
Di jalan.
Haris terus saja gelisah. Taxi yang membawa nya masih melaju di bawah deras hujan. Ponsel nya terus menghubungi Farasya tapi tidak tersambung.
"Farsya aku mohon, jangan sakiti diri mu dengan hal-hal gila" lirih nya sambil memukul pelan ponsel di jidat nya.
Tak berapa lama sampai lah dia di gerbang mansion Adam. Setelah menyerah kan uang taxi ia pun berhamburan keluar dan berlari sekuat tenaga masuk ke dalam mansion.
Saat dia berjalan mencari Farasya dia bertemu dengan nyonya Defne yang baru saja keluar dari kamar nya.
"Haris ada apa? kenapa kau basah begini hah?"
"Di mana Farasya nyonya?"
"Entah lah aku baru saja mau mencari nya, pelayan"
"Iya nyonya... ?"
"Apa kau liat Farasya?"
"Tadi nona ke lantai atas membawa minuman untuk tuan Adam nyonya"
"Oh tidak" Haris pun berlari ke atas.
"Haris ada apa? Katakan pada ku" suara panik nyonya Defne pun tidak di hirau kan Haris.
Haris pun menggedor pintu kamar Adam tapi terkunci. Dengan sekuat tenaga Haris mendobrak nya.
Di dalam terlihat Farasya sudah panik mendengar pintu kamar Adam di dobrak seketika itu juga dia mendengar suara bibi nya.
Entah dapat bisikan dari mana, sungguh memalukan dia sengaja memasuk kan obat tidur di minuman yang tadi Adam minum. Dia benar-benar kacau. Rasa sakit cinta nya tak terbalas membuat sebersit pikiran jahat di benak nya. Bagai mana dia bisa punya pikiran menjebak kakak sepupu nya itu. Seketika itu juga dia berteriak menangis melihat Adam yang tak sadarkan diri. Hampir saja dia ingin meniduri kakak nya itu.
Pintu kamar pun akhir nya terbuka.
Betapa terkejut nya nyonya Defne melihat Farasya yang sudah duduk memeluk lutut nya di sudut tempat tidur Adam, sedangkan Adam masih tidak sadar kan diri di atas kasur.
Haris dan Nyonya Defne pun berlari menghampiri Adam.
"Farasya ada apa ini hah?" suara panik nyonya Defne.
"Adam... Adam? Ya Tuhan.. Haris cepat ambil kan air"
Haris pun berlari ke kamar mandi mengambil air. Nyonya Defne dan Haris mencoba menyadarkan Adam tapi usaha mereka sia-sia.
Nyonya Defne pun meraih badan Farasya menuntun nya berdiri sambil menggeram.
__ADS_1
"Katakan pada bibi apa yang terjadi haa?"
Namun Farasya masih saja terisak.
"Farasya jangan membuat ku gila katakan cepat, sebelum paman mu melihat ini"
Namun sayang baru saja nyonya Defne berkata seperti itu sejurus kemudian sang suami sudah berada di ambang pintu dan berjalan masuk di ikuti Jaffa. Kedua nya pun terkejut.
"Ada apa ini? kenapa dengan Adam?"
Dia pun menghampiri sang istri yang terkejut dan masih dengan keadaan panik.
"Istri ku katakan ada apa? Kenapa Farasya menagis dan Adam kenapa dia tidak sadarkan diri?"
"Suami ku tenang la aku sendiri tidak tau apa yang terjadi, untung saja Haris cepat datang dan mendobrak pintu kamar Adam kalau tidak entah lah suami aku masih syok melihat ini"
"Jaffa telfon dokter suruh datang sekarang juga"
Dengan cepat Jaffa pun meraih ponsel nya menghubungi dokter pribadi keluarga tuan nya.
"Istri ku bawa Farasya ke ruang kerja ku dan kau juga Haris. Biar kan Jaffa yang menjaga Adam sambil menunggu dokter" titah nya.
Saat setelah berada di ruang kerja tuan Zein.
Suasana pun menjadi tegang dan panas. Tuan Zein sudah berdiri sambil meletak kan kedua tangan nya di pinggang.
