
Persiapan demi persiapan pun di lakukan. Dari mulai undangan, gaun bahkan gaun Maira harus berkali-kali berubah model karena Adam tidak mau Maira menggunakan gaun resepsi terlalu terbuka.
Belum lagi debat kecil terjadi antara Maira dan Adam. Di mana akad akan di lansung kan. Adam tidak masalah permintaan buk Dini ingin akad di rumah tapi Maira tak ingin bolak balik dia ingin di lakukan 1 tempat, alasan nya hanya tak ingin repot. Itu di karena kan jarak antara rumah nya dengan hotel Adam cukup memakan waktu di jalan.
Dan buk Dini beserta calon mantu nya pun mengalah dan mengikuti kemauan Maira. Orang tua Adam pun sudah mendarat di Indonesia dengan selamat.
2 hari menjelang pernikahan Maira sudah memboyong kedua anak dan orang tua nya di hotel.
Kini mereka tengah makan malam bersama mengingat ini pertama kali nya Daddy Adam berkenalan secara resmi dengan keluarga Maira.
"Selamat datang Tuan Zein". Pak Rasyd bersalaman dengan Daddy Adam.
"Ya pak Rasyd terima kasih, dan maaf kan saya baru ada waktu bertemu. Anak keras kepala ini membuat rencana serba dadakan".
"Tidak apa-apa begitu lah anak muda suka tidak sabaran" hahaha kedua pria paruh baya itu pun tertawa.
"Nyonya Defne".
"Buk Dini". Kedua wanita itu yang masih segar di umur yang tak muda lagi saling berpelukan.
Semua sedang berkumpul di ruang VVIP restoran hotel Adam sedang menyantap makan malam. Tanpa terkecuali ada Haris, Jaffa dan Farsya.
Sehari menjelang pernikahan Maira pun melakukan perawatan spa yang ada di hotel.
Persiapan pernikahan dengan cepat dan kilat dalam waktu kurang dari 6 hari membuat emosi swing dan ekstra sabar karena ada aja masalah di sana sini walau sudah menggunakan jasa WO. Makanya Maira ingin menyegar kan tubuh dan wajah nya.
Maira benar-benar menikmati segala fasilitas yang ada di hotel calon suami nya. Bahkan seluruh karyawan hotel sudah mengenal nya sebagai calon nyonya bos mereka.
Saat sedang menikmati pijatan. Tiba-tiba saja Adam masuk. Untung saja saat itu Maira tengah tengkurap.
"Adaaaam". Teriak nya. Sementara therapist spa hanya tersenyum melihat kejadian itu.
"Aku juga mau perawatan sayang".
"Ya kan bisa di kamar lain?".
"Tidak mau, aku mau sekamar dengan mu".
"Astaga". Maira benar-benar tak bisa berkata-kata lagi Adam sudah baring di tempat tidur khusus spa yang ada di sebelah nya.
Setelah selesai perawatan Adam tak henti-henti nya mengekor Maira. Ngecek gedung dan dekorasi. Bahkan kini kedua nya sibuk membaca karangan bunga yang sudah tersusun di perkarangan hotel.
"Dam aku naik ke atas ya".
"Aku ikut sayang".
Adam dan Maira tak ada kata di pingit mereka berdua selalu bertemu. Walau Adam harus terpisah kamar. Kamar yang biasa dia tempati kini di pakai Maira.
__ADS_1
Tiba di lantai 20. Maira pun masuk ke kamar. Terdengar suara rengekan anak kedua nya.
"Kenapa dengan Zeyra mbak Anum?".
"Ini buk badan adek hangat".
"Ya ampun sini sayang". Adam dan Maira pun kompak meletak kan tangan mereka di dahi Zeyra.
"Sayang kita bawa ke dokter aja ya?".
"Ya udah mumpung belum tinggi".
"Aku telfon Malik dulu ya, kamu siap-siap ya".
"Oke.. Mbak Anum titip Zidan ya saya ke dokter dulu".
"Ya buk".
Zeyra masih merengek. Suhu tubuh nya yang tadi hanya hangat kini sudah terasa mulai sedikit meninggi. Adam pun menggendong anak tiri nya itu. Menuju mobil.
"Malik cari dokter praktek anak".
"Ya tuan".
