Tentara Dingin VS Dokter Dingin

Tentara Dingin VS Dokter Dingin
Malam Pertama Dennis dan Elisabeth


__ADS_3

Elisabeth berteriak kesakitan karena gesper tersebut mengenai bahu mulusnya.


" Kamu sakit jiwa." ucap Elisabeth sambil berusaha bangun tapi tetap tidak bisa digerakkan.


" Kamu kaget tidak bisa digerakkan? tentu saja aku memberikan obat agar melumpuhkan syaraf - syarafmu dengan begitu kamu tidak akan bisa melawanku. Memang aku sakit jiwa, kenapa kamu kaget? hahahaha." ucap Aldo sambil tertawa jahat.


Aldo menarik selimut Elisabeth hingga tampak tubuh polos Elisabeth. Elisabeth berusaha menggerakkan tangannya untuk menutupi tubuh polosnya tapi tetap tidak bisa membuat Elisabeth hanya bisa menangis.


" Aldo, bunuhlah aku jika itu membuatmu puas." ucap Elisabeth lirih dengan air matanya tidak berhenti keluar


" Mengenai kamu mati tenang saja kamu pasti pasti akan mati di tanganku tapi sebelumnya aku akan menyiksamu sampai puas." ucap Aldo sambil tersenyum devil.


( " Mommy, daddy maafkan Elisabeth kalau Elisabeth tidak bisa menjaga diri. Pria tampan yang tadi kita ketemu di pesawat datanglah padaku dan kumohon selamatkan aku." ucap Elisabeth dalam hati ).


Entah kenapa Elisabeth teringat pria tampan yang bertemu dengannya waktu di pesawat dan berharap menolong dirinya walau itu terasa mustahil.


ctas


akhhhhh


brak


Aldo mencambuk kembali tubuh mulus Elisabeth hingga darah segar kembali keluar membuat Elisabeth berteriak kesakitan tanpa bisa menggerakkan tubuhnya. Bersamaan dengan itu seorang pria tampan mendobrak pintu kamar Aldo kemudian menatap tajam ke arah Aldo.


" Brengs*k beraninya sama wanita." ucap pria tampan sambil mengambil selimut di lantai dan melemparnya ke arah Elisabeth agar tubuh polosnya tertutup oleh selimut.


bugh


bugh


bugh


duag


duag


duag


Pemuda tampan itu memukul secara membabi buta kemudian dilanjutkan dengan menendangnya hingga pemuda itu babak belur dan tidak berapa lama tidak sadarkan diri. Pemuda tampan itu langsung mendekati Elisabeth sambil menatapnya dengan kesal.


" Sekarang kamu selamat sekarang pergilah." ucap pemuda tampan tersebut


" Tubuhku tidak bisa digerakkan." ucap Elisabeth dengan nada lirih.


" Aku tidak percaya." ucap pemuda tampan tersebut.


" Terserah." Jawab Elisabeth dengan nada kesal.


" Baiklah aku akan pergi dan jangan salahkan aku jika dia sadar dan mencambukmu kembali." ancam pemuda tampan tersebut.


" Mungkin sudah takdirku jika aku mati di tangan pria itu dari pada aku mati di tangan pria sepertimu." ucap Elisabeth dengan nada dingin

__ADS_1


Pemuda tampan itu hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian menatap Elisabeth dan tidak ada kebohongan di mata Elisabeth.


Pemuda tampan itu pun berjalan ke arah Elisabeth dan menggendongnya kemudian keluar dari kamar pria tersebut. Pemuda tampan tersebut berjalan ke kamarnya yang kebetulan hanya berjarak satu meter.


Pemuda tampan itu merebahkan Elisabeth di ranjang kemudian mengunci pintu kamarnya. Setelah selesai mengunci pintu pemuda tampan itu menghubungi seseorang sambil menunggu pemuda tampan itu membersihkan dirinya karena tubuhnya terasa lengket.


ceklek


Pemuda tampan itu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya bertepatan pintunya di ketuk.


tok


tok


tok


Pemuda tampan itu berjalan ke arah pintu dan membukanya tampak seorang pelayan hotel membawa paper bag.


" Maaf tuan ini pesanan tuan." ucap pelayan hotel sambil menyerahkan paper bag.


" Ok terima kasih dan ini uangnya kembaliannya ambil saja." ucap pemuda tampan tersebut sambil memberikan 5 lembar uang berwarna merah.


" Ini banyak sekali." ucap pelayan hotel


" Tidak apa-apa anggap saja itu bonus karena telah membantuku." Jawab pemuda tampan tersebut.


" Terima kasih tuan." Jawab pelayan hotel sambil membungkukkan badannya kemudian membalikkan badannya meninggalkan pemuda tampan tersebut.


Pemuda tampan itu menarik selimut Elisabet dan terlihat jelas tubuh polos Elisabeth.


glek


Pemuda tampan itu menelan salivanya dengan kasar melihat tubuh mulus Elisabeth walau ada luka di bagian tubuh Elisabeth.


