Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Kebersamaan yang hangat


__ADS_3

Hari pun beranjak malam.


Yang di tunggu akhir nya datang.


Maira segera keluar menyambut kedatangan Adam. Melihat Adam yang baru saja keluar dari mobil nya Maira pun mengembang kan senyum nya.


"Apa itu dam?"


"Tadi di jalan aku liat toko kue jadi mampir"


"Ya ampun gak usah repot gini ibuk itu banyak banget masak untuk kamu"


"Oh ya, gak apa-apa ini kan beda dari yang ibu kamu masak"


"Ni apa lagi?" Maira yang melihat ada kantong besar di tenteng Adam.


"Oh ini mainan untuk anak-anak kamu, mereka pasti senang"


"Dam ngapain sih pake di beliin mainan segala?"


"Udah kamu gak usah banyak protes, aku di ajak masuk enggak ni?"


"Eh hihihi... Sini aku bantuin bawa kue nya nya, ya udah yuk masuk"


"Assalamualaikum...


"Wassalamu'alaikum salam....


"Pak ini nak Adam nya sudah datang" ibu Maira memanggil sang suami.


"Buk... " Adam pun memberikan salam hormat ke ibu Dini.


"Ya ampun nak Adam ngapain repot bawa oleh-oleh segala"


"Enggak apa-apa buk tadi di jalan lewat ada toko kue sekalian aja"


"Ya sudah sini biar ibuk bawa ke dapur ya"


"Heeii boy dan ini si cantik siapa nama nya?"


"Eya om"


"Zeyra... " Maira berbisik di telinga Adam.


"Oh... Oke boy ini uncle bawain mainan mobil remot dan ini boneka untuk si cantik Zeyra"


"Bilang apa sayang ke uncle Adam?"


"Terimakasih uncle" Zidan yang sudah fasih berbicara dengan senang hati menyambut hadiah dari Adam, sedang kan si kecil Zeyra hanya senyum-senyum sambil memandang boneka teddy bear yang cukup besar di bandinh tubuh nya.


Selang beberapa waktu pak Rasyid pun datang mengahampiri Adam yang duduk di ruang keluarga yang sedang bermain dengan anak-anak Maira.


Pak Rasyd pun berdehem. Adam dan Maira pun menoleh kebelakang dan Adam berdiri menyalami pak Rasyd.


"Selamat datang Adam"

__ADS_1


Adam pun mengangguk.


"Dam aku tinggal sebentar ya ke dapur kamu ngobrol sama bapak dulu ya"


"Ya sayang" lirih nya.


Maira berlalu ke dapur ikut membantu ibu dan mbak Anum menata perlengkapan untuk makan malam.


Setelah semua nya siap keluarga pak Rasyd dan Adam pun makan malam dengan suasana hangat.


Celoteh dari buk Dini dan pertengkaran kecil dari Maira dan Rafif menambah kesan ramah dan hangat dari keluarga pak Rasyd dan buk Dini. Belum lagi cerita dari anak-anak Maira.


"Rafif kamu kuliah ambil jurusan apa?"


"Bisnis dan ekonomi bang"


"Wah bagus itu bisa jadi pengusaha kamu"


"Iya bang udah rencana nanti pengen buka usaha kuliner bareng ibuk kan ibuk suka masak, dari pada masak tapi yang di suruh makan kita yang di rumah kalau enggak di makan entar ngambek"


"Uh kamu itu alesan aja, ibuk masak biar kalian enggak pada jajan luar"


"Ibuk dulu punya usaha catering sama buket bunga, tapi karena bapak sempat sakit dan harus ngerawat bapak ya jadi nya berhenti" pak Rasyd.


"Oh.. Kenapa enggak di lanjut kan lagi buk?"


"Iya setelah bapak sehat, eh Maira hamil anak pertama terus bawaan nya susah makan jadi ibu yang ngerawat bolak balek buat masakin dia, setelah itu dapat cucu ya sudah ibuk jadi ke asyikan pensiun nya, jadi ya ngelon cucu"


Mereka pun tertawa.


