
hening
" Celline, bangunlah." pinta mommy Laras
Mommy Laras mengecek nadi dan hidung Celline kemudian mommy Laras menutup matanya agar tidak melotot.
Dennis berhenti memukuli pria tua itu kemudian mendekati mommy Laras.
" Bagaimana dengan Elisabeth mom?" tanya Dennis sendu.
Antara benci dan sedih menyatu di hati Dennis ketika Elisabeth meninggal.
" Namanya Celinne bukannya Elisabeth. Celline sudah meninggal." ucap mommy Laras.
" Celline aku harap kamu tenang di sana." ucap Dennis dengan nada lirih.
Mata elang mommy Laras melihat pria tua itu dengan sisa tenaga yang ada mengarahkan pistolnya ke arah Dennis membuat mommy Laras mendorong tubuh Dennis dan ingin merebut pistol tersebut.
bruk
dor
akhhhhh
Dennis yang belum siap langsung jatuh duduk akibat mommy Laras mendorongnya agak keras sedangkan mommy Laras yang ingin merebut pistol itu terkena tembakan di perutnya.
" Mommy!!!" teriak Dennis sambil menatap tajam ke arah pria paruh baya itu.
Dennis yang melihat ada pistol dekat jenasah Celline langsung di ambil dan diarahkan ke kening pria paruh baya itu.
" Matilah kamu pria tua!!!" bentak Dennis
dor
akhhhhh
dor
akhhhhh
Pria paruh baya itu pun meninggal di tempat karena terkena tembakan di keningnya sedangkan Dennis tertembak diperutnya.
" Dennis!!" teriak mommy Laras sambil menarik tubuhnya yang sudah mengeluarkan darah segar menuju ke anaknya Dennis.
" Mommy, stop jangan bergerak Dennis bisa tahan, Dennis akan menghubungi kak Alvonso dulu." ucap Dennis.
" Dennis, mommy mohon bertahanlah... maafkan mommy yang tidak bisa menjaga anak kesayangan mommy, mommy sangat sayang kali..." ucap mommy Laras tidak melanjutkan perkataannya karena mommy Laras tidak sadarkan diri.
__ADS_1
" Mommy!!!" teriak Dennis sambil menyeret tubuhnya untuk mendekati mommy Laras.
Perut Dennis juga mengeluarkan darah segar dan tidak berapa lama dirinya juga tidak sadarkan diri.
" Mommy, Dennis!!!" teriak Harlan dan Arlan bersamaan
Harlan langsung menggendong Dennis sedangkan Arlan menggendong mommy Laras untuk ke luar kamar tersebut. Baru sampai di depan pintu dua orang datang menodongkan pistol.
" Turunkan ke dua orang itu atau kalian akan mati!!!" bentak salah satu dari mereka.
dor
akhhhhh
dor
akhhhhh
Alex dan Inge menembak ke dua pria tersebut hingga mati di tempat. Alex membantu Arlan mengangkat tubuh mommy Laras sedangkan Inge mengikuti mereka dari arah belakang sambil melihat jika ada sesuatu yang mencurigakan.
Mereka masuk ke dalam lift menuju ke lantai satu kemudian berjalan menuju ke pintu utama. Baru saja keluar daddy Alvonso sedang berjalan menuju ke arah mereka.
" Ada apa ini?" tanya daddy Alvonso.
" Mommy dan Dennis tertembak dad." Jawab Harlan
Merekapun memberikan mommy Laras ke daddy Alvonso dan daddy Alvonso menggendong tubuh istrinya yang sudah mulai dingin. Daddy Alvonso berjalan dengan cepat karena dirinya sangat takut kehilangan istrinya.
" Arlan hubungi paman Kennath." perintah daddy Alvonso
" Maaf dad, bukannya paman Kennath berada di luar negri? ucap Arlan
" Kalau begitu hubungi dokter keluarga." perintah daddy Alvonso.
" Baik dad." ucap Arlan.
" Arlan kamu yang bawa mobil biar daddy duduk di belakang sama mommy dan kamu Alex bawa mobil biar Harlan duduk di belakang sama Dennis." perintah daddy Alvonso
" Baik dad." Jawab Arlan, Harlan dan Alex kompak.
" Inge kamu duduk di kursi samping pengemudi." perintah Alex
" Baik." Jawab Inge.