" Apa yang kamu lakukan?" pekik Elisabeth panik sambil berusaha bangun tapi efek obatnya belum juga hilang.


" Ingin mengobatimu apalagi! dengar ya aku tidak tertarik dengan tubuh mu." ucap pemuda tampan itu yang berlawanan kata hatinya.


Pemuda tampan itupun mengobati Elisabeth membuat Elisabeth mendesis menahan perih akibat luka cambukkan.


" Kamu kenal pria tadi?" tanya pemuda tampan itu sambil berusaha menahan hasratnya.


" Aku tidak ingin membicarakannya." ucap Elisabeth dengan nada dingin.


" Terserah aku tidak perduli." Jawab pemuda tampan tersebut dengan nada cuek.


" Siapa namamu?" tanya Elisabeth


" Dennis." Jawab Dennis singkat


Ya dia adalah Dennis anak dari pasangan daddy Alvonso dengan mommy Laras.

__ADS_1


" Namaku..." ucap Elisabeth terpotong oleh perkataan Dennis.


" Aku tidak menanyakan namamu dan aku tidak mau perduli siapa namamu." ucap Dennis dengan nada dingin.


" Terserah kak Dennis saja." Jawab Elisabeth cuek.


" Sejak kapan aku jadi kakakmu?" tanya Dennis sambil memberikan perban ke bagian yang terluka.


" Umur kak Dennis lebih tua dariku dan tidak sopan kalau memanggil kak Dennis dengan sebutan nama." Jawab Elisabeth


" Terserah." Jawab Dennis cuek sambil berdiri dan menyelimuti tubuh polos Elisabeth karena walau bagaimanapun dirinya juga laki - laki normal.


Dennis tiba - tiba teringat sesuatu kemudian tersenyum menyeringai sambil menatap wajah cantik Elisabeth.


" Kenapa kak Dennis senyum sendiri?" tanya Elisabeth


" Apakah kamu ingat waktu di pesawat kamu bilang padaku Jangan - jangan kamu itu bukan pria?" ucap Dennis mengulangi perkataan Elisabeth


" Kapan aku bilang seperti itu?" tanya Elisabeth pura - pura lupa sambil matanya diarahkan ke samping.


" Ckckck.... masih muda ternyata pelupa." Ledek Dennis.


" Iya... iya aku ingat, tapi benar bukan kalau kak Dennis Jangan - jangan kamu itu bukan pria." Ledek Elisabeth.


" Dan aku juga yakin kalau kamu Jangan - jangan kamu itu bukan wanita." ledek Dennis tidak mau kalah.


" Ingin bukti?" Jawab mereka serempak


Dennis dan Elisabeth sama - sama kesal membuat Dennis menarik selimutnya hingga terlihat jelas tubuh polos Elisabeth.


" Apa yang kak Dennis lakukan?" pekik Elisabeth sambil berusaha menggerakkan badannya tapi efek obatnya belum juga hilang.


" Ingin membuktikan kalau aku adalah benar - benar pria dan aku ingin memastikan apakah kamu wanita tulen atau bukan." Jawab Dennis


Dennis langsung menindih tubuh Elisabeth kemudian mencium bibir Elisabeth dan lama kelamaan pindah ke leher sambil memainkan ke dua gunung kembar milik Elisabeth.


Awalnya Elisabeth berusaha memberontak dengan cara memalingkan wajahnya agar Dennis tidak bisa menciumnya tapi Dennis menahan dagu Elisabeth namun lama kelamaan Elisabeth mulai menikmatinya sentuhan dari laki-laki untuk pertama kalinya.


Entah kenapa tiba - tiba hujan sangat deras dan suasana yang sangat dingin dan sepi membuat pasangan beda jenis kelamin menikmati permainan panas mereka hingga ******* demi ******* keluar dari mulut mereka berdua.


Dennis yang tidak bisa menahan hasratnya lagi berusaha memasukkan benda tumpul dan panjang itu awalnya sulit tapi dihentakkan ke dua Dennis berhasil memasukkan benda tumpul tersebut.


" Akhh... sakit.." teriak Elisabeth sambil menancapkan kuku - kukunya ke punggung Dennis hingga punggung Dennis terluka.


" Nanti lama - lama enak sayang." Bisik Dennis


Dennis untuk pertama kalinya merasakan nikmat tiada tara setelah Elisabeth sudah tenang kemudian Dennis mulai menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang hingga keluarlah lahar miliknya ke dalam rahim Elisabeth.


Dennis menarik benda tumpul dan panjang itu dan menarik badannya ke arah samping sambil mengatur pernafasannya.


Elisabeth hanya membalikkan badannya ke arah samping membelakangi Dennis.

__ADS_1


" Hiks... hikss... kenapa kak Dennis melakukan ini padaku." ucap Elisabeth sambil menangis.


__ADS_2