Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Perkara ngidam


__ADS_3

Malam hari di mansio di saat semua sudah terlelap, Miara terbangun mendadak saja dia ingin makan sesuatu.


"Mas". Maira menggoyang kan tubuh Adam yang baru saja terlelap tidur.


"Adam pun menggeliat dari tidur nya. "eemm ada apa sayang?".


"Aku laper mas".


"Laper? Mau makan apa? biar aku turun ke bawah ambilin".


"Tapi pengen nya makan asinan buah?". Adam pun telonjak dari baring nya.


"Asinan? Apa ada di dapur?".


"Enggak ada mas beli dulu".


Adam pun meraih ponsel nya dan melihat jam, jam menunjuk kan pukul 12 malam.


"Jam segini di mana sayang ada juala asinan buah?".


"Gak tau, tapi aku pengen makan mas kayak nya seger makan itu".


"Ya udah besok aja ya, udah malam sayang".


"Gak mau pengen nya sekarang". Maira sudah memanyun kan wajah nya dan merengek.


"Ya baik la aku suruh Malik mencari nya".


"Kenapa Malik mas, kamu aja yang cari".


"Aku? Tapi di mana sayang aku tidak tau di mana ada jualan asinan jam segini, ini udah tengah malam sayang".


"Ya di mana gitu mas pasti ada di pinggiran jalan".


Adam hanya memandang lemah wajah Maira, dia kembali melihat ponsel nya mencari info asinan buah yang buka lewat Google.


"Sayang tuh liat gak ada yang buka udah pada tutup,besok aja ya pagi-pagi aku cariin".


"Tapi aku mau nya sekarang mas hihikhikhik". Tiba-tiba saja Maira terisak.


"Sayang kenapa jadi nangis". Adam menggaruk kening nya yang tidak gatal.


"Ya ya sudah aku pergi cari ya, tapi jangan nangis please, kasian anak nya nanti ikutan sedih".


Adam pun mengehala nafas dan turun dari tempat tidur. Dia berjalan ke ruang walk in closet mengambi sweater.


"Aku pergi dulu ya kamu gak apa-apa nih sendirian di kamar, apa mau aku panggilan Dinda buat temanin".


"Gak usah mas gak apa-apa aku sendirian di sini, kamu hati-hati ya".


Hemm". Setelah mecium singkat kening Miara, Adam pun mengambil kunci mobil dan segera turun.

__ADS_1


Adam mulai berkeliling menyusuri jalanan mencari asinan buah. Tapi sama sekali dia tidak menemukan pedagang asinan. Bukan tidak ada tapi karena ini udah tengah malam pedagang asinan pasti udah tidur di rumah.


Adam pun mulai lelah dia memberhenti kan mobil nya tepat di depan apartemen Jaffa. Adam sudah buntu mana mungkin dia pulang tanpa bawa asinan buah.


"Hallo".


Suara parau Jaffa terdengar dari seberang.


"Jaff apa kau sudah tidur?".


"Hemm,, ada apa?".


"Turun la, aku di bawah parkiran apartemen mu".


"What? Ya Tuhan Dude ada apa tengah malam begini datang mencari ku? Apa kau di usir Maira?".


"Ckkk... Untuk apa dia mengusir ku, dia ngidam ingin asinan buah, aku sudah berkeliling tapi tidak ada yang jual, teman kan aku untuk mencari asinan buah".


"Ckckckk... Anak mu masih belum apa-apa sudah mulai merepot kan".


"Cepat lah turun".


"Hemm baik la aku bangunin Liya dulu".


Tidak lama terlihat Jaffa dan Liya turun dan masuk ke dalam mobil Adam.


"Istri ku tau di mana jual asinan buah jam segini, tapi cukup jauh apa tidak apa-apa?".


"Ya sudah mau bagai mana lagi, tadi saja dia merengek dan menangis karena aku tidak mau membeli nya sekarang".


"Kamu gak usah ketawa mas, belum tau nanti kalau aku hamil ngidam nya kayak mana?". Liya bersuara dari tempat duduk belakang.


"Apa kamu yakin Liya jam segini masih ada yang jual?".


