pintu.


" Rocky pulang dari perang mengalami lumpuh dan cacat pada wajahnya membuat Rocky terpuruk, arogant dan dingin terhadap siapapun. Rocky tidak pernah tersenyum seperti dulu hari-harinya selalu berada di kamar." Ucap Arlan.


" Apa??" Ucap ke tiganya dengan nada terkejut


" Hiks... hiks... aku ingin bertemu dengannya kak." Ucap Putri sambil terisak.


" Ssstt... sudah jangan menangis nanti kamu akan bertemu dengannya." Ucap Arlan sambil memeluk Putri dari arah samping.


" Kak Arlan, aku dan Rocky sudah mempunyai dua putra." Ucap Putri


" Apa???" Teriak Arlan, Harlan, mommy Laras dan Dennis yang tiba-tiba datang.


Elisabeth pun menceritakan secara singkat tentang Putri membuat mommy Laras menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


" Kita pulang sekarang, temui Rocky mungkin dengan kedatanganmu bisa membuat Rocky tidak terlarut dalam kesedihan." Ucap mommy Laras


" Baik mom." Jawab Putri


Putri dan Dona berjalan ke arah kamar kemudian mengambil dua bayi kembar yang sangat mirip dengan Rocky. Merekapun berangkat lagi ke bandara tanpa mengenal lelah. Singkat cerita kini mereka sudah sampai di mansion milik orang tua Ronald.


" Putri." Panggil Clarissa sambil memeluk Putri.

__ADS_1


__ADS_2