Cukup lama mereka menikmati hidangan yang di masak buk Dini. Dan sampai lah di makanan penutup puding special dari tangan Ajaib buk Dini.


"Oh ya terimakasih nak Adam, lain kali sering-sering ya makan di sini, ibuk senang kalau di rumah ramai gini"


"Oh ya dam kamu suka makanan pedas gini atau yang berbumbu atau yang simple?" Maira penasaran dengan kesukaan Adam.


"Emm.. Aku pikir kalau yang spicy seperti ini tidak terlalu buruk untuk perut ku masih aman, aku juga tidak terlalu cerewet dalam menu makanan apa saja yang terhidang pasti aku santap"


Maira pun mengembang kan senyum nya.


Setelah merasa cukup keyang. Adam pun mengakhiri makan nya. Kini pak Rasyd sudah mengajak Adam untuk duduk di taman burung nya.


Wah pak banyak sekali koleksi burung bapak, ini dari jenis apa saja pak?"


"Macam-macam, ada jenis love bird ini yang paling berisik dan gampang perawatan nya, mereka-mereka ini paling pintar di latih berinteraksi. Nah yang ini paling cantik jenis kenari juga suka berkicau"


"Yang ini pak warna nya unik ya lurik gini?"


"Oh ini burung parkit, ini juga suka berkicau yang gak ada sangkar nya ini burung kakak tua lumayan ini bapak beli nya "


"Burung bapak semua nya berisik dam" Maira nyaut dari belakang sambil bawa minuman.


Adam pun tersenyum. " ya bagus dong jadi rumah enggak sepi".


"Iya saking berisik nya sampe ibuk juga ngomel"

__ADS_1


Bapak nya pun tertawa. "Sudah berisik gini aja ibuk nya Maira masih bilang rumah ini sepi"


Kini giliran Adam yang tertawa. "sejak kapan bapak mulai melihara burung?".


"Sejak bapak mulai pensiun dari jabatan pengurusan universitas, hanya sesekali saja datang ke kampus untuk bimbingan dan pengisi seminar, ya apa salah nya mengisi waktu luang dengan memelihara mereka. Sambil nulis buku ya sambil mendengar ocehan mereka"


"Nulis buku?"


"Iya Dam... Maira menjawab" jadi bapak sejak dulu memang sudah rajin menulis buku-buku tentang karya Ilmiah, tapi sejak pensiun baru fokus dan sudah ada yang di cetak dan di jual juga"


"Wah hebat pak"


"Ya lumayan berbagi ilmu dan bisa bermanfaat untuk orang lain"


Adam sangat kagum dengan pak Rasyd.


Tiba-tiba Rafif datang. " pak ada yang cari bapak tuh".


"Siapa?"


"Mahasiswa bapak"


"Oh, ya sudah suruh tunggu di ruang belajar"


"Oke "


"Kalau begitu bapak tinggal dulu ya adam, ada yang mau bimbingan"


"Ya pak silakan"


Pak Rasyd pun berlalu.


"Ya dah aku juga mau pergi"


"Eh tunggu, mau kemana kamu?"


"Aku ada janji kak sama temen ke toko buku"


"Tapi kan kakak minta temanin ambil barang-barang di rumah kakak?"


"Yahh lupa aku, duh gimana dong aku udah janji ini, besok aja lah ya, lagian kan kakak juga lagi ada bang Adam. Masak mau di usir hihihi" sambil nyengir.


"Ihh alesan aja kamu, gak bisa di tun.... "


belum sempat Maira selesai bicara adek nya udah berlari meminggal kan Maira dan Adam.


"Ya byeee, bang aku pamit dulu ya"


"Fif, rafif kakak belum selesai"


"Besok aja" teriak Rafif dari kejauhan yang sudah berlari meninggal kan halaman belakang.


Maira pun mendengus kesal melihat kepergian adik nya yang gak pernah betah di rumah.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.


Witha.


__ADS_2