Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Berdebat


__ADS_3

Malam pun tiba setelah selesai makan malam Jaffa dan Liya bersiap untuk pergi mengunjungi mansion Adam dan Maira.


"Mas kita bawain apa ya jenguk kak Maira?".


"Kamu tanya aja sayang ke Maira dia pingin makan apa lagi sakit gitu?".


"Gitu ya?".


Jaffa hanya mengangguk sambil memekai sweter. Liya pun mengirim pesan ke Maira menanyai kalau Maira pingin makan sesuatu.


Maira yang mendapat kabar kalau Liya akan datang dia sangat bahagia. Maira membalas kalau dia tidak ingin makan apa pun.


Liya dan Jaffa belum tau kalau Maira hamil. Kalau Jaffa tau Maira sedang hamil dan Adam membantu mantan habis sudah.


Jaffa dan Liya sudah tiba di mansion setelah tadi singgah membeli cemilan untuk anak-anak Maira dan untuk orang tua Adam dan Maira.


Jaffa dan Adam duduk di sudut kolam renang. Sedikit jauh dari mansion Adam sengaja mengajak Jaffa duduk di sana karena dia tau apa yang akan di bicara kan Jaffa.


Sedang kan Liya dan Maira duduk di teras tidak jauh dari ruang keluarga.


"Kak sakit apa sih? Kok wajah nya kakak pucat gitu?".


Maira tersenyum sambil memegang perut nya. Liya yang tanggap kode Maira langsung menutup mulut nya dengan kedua telapak tangan nya.


"Benar kah? Ya ampun selamat ya kak? Seneng dengar nya semoga dedek bayi sehat terus ya". Liya mengelus perut Maira yang masih rata.


"Gak tau ni Li, kali ini hamil bawaan nya lemes aja pengen rebahan di kasur, gak semangat makan, gak mood mau ngapain".


"Biasa la kak hormon hamil, jadi bawaan nya beda-beda, gak apa-apa biar pak adam jadi suami siaga".


"Ya, tapi aku juga belakangan ini rada aneh aja, bawaan nya curiga aja kalau mas Adam keluar, kok kayak gak percaya aja kalau dia pamit bilang nya kemana gitu".


"'Ya ampun anak nya di dalam aja kuat banget instingnya, kalau bapak nya bohongin emak nya, hadeh". Liya bergumam sendiri.


"Mungkin pengaruh hormon kali kak, jadi bawaan nya pengen di perhatiin, biasa kan begitu".


"Ya kali, eeh ya udah di minum Li air nya, mereka berdua bicara apa sih sampe jauh begitu?".


"Hemm tau tuh mungkin masalah kantor kali kak, ya udah biarin aja dulu, kakak jadi ngidam apa nih?".


Liya mencoba mengalih kan perhatian Maira mencoba mengajak nya mengobrol tentang hamil nya Maira. Liya tidak mau sampai Maira tau apa yang sedang terjadi bisa-bisa mempengaruhi kehamilan nya nanti.

__ADS_1


Sementara Jaffa dan Adam sedang terlibat pembicaraan serius.


"Apa kau sudah gila Dude, mengizin kan apartemen milik mu jadi tempat tinggal Lusia?".


"Jaff aku hanya membantu nya tidak ada maksud lain. Sampai dia mendapat kan tempat tinggal yang baru".


"Kau mungkin tidak, Lusia? Apa wanita itu tidak ada maksud lain?".


"Aku rasa tidak Jaff, kenapa kau berlebihan?".


"Aku berlebihan, baik lah, apa Maira tau?".


Hening.


"Hehh... Aku sudah menduga nya. Dude kau dan aku tumbuh bersama sejak kecil tak ada satu rahasia pun dari diri mu aku lewat kan, umur berapa kau bisa mengayuh sepeda, bagai mana kau menangis karena menabrak pagar dengan mobil, terperuk nya diri mu saat di marah habis-habisan oleh tuan Zein dan betapa bahagia nya ketika kau mencerita kan bertemu dengan wanita impian mu. Jadi wajar kalau aku berlebihan".


"Aku tidak tega Jaff, dia memohon pertolongan ku, aku tidak tega melihat anak nya".


"Itu lah kelemahan mu. Tidak seharus nya kau membiar kan dia masuk ke apartemen milik mu itu sama artinya kau membiar kan dia masuk ke dalam rumah mu sendiri".


