
"Apa maksud mu haa? Dengar Lusia aku membantu mua karena kau terus saja merengek minta di bantu dan bukan untuk mengenang masa lalu".
******
"jangan pernah lagi menghubungi ku Lusia, kau sendiri yang membuat ku berbuat sejauh ini, kau tau akibat perbuatan mu? istri ku hampir keguguran, karena salah paham, dan aku tidak akam membiar kan ini terjadi lagi, mereka lebih penting dari apa pun".
Dengan nada kesal Adam pun memati kan ponsel nya. Setelah tadi mendapat info dari Jaffa kalau Lusia datang ke indonesia bukan lah lari dari mantan suami nya melain kan lari karena di paksa menikah oleh ayah nya sendiri.
Membuat Adam kesal Lusia masih saja terus menghubungi nya.
Sementara Adam di ruang depan masih memijit pangkal hidung nya karena dia merasakan pusing. Kepanikan akan kondisi Maira lah lebih dia fikir kan.
Hampir 3 jam Maira tertidur. Kini perlahan mata nya mengerjap samar dia mendengar suara Adam yang sedang menelfon. Terdengar nada marah dari ruang depan.
Maira merintih karena tangan nya terasa kaku akibat suntikan infus. Adam yang mendengar suara rintihan istri nya berlari masuk.
"Sayang mau apa? kenapa bangun?".
"Aakhhh...". Maira meraba perut nya terlihat wajah cemas nya. Adam tau apa yang di fikir kan oleh istri nya.
"Anak kita masih ada di dalam sana sayang". Adam meraih pundak Maira. Tapi di tepis oleh Maira.
Adam yang mendapat kan penolakan dari Maira serasa tertampar. Maira pun beringsut membetul kan duduk nya dia ingin meraih air di sisi samping tapi terhalang tubuh Adam.
Adam hanya memejam kan mata nya dan mengambil air minum dan menuangkan kan ke gelas. Adam menyodor kan gelas ke mulut Maira awal nya dia ingin memegang gelas itu sendiri tapi tangan nya langsung di tepis oleh Adam.
Setelah tenggorokan nya terasa basah Maira pun kembali berbaring dan memiring kan tubuh nya membelakangi Adam. Tak satu kata pun keluar dari mulut Maira. Adam hanya bisa menatap nanar melihat punggung istri nya. Hati nya terasa di cubit melihat sikap acuh Maira.
Adam tau ini kesalahan nya tak perlu membela diri selain memohon maaf kepada Maira.
Dengan lembut Adam membelai rambut Maira. Maira memejam kan mata nya menikmati belaian lembut dari tangan suami nya.
Jujur dia ingin tau apa alasan suami nya sampai mau membantu mantan nya dan harus berbohong. Tapi saat ini hati nya masih kesal mengingat Adam membohongi nya.
Dengan perlahan Adam mulai melingkar kan tangan nya di perut Maira sambil mengelus nya.
"Sayang maaf kan aku, aku tau aku salah aku tak akan membela diri, karena murni kesalahan ku, mau kah mendengar penjelasan dari ku hemm?".
__ADS_1
Maira masih tak bergeming.
"Baik la marah lah sayang itu hak mu, tapi aku mohon jangan mengabai kan yang di dalam sana dia butuh mami nya. Kamu harus makan dan minum obat agar kalian berdua tetap sehat dan kuat".
Maira masih setia dengan diam nya. Air mata nya lolos dari sudut mata nya. Dia menahan isak nya. Elusan dari tangan Adam berhasil membuat emosi nya sedikit tenang.
Cukup lama mereka berdua berdiam. Adam masih membujuk Maira untuk makan tapi tak di gubris oleh Maira. Maira malah tertidur.
Terdengar ketukan pintu. Buk Dini datang bersama Rafif. Adam pun berlalu ke depan.
"Buk".
"Dam, Maira tidur?".
