Tentara Dingin VS Dokter Dingin

Tentara Dingin VS Dokter Dingin
Elisabeth Bertemu Aldo


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar Dennis, Elisabeth berjalan menuju ke arah pintu lift.


Ting


Pintu lift terbuka Elisabeth masuk ke dalam lift dan kebetulan pintu lift sangat sepi.


" Seharusnya tadi di kamar mandi kak Dennis aku dandan sebagai gadis cupu untuk menghindari si brengsek Aldo. Lebih baik aku pakai kacamata hitam dan rambutku di kepang." ucap Elisabeth sambil rambutnya di kepang dua kemudian mengambil kacamata hitam.


" Sempurna kalau begini si Aldo dan anak buahnya tidak akan mengenaliku." ucap Elisabeth


Ting


Pintu lift terbuka, Elisabeth keluar dari pintu lift dan berjalan ke arah lobby hotel menuju keluar.


( " Tuh kan benar, anak buah Aldo sedang berkeliaran di sini, mudah - mudahan kak Dennis baik - baik saja." ucap Elisabeth dalam hati ).


( " Tapi kenapa perasaanku tidak enak ya?" sambung Elisabeth dalam hati ).


Elisabeth akhirnya duduk di lobby agak pojok mendekati pintu keluar lobby. Lobby hotel selain tempat menerima para tamu yang menginap di hotel juga tempat restoran, seorang pelayan restoran mendekati Elisabeth.


" Selamat sore nona, nona mau memesan apa?" tanya pelayan restoran dengan nada sopan.


" Aku ingin memesan juice alpukat dan tolong di bungkus dua botol mineral dan cemilan masing-masing dua macam." ucap Elisabeth


" Baik nona, mohon di tunggu." ucap pelayan restoran dengan nada sopan sambil mencatat pesanan Elisabeth.


" Ok, terima kasih." Jawab Elisabeth.


" Sama - sama nona." Jawab pelayan restoran.


Pelayan itupun pergi meninggalkan Elisabeth, Elisabeth menatap pintu lift dan tidak sengaja melihat mantan kekasihnya keluar dari pintu lift.


( " Wajah Aldo yang sudah babak belur sedang menunggu seseorang. Apakah menungguku atau menunggu kak Dennis?" ucap Elisabeth dalam hati ).


Aldo berjalan mendekati anak buahnya yang dekat dengan tempat duduk Elisabeth yang hanya berjarak dua meja.


" Kalian harus ingat dengan wajah ini." Ucap Aldo sambil menunjukkan foto di ponselnya dan Elisabeth bisa melihat dengan jelas.

__ADS_1


" Jika melihat pria ini langsung bius dan bawa ke dalam mobil lalu kalian langsung membunuhnya dan buang ke jurang yang sangat sepi sedangkan untuk wanitanya kalian hanya perlu membiusnya karena aku ingin mau bermain - main dengan wanita licik itu." sambung Aldo


" Baik tuan." Jawab mereka serempak.


" Bagus, sekarang aku ingin pergi ke dokter kulit karena aku tidak ingin wajah tampanku menjadi rusak kalau kelamaan tidak di tangani." ucap Aldo sambil berjalan.


" Baik tuan." Jawab mereka serempak lagi.


Aldo berjalan hingga melewati Elisabeth, Elisabeth bertemu Aldo membuat jantung Elisabeth berdetak kencang bukan karena jatuh cinta melainkan takut dirinya ketahuan masih berada di hotel ini. Aldo berhenti tepat di hadapan Elisabeth dan menatap Elisabeth bertepatan kedatangan pelayan restoran yang membawa pesanan Elisabeth.


" Nona ini pesanan nona silahkan di minum." ucap pelayan restoran.


" Nyilih kertas lan pulpen." pinta Elisabeth mengubah bahasa nya menggunakan bahasa Jawa agar Aldo tidak curiga.


" Pinjam kertas dan pulpen." ulang pelayan restoran.


Elisabeth hanya menganggukkan kepalanya dan pelayan itupun memberikan kertas dan pulpen.


Elisabeth menulis sesuatu ke pelayan sedangkan Aldo melirik sekilas ke arah Elisabeth. Elisabeth berusaha bersikap biasa saja walau jantungnya terasa mau copot.


" Apakah nona makan sendiri? atau bersama kekasih nona?" tanya pelayan restoran


" Aku mangan dhewe amarga pacarku ujar yen kurus." Jawab Elisabeth menggunakan bahasa Jawa.