"Berhenti la menangis Farasya"
Gadis itu pun meraung sambil melutut di lantai.
"Maaf kan aku bibi paman, percayalah tidak terjadi apa-apa" masih terbata-bata Farasya mejelas kan perasaan nya ke Adam.
"Farasya kau?" terdengar suara nyonya Defne bergetar. Kaki nya seketika lemas dan dia pun terduduk di sofa.
Haris yang melihat Farasya dengan tatapan nanar, hati nya pun hancur. Ingin sekali dia meraih tubuh gadis itu tapi dia tidak berani.
"Kau tau apa yang kau lakukan tadi melewati batas mu?" kini suara paman nya sudah merendah kan volume nya, namun terdengar menakut kan.
"Tak ada pilihan lain Farasya, aku tidak mau menjadi wali mu yang gagal, aku sudah berjanji kepada orang tua mu untuk mendidik mu dan menjaga mu, jadi aku putus kan mengirim mu ke Amerika sekolah dan tinggal di asrama"
"Paman tidak paman aku mohon?".
"Suami ku".
"Jangan membantah, itu akibat dari perbuatan mu, berani salah berani menanggung, keputusan ku sudah bulat, kemasi barang-barang mu, Haris akan mengantar kan ke Amerika berangkat setelah acara pernikahan Adam selesai, untuk sementara jangan keluar kamar mu".
__ADS_1
"Tapi paman, aku mohon?"
Tuan Zein pun berlalu pergi meninggal kan ruang kerja nya tak menghiraukan permohonan dan tangis gadis malang itu.
Kini bibi nya menghampiri nya.
Bangun la nak"
"Bibi aku mohon pujuk paman aku tidak mau ke Amerika bi, itu terlalu jauh bagi ku bi?"
"Sayang dengar kan bibi, paman dan bibi sangat menyayangi mu nak, mengantar kan mu juah ke Amerika bukan berarti kami membuang mu, tidak, justru kau bisa merenungkan semua sikap mu, kau harus tau bagaimana menjadi dewasa yang sesungguh nya, mulai la belajar menjadi pribadi yang mengagum kan".
Nyonya Defne pun membelai lembut wajah keponakan cantik nya itu, walau pun sebenar nya hati nya sedih dengan keputusan suami nya tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Farasya pun hanya bisa meratapi nasib nya dengan menangis sejadi-jadi nya. Tubuh nya ambruk di lantai. Bagaimana tidak kini dia sudah di buang jauh dari keluarga nya. Hati nya pun menjadi hancur ketika teringat kedua orang tua nya. Tapi ini lah akibat dari perbuatan nya.
Haris pun meraih tubuh Farasya dan memeluk nya dengan erat.
"Maaf kan aku kak, apa kau mau memaaf kan ku?"
"Sudah Farasya ayo aku antar kan ke kamar mu"
Haris pun memapah tubuh Farasya menuju kamar nya. Sampai di kamar Haris membaringkan tubuh gadis itu perlahan.
"Istirahat la, kau pasti lelah, besok aku akan datang lagi"
Farasya menarik tangan Haris.
"Apa aku menjijik kan kak? Sampai bibi dan paman tidak memaafkan ku?"
Haris menghelapa nafas nya dan memejam kan mata nya.
"Dengar Farasya, aku sudah pernah bilang buang jauh-jauh perasaan mu ke tuan Adam, dia akan menikah dan kau hanya adik bagi nya, tapi kau tidak mendengar kan nya"
"Apa kau juga menyalah kan ku?".
"Sudah istirahat la, aku akan melihat keadaan tuan Adam".
Ya sejak saat itu lah semua berubah. Haris pun mengantar Farasya ke Amerika. Seketika keduanya menjadi kaku dan seolah menjadi dua orang asing. Farasya terus memperhatikan Haris tapi Haris sama sekali tak menghirau kan keberadaan Farasya.
Hati Farasya benar-benar hancur bagaimana tidak satu-satu nya orang yang dia percaya kini membenci nya.
Tahun pun berlalu tak ada kabar sama sekali dari Haris sejak terakhir bertemu.
Flashback Off.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