Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Rumah baru


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu. Sudah seminggu ini Adam dan Maira menjalan kan hidup sebagai suami istri.


Setiap hari juga Maira selalu ke rumah sakit untuk menemani mama Sarah. Dia pergi setelah mengurus anak-anak nya.


Begitu juga dengan Jaffa dan Ilyana. Mereka sudah berjanji weekend ini akan pulang ke Jogja untuk bertemu dengan orang tua Iliyana.


Pagi ini seperti biasa. Maira menyiap kan keperluan anak-anak nya.


Hari ini Adam akan membawa Maira melihat tempat tinggal mereka yang baru. Mansion itu sudah siap huni. Bahkan semua perabot dan isi nya sudah tertata rapi.


Adam tidak hanya menyiap kan fasilitas untuk dia dan Maira tapi juga untuk anak-anak Maira. Kamar masing-masing sudah lengkap dengan perabotan bagus dan juga mainan tertata di sudut kamar anak-anaknya.


Dengan di supirin Malik Adam memberi kan kejutan kepada istri cantik nya itu.


Begitu masuk ke kawasan perumahan mewah. Maira mengedarkan pandangan nya.


"Mas kita mau kemana?".


"Sebentar lagi kita sampai sayang". Sambil menggenggam tangan istri nya.


Ketika sampai di depan gerbang mansion, pintu gerbang pun terbuka. Terlihat dua orang satpam sudah berdiri di sisi gerbang.


"Mas ini rumah siapa?".


"Ayo kita turun, nanti kamu juga tau sayang".


Maira masih takjub melihat rumah yang begitu luas megah. Begitu Adam membuka pintu mansion terlihat 2 tangga besar bersisian menghiasi ruangan munuju lantai 2.


"Tuan nyonya selamat datang". Sapa pak beni.


"Mas?". Maira menoleh ke Adam wajah nya masih mengisyarat kan penjelasan dari suami nya.


"Iya selamat datang ini rumah baru kita. Ini rumah kamu".


Di hadapan mereka sudah berdiri 5 orang masih sambil menunduk sopan.


"Perkenal kan nyonya saya pak beni, saya di tugas kan oleh tuan Adam untuk bertanggung jawab di mansion nyonya".


"Kalau ini bik eva dia istri pak Beni dan juru masak di rumah kita nah mereka bertiga nanti yang bersih-bersih di sini".


"Saya wina nyonya".


"Saya ika".


"Kalau saya yang paling bontot dinda nyonya hihi".


"Huss dinda" Ika menyikut lengan Dinda yang terkenal suka cengengesan


"Maaf nyonya".


"Ya hahaha.. Tidak apa-apa, saya Maira semoga kalian betah tinggal dengan kami"


"Ya sudah ayo sayang kita berkeliling, oh ya bik Eva siap kan makan siang ya".


"Iya tuan".


Adam pun meraih tangan istri nya memasuki lift memuju lantai tiga lantai khusus kamar pribadi mereka.

__ADS_1


Maira masih kagum melihat kemewahan yang di beri kan oleh Adam.


"Sayang apa ini tidak berlebihan?".


"Tidak sayang apa nya yang berlebihan ini hadiah untuk kamu jadi istri aku".


Tring lift pun berhenti di lantai tiga. Terdapat satu pintu pas di hadapan litf. Adam pun perlahan membuka pintu itu.


"sayang ini kamar kita".


"Wuaaaaa mas ini kamar kita?".


"Iya sayang".


Maira pun mengitari kamar tidur nya yang begitu luas, kamar itu di bagi beberapa ruangan. Ada ruang kerja Adam,walk in closet yang terhubung langsung ke bathroom. Tempat tidur besar di hadapan nya terdapat sofa santai untuk menonton home theater.


Yang paling mengesan kan adalah kamar itu memiliki balkon yang luas dan di hiasi taman mini. Maira masih membulat kan mata nya dan bibir nya melihat pemandangan dari balkon kamar mereka.


"Bagaimana sayang kamu suka?".


"Mas tapi ini terlalu besar?".


"Tidak sayang ini untuk keluarga kecil kita, oh ya Kamar anak-anak ada di lantai dua".