Makan sendiri karena kekasih saya bilang kalau saya kurus.


" Apakah nona tidak salah makan sebanyak ini seorang diri? Apalagi nona tidak kurus kok kekasih nona saja yang salah melihat." ucap pelayan restoran itu dengan nada terkejut.


Elisabeth hanya menggelengkan kepalanya tanpa tersenyum karena Elisabeth tahu kalau Aldo sengaja berdiri di situ untuk mendengar percakapan mereka dan melihat tingkah Elisabeth.


Aldo tahu kalau Elisabeth murah senyum terhadap semua orang itulah yang membuat Aldo sering cemburu dan marah - marah.


" Huh... selain culun wanita ini rakus juga makannya banyak... aku pikir dia Elisabeth ternyata bukan. " Gumam Aldo yang masih terdengar oleh Elisabeth.


Aldo langsung berjalan keluar hotel menuju parkiran mobil sedangkan Elisabeth bisa bernafas lega.


( " Aku terpaksa memesan banyak makanan karena Aldo tahu kalau makananku tidak sebanyak itu dan untung Aldo percaya kalau aku bukan Elisabeth dan aku bersyukur tadi habis mandi tidak memakai minyak wangi karena bisa saja Aldo mengenali minyak wangiku. Tapi tunggu bukannya waktu itu Aldo sama sahabatku? tapi kenapa sekarang sendiri? Apa peduliku sama sahabatku atau tidak, apalagi kalau dia sama sahabatku biarkan saja orang jahat bertemu dengan orang jahat" ucap Elisabeth dalam hati ).

__ADS_1


( " Aku tidak menyangka kalau Aldo ternyata seorang psycophath gila mencambukku tanpa ada rasa bersalah sedikitpun dan menuduhku kalau aku selingkuh padahal jelas - jelas dirinya yang selingkuh. Untung kami tidak jadi menikah kalau jadi tidak bisa kubayangkan siksaan demi siksaan yang akan aku dapatkan nantinya." ucap Elisabeth dalam hati ).


( " Kak Dennis kenapa belum turun? apa aku susul ke kamarnya ya? susul saja deh koperku aku titip ke resepsionis saja dan pesananku aku langsung bayar di kasir dan di bungkus semua" ucap Elisabeth dalam hati ).


Elisabeth pun hendak berdiri bertepatan kedatangan dua orang pelayan yang membawa troli makanan pesanan Elisabeth.


" Nuwun sewu panganan wis dibungkus kabeh." Ucap Elisabeth


*M**aaf makanannya di bungkus semuanya*


Elisabeth mengeluarkan uang dua lembar warna merah dan diberikan ke dua pelayan.


" iki dhuwit kanggo sampeyan nuwun sewu ngganggu." ucap Elisabeth


ini uang untuk kalian maaf merepotkan


Elisabeth mengeluarkan kartu kredit untuk membayar pesanan Elisabeth.


" Lan iki kertu kredit kanggo mbayar kabeh panganan sing dak pesenake." sambung Elisabeth


dan ini kartu kredit untuk membayar semua makanan yang saya tadi pesan


" Terima kasih nona, semoga nona banyak rejekinya dan apa yang diinginkan dapat terkabul." ucap ke dua pelayan itu sambil menundukkan punggungnya kemudian mengambil kartu kredit.


Elisabeth hanya menganggukkan kepalanya. Ke dua pelayan restoran itupun pergi meninggalkan Elisabeth.


( " Kak Dennis juga belum turun, apa dia menginap di hotel sini ya?" tanya Elisabeth dalam hati ).


Elisabeth meminum juice alpukat hingga habis tanpa sisa kemudian berjalan ke arah resepsionis untuk menitip tas miliknya.


" Maaf mba, saya mau nitip tas sebentar, saya mau menemui teman saya sebentar dan ini uang tip buat mba." ucap Elisabeth sambil memberikan dua lembar uang warna merah karena resepsionis nya ada dua orang.


" Baik mba, terima kasih semoga sukses selalu." Jawab ke dua resepsionis serempak.


" Oh ya nanti kalau pelayan restoran datang membawa pesanan makananku tolong titip ya sama kartu kreditnya." mohon Elisabeth.


" Baik mba." Jawab ke dua resepsionis serempak lagi.

__ADS_1


__ADS_2