"Coba aja dulu, di sana kayak food court biasa nya buka sampai tengah malam gini".


Adam pun melajukan mobil nya menuju tempat yang di beritahu Liya. Cukup jauh dari tempat tinggal mereka karena jalanan sepi jadi Adam pun tidak kesulitan melajukan mobil nya.


Begitu tiba di sana hampir saja mereka tidak dapat karena abang yang jualan sudah menutup jualan nya. Untung keberuntungan berpihak. Adam pun membukus dua asinan tersisa. Cukup lega.


Setelah mengantar kembali Jaffa dan Liya, Adam pun pulang ke mansion nya. Dengan langkah terburu-buru dia masuk dan langsung naik ke kamar nya.


Saat tiba di kamar Maira sudah terlelap di dalam selimut. Adam pun menghampiri dengan pelan dia mengusap kepala Maira.


"Sayang bangun la, ini asinan nya udah ada".


"Hemm... Kamu udah pulang mas?".


"Iya, ayo aku temanin makan asinan nya, mumpung masih seger".


Maira melirik kantong asinan di tangan Adam. Dengan wajah datar tanpa dosa.

__ADS_1


"Simpan aja mas di kulkas pagi nanti aja aku makan nya aku ngantuk, ayo kita tidur, kamu pasti capek". Maira menarik selimut dan kembali tidur.


"Ta-pi sayang in-ni". Dengan wajah bingung dan tak tau mau bilang apa. Dia hanya melongos melihat kantong asinan dan melirik ke Maira yang kembali tidur.


"Apa begini nasib semua suami kalau istri hamil?". Adam pun menatap lesu kantong asinan dan menyimpan asinan tersebut ke dalam kulkas yang ada di kamar nya.


Setelah membersih kan diri dan berganti pakaian Adam pun ikut masuk ke dalam selimut. Dengan lembut dia menatap wajah Maira yang tenang tidur dan perlaham mengusap perut Maira.


"Ini ngidam pertama dan baru bulan awal masih ada beberapa bulan lagi kamu di dalam sana sayang, daddy mohon jangan menyiksa mami mu, siksa la deddy". Lirih nya.


Walau kesal karena dengan susah payah mencari keinginan istri nya tapi Adam tak bisa marah. Dia hanya bisa menghela nafas panjang. Tak lama Adam pun ikut terlelap.


.............


Setelah selesai berpakaian Adam sudah tak menemukan istri nya di kamar. Meraih semua perlengkapan untuk ke kantor dia pun turun ke bawah.


"Dimana istri ku?". Adam yang baru saja keluar Lift melihat Ika sesnag berberes.


"Di ruang makan tuan".


Adam hanya berhem ria dan berjalan menuju ruang sarapan. Tiba di sana dia melihat Maira tengah memakan asinan yang di beli tadi malam.


"Sayang ini masih pagi kenapa makan yang begini?".


"Mas, ini einak mas". Dengan mulut yang penuh berisi kan asinan.


Adam hanya menatap datar Maira yang sedang mengunyah asinan dan menarik kursi di sebelah Miara untuk sarapan.


"Kamu mau mas?".


"Enggak, kamu aja yang makan".


"Gak mau kok ngeliat nya kayak ngiler gitu?".


"Enggak, ini masih pagi kok sarapan asinan ada-ada aja kamu hemm". Adam menggeleng kan kepala nya.


"Kamu marah ya mas?". Maira mendadak cemberut.


"Enggak sayang, udah ya di makan asinan nya, habisin ya? mau pake nasi atau roti?".


"Maaas, kamu ngejek aku?".


Adam pun terkekeh melihat wajah Maira yang cemberut. Dia pun mengusap lembut kepala istri nya.


Pelan-pelan aja makan nya, gak ada yang mau asinan nya, entar kesedak lagi".


Maira kembali fokus makan asinan nya. Walau sudah tidak segar tapi menurut nya itu enak. Adam ingin melarang nya tapi Adam yakin pasti Maira akan ngambek dan nangis.


Adam hanya bisa pasrah melihat tingkah Maira yang mudah sekali menangis kalau Adam tidak menuruti kemauan nya.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.


Witha.


__ADS_2