Merekapun pergi meninggalkan mansion tersebut sedangkan Alvonso yang tadi ditugaskan Daddy Alvonso bersama bodyguard dari daddy Alvonso dan juga anggota mafia milik Arlan membereskan mayat-mayat yang berserakkan untuk dikubur secara massal.
Setelah selesai menyelesaikan pekerjaannya Alvonso beserta para bodyguard dan para anggota mafia pergi meninggalkan mansion tersebut.
__ADS_1
Di lantai paling atas seseorang menatap kepergian mereka dengan dendam membara.
" Si*l lagi - lagi rencanaku gagal." ucap orang itu.
" Aku akan cari rencana lain lagi tapi sebelum itu aku akan mengambil semua aset milik pak tua itu baru aku akan pergi dari sini." ucap orang itu.
xxxxxxx
Kini mereka sudah sampai di rumah sakit dan sedang menunggu di ruang UGD dengan jantung berdebar kencang bukan karena bertemu kekasih tetapi karena takut mendengar berita buruk.
Dua jam kemudian seorang dokter keluar dari ruang UGD. Merekapun serempak berdiri dan mendekati dokter tersebut.
" Suami dari Debby." panggil dokter tersebut
" Saya dok suaminya, istriku bagaimana dok?" tanya Leo dengan nada kuatir.
" Pelurunya nyaris mengenai janinnya tapi untunglah bisa diselamatkan dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan." ucap dokter tersebut.
" Janin dok?" tanya Leo dengan nada terkejut
" Iya janin, maaf apakah tuan tidak tahu kalau istri tuan sedang hamil?" tanya dokter tersebut.
" Saya tidak tahu dok." ucap Leo dengan tubuh gemetar karena dirinya sangat bahagia sebentar lagi menjadi daddy.
" Untuk mengetahui berapa minggu janinnya bisa di cek di dokter kandungan." ucap dokter tersebut.
" Baik dok nanti kalau istriku sudah sehat kami akan pergi ke dokter kandungan." ucap Leo dengan senyum bahagia.
" Kalau istri dan anak saya bagaimana dok?" tanya daddy Alvonso dengan nada kuatir.
" Tuan muda Dennis sudah berhasil di ambil pelurunya dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan sedangkan untuk istri tuan pelurunya sudah di ambil tapi mengalami koma karena maaf tuan.. mungkin karena efek dari umur yang membuat istri tuan koma." ucap dokter tersebut.
Daddy Alvonso hampir saja terjatuh karena anaknya Alvian dan Arlan menahan tubuh daddy Alvonso.
Arlan dan Alvian mendudukkan Daddy Alvonso di kursi tunggu perawatan.
" Daddy, mommy pasti kuat dan cepat sadar." ucap Alvian sambil mengusap punggung daddy Alvonso.
Daddy Alvonso memeluk Alvian dan bahunya bergetar tanda kalau daddy Alvonso sangat ketakutan kehilangan istri yang sangat dicintainya. Istri yang bertahun-tahun menemaninya baik suka maupun duka. Alvian membalas pelukan Daddy Alvonso sambil mengusap punggung daddy Alvonso.
" Daddy tidak sanggup kehilangan mommy... Daddy takut seperti waktu dulu... separuh nafas dan separuh jantung daddy adalah milik mommy kalau mommy pergi bagaimana daddy bisa hidup." ucap Daddy Alvonso lirih dan tidak terasa air matanya keluar.
Daddy Alvonso tidak perduli dikatakan cengeng oleh anak dan menantunya karena bagi daddy Alvonso adalah mommy Laras adalah separuh nafas dan jantungnya. Mereka yang mendengarnya ikut menitikkan air matanya terlebih Alex dan Leo karena baru kali ini melihat Daddy Alvonso yang terkenal tegas dan dingin ternyata sangat mencintai istrinya.
brugh
Inge tiba - tiba kepalanya terasa pusing membuatnya langsung ambruk. Untunglah mata elang Alex langsung menahan tubuh Inge agar tidak jatuh ke lantai. Alex langsung menggendong Inge menuju ke pintu UGD sedangkan Leo mendorong pintu UGD agar kakaknya masuk ke dalam UGD.
__ADS_1
Alex menaruh perlahan tubuh Inge ke brangkar, seorang perawat memintanya agar Alex keluar dari ruangan ugd. Alex dengan berat hati meninggalkan istrinya dan keluar ruangan UGD.