"Dam kau sudah memiliki istri, paling tidak kau harus izin ke Maira. Walau pun itu apartemen mu sendiri tapi yang kau tolong adalah wanita dan dia mantan mu. Mantan serumah, kalian sudah pernah tinggal bersama. Kalian melakukan semua hal bersama saat itu kecuali menikah yang tidak kalian lakukan, aku yakin Lusia pasti menaruh harapan lebih. Sekarang ya kalian membahas untuk menolong nya, besok dia akan membuat kan mu makanan, besok lagi menawarkan mu minuman, besok lagi apa yang akan dia tawar kan, dan kau mau?".


Adam memijit pelipis mata nya kalau sudah begini dia memang kalah dari Jaffa. Karena kelemahan nya satu mudah terbawa perasaan dan sial nya Jaffa tau semua nya.


"Apa hamil? Waahh hahaha".


Jaffa tertawa keras. Sungguh dia terkejut dan bahagia mendengar nya. Dengan tatapan elang nya. Dia menggebrak meja dan menatap dalam Adam.


"Kalau kau tidak ingin Maira tau dan mengganggu kehamilanya. Tendang jauh Lusia dari negara ini".


"Jaff apa kau gila dia sedang ada masalah".


"Kau percaya dengan nya? Aku tidak. Aku tidak percaya kalau dia di kejar oleh mantan suami nya dengan alasan ingin kembali bersama".


"Lalu aku harus apa?".


"Serah kan semua kepada ku. Dengan syarat kau tidak boleh lagi menemui nya sampai aku membawa nya keluar dari negara ini".


"Memang nya kau akan mengirim nya kemana?".


"Apa peduli mu? Jangan bodoh Dam, keluarga mu jauh lebih penting dan lagi jangan sampai daddy mu tau kalau Lusia datang mencari mu ke sini kau tau kan dia tidak menyukai mantan mu itu. Kau lebih memilih daddy mu yang mengurus nya atau aku?".

__ADS_1


Adam hanya bisa menarik dalam nafas nya. Tak ada yang bisa mengalah kan Jaffa. Dia tau Jaffa tidak bisa di hentikan dan semua Jaffa lakukan demi kebaikan nya sendiri.


Setelah selesai berbicara dan sepakat kalau Adam tidak akan lagi menemui Lusia dan Jaffa yang akan mengurus nya. Mereka pun bergabung duduk dengan istri mereka.


"Selamat ya Ra atas kehamilan nya".


"Ya Jaff, makasi ya, cepet buat Liya hamil juga biar seru punya anak bareng kita".


"Kak Maira aja dulu, aku sama mas Jaffa masih on the way punya anak". Liya tertawa mencoba mencair kan suasana karena Adam dan Jaffa masih terlibat emosi masing-masing karena pembicaran tadi.


Adam melirik Jaffa. Jaffa begitu tenang dia hanya tersenyum sambil nyeruput teh. Dia mencoba menetral kan fikiran nya.


"Mas kenapa kok diam? Apa kalian bertengkar?".


Jaffa yang tengah minum pun tersedak mendengar pertanyaam Maira.


"Astaga Ra, kau fikir aku dan suami mu itu anak kecik, sampai harus bertengkar".


"Habis dari sini aku perhatiin kalian seperti bertengkar, memang nya apa yang kalian bahas?".


"Tidak sayang aku dan Jaffa hanya membahas kerjaan, biasa ada masalah dikit".


"Ohh... Kalian itu kayak kembar. Kadang ngelawak kadang berdebat kadang bertengkar... Hemmm.. Jangan sampai anak-anak kalian nanti seperti itu".


"Kau tau Ra, suami mu itu saat masih kecil sampai sekarang tidak akan bisa tidur kalau belum berdebat dengan ku. Dulu dia akan datang ke kamar ku hanya untuk bertengkar dengan karena masalah sepele".


"Ckkk... Kau saja yang suka menyelesai kan masalah dengan kekerasan".


"Oh no dude itu karena kau tidak bisa berkelahi".


"Aku, ciihh aku tidak suka kekerasa lebih baik gunakan kecerdasan".


"Kecerdasan kata mu, kau berdebat dengan ku saja kalah".


Di saat Jaffa dan Adam saling beragumen istri mereka justru saling geleng kepala. Padahal tadi Maira hanya bertanya malah sekarang kedua nya kembali saling membela diri sendiri.


"Sudah sudah ya pak Adam pak Jaffa, kenapa malah jadi panjang nih urusan nya hah, kami tau kalian berdua itu jenius oke jadi tidak perlu berdebat".


Mereka berdua hanya terkekeh. Mengingat barusan terjadi. Puas bercerita. Jaffa dan Liya pun pamit pulang.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.


Witha.


__ADS_2