Tentara Dingin VS Dokter Dingin

Tentara Dingin VS Dokter Dingin
Dennis dan Elisabeth Revisi


__ADS_3

" Ayo mommy kita pergi lagi." sambung daddy Alvonso sambil berdiri.


" Baik daddy." jawab mommy Laras ikut berdiri.


Dennis ikut berdiri dan mengecup punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Mommy Laras dan daddy Alvonso pergi meninggalkan Dennis sendirian di ruang kerjanya.


Sepeninggal mommy Laras dan daddy Alvonso, Dennis menghubungi kekasihnya. Deringan pertama tidak di angkat hingga deringan ke tiga barulah di angkat oleh Elisabeth.


" Hallo honey." panggil Elisabeth dengan suara lembut.


" Sayang, mommy dan daddy setuju kita tiga hari lagi kita akan menikah." ucap Dennis


" Benarkah? terus kita menikahnya di gedung atau di hotel honey?" tanya Elisabeth dengan suara masih lembut.


" Kita menikah secara sederhana sayang, hanya di hadiri oleh keluargaku dan ke dua sahabat orang tuaku." ucap Dennis


" Apa??" bentak Elisabeth dari nada lembut menjadi nada kasar.

__ADS_1


Dennis sambil menjauhkan ponselnya dari telinganya karena mendengar suara bentakan Elisabeth yang membuat telinganya terasa sakit.


Setelah gendang telinganya tidak begitu sakit ponsel milik Dennis diletakkan di telinganya kembali.


" Jika kamu tidak mau menikah secara sederhana ya sudah, pernikahan kita batal!!" bentak Dennis.


Sifat Dennis mirip dengan daddy Alvonso jika di bentak sedikit saja atau menyakiti hatinya maka sifatnya langsung berubah menjadi arogant dan kejam walau orang itu sangat dicintainya sekalipun. Tetapi jika orang itu berkata dengan lembut maka Dennis bersikap lembut juga.


Itulah mengapa mommy Laras sangat bersabar menghadapi sikap Dennis jika ada sesuatu yang diinginkan tetapi tidak sesuai keinginan mommy Laras. Mommy Laras yang memang sifatnya lemah lembut dan tidak pernah berkata kasar membuat Daddy Alvonso menghilangkan sifat arogant dan kejam dan berubah menjadi bucin akut terhadap istrinya.


Elisabeth berusaha meredamkan amarahnya karena tidak sesuai dengan apa yang dimimpikannya yaitu pernikahan yang sangat megah dan mewah.


" Ingat, walau aku sangat mencintaimu tapi aku paling benci jika diriku di bentak. Mommy dan daddy tidak pernah sedikitpun membentakku begitu pula dengan kakak - kakakku dan juga adikku. Harap di ingat baik - baik jangan sampai lupa." ucap Dennis dengan penuh penekanan.


" Baik honey sekali lagi maaf." ucap Elisabeth dengan nada lembut kembali.


" Baik, aku maafkan tapi jika di ulangi jangan harap aku bisa memaafkanmu." ucap Dennis sambil memberikan peringatan.

__ADS_1


" Iya." ucap Elisabeth singkat


" Oh ya honey, besok siang aku akan berangkat ke bandara." sambung Elisabeth mengalihkan pembicaraan


" Ok besok aku jemput dan aku antar ke hotel." ucap Dennis.


" Kenapa tidak tidur di mansion milik orang tuamu honey?" tanya Elisabeth dengan nada bingung plus menahan kesal dengan Dennis.


" Karena kita belum menikah, kalau sudah resmi menikah barulah kita tinggal di mansion milik orangtuaku. Sebenarnya aku sudah mempunyai mansion dan apartemen, nanti kalau kita sudah menikah kamu tinggal pilih mau tinggal di mana." ucap Dennis.


" Terserah honey saja, karena sebagai seorang istri harus menuruti perintah suaminya." ucap Elisabeth sambil berpura - pura muntah karena Elisabeth rasanya sangat kesal dan muak dengan ucapan Dennis karena yang tidak sesuai dengan impian yang ingin di wujudkan.


" Baiklah kalau begitu aku matikan ponselnya." ucap Dennis


" Ok." Jawab Elisabeth


tut tut tut tut tut

__ADS_1


Sambungan komunikasi pun terputus, Dennis melanjutkan pekerjaan nya kembali dengan hati tenang karena Elisabeth mau menerima pernikahannya secara sederhana.


__ADS_2