"Makasi banyak ya mas". Maira memeluk tubuh suami nya dan mencium singkat bibir nya.


"Besok kita pindah ya, sekalian ajak ibu dan bapak ke sini, aku juga udah undang anak-anak panti untuk syukuran di sini".


"Mas". Lagi-lagi Maira hanya mentapa bahagia suami nya.


"Bagaimana kalau kita coba tempat tidur baru nya hemm?". Di balas anggukan Maira.


Hari ini Adam tidak masuk ke kantor karena pekerjaan sudah berkurang. Dia juga sudah mengizin kan Jaffa untuk izin berengakat ke Jogja besok.


"Mas sudah ahh.. Aku lelah". Kedua nya masih berada dalam selimut.


"Maaass.. ".


"Iya ya... Kemari lah". Adam menarik tubuh istri dalam dekapan nya.


"Mas ".


"Hemm".


"Terima kasih ya untuk tempat tinggal baru kita?".


"Iya sayang".


"Apa aku boleh ajak mbak Anum tinggal di sini untuk mengurus anak-anak".


"Rumah ini kamu nyonya nya sayang, atur sesuai ke inginan mu, aku hanya bertugas menyiap kan yang terbaik buat keluarga kita".


"Aa satu lagi tugas terpenting mu".


"Apa?".


"Melayani suami mu yang ganteng ini dengan baik".

__ADS_1


"Cihh... Itu tak usah di minta juga otomatis mas".


"Duh jadi pengen lagi".


"Mass... Aaakkkhh".


"Mau lagi ya sayang".


"Udah dong mas ya ampun kamu tu ya gak ada capek-capek nya, aku lapar".


"Nanti aja sayang makan nya, satu kali lagi nanggung sayang". Adam sudah mengungkung istri nya.


Kamar super mewah itu sudah di pekak kan dengan teriakan ******* dari kedua nya. Tak akan ada yang mendengar kan nya dan mengganggu mereka. Karena lift di mansion hanya di khusus kan untuk tuan dan nyonya mereka. Kalau para pelayan ingin memanggil tuan dan nyonya nya cukup menggunakan layanan telfon yang tersambung di dapur dan di pos satpam. Kalau pun mereka naik ke atas tunggu dapat perintah. Itu aturan yang di perintah kan Adam kepada para pelayan dan satpam di mansion nya.


Hampir tiga jam mereka di atas belum ada tanda-tanda mereka akan turun. Maira malah sudah terlelap di dalam selimut.


Sedang kan Adam sudah membersih kan diri nya. Keluar masih menggunakan boxer dia mengelap rambut nya yang basah.


Dia hanya tersenyum melihat Maira yang kelelahan karena ulah nya.


Adam menekan tombol telfon yang terhubung ke dapur.


"Iya tuan?".


"Apa makanan sudah siap?".


"Sudah tuan".


"Bawa lah naik ke atas".


"Iya tuan".


"Buat kan jus jeruk ".


"Baik tuan".


Adam pun kembali ke tempat tidur dan duduk di sisi Maira. Dia tersenyum melihat wajah istri nya. Walau tidur tetap masih cantik.


"Sayang bagun la, mandi dulu". Sambil mengelus pipi Maira.


"Hemmm...".


"Mas badan ku sakit?". Ringis nya.


"Aku gendong ya?".


"Tidak usah mas aku bisa". Maira pun beringsut turun dari kasur dan berjalan perlahan ke kamar mandi. Karena tidak tega melihat istri nya tertatih Adam pun memapah Maira menuju ke kamar mandi.


Tidak lama terdengar ketukan pintu kamar. Adam segera membuka pintu. Terlihat dua pelayan nya Ika dan Dinda membawa makanan.


"Letak kan saja di sana". Adam menunjuk meja di dapan sofa. Dan berlalu menuju walk in closet.


"Ckckck.. Ini tv kenapa luas nya kayak lapangan futsal".


"Hus Dinda mulut kamu suka gak bisa di rem, bisa gak, gak usah komentar, udah yuk ahh".


Ika pun menarik Dinda segera keluar dari lantai tiga. Dia tidak mau Dinda lebih banyak komentar teman nya itu memang suka gak bisa ngerem mulut nya.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2