
Masih di malam itu. Di saat bersamaan di rumah Maira.
Kejadian di pub tadi memang sempat membuat Maira kesal tapi dia tidak mungkin marah ke Adam karena Adam juga tidak mengingin kan hal itu.
Kini kedua nya sedang berada di taman belakang rumah Maira. Setelah tadi Maira izin sebentar untuk menemani anak-anak nya tidur.
"Dam ini aku bawain teh hangat".
"Terimakasih sayang".
Maira pun tersenyum.
"Kamu habis nelfon siapa?".
"Jaffa".
"Ohh".
"Kapan kamu mulai resign dari kantor?".
"Sabar besok aku mau bicarakan dulu ke Rey, bagai mana pun juga aku harus berdiskusi dulu dengan nya. Posisi aku udah 8 tahun aku yang memegang nya, biar kan aku dan Rey cari pengganti nya dulu yang cocok membantu dia di perusahaan".
"Baik la terus kapan kamu ambil cuti?".
"Ya adam besok sekalian, aku pasti minta cuti biar fokus ngurusin pernikahan kita".
"Makasi ya sayang".
"Kamu lagi mikirin apa?".
"Aku hanya tidak ingin ada gangguan menjelang pernikahan kita".
"Adam kan ada aku di sini, ayo hadapi sama-sama, tidak akan terjadi apa-apa, fokus ke kita berdua aja oke".
Maira pun memberi kan semangat melalui senyuman indah nya. Itu lah yang membuat Adam begitu mencintai wanita yang ada di hadapan nya ini. Maira mampu membuat semangat nya bangkit terkadang membuat hal-hal gila yang tak pernah dia laku kan. Dunia nya serasa berubah berisik dan berwarna.
"Sayang aku boleh bertanya sesuatu?".
"Iya apa itu?".
"Apa kamu pernah ke singapur?".
"Pernah sekali tapi udah lama banget sebelum aku menikah dulu, 10 tahun lalu kurang lebih lah".
"Apa masih ingat kamu kemana saja?".
Emm... Sambil berfikir.
__ADS_1
"Kerena cuma 2 hari jadi tidak banyak tempat yang aku kunjungi, tapi tempat paling berkesan itu ada di sekitar mesjid Sultan".
"Kenapa memang nya dam".
"Apa hal lain yang terjadi di sana?".
"Entah la tidak ada yang special, tapi aku pernah di marah bapak gara-gara habis main hujan terus flu itu aja".
"Di mana kamu main hujan?".
"Di lorong jalan tidak jauh dari mesjid Sultan. Seingat ku di jalan itu banyak mural dan toko-toko, saat ingin masuk ke lorong itu tiba-tiba saja hujan turun, orang-orang berlari berteduh justru aku kebalikan nya, aku malah main hujan". Jelas nya sambil tertawa.
"Kamu lupa sebelum berlari mengejar hujan kamu menabrak seseorang?".
Haa... Maira kembali memutar kenangan yang terjadi 10 tahun silam. Memori nya seolah hilang beberapa. Yang dia ingat hanya hujan dan kemarahan bapak nya karena dia terserang flu. Mereka harus buru-buru pulang karena ulah nya.
"Oh ya tapi bagaimana bisa... Kamu?".
"Ya aku ada di kafe saat kamu berlari mengejar hujan, sebelum itu kamu menabrak ku saat hendak berdiri, aku sempat melihat kamu main hujan sambil tertawa, sesenang itu kamu main hujan?".
"Astaga Adam, kamu masih ingat?".
"Ya masih ingat dengan sangat jelas, aku begitu terpesona melihat senyum mu yang bahagia itu, tapi saat hendak menyusul mu aku kehilangan jejak kamu, aku bahkan mencari di setiap lorong jalan yang ada di sana tapi sama sekali kamu sudah tak terlihat".
"Bagaimana kamu seyakin itu, kalau yang kamu lihat itu aku Dam?".
Maira pun menangis terharu.
"Heii kenapa kamu nangis sayang?".
"Aku terharu aja, kamu masih menyimpan kenangan itu sekian lama, aku bahkan lupa yang terjadi di sana, aku baru ingat malah kalau aku menabrak seseorang, tapi maaf aku tidak ingat sama sekali kalau yang aku tabrak itu siapa".
"Tidak apa-apa, sayang". Adam pun menyeka air mata Maira.
Dam?".
Terimakasih masih mengingat kenangan itu".
Adam lun membalas dengan mengelus rambut panjang Maira.
"Dam, Nanti setelah menikah kita tinggal di mana?".
"Untuk sementara kita tinggal di apartemen aku, kamu tidak masalah?".
"Kenapa tidak di sini saja, anak-anak aku tidak mungkin di boyong ke sana kamar nya kan cuma 2?".
"Baik la tapi kalau anak-anak kamu sama ayah mereka kita nginap di apartemen oke?".
__ADS_1
"Hemm baik lah".
"Ya sudah ini sudah malam, aku pamit dulu ya, besok sampai kan salam untuk ibu sama bapak kayak nya mereka udah tidur".
"Oke kamu hati-hati ya".
"Oh ya sayang aku pulang ke hotel ya? Soal nya ada Farasya dan Haris aku harus memantau mereka".
"Iya dam".
Maira mengantar Adam sampai ke mobil. Adam pun memberi kan kecupan cinta di kening Maira.
...........
Di tempat lain. Di taman hotel.
Haris dan Farasya tengah tertawa. Tak ada yang tahu kalau Haris sudah menyatakan cinta ke Farasya, dan Farasya pun memberi kesempatan kepada Haris mengisi hati nya.
Tapi setelah ini Haris dan Farasya harus rela LDR Indonesia-Turki. Karena sesuai perintah paman bibi nya Farasya harus menurut. Mereka berjanji untuk sesekali bertemu. Entah itu Haris yang kesana atau Farasya yang ke Indonesia.
Mereka ingin menyembunyikan hubungan mereka berdua. Haris ingin Farasya fokus dengan perusahaan warisan orang tua nya.
"Sya... Ambil ini?".
"Apa ini?".
"Buka lah dan di pakai ya".
Farasya pun membuka kotak berbentuk persegi panjang berwarna biru gelap. Terlihat seutas kalung emas putih ada juntaian mainan huruf berbentuk inisial nama mereka berdua.
"Wah kak Haris ini cantik sekali?".
"Kamu suka?".
"Iya".
"Sini aku pakai kan?".
Kini kalung cantik itu sudah bertengger manis di leher Farasya.
"Kak... Kalau bibi dan paman tahu hubungan kita bagaimana?".
"Tenang mereka tidak akan marah. Biar aku yang menghadapi nya. Fokus saja apa yang mereka mau, tunjuk kan ke mereka kalau kamu mampu memimpin perusahaan orang tua mu, aku ada di sini siap kalau kamu butuh pertolongan dan 1 lagi tunjuk kan mereka kalau kamu adalah gadis dewasa yang pintar".
Farasya pun tersenyum hati nya sangat senang, selama ini dia tinggal di tempat asing tidak pernah mendapatkan perhatian dari siapa pun karena kesalahan yang fatal dulu. Dia benar-benar menyesali perbuatan nya. Sekarang dia tak ingin lagi di abaikan. Dia akan menunjuk kan keseriusan nya dalam menata hidup nya terutama dalam mengambil alih perusahaan orang tuanya.
Haris menggenggam tangan Farasya sangat erat. Dan membelai kepala kekasih kecil nya itu dengan lembut. Sesekali dia mendarat kan ciuman hangat di kening Farasya.
__ADS_1