Di jalan Maira terlihat gelisan sambil menggenggam tangan anak nya yang di pangkuan Adam.
"Iya semoga. Dari kemaren seharian berenang, duh dek cepat sembuh ya sayang". Sambil mencium tangan anak nya.
Setelah menemui dokter mereka pun kembali ke hotel. Zeyra masih terlelap, saat di periksa tadi dokter memberikan obat penurun panas. Mungkin reaksi obat nya maka nya dia tertidur.
Dengan perlahan Adam meletak kan tubuh mungil Zeyra di tempat tidur.
"Kak... Zeyra kenapa?. Masuk tanpa permisi dia kaget mendengar keponakan nya sakit.
"Rafif? Demam tadi tiba-tiba aja badan nya panas".
"Tadi aku ke kamar mbak Anum dia yang ngabari".
"Bapak sama ibuk udah nyampe hotel?".
"Belum sebentar lagi".
"Ya udah Fif kamu temanin Zidan ya kakak mau ngompres Zeyra biar panas nya turun".
"Ya kak. Ya udah aku ke sebelah ya, bang aku pamit".
"Sayang sini biar aku aja yang kompres kan, kamu telfon restoran minta mereka antarin makan, aku lapar, sekalian nanti ajak Rafif, Zidan dan Mbak Anum makan di sini".
__ADS_1
"Ya Dam bentar ya".
Maira belum sepenuh nya lega walau kata dokter anak nya hanya demam biasa. Tapi badan Zeyra masih panas. Pernikahan nya besok tapi hari ini dia benar-benar dalam keadaan cemas. Bukan karena gugup untuk besok melain kan kepikiran anak yang lagi sakit.
Tapi sebisa mungkin dia coba untuk tenang dan tidak panik.
Malam ini Maira sengaja pindah kekamar anak nya. Kamar utama sudah rapi dan bersih dia sengaja tidak menggunakan nya agar kamar itu bersih untuk menyambut dia dan Adam sebagai malam pertama mereka.
Kalau Maira gunakan yang ada kamar itu bakalan jadi kamar sejuta umat dan pasti berantakan.
Sedang kan malam ini saja Tiwi dan Liya udah nangkring aja di sini alasan nya cuma pengen nemanin Maira biar gak kesepian padahal Maira lagi ngelonin anak nya. Alhasil mereka bertiga pun bergosip ria.
"Liya kamu benaran udah jadian sama Jaffa?".
Dia hanya mengangkat bahu nya. "aku jalanin aja lah, ada yang mau ya udah, dari pada jomblo terus".
"Dih gimana cerita nya, emang nya bang Jaffa bilang dia mau sama elu".
"Iya tapi aku gak jawab tidak gak jawab iya".
Tiwi mengerut kan kening nya.
"Dah wi biarin aja lagian mereka cocok kok. Sama-sama berisik". Hahaha.
"Dia aja yang berisik aku mah kalem orang nya".
Maira dan Tiwi hanya tertawa.
"Masak dia ngajak pacaran malah nawarin apartemen, rumah, mobil, coba cewek mana yang nolak".
"Hahhaha.. Dasar Liya kalau nanti bang Jaffa bilang elu matre gimana".
"Bodo ah biarain aja lagian emang kita butuh duit kan mau ke toilet umum aja bayar". Seloroh ny santai.
Jelas jawaban membagong kan dari Iliyana sebenar nya dalam hati nya dia sudah terpikat dengan bang Jaffa. Entah berapa kali dia terpaku menatap Jaffa secara diam-diam bahkan sudah dua kali kepergok Jaffa.
Setelah puas mengganggu Maira kedua gadis itu pun pamit. Kini giliran buk Dini yang masuk.
"Ra Zeyra biar ibu sama bapak aja yang jaga kamu istirahat aja ya, besok kamu harus bangun pagi siap-siap".
"Sayang mau ya ke kamar oma?"
"Gak mau eya mau di cini aja sama mami oma"
"Ya udah buk enggak apa-apa. Biar Mbak Anum yang bantu Maira jaga Zeyra di sini, Maira titip Zidan aja, ibu sama bapak juga istirahat ya".
Ya sudah nanti ibu suruh Anum ke sini, kamu istirahat ya".
__ADS_1
Maira pun mengangguk.