"Ya buk, dia belum mau makan, Adam sudah membujuk nya tapi dia tetap tidak mau makan apa pun".
Melihat raut kesedihan menantu nya buk Dini mengerti kalau anak nya sedang merajuk dengan suami nya. Dia tak ingin menanyakan apa masalah nya karena tidak ingin ikut campur, tapi dia lebih khawatir dengan kondisi Maira yang sedang hamil.
"Tenang lah Dam, ibuk coba pujuk ya, kamu makan gih nih ibu udah bawain juga buat kamu, kamu pasti belum makan". Buk Dini dengan lembut tersenyum ke menantu nya untuk tenang karena wajah Adam terlihat sangat cemas.
"Ya buk terima kasih".
Buk Dini pun masuk. Dia melihat makanan dari rumah sakit masih utuh tak tersentuh. Maira kalau Hamil memang sulit untuk makan. Tidak semua makanan dia makan. Buk Dini paham karena dari hamil anak pertama sampai calon anak ke tiga ngidam Maira masih sama.
"Ra ibu datang, kamu kenapa belum makan?".
Ibu Dini menyentuh pelan lengan Maira dan dia pun terbangun. Dan membalik kan tubuh nya, perlahan Maira bangun mencoba duduk. Buk Dini membantu menegak kan kasur, agar Maira bisa senderan.
"Maira gak selera buk". Suara parau nya terdengar lemah.
"Jangan begitu, kasian yang di dalam, kamu gak boleh egois dong, dia di dalam sana tidak tau apa-apa, jangan kamu bawa kalau lagi ngambek".
"Siapa yang ngambek buk".
"Kalau gak ngambek kenapa suami kamu kusut begitu wajah nya. Dia bilang udah pujuk kamu untuk makan tapi kamu gak mau".
"Maira gak selera sama makanan di sini".
__ADS_1
"Ya udah nih ibu bawain, bubur ayam, ibuk yang masak ada juga nih sop, kamu mau yang mana?".
"Bubur aja buk". Buk Dini pun membuka kotak plastik berisik kan bubur. Dan pelan-pelan menyuapi nya. Di saat buk Dini tengah menyuapi Maira Adam pun masuk. Melihat Maira membuka mulut nya untuk makan, Adamtersenyum. Maira langsung memaling kan wajah nya.
"Buk biar Adam yang suapin". Adam mengambil alih menyuapi Maira. Dia duduk di sisi kaki Maira dan saling berhadapan.
Sambil menyuapi Adam senyum menatap istri nya Maira hanya membalas dengan pandangan datar. Kalau tak ada ibuk nya asli Maira malas mau melihat Adam dia masih kesal. Tapi dia tak mau ibuk nya tau permasalahan mereka.
"Buk anak-anak dimana?". Adam menanya kan keberadaan anak-anak sambung nya.
"Tadi di bawa bapak kerumah, ibu udah suruh Nugroho untuk jaga sementara, ibu bilang kalau Maira lagi sakit di sini". Bu Dini senyum melihat Maira yang memasang wajah kesal ke Adam.
"Gitu dong Ra banyakin makan nya kasian yang di dalam, jangan lama-lama ngambek nya?". Maira memutar bola mata nya mendengar ejekan ibu nya, buk Dini hanya terkekeh.
"oh ya Dam apa kata dokter?".
"Dokter bilang tekanan darah Maira tinggi buk".
"Ya Allah, jadi kandungan nya?".
"Baik-baik aja buk". Adam masih terus menyuapi Maira dan menatap nya. Mata mereka masih saling tatap seolah saling bicara.
"Maafin aku sayang".
"Tidak mas, jangan harap aku maafin kamu".
"Please sayang".
"Anak kamu di dalam sana juga lagi marah dengan kamu".
"Astaga mana mungkin dia ngerti kalau daddy nya buat salah".
"Siapa bilang".
Ya begitu la kira-kira nya mereka perang tatapan.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.
Witha.